
Sekitar pukul 11.20 Levin dan Alana tiba di mansion Arif, Alana menatap sendu bangunan mewah di depannya. Banyak sekali kenangan indah yang dirinya lewati di rumah ini, sudah hampir beberapa bulan Alana tidak menginjakkan kakinya di rumah ini. Rumah masa kecilnya yang selalu memberikan warna dihidupnya, akhirnya setelah sekian lama dirinya kembali lagi. Walaupun hanya untuk sementara.
"Al." panggil seseorang.
Alana menoleh ke sumber suara. "Paman Zi." Alana langsung berlari menghampiri Zi dan memeluknya erat, Zi sudah Alana anggap sebagai Ayah-nya sendiri, sejak kecil sampai dirinya dewasa. Zi dan istrinya selalu menjadi teman bermain dan pundak bersandar di kala Arif dan Anaya sibuk dengan urusan pribadi mereka.
"Bagaimana kabarmu?"—Zi melerai pelukannya. "Aku baik-baik saja, tapi ...." Alana tak bisa melanjutkan ucapannya saat mengingat kini dia sudah kehilangan bayinya, masih ada rasa tak rela di mata Alana.
Zi mengelus kepala Alana. "Bersabarlah, Tuhan pasti punya rencana yang lebih indah."
Alana kembali memeluk Zi dengan isakan kecil, sejak kecil jika Alana memiliki masalah yang tidak bisa dia ceritakan kepada kedua orang tuanya. Alana pasti akan lari menemui Zi dan istrinya untuk mencurahkan isi hatinya.
"Alana!"
"Bibi." Alana beralih memeluk Lisa, dia kembali terisak. "Ikhlaskan saja, Bibi yakin ada kebahagiaan yang menantimu di depan sana."
Setelah cukup lama mereka berpelukan. Zi beralih menatap Levin yang hanya diam.
"Apakah dia Levin?" Zi menunjuk Levin dengan ekor matanya.
"Iya, dia Levin. Suamiku paman."
Zi berjalan menghampiri Levin. "Aku turut berduka cita atas kehilangan bayimu. Maaf, karena aku tidak datang ke rumah sakit. Saat itu ada masalah di kantor," jelas Zi menatap lekat Levin.
"Tidak papa, aku mengerti."
"Kalau begitu ayo kita masuk!" ajak Lisa.
"Bibi, di mana Zean dan Zayan"
"Rex dan Alex mereka sedang kuliah di Palembang."
"Jadi mereka tidak ada di sini?"
"Iya, sayang ... nanti Bibi akan telpon mereka, siapa tau mereka akan pulang."
"Iya."
Mereka pun memasuki rumah, dan langsung disambut oleh para Maid dan bodyguard.
Levin takjub dengan kehidupan Alana, ternyata dirinya adalah anak dari seorang yang terkenal. Bahkan, memiliki rumah bak istana.
"Alana, sayang." Alana langsung memeluk Anaya.
"Selamat datang kembali, Nak." Arif mengelus pipi Alana.
"Terima kasih. Dad, aku senang bisa pulang setelah sekian lama."
"Kakak!" teriak Rex. "Bisa tidak jangan berteriak seperti itu!" kesal Alex.
"Apa urusanmu!" ketusnya, Rex berlari menghampiri Alana.
"Dasar anak tupai." Alex mengikuti langkah Rex.
"Kak, aku sangat senang kau kembali ke rumah."
"Kakak juga, tapi Kakak di sini hanya untuk sementara Rex."
"Kenapa tidak tinggal lagi saja di sini?"
"Rumah Kakak sekarang bukan di sini lagi, tapi di rumah Kak Levin." Alana menoleh ke arah Levin yang tersenyum tipis ke arahnya.
Rex menunduk sedih, sejak kecil hanya Alana lah yang tidak pernah menjaili dirinya. Dan mereka selalu berbagi segalanya berdua, tapi sekarang karena Alana sudah menikah mereka tidak bisa seperti dulu lagi.
"Kau boleh memanggilku baby boy, aku tidak akan marah. Walaupun aku tidak suka dengan panggilan itu, aku bukan baby, tapi jika kau tinggal lagi di sini kau boleh memanggilku dengan sebutan itu. Sebanyak yang kakak mau!" rengeknya.
Alana terkekeh melihat adik bungsunya yang begitu manja. "Kakak bisa saja kembali tinggal di sini, asalkan kau berani memintanya sendiri kepada Kak Levin.
Rex melirik Levin yang menatap datar dirinya, seketika nyalinya menciut. "A--aku rasa sebaiknya, Kak Alana tetap tinggal di rumah Kak Levin saja," ujarnya.
Seketika Alana dan yang lainnya tertawa melihat perubahan sikap Rex. Rex memang terbilang anak yang penakut.
"Sebaiknya kalian istirahat," ujar Anaya mengusap lengan Alana.
"Baik, Bun."
...****************...
Di sore hari, Alana pergi ke taman dekat mansion. Dia ingin jalan-jalan sore sambil menikmati hembusan angin.
Alana duduk termenung di kursi taman, sambil melihat anak-anak usia sekitar 7-10 tahunan sedang bermain.
Levin duduk di samping Alana. "Ada apa?"
"Tidak." Alana mengusap sudut matanya.
"Kau yakin?"
"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sedih ... seandainya bayi kita masih ada. Pasti nanti ketika dia besar dia akan bermain sama seperti anak-anak itu, pulang dengan keadaan kotor. Dan kau akan memarahinya sama seperti daddy dulu ketika memarahi Alex dan Rex. Yang pulang dengan keadaan basah kuyup, dan kotor karena main bola sambil hujan-hujanan." Alan terkekeh sendiri membayangkannya, pasti akan sangat menyenangkan.
"Sudah pasti, aku sangat tidak menyukai sesuatu yang kotor. Jika anakku melakukan itu, aku akan mengurungnya di gudang."
Alana memukul pelan lengan Levin. "Kau jahat sekali!" kesalnya.
Levin terkekeh. "Pasti ujung-ujungnya kau yang akan menangis, memohon padaku agar tidak mengurungnya di gudang."
"Sudah pasti ...."
"Andaikan." Alana memeluk Levin, lagi-lagi hanya andaikan.
"Sst! Kau masih muda, kau pasti bisa mengandung lagi. Iyakan??"
Alana mengangguk. "Tapi kapan?"—Alana mendongak menatap Levin.
"Mungkin malam ini kita harus membuatnya lagi."
Plak!
"Aws!" Levin mengusap pipinya. "Itu namanya kau mencari kesempatan dalam kesempitan." Alana memanyunkan b1b1rnya.
"Itu adalah salah satu bentuk usaha," jawab Levin.
"Kau benar juga."
"Apa malam ini kita akan melakukannya lagi?" Levin menaik turunkan alisnya.
"Oke."
Keduanya sama-sama tertawa, obrolan yang konyol sekali di sore hari, tapi ini menjadi keindahan tersendiri bagi keduanya di sore hari yang begitu cerah ini. Secerah tawa keduanya.
Di balik pohon.
"Kalian boleh tertawa bahagia hari ini, tapi akan aku pastikan hari-hari berikutnya hanya akan ada kesedihan."
BERTEMBUNG...