Learn to Love You

Learn to Love You
Part 42



Ceklek!


Alana keluar dari dalam kamar mandi, dia baru selesai mandi pagi. Walaupun ini sudah hampir siang.


"Eh, ada surat."


Alana mengambil kertas yang diletakkan di atas meja riasnya, surat dari siapa?


Alana membaca isi surat tersebut.


____________Levin____________


Untuk Alana ....


Sayang, aku mau kita bertemu di taman. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu.


Datanglah seorang diri!


Ini penting.


____________Love Levin____________


"Kenapa Levin mengajak aku bertemu di taman? Kenapa tidak pulang saja jika memang ada yang ingin dibicarakan," ujarnya kembali meletakkan surat tersebut.


Alana memandang wajahnya di cermin. "Tapi jika aku tidak menemuinya dan dia ingin mengatakan hal penting, bagaimana?"


"Tidak biasanya dia menyuruhku keluar tanpa didampingi oleh bodyguard?"


"Hmm, sebaiknya aku temui saja."


Alana pun mengambil tas-nya dan pergi untuk menemui Levin, walaupun memang sedikit mencurigakan karena Levin menyuruhnya datang ke taman seorang diri. Tapi tak apa, akhirnya setelah sekian lama dirinya bisa keluar dari rumah tanpa diikuti oleh bodyguard.


Taman ....


"Di mana Levin?"—Alana duduk di kursi taman.


Jarak antar taman dengan rumah memang dekat. Jadi, tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai.


Dari belakang, terlihat seorang wanita memakai topeng separuh wajah. Dia berjalan mendekati Alana dari arah belakang.


'Rencanaku tidak boleh gagal untuk yang ketiga kalinya.'


Sosok bertopeng itu semakin mendekati Alana.


Alana mendengar derap langkah dari arah belakang.


"Levin, apa itu kau?"—Alana berbalik.


"Hmpps! Emm ...!" Alana memberontak saat sosok bertopeng itu membekap mulutnya.


"Diam!" bentaknya, dia langsung membawa Alana pergi.


'Siapa dia? Kenapa dia menculikku?' batin Alana.


Alana di bawa ke dalam mobil.


"Diam, dan jangan berisik!"


Sosok bertopeng itu langsung menjalankan mobilnya menuju suatu tempat.


...----------------...


"Kak!" panggil Alesha.


"Kakak!"


"Kenapa kak Alana tidak menjawab?"


Hening.


Alesha melihat sekeliling tapi tidak menemukan di mana Alana.


Tok! Tok!


"Kak, kau ada di dalam?"


"Ke mana kak Alana pergi?"


Saat Alesha ingin berbalik dia melihat kertas di atas nakas.


"Surat apa ini?" Alesha pun membaca isi surat tersebut.


"Surat dari kak Levin untuk kak Alana."


Alesha pun menelepon Levin untuk memastikan apakah surat ini benar dari Levin atau bukan.


Tring, tring, tring!


"Halo."


"Halo, Kak. Apa Kakak sekarang bersama kak Alana?"


"Aku sedang di kantor, bagaimana bisa bersama Alana."


"Apa Kaka menulis surat untuk kak Alana, dan mengajaknya bertemu di taman?"


"Tidak, aku tidak menulis surat apapun untuk Alana."


"Lalu surat ini ...."


"Surat apa?"


"Ini Kak, aku menemukan surat di atas meja rias kak Alana, dan isinya adalah ajakan bertemu dari Kakak di taman."


"Coba kau lihat! Apakah itu tulisan tanganku?"


Alesha kembali membaca isi surat tersebut. "Bukan Kak, ini bukan tulisan tangan Kakak."


"Kalau begitu perintahkan beberapa bodyguard untuk menyusul Alana ke taman, Kakak akan pulang."


"Baiklah."


Setelah mematikan telpon, Alesha langsung berlari keluar dari kamar untuk menjalankan perintah Levin.





"Lepaskan aku!" bentak Alana, sosok bertopeng itu mengikat tangan dan kaki Alana di kursi.


"Diamlah!"


"Siapa kau? Kenapa kau menculikku?"


"Kau tidak perlu tahu siapa aku!" bentaknya.


Sosok bertopeng itu pergi meninggalkan Alana di ruangan yang cukup gelap.


"Lepaskan aku ...! Levin kau di mana?"


BERTEMBUNG...