Learn to Love You

Learn to Love You
Part 29



"Kalau aku menculik dan memaksanya untuk menikah, tidak mungkin aku mengizinkan dia bertemu dengan kalian."


"Benar juga, kau memberikan pertanyaan yang salah." bisik Rex.


"Itu yang komandan Kim ajarkan."


" Siapa Komandan Kim?"


Deg.


Alex dan Rex melempar tatapan terkejut, bagaimana dia bisa mendengarnya?


"Komandan Kim itu ...." Rex menyenggol lengan Alex.


Rex menyenggol lengan Alex kembali. "Itu siapa?" tanya Rex bingung harus menjawab apa.


"I--itu, i---"


Belum sempat Alex berbicara Alana dan kedua orang tuanya terlebih dulu datang, mereka menarik nafas lega. untunglah Alana segera datang.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Kevin.


"Tidak ada," jawab Rex dan Alex.


Levin bangkit dari duduknya. "Alana apa bisa kita pulang?"


"Apa harus sekarang?"


"Ini sudah siang, waktunya kau makan dan minum susu."


"Tapi aku masih ingin di sini!" rengeknya.


"Alana, sekarang dia itu adalah suamimu. Kau harus menurutinya, nanti kita bisa mengatur waktu untuk bertemu," ujar Anaya.


"Benarkah?"


"Tentu, sayang." Arif mengelus rambut Alana.


"Baiklah, sampai jumpa nanti." Mereka kembali berpelukan sebagai tanda perpisahan.


Sebenarnya Alana masih ingin bersama kedua orang tuanya, tapi apalah dayanya.


"Aku pamit."


"Hati-hati!"


Alana mengangguk. "Rex, Lex. Jangan nakal!"


"Baik, kak."


Arif menepuk pundak Levin. "Jaga putriku dengan baik, jika sampai terjadi sesuatu dengannya maka kau orang pertama yang akan aku habisi." bisik Arif.


"Aku tidak bisa berjanji untuk itu, tapi akan aku pastikan dia mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan ... ntah itu kebahagiaan, atau penderitaan."


Setelah mengatakan itu Levin menarik pelan tangan Alana.


Arif tersenyum tipis. "Sepertinya sifatnya lebih keras dari sifatku," gumam Arif.


...----------------...


Sampai di mansion ....


Alana sepanjang jalan sampai tiba di rumah terus saja tersenyum, dia benar-benar senang bisa bertemu dengan kedua orang tuanya lagi. Walaupun hanya sebentar.


"Levin, apa bisa nanti kita bertemu mereka lagi?" Alana menghentikan langkah Levin dengan memegang tangannya.


"Bisa kita menginap di rumah juga?"


"Iya, Alana sayang."


"Aaa! Terima kasih." Refleks Alana memeluk Levin.


"Asalkan kau senang, aku akan melakukannya."


Alana tersenyum hangat.


"Menginap di mana?" tanya Nenek.


Levin dan Alana saling pandang, apakah mereka harus mengatakannya?


"Itu, nek ...." Alana menunduk bingung.


"Menginap di rumah Alana," jawab Levin.


"Jadi selama ini Alana masih memiliki keluarga?"


"Iya, tadi kami bertemu dengan mereka di taman."


"Benarkah? Lalu kenapa kalian tidak mengajak mereka kemari? Harusnya kalian membawa mereka kemari, kita sebagai keluarga harus saling akrab," jelas Nenek.


"Nanti akan aku usahakan mereka datang kemari."


"Benarkah?" Alana menatap Levin tak percaya.


"Hmm."


Alana benar-benar senang kedua orang tuanya bisa datang ke rumah ini.


"Kalau begitu kita harus membuat penyambutan yang meriah untuk keluarga Alana, bagaimanapun mereka juga orang tuamu."


"Iya, Nek. Nenek atur bagaimana baiknya ... aku dan Alana akan istirahat."


"Silakan."


Levin dan Alana menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


...----------------...


"Almahira!" panggil Rendra.


"Ada apa? Kau mengganggu saja!" kesalnya.


"Kau tahu apa yang baru aku dengar?"


"Mana aku tau kau tidak mengatakannya."


"Dengarkan ini, ternyata selama ini Alana masih memiliki Ayah dan ibu. Tadi, kak Levin dan Alana bertemu mereka di taman, nenek juga akan mengundang mereka datang kemari dan memberikan penyambutan."


"Apa! Jadi selama ini Alana membohongi kita."


"Itu yang aku pikirkan, sepertinya ada sesuatu yang janggal di sini."


"Kalau begitu, kita harus bisa membongkar kedok Alana yang sebenarnya dihadapan semua orang."


"Harus."


BERTEMBUNG....