Learn to Love You

Learn to Love You
Noda Bercak Merah dileher



Mau tidak mau, Ace hanya bisa menerimanya. Bagi Ace, tidak masalah karena kemungkinan besar ini merupakan awalan yang baik untuknya agar bisa berada disatu kamar bersama Fayra. Layaknya suami istri pada umumnya.


Jika Ace yang memulai memberikan jarak, maka hanya Ace pula yang bisa menghapus semua jarak diantara mereka.


...*...


...*...


Pagi hari, kedua orang tua Ace merasa sangat senang ketika melihat hubungan anak dan menantunya kini semakin membaik.


Apa lagi sifat manja Ace berhasil membuat kedua orang tuanya begitu syok, mereka tidak percaya jika Ace bisa bersikap melebihi Daddy Gerry ketika dalam mode manja.


"Honey, Bunny mau itu." tunjuk Ace sambil menoleh kearah istrinya.


"Ya udah ambil sendiri, kan itu ada di depanmu." jawab Fayra, meneruskan makannya.


"Ya udah deh, enggak usah. Makasih!" sahut Ace, wajahnya terlihat begitu murung sambil menundukkan kepalanya.


Tang, ting, tang, ting!


Terdengar suara dentingan alat makan yang saling beradu, semua langsung menatap kearah Ace. Dimana Ace mengacak-acak nasinya.


"Kamu itu kenapa sih, Ace. Berisik banget!" pekik Mommy Rosa, kesal mendengar suara alat makan yang sangat mengganggu telinganya.


"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya!" celetuk Ace, mencibirkan bibirnya kesal.


Mommy Rosa dan Ace saling menatap satu sama lain, dengan lirikan mata yang kian menajam. Sedangkan Fayra dia hanya menyimak dalam keadaan bingung.


Daddy Gerry yang peka dengan sikap anaknya, tanpa harus menimbulkan keributan antara induk dan anak, dia langaung berdiri dan menaruhkan satu potong ayam goreng kedalam piring Ace.


"Kau mau ini, kan? Jadi sudahlah aku ambilkan dan sekarang lanjutkan makannya!" ucap Daddy Gerry, kembali duduk meneruskan sarapannya.


"Yak! Apaan sih, Ace kan minta di ambilinnya sama Honey, bukan sama tawon!" pekik Ace, begitu kesal.


"Apa kamu bilang barusan, hah!" tegas Daddy Gerry.


"Nyenyenye ...." jawab Ace, menyinyir.


"Kau!" geram Daddy Gerry.


"Astaga, kamu itu kenapa sih, Bunny! Cuman karena ayam goreng aja sampai ribut. Lagian itu ayamnya ada di samping tangan kananmu, apa salahnya sih tinggal ambil sendiri."


"Jika aku yang mengambilnya maka aku harus memutari tempat dudukku lebih dulu, baru aku bisa mengambilkannya untukmu!"


Fayra menatap wajah suaminya begitu kesal, bahkan tanpa disengaja Fayra kembali meninggikan suaranya. Sehingga mata Ace kembali berkaca-kaca.


"Ho-honey, ma-marah?" gumam lirih, Ace.


"Eh, e-enggak. Bu-bu---"


"Ho-honey marahin Bunny. Honey jahat hiks ...." sambung Ace yang kembali merengek.


"Sa-sayang, i-itu apakah anak kita?" gumam kecil Daddy Gerry saat melihat tingkah Ace, sesekali melirik kearah istrinya.


"Di-dia sa-sama persis se-seperti dirimu ketika kita baru saja menikah, Ger. Apa kamu lupa, saat itu kamu terlalu bucin denganku. Bahkan ketika aku ke kamar mandi pun kamu selalu ikut, bagaikan anak yang takut akan kehilangan induknya." jawab Mommy Rosa.


"Yak! Kenapa kamu masih ingat kejadian memalukan itu sih, sudahlah jangan diingat!" tegas Daddy Gerry, wajahnya sedikit memerah.


Mommy Rosa menoleh menatap wajah suaminya, lalu terkekeh ketika kembali terlintas bayangan memalukan itu.


Daddy Gerry memang memiliki sifat bucin akut kepada dirinya, sehingga apa yang dilakukan Ace masihlah wajar, ketimbang Daddynya sendiri.


Fayra mencoba menenangkan Ace sambil memeluknya, setelah Ace udah mulai tenang dia melepaskan pelukannya. Kemudian mengusap air mata diwajah suaminya.


Sehabis itu Fayra mengambilkan ayam tersebut dan menaruhnya diatas piring suaminya, Ace tersenyum lebar dan kembali memakan sarapannya.


Setelah beberapa menit Fayra dan Ace segera berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Mereka berangkat menggunakan Killer kesayangan Ace.


Sesampainya di sekolah, Ace mengantar Fayra ke kelasnya terlebih dahulu. Sudah dipastikan bahwa istrinya aman didalam kelas, barulah Ace langsung bergegas pergi kedalam kelasnya.


...*...


...*...


Fayra mencuci tangannya sambil mengaca di cermin besar. Tanpa sadar rambut panjang miliknya di sentuh oleh Arsyi.


"Astaga, Raa. Gimana sih cara punya rambut panjang lurus, tebal dan juga lembut seperti ini. Kok gua pengen ya, secara rambut gua rada ikal gitu." ucap Arsyi.


Namun, saat Arsyi mengesampingkan rambut Fayra tiba-tiba matanya membelalak ketika dia melihat bercak merah melekat jelas di leher sebelah kanan.


"Raa, i-ini tanda apa?" tanya Arsyi, bingung sambil menunjukkan kearah cermin.


Sheila dan Nata mendekat kearah Fayra dan melihat bercak tanda mereh yang hampir menghilang. Akan tetapi masih sedikit kelihatan.


"Kayanya gua enggak asing deh sama noda merah ini." gumam Sheila.


"Yaelah, palingan juga nyamuk. Udahlah, ayok kita kekantin. Siapa tahu pangeran kita sudah menunggu disana hihi ...." jawab Fayra, antusias.


"Tapi gua penasaran, ini tanda apaan sih. Kok gua jadi kepo, ya. Kalau pun nyamuk setahu gua mah bentol atau bintik merah gitu, lah ini kaya----"


"Kaya? Kaya apanya dong, kaya apanya dong, dang ding dong. Haha ...." Fayra tertawa terbahak-bahak bersama yang lain, lalu pergi meninggalkan kamar mandi.


"Kam*pret, malah nyanyi dong dia! Dasar temen gak ada akhlak." seru Arsyi, langsung mengejar sahabatnya yang sudah berada didepannya.


Sesampainya di kantin, benar saja para Pangeran telah menunggu Tuan putri datang untuk menghampirinya. Dimana semuanya langsung menoleh tersenyum.


"Honey, tium ...." ucap Ace sambil memonyongkan bibirnya, sehingga semua sahabatnya benar-benar terkejut melihat aksi singa jantan berubah menjadi seekor kelinci yang sangat menggemaskan.


"Kak Ace!" sahut Fayra, tak percaya saat melihat tingkah suaminya.


"Hehe, bercanda Honey. Ya sudah sini duduk, biar pesenannya di pesenin sama Nicho." jawab Ace, sambil menepuk kursi di sebelahnya.


"Kok jadi gua yang kena? Tuh si Eric aja, gua mah ogah mesenin! Ya, kali. Dikata gua pembokat apa!" sahut Nicho tidak terima.


"Dish, kok gua sih. Noh si Tian apa Louis kek kali-kali, masa iya kita mulu yang disuruh. Enak bener tugasnya cuman diem, duduk manis terus pasang wajah dingin. Gua juga mau kali!" sambung Eric, kesal.


"Oh, jadi lu berdua enggak mau?" ucap Ace, dingin tanpa ekspresi.


"Aishh, kenapa pada ribut sih. Udah biar gua aja yang mesen. Kalian tinggal bilang aja mau pesen apa." ucap Arsyi.


"Udah enggak usah, biar gua aja. Lebih baik lu duduk, ini urusan gua. Tinggal lu sebutin aja." Eric langsung berdiri di samping Arsyi.


"Widih, sigap bener kalau Ayangnya udah berkicau. Haha ...." ledek Nicho.


Semua terkekeh melihat sikap Arsyi mulai salah tingkah, lalu mereka pun memesan makanan sesuai dengan pesanan sahabatnya.


Mereka makan dalam keadaan tenang, sesekali bercanda gurau. Sampai akhirnya ucapan Arsyi berhasil membuat Ace tersendak.


"Ohiya, gua mau nanya dong. Kalian tahu enggak, noda bercak merah dileher itu namanya apa?" tanya Arsyi.


Uhukk, uhukk ...


"Astaga, Kak Ace. Makannya kalau minum pelan-pelan jadi keselek kan." celotek Fayra dengan segala kekhawatirannya.


"Noda merah dileher? Hem, apa ya?" gumam Eric, sambil memikirkan jawabnnya.


"Memang nodanya kaya gimana?" tanya Nicho, penasaran.


"Kaya gini nih, bentar." Arsyi secara tiba-tiba segera menyampingkan rambut Fayra sehingga leher kanan mulusnya terpampang jelas dipengelihatan mereka.


"Arsyi! Apa-apaan sih, lu kata cewek gua tontonan kali. Siapa tahu aja kan itu nyamuk, lagian juga mana? Buktinya leher cewek gua enggak ada apa-apa!" pekik Ace, sedikit gugup.


"Udah-udah jangan pada ribut, cepetan makan terus kembali ke kelas. Nanti sore jadi kan kita nonton?" tanya Fayra, mencoba mengalihkan obrolan mereka.


"Jadi dong, jam 7 kita ngumpul ya di Mal Matahari aja. Disana Bioskopnya lebih luas. Jadi enak mau ngapa-ngapain juga." celetuk Arsyi berhasil membuat Eric membolakan matanya.


Semuanya menatap Arsyi dengan tatapan aneh, sampai akhirnya Arsyi yang menyadari perkataannya langsung menjelaskan bahwa arti dari ucapannya itu tidak seperti apa yang ada dipikiran mereka.