Learn to Love You

Learn to Love You
Part 20



Brak!


Levin membuka pintu kamarnya dengan kasar membuat Alana yang sedang memainkan ponselnya terkejut.


"Kau, ada apa? Kenapa kau membuka pintunya seperti itu?" tanya Alana bangkit dari duduknya.


Levin berjalan mendekati Alana. "Almahira mengatakan dia melihat kau berpelukan dengan laki-laki lain di belakangku, apa itu benar?" tanyanya to the poin.


Alana menengguk ludahnya kasar, bagaimana ini?


"Aa, i--itu ...." Alana menarik nafas dalam dan mengusap keringat di dahinya.


"Tadi, ya. Memang benar aku berpelukan dengan seorang pria."


Prang!


"Aaah!" teriak Alana saat Levin melemparkan gelas yang berada di atas meja.


Levin menatap Alana tajam membuat Alana benar-benar ketakutan.


"Kau. Kau berani melakukan itu dibelakangku? Apa kau tau akibatnya jika berani bermain-main denganku?!" Levin mencengkram kuat lengan Alana.


"Ta--tapi dengarkan aku dulu! Aku akan menjelaskan agar kau tak salah paham," ujar Alana, rasanya badannya sudah panas dingin.


Levin menghempaskan lengan Alana. "Katakan!"


Alana lagi-lagi menarik nafas panjang. "Ya aku memang berpelukan dengan pria itu, tapi dia adalah sahabatku ... dia datang kemari untuk menemuiku, semenjak kita menikah kau tidak mengizinkan aku keluar, bukan? Makanya dia yang datang kemari untuk menemuiku," jelas Alana dengan keringat dingin, astaga dia harus berbohong lagi.


"Apakah itu yang sebenarnya?"


"I--iya."


"Lalu kenapa kau berkeringat seperti ini saat mengatakannya?" Levin menyentuh dahi Alana yang mengeluarkan keringat dingin, itulah salah satu tanda jika seseorang berbohong.


Alana buru-buru mengusap keringat di dahinya. "Ti--tidak, aku hanya tidak nyaman saat kau bertanya seperti itu ... seharusnya kau sebagai suamiku mempercayai apapun yang aku lakukan, aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang ...." Alana tidak melanjutkan ucapannya, dia bingung harus mengatakan apa.


"Aku hanya bertanya untuk memastikan, karena aku tidak ingin istri tersayangku difitnah," ujarnya.


Alana menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Malam ini aku akan mengadakan makan malam mewah."


"Makan malam mewah? Untuk apa?"


"Seperti setiap tahunnya, jika perusahaan yang aku jalankan meraih keuntungan besar. Maka aku akan mengadakan makan malam mewah. Jadi, nanti malam kau harus berdandan dengan cantik." Setelah itu Levin pergi keluar kamar.


"Bisnis gelap seperti itu untuk apa dirayakan!" kesal Alana yang sudah termakan omong kosong Devano.


...----------------...


"Mas!" panggil Anaya. "Apa, sayang?"


"Anaya merindukan Alana, kapan kita akan bertemu dengannya?" tanya Anaya memeluk lengan Arif.


Mereka ini tidak ada yang berubah masih tetap sama, selalu romantis. Walaupun usia tak lagi muda.


"Sabarlah, Kim. Sedang berusaha mengatur cara bagaimana supaya pertemuan kita dengan Alana tidak membuatnya curiga." Arif mengelus rambut Anaya.


"Tapi sampai kapan? Rasanya rinduku ini sudah memuncak!" Anaya memanyunkan b1b1rnya.


Arif hanya terkekeh. "Sabar."


"Issh!"


......................


"Komandan!" panggil asisten komandan Kim.


"Ada apa? Mengapa kau seperti dikejar hantu saja," ujar komandan Kim yang melihat asistennya yang bernama Lucas menghampirinya dengan ngos-ngosan.


"Gawat!"


"Gawat bagaimana?"


"Aku mendapatkan informasi dari mata-mata yang kita kirim ke kediaman Levin. Bahwa, Devano datang ke sana dan menemui Alana."


"Apa! Bagaimana bisa?"


"Aku pun tak pasti, sepertinya Devano mencari tahu tentang Levin dan menemukan alamat rumahnya."


"Ini gawat, jika Devano berhasil menemui Alana. Maka rencana yang sudah kita susun serapi mungkin akan berantakan!" kesal komandan tak habis pikir.


"Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Kita harus mengirim seseorang untuk memata-matai Alana dari dalam rumah, kita harus pastikan hubungan Levin dengan Alana baik-baik saja."


......................


Saat ini Alana sedang bersiap, tapi dia kesulitan untuk menaikkan resleting bagian punggung.


"Huft! Kenapa sangat susah?!" kesalnya.


Levin yang melihat Alana kesusahan pun berjalan menghampirinya. "Jika kau menghadapi kesusahan, jangan malu untuk meminta tolong," ujar Levin mulai menyentuh punggung Alana.


"Aku bisa sendiri."


"Kalau kau bisa, sudah sejak tadi kau selesai."


Alana hanya pasrah saat Levin mulai menyentuh punggungnya, Levin bukanya menaikan resleting Alana malah mengusap-usap lembut punggung putih Alana.


Alana merasa geli karena Levih malah mengusap punggungnya.


"Levin cepat naikkan resletingnya!" kesal Alana..


"Hem ...." Levin masih terus saja bermain dengan punggung Alana menggunakan jarinya.


'Huft astaga!' batin Alana kesal.


"Kak apa ka--- ups! Maaf, aku tidak melihatnya." Alesha menutup matanya, Levin buru-buru menaikan resleting Alana.


Keduanya tiba-tiba merasa canggung karena sudah kepergok, walaupun mereka tidak melakukan apapun. Tapi tetap saja malu.


"Alesha, lain kali jika kau ingin masuk kau harus mengetuk pintu terlebih dahulu!" kesal Levin.


"Maaf Kak, aku pikir kalian sedang tidak melakukan apapun. Kakak yang bersalah! Kenapa tidak mengunci pintu." Alesha bersedekap dada tidak mau disalahkan.


"Terserah kau saja."


Levin pergi meninggalkan Alesha dan Alana.


"Itulah kak Levin, selalu tidak mau disalahkan!" Alesha masih terus menggerutu, padahal dirinya yang salah.


"Sudah ..., ada apa kau datang kemari?" tanya Alana.


"Tidak Kak, nenek menyuruhku untuk memastikan kakak sudah siap atau belum."


"Aku sudah siap, ayo!"


Alesha dan Alana pun pergi meninggalkan kamar.


Di meja makan sudah tersaji makanan dengan jumlah banyak, padahal yang makan hanya beberapa orang saja.


Meja makan pun dihias sedemikian rupa, benar-benar definisi makan malam mewah.


"Ayo mari kita mulai makan!" ajak Melda.


Mereka masing-masing mulai duduk di kursi, Alana duduk di sebelah Levin.


"Permisi Tuan, ini puding coklat yang anda minta," ujar seorang pelayan menaruh pudding coklat ke atas meja.


"Terima kasih."


"Sama-sama." Sebelum pergi dia melirik Alana dengan tatapan sulit diartikan.


Alana yang mendapat tatapan tersebut merasa ada yang aneh.


"Sebelum kita makan, seperti biasa kita harus berdoa terlebih dahulu sebagai rasa syukur atas kesuksesan yang Levin dapatkan dari bisnisnya." Nenek mulai membuka suara.


"Tentu, Nek."


"Levin kau yang memimpin doa."


Raja mengangguk, dia mulai mengucapkan beberapa doa pendek, sholawat nabi, dan beberapa kata-kata untuk menggambarkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Tuhan.


Alana dibuat tak percaya dengan apa yang dia dengar, kalau seperti ini Alana jadi ragu Levin adalah orang yang jahat seperti yang dikatakan Devano.


"Aamiin," ucap serempak anggota keluarga membuyarkan lamunan Alana.


"Sekarang ayo kita makan!"


Mereka mulai makan malam mewahnya dengan ceria.


Alana hanya melamun memikirkan antara percaya dengan yang dikatakan hatinya atau pikirannya?


"Kak, kenapa kau diam saja? Ayo makan!" Alesha menepuk bahu Alana.


"I--iya."


'Kenapa aku merasa ragu dengan apa yang dikatakan Devano ya?'