
Ya memang sih, Eric dan Nicho 11 - 12 jadi mereka seperti menemukan tempat baru yang spesial untuk mereka kembali berlabuh, menyosong masa depan yang lebih indah bersama seseorang yang nantinya akan berhasil membuat kedua buaya ini tersadar.
"Apa-apaan sih, Mih. Ak--"
"Sstt, berisik! Mamih suka kok kalau dia calon mantu Mamih, mana mukanya lucu, imut dan juga tampan lagi. Kapan kalian rencana mau nikah?" potong Mamih Syahnaz menatap Eric.
Mamih Syahnaz Axelia Sanchez, seorang wanita karir berusia 42 tahun. Dia merupakan wanita single yang kuat dan juga sangat menyayangi anaknya.
Terlepas dari suaminya yang sudah meninggal dunia, dia harus kembali mengelola perusahaan suaminya yang hampir saja bangkrut. Ditambah Mamih Syahnaz harus merawat anaknya seorang diri sekaligus menjadi Ayah untuk Arsyi.
Eric yang mendengar itu membuat jantungnya benar-benar berdetak sangat cepat, hingga pada akhirnya Eric sudah tidak kuat lagi, lalu jatuh pingsan.
Bugh ...
"Astaga, Eric!" teriak Arsyi ketika melihat Eric terjatuh tak berdaya.
"Baru juga dipanggil calon mantu udah pingsan, bagaimana jika beneran jadi mantuku? Bisa-bisa Arsyi langsung jadi janda rasa pera*wan, huh." gumam kecil Mamih Syahnaz.
Arsyi segera menolong Eric mencoba untuk beberapa kali membangunkannya, tapi nihil, Eric tetap tidak mau bangun, beberapa kali Arsyi menepuk pipinya cuman Eric masih saja tetap begitu.
Sampai seketika Arsyi menatap Mamih Syahnaz yang masih terdiam menatapnya. "Ini semua gara-gara Mamih. Jadi, ayo cepat bantu bawa dia ke kemar Arsyi"
"Katanya cuman teman tapi kok dibawa ke kamar? Atau jangan bilang kamu mau kasih napas buatan? Huaa, senangnya akhirnya sebentar lagi Mamih akan punya cucu dong, hihi ...." monolog Mamih Syahnaz yang terus menggoga anaknya.
"Mamih!" teriak Arsyi sekuat tenaga sambil menunjukkan wajah kesal bercampur marah dan juga khawatir ketika melihat Eric dalam keadaan seperti ini.
Mamih Syahnaz hanya bisa terkekeh melihat wajah anaknya yang memerah akibat menahan malu dan juga emosi, lantaran Mamih Syanaz selalu saja mengganggunya.
Ya, mau bagaimana lagi. Selama ini Mamih Syahnaz tidak pernah mendengar anaknya jatuh cinta. apa lagi sampai membawa pria ke rumah. Baru Ericlah satu-satunya pria yang berhasil mempera*wani rumah Arsyi.
Bukannya menolong Arsyi, Mamih Syahnaz malah pergi meninggalkannya. Susah payah Arsyi mencoba mengangkat tubuh Eric tetapi selalu gagal.
Arsyi terus mendumel sepanjang jalan tol, sampai ocehannya terhenti ketika melihat salah 2 security rumahnya hadir bersama dengan Mamih Syahnaz.
Ternyata Arsyi salah dalam menilai Mamihnya sendiri, awalnya dia kira Mamih Syahnaz hanya bisa menggodanya dan juga mengganggunya, tahunya Mamih Syahnaz malah memanggil seseorang yang bisa mengatasi masalah ini.
"Pak, tolong bantu bawa dia ke kamarku ya!" ucap Arsyi yang langsung berdiri dan akan menunjukkan jalan.
"Baik, Non." jawab salah satu security.
"Perasaan banyak kamar tamu yang kosong deh, kenapa harus dibawa ke kamarmu? Mencurigakan, sepertinya aku harus masang CCTV dikamarmu, agar aku tahu siapa saja yang masuk kesana." ucap Mamih Syahnaz tak henti-hentinya menggoda anaknya.
"Mamih, stop ya! Atau aku akan melakukannya biar Mamih marah!" sahut Arsyi, kesal.
"Wah, boleh tuh jadi akan kan bisa punya mantu dan cucu lebih cepat haha ...." ledek Mamih Syahnaz.
"Yak, dasar Mamih sengklek! Dahlah, ayo, Pak." ajak Arsyi.
Kemudian, mereka berpamitan untuk kembali ketempat. Arsyi dan Mamih Syahnaz menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih.
Mamih Syahnaz keluar kamar bertujuan untuk memberitahu pembantunya agar membuatkan minuman hangat supaya disaat Eric tersadar dia bisa segera meminumnya.
Baru saja Mamih Syahnaz keluar kamar, ponsel Eric berbunyi. Arsyi bingung harus bagaimana, karena ponselnya selalu saja berbunyi. Jadi mau tidak mau Arsyi melihatnya dan betapa terkejutnya dia saat menatap nama Nicho terpanpang jelas.
Arsyi yang sudah tersadar, kemudian membuka tas kecil yang masih dia pakai, dan ternyata ponselnya mati akibat dia lupa untuk mengisi baterai ponselnya.
Dengan cepat Arsyi mengisi daya baterai ponselnya dan menghubungi Sheila untuk memberitahu bahwa mereka tidak bisa ikut, lantaran tiba-tiba Eric pingsan akibat telat makan. Begitulah monolog Arsyi, dia takut diejek jika Eric jatuh pingsan akibat ulah Mamihnya yang Rese.
Dirumah sakit Sejahtera
Mereka berenam sudah sampai diparkiran, kemudian semuanya berjalan terburu-buru memasuki rumah sakit beriringan. Lalu salah satu dari mereka segera menanyakan pada resepsionis dimana letak kamar Fayra karena pembantu Fayra tidak tahu menahu Fayra dirawat dikamar berapa.
Setelah mendapatkan letak kamar Fayra, mereka langsung berjalan menuju lift. Sesampainya dilantai kamar Fayra, mereka segera menanyakan kesalah satu security yang berjaga.
Mereka diarahkan ke salah satu lorong menuju kamar Fayra. Tanpa basa-basi lagi merela menelusuri lorong tersebut, dimana dari jauh mereka melihat sosok pria yang sedang duduk dalam keadaan membungkuk sambil memegang kepalanya.
"Itu bukannya Kak Ace?" ucap Nata.
"Ya itu, Ace. Tapi dari mana dia tahu jika Fayra ada disini?" sahut Nicho menyipitkan matanya sambil berjalan.
"Apa jangan-jangan semua ini ada sangkut pautnya sama Kak Ace?" ucap Sheila, menaruh curiga.
Ketiga sahabat Ace yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya menatap satu sama lain, mereka seperti memikirkan hal yang sama ketika perkataan Sheila mampu membuat mereka teringat dengan perjanjian Ace dan Andrew yang menjadikan Fayra sebagai taruhannya.
Chelsea menyadari para pria berhenti langsung menoleh kebelakang, kemudian kembali menyadarkan mereka. Perlahan langkah mereka pijakkan, sampai membuat Ace terkejut ketika mendegar suara langkah kaki mendekatinya.
Ace berdiri menatap semuanya yang saat ini sudah menatapnya sedikit bingung, tetapi sorotan mata Sheila begitu tajam. Hingga Ace menatap kearah sahabatnya seperti memberikan sinyal padanya.
Namun, ada satu hal yang membuat Ace bingung lantaran kedatangan mereka semua sudah berhasil membuat jantungnya berpacu cepat. Ditambah di dalam ruangan ada kedua orang tua Ace dan Fayra yang sedang menunggu Fayra.