Learn to Love You

Learn to Love You
Melakukan Kerja Sama



Setelah selesai Ace keluar dari kamar mandi bersama dengan Fayra, dalam kondisi setengah badannya basah kuyub.


Kemudian mereka pun bergegas pulang, dimana Sheila pulang bersama supirnya dan Nata pulang bersama Louis. Begitu pun Fayra yang pulang bersama suaminya sendiri. Lalu Eric dan Nicho pulang dalam keadaan sendirian.


...*...


...*...


Dipertengahan jalan, tiba-tiba motor Andrew langsung dihentikan oleh sebuah mobil yang cukup mewah. Dimana Andrew harus mengerem motornya secara mendadak dan cepat, agar tidak menimbulkan kecelakaan.


Untung saja posisi Andrew pada saat itu, tidak terlalu kencang dalam membawa motornya. Jadi, dia msih bisa mengeremnya secara mendadak.


"Woi, turun lu! Bisa-bisanya main potong jalan orang seenak jidat lu. Ingat, ini jalan umum bukan milik Nenek moyang lu! Kalau tadi sampai kecelakaan gimana?"


Andrew memekik keras sambil turun dari motornya dan berjalan kearah mobil, lalu menggebrak depan mobil cukup keras.


Dari dalam mabil terlihat jelas bahwa sang supir sedikit ketakutan, akan tetapi majikannya terlihat begitu tenang dan juga tersenyum miring.


Tak lama seorang gadis cantik keluar dari mobil disertai gaya sombong dan juga angkuhnya.


Andrew hanya menatap dari ujung kaki naik sampai pinggang, hingga kini matanya bertemu dengan mata gadis tersebut.


"Lu-lu siswi SMA 01 Cempaka Putih, 'kan?" tanya Andrew, sedikit bingung bercampur kaget saat melihat seragam yang digunakan oleh gadis itu.


"Lu Andrew, 'kan?" balik tanya gadis itu. Andrew hanya terdiam menyipitkan matanya.


Andrew masih tidak mengerti apa yang membawa gadis itu sampai menemuinya dengan cara yang konyol. Dia tidak habis pikir, seorang gadis bisa senekat itu melakukan hal yang hampir saja membahayakan nyawanya sendiri.


Alena paham betul sama ekspresi wajah Andrew. Dia segera menjulukan tangannya sambil sedikit mengukir senyuman dibibirnya.


"Kenalin, gua Alena. Siswi SMA 01 Cempaka Putih, kelas 12. Mantan kekasih Ace."


Setelah mendengar nama Alena, lamunan Andrew terhenti. Kemudian tangannya terangkat untuk membalas uluran tangan Alena sekilas, lalu kembali melepaskannya.


"Lu kenal gua dari mana? Sedangkan gua aja baru kenal lu hari ini? Atau jangan-jangan lu salah satu fans gua?" ucap Andrew, penasaran.


"Bukan. Gua bisa tahu nama lu, ya dari Fayra. Beberapa kali gua lihat, kayaknya lu lagi berusaha ngedeketin Fayra, bukan?"


"Namun, pada kenyataannya lu selalu gagal akibat ulah Ace. Itulah yang gua rasakan setiap gua lagi ngedeketin Ace, mengajaknya kembali menjalani hubungan,"


"Fayra, gadis sok polos dan juga sok baik itu, selalu menjadi pengganggu di dalam hubungan gua sama Ace. Bahkan dia telah merebut paksa Ace dari tangan gua."


Alena berbicara sambil menyender di samping mobilnya, dalam posisi melipat kedua tangan didada, salah satu kaki ditekuk kebelakang dan pandangan menatap tajam kearah depan.


Andrew yang tidak terima nama Fayra dijelekkan oleh Alena, langsung menghimpit tubuh Alena hingga wajah mereka hanya berjarak satu jengkal.


Sang supir yang berniat untuk menolong majikannya, hanya bisa terdiam dari dalam. Dia sudah diwanti-wanti oleh Alena agar tidak ikut campur urusannya, apa pun yang akan terjadi.


"Kenapa? Lu enggak suka gua ngejelekin, Fayra?" ucap Alena.


"Ya, gua enggak suka lu ngejelekin Fayra. Ingat, Fayra itu gadis baik, maka dari itu sampai kapan pun gua akan terus mengejar dia, dan gua enggak akan ngebiarin lu ngehinanya. Paham!"


"Seharusnya yang pantas untuk dihina itu Ace, mantan cowok lu! Dia adalah pria yang tidak tahu diri, munafik dan juga tidak bisa dipercaya!"


Andrew kembali melontarkan kata-kata yang berhasil membuat gejolak emosi didalam hati Alena menguap. Ya, memang Alena sangat marah kepada Ace. Akan tetapi, Alena juga tidak bisa membohongi dirinya, kalau dia masih sangat mencintai Ace.


"Jangan pernah lu berkata seperti itu lagi tentang Ace, atau gua---"


"Apa? Lu mau nampar gua? Silakkan, nih ...."


Andrew menepuk-nepuk kecil pipi kanannya sambil menatap tajam kearah Alena, lalu Andrew berjalan mendekati motornya.


Saat Ace mau melangkahkan satu kakinya menaiki motor. Tetapi, perkataan Alena berhasil membuatnya langsung menghentikan dan berbalik menatap Alena dengan tatapan penuh arti.


"Gua mau menawarkan kerja sama, supaya lu bisa milikki Fayra seutuhnya. Begitu pun dengan gua. Bagaimana?"


Alena melangkahkan kakinya sambil melipat kedua tangan di dada, kemudian mendekati Andrew yang saat ini sudah menghadapnya.


"Ma-maksudnya?" tanya Andrew, penuh keterkejutan.


"Gua mau ngajak lu kerja sama untuk memisahkan mereka berdua, sehingga lu bisa sepenuhnya miliki Fayra. Begitu juga sebaliknya, gua bisa miliki Ace tanpa gangguan Fayra."


Alena menjelaskan maksud dan tujuannya mengajak Andrew untuk ikut bergabung dengannya, agar bisa menghancurkan hubungan Ace dan Fayra.


Andrew kembali terdiam memikirkan semuanya matang-matang, dia tidak mau sampai masuk kedalam jebak seorang gadis licik seperti Alena.


Meski, Andrew tidak mengenal sosok Alena. Cuman dia bisa melihat dari gerak-gerik serta sorotan mata Alena, membuat Andrew paham.


Jika Alena bukanlah gadis biasa, melainkan dia seperti binatang peliharaan yang sewaktu-waktu bisa menjadi bumerang untuk majikannya sendiri.


"Bagaimana? Lu mau atau enggak? Gua enggak butuh jawaban lama, kalau lu enggak mau terserah. Gua bisa melakukannya sendiri, tapi jangan salahin gua kalau sesuatu hal buruk terjadi pada Fayra!"


Alena menggunakan sebuah ancaman mengenai Fayra, karena dia tahu. Inilah kelemahan Andrew, sekuat-kuatnya pria, pasti dia akan tetap kalah jika orang yang dicintainya terluka.


"Baiklah, gua udah tahu jawabannya. Lu pasti enggak mau kan, ya sudah. Gua balik!" Alena berbalik melangkahkan kakinya.


Namun, saat beberapa langkah Alena kembali berbalik menatap Andrew yang masih setia berdiri ditempatnya dalam keadaan melamun.


Andrew tidak tahu harus menjawab apa, satu sisi dia mau bekerja sama dengan Alena agar lebih mudah untuk mendapatkan Fayra.


Cuman, disisi lainnya. Andrew takut jika kerja samanya malah dimanfaatin oleh Alena yang hanya mau menang sendiri.


"Sorry! Kalau besok, lusa atau pun seterusnya, lu harus mendengar kabar buruk tentang gadis yang sangat lu cintai, maka jangan salahin gua. Bye ...."


Alena tersenyum miring sambil melambaikan tangannya kearah Andrew. Kemudian Alena kembali berbalik dan meneruskan langkahnya.


Sesampainya di depan mobilnya, Alena masih menolek dan melirik kearah Andrew penuh arti. Pada akhirnya pintu mobil Alena terbuka, Andrew segera menahannya.


"Tunggu!" Andrew berjalan mendekati Alena, yang saat ini menatapnya sambil tersenyum lebar.


"Apa kau sudah berubah pikiran?" tanya Alena disertai senyuman manis.


"Oke. Gua terima tawaran lu, untuk bekerja sama." sahut Andrew.


"Baiklah, sekarang kita sudah jadi partner. Tapi ingat! Enggak ada satu orang pun dari kita yang harus menyakiti diantara mereka, baik gua atau pun lu. Bagaimana? Deal?" ucap Alena, menjulurkan tangannya.


"Terus apa yang akan kita lakukan untuk membuat mereka berpisah?" tanya Andrew, bingung.


Alena hanya bisa tersenyum lebar, memikirkan sebuah rencana yang sempat terlintas dipikirannya. Lalu, Alena menyuruh Andrew untuk mendekati kupingnya.


Dari situ Alena membisikkan suatu hal mengenai sebuah rencana yang akan membuat mereka benar-benar bisa memiliki keduanya tanpa harus menyakiti Fayra atau pun Ace.


5 menit berlalu, Andrew terdiam mendengar apa yang sudah Alena bisikkan padanya. Entah mengapa, Andrew malah sedikit meragukan rencana Alena.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...