Learn to Love You

Learn to Love You
Part 22



Pukul 02.30. dini hari Alana terbangun dari tidurnya, dia melihat ke samping. Tidak ada Levin, ke mana dia?


Alana bangun dari tidurnya. "Dia ke mana? Apakah dia melakukan sesuatu yang berhubungan dengan nyawa seseorang. Seperti yang dikatakan Devano?" Alana kembali menyimpan rasa curiga kepada Levin, karena malam-malam begini dia pergi ke mana?


"Aku harus mencari tahu." Alana buru-buru bangkit dan pergi keluar kamar.


Dia menuruni anak tangga, dia harus bisa menemukan Levin.


Alana pergi ke salah satu lorong yang jarang dilalui oleh anggota keluarga maupun orang-orang yang bekerja, kemungkinan besar di salah satu ruangan di sini tempat rahasia Levin selama ini. Pikir Alana.


"Aku akan menangkap basah dirimu, setelah itu aku akan kembali kepada Devano," ujar Alana menge-cek satu persatu ruangan di sana.


Dia melihat satu ruangan di ujung dengan lampu yang menyala, Alana mendekati ruangan itu dengan hati-hati. Jangan sampai dirinya ketahuan dan menjadi mangsa berikutnya.


"Apakah di sini ...?" Alana mulai membuka pintu ruangan tersebut dengan perlahan-lahan.


Di semua ruangan yang ada di sana, cuma ruangan ini yang menyala. Itu yang membuat Alana yakin pasti ada sesuatu.


Alana dengan perlahan mulai membuka pintu tersebut.


"Levin ka---" Alana menghentikan ucapannya saat melihat apa yang Levin lakukan di dalam ruangan itu.


Alana terpaku di ambang pintu melihat apa yang Levin sedang kerjakan.


Di dalam sana Levin sedang melaksanakan shalat tahajud, ternyata ruangan yang Alana curigai adalah sebuah mushola yang ada di rumah itu. Levin sengaja membuat musholla itu berada di ujung agar ketika siapa saja merasa nyaman dan beribadah dengan khusyuk.


Levin memang selalu melaksanakan shalat tahajud disaat-saat tertentu saja, di malam Jum'at, saat dirinya tidak bisa tidur, ketika dirinya menghadapi masalah. Levin akan melakukan ibadah sunah yang satu itu di jam-jam yang tidak menentu.


Alana hanya terpaku melihat Devano yang sedang khusyuk melaksanakan shalat tahajud-nya, tidak tanggung-tanggung Levin mengerjakannya sebanyak 11 raka'at. Kini dia sedang melaksanakan raka'at terkahir.


'Maafkan hamba ya Tuhan. Karena telah menuduh yang tidak-tidak.' batin Alana merasa bersalah, kini lagi-lagi kecurigaan Alana terhadap Levin kembali pupus setelah apa yang dia lihat.


Hati dan pikirannya kembali meradu argumen, pikirannya mengatakan. Levin adalah orang jahat, sedangkan hatinya mengatakan. Levin adalah orang baik, Alana benar-benar bingung dengan ini semua. Mana yang harus dia percaya? Selama ini dirinya selalu menuruti apa kata pikirannya, tapi kali ini kenapa hatinya mendorong Alana untuk lebih percaya bahwa Levin bukanlah orang jahat seperti yang Devano dan komandan Kim katakan.


"Siapa sebenarnya kau ini Levin?" tanya Alana pada dirinya sendiri.


Setelah Levin selesai melaksanakan kegiatan sunahnya, dia terkejut saat berbalik melihat Alana yang berdiri mematung di ambang pintu.


Levin heran apa yang dilakukan Alana?


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Levin menatap lekat Alana.


"A--aku. Aku, aku mencarimu ... saat aku terbangun kau tidak ada, jadi kupikir aku akan mencarimu," jawab Alana gelagapan.


"Aku tidak kemana-mana, kau cukup hebat karena bisa melihatku melaksanakan kegiatan sunah ini," ujar Levin dengan senyuman tipis.


Alana menaikan sebelah alisnya. "Maksudnya?"


"Iya, selama ini tidak pernah ada yang tahu bahwa aku suka melaksanakan kegiatan sunah yang satu ini."


"Kenapa? Biarkan saja orang tahu, ini perbuatan baik. Bukan kejahatan yang harus disembunyikan."


"Ibadah itu sama seperti kejahatan dan aib."


"Hah ...?"


"Iya, jika kita melakukan kejahatan atau perbuatan yang kotor yang disebut aib. Maka kita akan menyembunyikannya agar tidak ada orang yang tahu, sama halnya ibadah. Tidak harus orang tahu, cukup antara kita yang melakukannya dengan Tuhan yang tahu. Sebaiknya orang lain jangan, karena bisa saja niat awal kita ibadah karena Tuhan. Tapi tiba-tiba orang mengetahui itu dan bisa jadi Ibadah yang kita lakukan malah menjadi dosa, karena orang memuji kita adalah hamba yang taat. Lalu, kita merasa bangga dengan itu. Maka yang tadinya beribadah karena Tuhan tapi tiba-tiba mendapat pujian seperti itu, jadinya kita beribadah hanya untuk mendapatkan pujian manusia saja ... ibadah itu lebih baik tidak ada orang yang tahu. Agar tidak menjadi dosa untuk kita, karena kita melakukannya semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian manusia bukan karena benar-benar menyembah Tuhan dan mencari ridhonya."


Alana yang mendengar itu benar-benar kagum, inikah sosok Levin yang dibalik sifat dingin, cuek, dan pemarahnya. Memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama.


"Kenapa malah tersenyum-senyum seperti itu?!" tanya ketus Levin, kini sifat dinginnya balik lagi.


"Ti--tidak."


"Ini sudah malam, sebaiknya kita ke kamar!" ajaknya.


"Iya."


Mereka pun kembali ke dalam kamar, Alana seperti menemukan sosok baru dalam diri Levin. Dirinya harus lebih mengenal Levin lagi, agar tahu apa saja kebiasaan yang tidak banyak orang ketahui tentangnya.


Sifat seperti itu yang tidak Alana temukan di diri Devano, tapi dia temukan di diri Levin. Ke mana takdir akan membawanya sekarang?


...----------------...


Pagi-pagi sekali Alana sudah terbangun. Kini, dia sedang membereskan beberapa kertas yang sudah tidak terpakai di dalam laci, tentunya Levin yang menyuruhnya.


Saat sedang fokus merapikan kertas-kertas tersebut, tiba-tiba ada sebuah kertas yang dilipat masuk ke dalam kamarnya melalui jendela yang terbuka.


"Heh, dari mana kertas ini?" bingung Alana mengambil kertas tersebut.


Alana pun membaca tulisan yang ada di kertas itu.


________________


Alana. Ini aku Devano, aku mau kita bertemu di hutan dekat rumah Levin ... ada sesuatu yang ingin aku katakan, kau harus datang aku menunggumu sekarang di pinggir danau.


Kekasihmu, Devano♡ ....


________________


"Ini surat dari Devano, aku harus menemuinya." Alana segera memasukkan kertas tersebut ke dalam saku bajunya.


Dia melihat sekeliling, jangan sampai Levin tahu dirinya pergi keluar dari rumah.


Setelah memastikan semua aman, Alana dengan diam-diam keluar dari kamar.


'Aku harus cepat, pasti Devano tengah menungguku.' Alana sedikit berlari agar segera sampai ketempat tujuan.


Alana segera bersembunyi saat Almahira hampir melihatnya.


"Aku seperti melihat Alana?" Almahira mendekati tempat Alana bersembunyi, yaitu di balik gorden.


'Semoga Almahira tidak menemukan aku.' Alana menutup matanya saat Almahira semakin mendekat.


Almahira mulai bersiap untuk menarik gorden yang di sana ada Alana sedang bersembunyi.


Belum sempat dia menarik gorden tersebut Nenek lebih dulu memanggilnya.


"Mahira!"


"Iya, nek?" Almahira berbalik menghadap sang Nenek.


"Ikut Nenek sebentar!"


"Ada apa?"


Setelah memastikan Almahira dan Nenek sudah pergi, Alana pun keluar dari balik gorden dengan hati-hati.


"Huft! Syukurlah ...."


"Aku harus segera pergi." Alana kembali melanjutkan langkahnya untuk menemui Devano, dia sangat senang karena akan bertemu dengan kekasihnya.


Di sisi lain Devano sedang mundar-mandir menunggu kedatangan Alana.


"Di mana Alana? Apa dia ketahuan oleh Levin?" Devano sesekali menarik nafas panjang.


Tak berselang lama Alana mulai terlihat, Devano menyunggingkan senyumnya. Akhirnya yang dia tunggu datang juga.


"Devano!" panggil Alana, Devano melambaikan tangannya. Alana segera berlari menghampiri Levin.


Setelah berhadapan dengan Devano. Alana segera memeluknya, mereka berpelukan cukup lama.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengawasi mereka dari balik pohon.


"Aku merindukanmu," ujar Alana setelah melepaskan pelukannya.


"Aku lebih merindukanmu." tentu saja Devano berbohong mengatakan itu.


"Ada apa? Kenapa kau menyuruhku untuk menemuimu di sini pagi-pagi?" tanya Alana menatap wajah Devano.


"Tidak ada, aku hanya ingin bertemu saja dengan kekasihku yang paling aku cintai." Devano mencubit gemas pipi Alana.


Alana tersenyum dengan perlakuan Devano, ini yang dia rindukan bisa sedekat ini lagi dengan Devano.


"Halo, mereka ada di sini," ujar orang yang mengawasi Alana dan Devano dari balik pohon.


Tut.


Seseorang dengan jas hitam mendekati Alana dan Devano yang sedang mengobrol, dia membawa pistol di tangannya.


Orang berjas hitam itu semakin mendekat tanpa Alana dan Devano sadari.


"Alana!" panggil orang tersebut.


Alana yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh, alangkah terkejutnya Alana melihat Levin menatapnya dengan tatapan tajam.


Sedangkan Devano. Dia biasa saja, seolah-olah tidak ada apa-apa.


"Le--Vinnn ... ka--kau di sini?" tanya Alana gugup apa lagi melihat Levin memegang pistol.


"Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kau di sini?" Aura Dingin seketika menyeruak.


Alana sudah berkeringat dingin. "I--itu aku ... a--aku ...."


"Apakah pria ini yang kau sebut sebagai sahabat, tapi nyatanya tidak." Levin menatap Alana dengan dingin.


"Levin, aku bisa menjelaskannya." Alana benar-benar ketakutan sekarang, apa yang akan dilakukan Levin bdengan pistol di tangannya?


"Semua sudah jelas, Alana. Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi."


"A---"


"Siapa kau?" Levin memotong perkataan Alana, kini dia beralih menatap Devano yang hanya diam dengan tenangnya. Seolah tidak ada bahaya yang mendekat.


"Akan aku beri tahu siapa diriku," ujar Devano.


Alana menatap Devano. "Devano apa yang kau lakukan, jangan kata itu." bisik Alana.


"Tenanglah!"


"Baiklah, pak Levin Christien. perkenalkan aku adalah Devabo Egen rahasia yang bertugas memata-matai orang-orang jahat sepertimu, dan sekedar informasi aku adalah Egen terbaik sekaligus kekasih terbaik Alana," ujarnya dengan senyuman licik.


Levin yang mendengar itu mengepal kuat pistol yang ada di tangannya, jadi selama ini Alana memiliki hubungan lain di belakangnya.


"Devano apa yang kau katakan?!" bentak Alana, sekarang bagaimana? Levin sudah tahu. Habislah mereka.


"Apa yang aku katakan? Tentu saja yang sebenernya." Devano beralih menatap Alana.


"Tapi tidak sekarang!" kesal Alana.


"Lalu sampai kapan kita akan merahasiakan hubungan ini? Toh, nanti juga dia akan tahu."


"Devano kau tidak mengerti apapun."


"Apa yang tidak aku mengerti?" Mereka masih saja terus berdebat.


"Dev---"


"CUKUP!" teriak Levin membuat keduanya terkejut.


Levin mengangkat pistolnya tepat mengarah ke kepala Devano Alana yang melihat itu benar-benar panik. Apa Levin akan menembak Devano?


Alanansegera berdiri di depan Devano dengan merentangkan kedua tangannya.


"Minggir Alana! Akan aku lenyapkan orang yang sudah berani mengambil milikku!" tekan Levin.


"Tidak jangan! Aku tidak akan minggir sebelum kau turunkan pistolmu itu," ujar Alana.


"Jika kau tidak mau minggir, maka kau yang akan aku tembak. Penghianat!"


Alana benar-benar gugup, apa yang harus dia lakukan?


Levin masih terus mengarahkan pistolnya ke kepala Alana.


"Minggirlah Alana." Devano menepuk pundak Alana.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan orang jahat seperti dia membunuhmu, orang yang paling aku cinta ... JIKA KAU BERANI? MAKA TEMBAK SAJA AKU, JANGAN DEVANO! AKU MENCINTAINYA!" teriak Alana dengan air mata yang mengalir deras, apakah ini bentuk pengorbanan seorang kekasih.


"Katakan sekali lagi Alana!" bentak Levin yang sudah mulai emosi.


Alana memejamkan matanya. "AKU MENCINTAI DEVANO!"


Dorr!


"Aaaa!"


Satu peluru tempat mengenai sasaran.


Apakah Levin benar-benar menembak Alana?