
Pagi ini, Monica sedang mempersiapkan acara untuk nanti malam. Dia sedang menghias rumah dengan begitu indah, saat ini dia sedang memasangkan bunga di samping lampu gantung. Dia menggunakan tangga kecil untuk dijadikan pijakan.
Karena Monica tak hati-hati tangga yang dia jadikan pijakan bergoyang, dia terpeleset dan jatuh.
"Aaaa!" teriaknya.
Hap!
Monica membuka matanya saat merasakan ada seseorang yang menangkapnya, ternyata .... "Levin!" kagetnya.
"Apa kau tidak papa?"
"Iya, untunglah kau menyelamatkan aku."
"Lain kali lebih berhati-hati!"
Monica menganggukkan kepalanya, apa yang sedang terjadi tidak luput dari pandangan Alana. Alana melihat segalanya, saat Monica akan terjatuh lalu di tangkap oleh Levin. Bahkan, Levin masih belum menurunkan Monica dari gendongannya.
Alana dengan langkah pelan berjalan menghampiri Levin yang masih menggendong Monica, mereka saling bertatapan dengan tatapan yang begitu dalam. Apakah mereka masih menyimpan rasa?
"Levin!" panggil Alana, Levin yang menyadari kehadiran Alana segera menurunkan Monica dari gendongannya. Untuk beberapa saat dirinya sempat berkelana mengingat momen-momen bersama Monica dulu, tapi segera Levin tepis jauh-jauh. Bagaimanapun ada dua perasaan yang harus dirinya jaga, perasaan Alana, dan suami Monica.
"Alana kau jangan salah paham. Tadi, Levin—"
"Iya, aku melihatnya. Tidak papa," ujar Alana. Setelahnya dia langsung pergi meninggalkan Levin dan Monica, ada rasa sesak yang begitu menyakitkan sebetulnya saat melihat keduanya sedekat itu. Ya, walaupun keduanya memang sudah sama-sama memiliki pasangan, tapi tetap saja yang namanya istri melihat suaminya sedekat itu dengan seorang wanita. Apa lagi mereka pernah memiliki hubungan di masa lalu. Pasti akan menyakitkan saat melihat adegan tersebut.
"Sepertinya Alana cemburu, pergilah bujuk dia! Aku akan menyelesaikan dekorasinya."
"Hmm."
Levin pun pergi menyusul Alana, sedangkan Monica kembali melanjutkan pekerjaannya.
Belum sempat Monica melanjutkan pekerjaannya, tiba-tiba salah seorang rekannya datang.
"Bagus Monica. Kau sudah membuat Alana cemburu, aku yakin pesta anniversary mereka malam ini hanya ada kesunyian. Setelah Alana melihat adegan tadi," ujarnya tertawa mengejek.
Monica hanya diam, dia tidak bermaksud untuk membuat Alana cemburu. Dirinya juga tidak tahu akan terjatuh dan Levin akan menyelamatkannya.
•
•
•
"Ck! Untuk apa aku cemburu, buang waktu saja!" ketusnya bersedekap dada.
"Jadi kau tidak cemburu, ya?"
"Tidak sama sekali."
"Aku pikir kau cemburu. Jadi, karena kau tidak cemburu kalau begitu aku akan membantu Monica saja, siapa tau dia butuh bantuan," ujarnya hendak berbalik.
"Levin!" Alana langsung menarik lengan Levin, Alana memeluk Levin dengan erat.
"Kau tidak boleh ke mana-mana!"
"Memangnya kenapa? Kau sendiri tadi, mengatakan bahwa kau tidak cemburu aku bersama Monica. Jadi, apa masalahnya jika aku bersamanya?"
"Ck! Iya-iya, aku memang cemburu kau terlalu dekat dengan Monica." Alana memanyunkan b1b1rnya.
Levin tersenyum mendengarnya. "Baiklah, sayang. Aku tidak akan terlalu dekat dengan Monica lagi."—Levin memegang pundak Alana.
"Janji?"
"Tidak janji, kita tidak pernah tahu, kan mungkin saja nanti Monica butuh bantuan mendesak yang mengharuskan aku membantunya."
"Kau benar juga."
"Tapi malam ini adalah malam istimewa bagi kita, aku harap pernikahan kita bisa seumur hidup."
"Aamiin."
Mereka saling melempar senyum, pagi yang di guyur gerimis kecil, dan angin sedikit kencang menambah kehangatan suasana.
"Kita berjanji, aku hanya akan menjadi milikmu, aku akan selalu percaya padamu, aku tidak akan membuatmu kecewa, aku akan selalu ada untukmu, aku akan setia padamu, susah senang kita hadapi bersama, kita akan terus bersama dalam keadaan apapun. Itulah tujuh janji pernikahan kita," ujar keduanya dengan senyuman mengembang.
Akankah ketujuh janji itu terpenuhi?
Hanya waktu yang bisa menjawab.