
Alana keluar dari kamar Levin. 'Huuh! Aku akan mencari cara bagaimana caranya bisa membantu Syaqila pergi, tapi jarak dari kamar Syaqila ke bawah itu sangat tinggi. Tidak mungkin aku membawa Syaqila keluar lewat jalan utama.' Alana terus memikirkan cara bagaimana bisa membawa Syaqila pergi
Alana masuk ke dalam kamar Syaqila. Dirinya diperintahkan oleh nenek untuk membantu Syaqila bersiap untuk acara pernikahannya, ini bisa jadi kesempatan untuk Alana membantu Syaqila pergi.
Ceklek!
"Syaqila!" panggil Alana.
"Kau datang?"
"Iya, aku kemari ingin membantumu bersiap."
Syaqila menggelengkan kepalanya. "Tidak-tidak! Aku tidak mau menikah!" tangisnya.
"Syaqila tenanglah! Aku akan menjadikan kesempatan ini untuk membuatmu pergi," ujar Alana memegang pundak Syaqila dan berusaha meyakinkannya.
"Benar?" Alana mengangguk.
"Tapi bagaimana caranya?"
"Kau lihat jendela itu!." Syaqila mengangguk.
"Jika kau keluar lewat jendela itu, kau akan langsung keluar dari area rumah ini dan aku pastikan kau tidak akan tertangkap karena kau masuk ke dalam hutan, apa kau mau keluar dari jendela itu? Memang sedikit tinggi," ujarnya.
Tadi saat Alana keluar dari hutan dia mendapat ide bahwa jika Syaqila pergi lewat jendela dia akan langsung bebas tanpa ketahuan.
"Tidak masalah, asalkan aku bisa pergi dan tidak menikah dengan monster itu."
"Baiklah."
Alana mulai mengambil sprei dan beberapa selimut untuk membuat tali. Setelahnya Alana menyambungkan semuanya menjadi satu, dia mengikatkan ujung tali tersebut ke pilar yang ada di kamar itu.
"Kau siap?"
"Aku siap, terima kasih karena kau sudah mau membantuku."
"Iya tidak masalah, ingat pesanku! Setelah kau keluar. Kau terus saja berjalan ke dalam hutan. Kau akan melihat danau kau pergi ke arah timur! Terus saja berjalan nanti kau akan menemukan jalan setapak kau ikuti saja, nanti baru kau akan menemukan jalan raya," jelas Alana.
"Iya, aku tidak akan melupakan jasamu ini, ngomong-ngomong siapa namamu?"
"Aku Alana."
"Terima kasih Alana, aku pergi."
"Hmmm, hati-hati."
Alana membantu Syaqila turun dengan perlahan-lahan. Sesekali Alana memperhatikan sekitar takut ada orang yang melihatnya.
Hap.
Syaqila sudah tiba di bawah dengan selamat, Syaqila melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan dengan Alan. Setelah itu dia pergi masuk ke dalam hutan sesuai perintah Alana tadi.
'Tuhan, semoga saja Syaqila bisa keluar dengan selamat.'
...----------------...
Para tamu undangan dan keluarga sudah duduk manis di kursi yang sudah disediakan, mereka tidak sabar untuk melihat akad nikah Levin. Terlebih ingin melihat siapa gadis yang mampu menaklukkan seorang Levin Christensen.
"Almahira panggil Syaqila!" titah nenek.
"Kenapa harus aku?!" kesalnya.
"Kau calon adik iparnya, Kau yang harus memanggilnya."
"Ayo, Kak aku temani," ujar Alesha.
"Hmmm."
Almahira dan Alesha berjalan beriringan menuju kamar Syaqila.
"Syaqila." panggil Almahira.
"Syaqila apa kau di dalam?" Alesha mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, Mungkin saja Syaqila berada di dalam.
Almahira berjalan ke arah jendela yang terbuka. Dia terkejut melihat sprei dan selimut yang menjadi tali.
"Alesha, Syaqila telah lari!"
"Apa maksudmu?"
"Lihat ini!" Almahira menunjuk tali yang digunakan Syaqila untuk pergi.
"Astaga! Sekarang bagaimana kak? Pasti kak Levin akan marah."
"Aku yakin pasti ada yang membantu Syaqila pergi," ujar Almahira dengan tatapan tajam.
"Tapi siapa?"
Tamu-tamu yang ada di sana mulai bisik-bisik, mengapa Alesha dan Almahira lama sekali memanggil mempelai wanitanya?
"Di mana Alesha dan Almahira?" Melda beberapa kali melihat ke arah tangga.
"Astaga! Jangan-jangan Syaqilaa tidak mau turun," ujar Larasati—Bibi Levin.
"Nek, Ibu, Di mana mereka?" Levin mulai tidak sabar.
"Biar ibu yang panggil." Saat Melda beranjak dari duduknya. Alesha dan Almahira turun.
"Alesha, Almahira, Mana Syaqila?" tanya nenek.
"Kak, bisa ikut kami." Alesha berbisik di telinga Levin.
"Kenapa?"
"Sudah, ayo!" Alesha menarik tangan Levin. Dan diikuti anggota keluarga lainnya.
Alesha membawa Levin ke kamar Syaqila.
...----------------...
"Semoga saja sekarang Syaqilaa sudah menemukan jalan raya."
Alana sedang berada di dapur, tiba-tiba datang dua orang yang membawa dirinya paksa.
"Kalian siapa? Lepaskan aku!" berontak Alana.
Kedua orang tadi menyeret Alana ke kamar Syaqila.
Bug!
"Aaa!" ringis Alana saat dirinya dihempaskan dengan kasar.
"Kenapa kalian membawaku ke sini?"
"Aku yang memerintahkan."
Alana menoleh ke belakang. Dia terkejut melihat Levin yang menatapnya dengan tatapan marah.
"Ka--kau?"
"Kenapa kau membawaku ke sini?"
Brak!
"Aaaa!" Alana menutup telinganya saat Levin melemparkan Gucci ke arahnya.
Levin mencengkram kuat tangan Alana. "Kau pikir aku tidak tahu, kalau kau yang telah membantu Syaqila pergi!" bentaknya.
Alana menggeleng takut, astaga bagaimana dia tau?
BERTEMBUNG....