
"Tidak jangan tembak aku!" teriak Alana bangun dari tidurnya, ternyata dia cuma mimpi. Tapi kenapa terasa begitu nyata?
Levin yang kaget mendengar teriakkan Alana pun ikut bangun dari tidurnya, Levin menatap Alana yang sudah keringat dingin.
"Kau kenapa?" tanya Levin.
Alana menoleh ke arah Levin. Ntah, kenapa bayangan mimpi tadi kembali terlintas di benak Alana. Benar-benar mengerikan.
"Alana!" panggil Levin lagi saat tak mendapat respon.
Alana terperanjat kaget. "A--aku ... to--tolong jangan tembak aku! A--aku, a--aku. Aku ...."
Levin segera memeluk Alana, ntah kenapa dengannya.
"Kau pasti mimpi buruk, 'kan?" Levin masih setia memeluk Alana dan sesekali menc1um pucuk kepalanya.
"Ka--kau tidak akan menembakku, 'kan?" tanya Alana dengan suara tertahan.
"Untuk apa aku menembakmu ...? Kecuali jika kau menghianatiku."
Alana kembali dibuat ketakutan, walaupun dia merasa takut tapi kenapa dirinya merasa nyaman saat Levin memeluknya seperti ini? Itu yang Alana pikiran, harusnya dirinya memberontak. Rasanya tubuhnya tidak ingin lepas dari pelukan hangat ini.
"Sebaiknya sekarang kau mandi. Agar kau merasa lebih baik," ujar Levin melepaskan pelukannya, tapi kenapa Alana merasa tidak rela Levin melepaskan pelukannya.
"Ta--tapi ...." Alana menatap Levin dengan tatapan sulit diartikan, sedang kenapa dengan dirinya?
Levin yang mendapatkan tatapan seperti itu mulai memiliki ide jahat.
"Aku rasa kau tidak ingin mandi sendiri, jadi lebih baik kau mandi denganku." Levin langsung menggendong Alana menuju kamar mandi.
Alana tiba-tiba tersenyum, apakah dirinya senang? Eh, tidak-tidak! Harusnya dirinya marah ....
...****************...
"Apa ini?" tanya Almahira yang melihat Rendra sedang melakukan sesuatu.
"Ini akan membantu kita untuk menyingkirkan Alana dari rumah ini," ujarnya.
"Bagaimana caranya?"
"Sudah kau tidak perlu tahu, yang terpenting rencana ini pasti akan berhasil ... setelah itu Alana pun akan pergi dari rumah ini."
"Aku tidak mengerti satu hal, obat ini bisa membuat Alana pergi. Tapi apa fungsinya?"
"Aku dengar nenek akan menyuruh Alana untuk masak. Jadi, aku akan menaburkan obat ini dimasakan Alana... kau tahu nenek itu sangat sensitif terhadap beberapa obat, jika aku meletakkan sedikit obat ini. Nenek akan otomatis merasakan sakit di jantungnya, setelah itu kak Levin akan marah dan menyalahkan Alana."
"Kau sudah gila! Dia itu nenek kita, bagaimana mungkin kita mencelakakannya hanya untuk mengusir Alana!" kesal Almahira.
"Kau tenang saja, obat ini hanya membuat jantung nenek kambuh. Bukan mencelakakannya."
"Terserah kau saja!"
...----------------...
Setelah 40 menit Alana dan Levin selesai mandi, Alana menatap horor Levin karena dengan lancang kembali melakukan hubungan itu tanpa persetujuannya.
Levin hanya menyengir, rasanya Alana ingin menelan Levin. Andai dia berani melakukannya.
"Sudah kau jangan marah." Levin memeluk Alana dari belakang.
"Kau itu selalu saja melakukan sesuatu sesuai kehendakmu, tidak bisakah kau bertanya lebih dulu?!" kesal Alana.
"Baiklah, maaf."
"Tidak!"
"Kenapa kau marah? Aku berhak melakukan itu, kau dan aku sudah tidak ada batasan lagi."
"Tuan Levin Christensen yang terhormat, aku ini bukan boneka yang bisa kau mainkan sesukamu."
"Kau---"
Tok! Tok! Tok!
"Maaf permisi ... nenek memanggil," ujar Alesha dibalik pintu.
Ceklek!
"Tara kenapa kau tidak masuk?" tanya Alana setelah membuka pintu.
"Hehehe, aku takut dimarahi Kak Levin lagi jika aku sesuka hati masuk tanpa ketuk pintu." Alesha menayangkan Levin menatapnya dengan tatapan tajam jika dia kembali lancang.
"Kau ini ..., ada apa nenek memanggil?"
"Nenek mengatakan, hari ini kak Alana harus memasak untuk sarapan."
"Baiklah, aku segera turun."
Alesha mengangguk setelahnya dia pergi.
Saat Alana berbalik dia terkejut dengan kehadiran Levin dibelakangnya.
"Kau ...."
"Apa?" Levin mendekatkan wajahnya membuat Alana gugup.
"Ti--tidak." Alana segera berlari ke meja riasnya, dia menyihir rambut setelah itu buru-buru pergi.
"Sepertinya aku mulai tertarik." Levin tersenyum tipis.
...****************...
"Almahira, kau harus bisa alihkan perhatian Alana sampai aku selesai memasukkan obat ini di supnya." bisik Rendra yang berdiri di samping pintu dapur.
"Hmm."
Almahira berjalan dengan santai memasuki dapur, dia pura-pura mencari sesuatu.
"Ohh astaga! Di mana?" Almahira pura-pura kebingungan.
"Apa yang kau cari?" tanya Alana.
"Apa kau bisa bantu aku mencari antingku? Seingatku sebelum antingku hilang. Aku berada di sini, mungkin saja antingku jatuh di sini."
"Baiklah, ayo kita cari."
Amahira dan Alana pura-pura mencari anting Almahira yang hilang, sedangkan Rendra mulai menjalankan aksinya.
Rendra menaburkan bubuk obat tersebut lalu mengaduknya, setelah itu Rendra memberikan kode kepada Almahira.
Almahira yang mengerti segera menaruh anting yang dia cari di dekat kulkas.
Alana yang melihat anting Almahira segera mengambilnya.
"Ini Almahira, sepertinya antingmu terjatuh saat kau mengambil sesuatu dari kulkas," ujar Alana menyerahkan anting Almahira.
"Ya ampun, terima kasih kau sudah menemukannya. Anting ini pemberian kak Levin, aku sangat menyayanginya ... terima kasih, aku pergi."
Alana mengangguk dan kembali melanjutkan memasak, tanpa dia sadari apa yang sudah ikut tercampur dengan sup buatannya.
Alana segera menyiapkan sup buatannya, dan diletakan di atas meja makan.
Alana juga memasak beberapa makanan lainnya.
"Apa sudah selesai?" tanya Nenek menghampiri Alana.
"Bagus, mari kita mulai sarapannya!" ajak Nenek dan diangguki semua.
Mereka duduk di kursi masing-masing. "Nenek mau sup?" tawar Alana.
"Tentu."
Alana menuangkan sup buatannya di mangkuk milik Nenek.
"Sudah cukup, terima kasih."
"Apa yang lain mau?" tawar Alana pada yang lain.
"Tidak!" tolak Almahira dan Rendra bersamaan.
Alana hanya mengangguk, dia mulai melayani sarapan Levin.
"Kita lihat dalam beberapa detik saja, reaksi obat itu akan bekerja." bisik Rendra pada Almahira.
"Kau yakin obat itu tidak akan membunuh nenek?"
"Aku sangat yakin, obat itu hanya membuat jantung nenek kambuh saja."
Beberapa detik kemudian nenek mulai merasakan nyeri di dadanya, nenek memegangi dadanya.
"Ibu, ada apa?" tanya Melda yang melihat nenek seperti kesakitan.
"Jantungku sepertinya kambuh," jawab nenek.
"Astaga! Bagaimana bisa?"
"Ada apa Nek?" kini Levin yang bertanya.
"Levin, jantung nenek sepertinya kambuh."
"Apa yang kalian tunggu? Ayo cepat panggil dokter!"
"Baik, kak." Rendra segera menghubungi dokter.
Levin menggendong nenek menuju kamar, dan diikuti oleh yang lain.
Sampai kamar, Levin segera membaringkan nenek.
"Ibu bertahan, dokter akan segera sampai," ujar Melda.
"Bagaimana bisa jantung nenek kambuh?!" bentak Levin.
"Kak. Jantung nenek kambuh setelah memakan sup buatan Alana, aku yakin pasti dia meletakkan sesuatu." Almahira mulai memanasi keadaan.
Levin menatap tajam Alana. "Levin aku tidak menaruh apapun, percayalah."
"Kalau kau tidak menambahkan sesuatu, mana mungkin jantung nenek bisa kambuh setelah memakan sup buatmu!" bentaknya.
"Kau percayalah padaku, aku benar-benar tidak menambahkan apapun ... aku---"
"Sudahlah mengaku saja, kau pasti ingin membuat nenek sakit dengan menambahkan sesuatu ke dalam sup itu," ujar Larasati menimpali.
"Tidak! Berapa kali aku harus mengatakannya, aku benar-benar tidak menambahkan apapun."
"Jika terjadi sesuatu dengan nenek, maka seumur hidupku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu."
"Levin, sudah jangan salahkan Alana. Dia tidak akan mungkin melakukan itu," lirih nenek.
"Tapi, ne---"
"Permisi."
"Dokter masuklah!"
Dokter tersebut langsung memeriksa keadaan Nenek.
"Tolong pastikan nenekku baik-baik saja," ujar Levin.
"Tenanglah, saya akan berusaha."
Beberapa menit dokter selesai memeriksa keadaan Nenek, Nenek pun sudah lebih baik. Tidak lagi merasakan sakit.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Melda.
"Syukurlah, jantungnya hanya kambuh ringan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas dokter.
"Syukurlah ... terima kasih."
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi."
"Aku akan mengantarkannya," ujar Rendra mengikuti langkah sang dokter keluar dari kamar Nenek.
"Nek, apa nenek baik-baik saja?" Levin duduk di samping sang Nenek.
"Selagi ada dirimu, bagaimana mungkin nenek akan merasa tidak lebih baik." Nenek menggenggam tangan Levin.
"Nenek, aku---"
"Jangan dekati Nenek!" bentak Levin saat Alana hendak menghampiri nenek.
"Levin, dengarkan dia dulu. Ini belum tentu kesalahannya."
"Tapi, Nek. Nenek menjadi seperti ini karena memakan makanan yang dibuat Alana, sudah pasti dia meletakkan sesuatu."
"Levin ...."
"Nek, sebaiknya Nenek istirahat saja." Levin menarik selimut dan menyelimuti nenek.
"Kalau begitu kita keluar, biarkan nenek istirahat ... Bu kami pergi dulu." Melda menatap nenek.
"Baiklah."
Mereka pun keluar dari kamar Nenek.
...****************...
Brak!
Levin membuka pintu kamar dengan kasar.
"Levin aku mohon dengarkan aku! Aku tidak mencampur sup itu dengan apapun," ujar Alana masih berusaha untuk membuat Levin percaya. Bahwa dirinya tidak mencampurkan apapun dalam sup buatannya.
Tapi Levin hanya diam.
Alana memegang tangan Levin. "Percayalah, aku tidak mungkin melakukan itu ... aku sangat menyayangi nenek, mana mungkin aku tega melakukan itu."
Levin masih terus bungkam.
"Le---" tiba-tiba Alana merasakan kepalanya pusing, dia memegang kepalanya yang berputar-putar.
Levin yang melihat Alana seperti ingin pingsanpun segera menahan tubuh Alana.
"Alana. Kau kenapa?"
"A---" Alana lebih dulu pingsan.
Ada yang tau kenapa dengan Alana?