
Levin mulai mencurigai Alana.
"Halo, Dino. Kau cari tahu tentang Alana dan no asing yang akan kukirimkan."
Levin mengirimkan no milik Alana untuk dicari tahu siapa Alana sebenarnya.
Hari ini mulai banyak orang-orang dari WO—Wedding organizer. Yang mulai menghias rumah Levin untuk hari pernikahannya dengan Syaqila. Walaupun Syaqila menikah dengan Levin karena terpaksa karena dirinya dijual oleh sang ayah untuk melunasi hutang. Syaqila tak punya pilihan lain. Selain menerima pernikahannya dengan Levin yang dia anggap seperti monster, ingin rasanya Syaqila pergi tapi itu sangat mustahil. Ntah, apa yang akan terjadi setelah dirinya menikah dengan monster itu.
"Alana, kemari!" panggil Bi Encik.
"Iya, Bi?"
"Bantu aku untuk memilih beberapa bunga untuk dekorasi kamar pengantin," ujarnya memperlihatkan beberapa bunga.
Alana menganggukkan kepalanya. Dia mulai melihat-lihat beberapa bunga untuk dekorasi kamar pengantin Levin dan Syaqila.
Alana tersenyum-senyum melihat bunga merah muda ditangannya, dia teringat Devano. Dulu dirinya selalu mengatakan jika mereka menikah bunga di dalam kamar pengantin mereka harus berwarna merah muda karena melambangkan cinta, tapi ....
"Apa ada yang kau suka?" pertanyaan Bi Encik membuyarkan lamunan Alana.
"Ah, iya Bibi ini!" Alana menyerahkan setangkai bunga merah muda yang disukainya.
"Bagus, tapi apakah tidak terlalu biasa untuk di kamar pengantin?"
"Tidak, Bibi. Bunga mawar merah muda yang segar ini bisa jadi lambang penuh cinta di malam pertama Tuan nanti. Walaupun memang terlihat sederhana tapi maknanya dalam," jawab Alana sambil menatap bunga tersebut dengan lekat.
"Kau benar, baiklah. Kalo begitu kita ambil yang ini." Alana mengangguk mengerti.
Dia baru teringat. Dia sudah berjanji untuk membantu Syaqila pergi, tapi bagaimana caranya?
"Alana, apa kau bisa bantu aku?"
"Iya Alesha, apa ada yang bisa aku bantu?"
"Tolong! Nenek memintaku untuk memilih beberapa makanan ringan untuk besok, tapi aku tidak tahu mana yang harus aku pilih. Semua terlihat enak," ujarnya menunjukkan beberapa contoh makanan ringan di piring.
Alana terkekeh kecil. "Biarku bantu!" Alana melihat beberapa kue yang terlihat cantik dan lucu.
"Hmm.. Aku rasa sebaiknya kita memilih kue yang disukai Tuan Levin." ujar Alana setelah melihat-lihat kue tersebut.
"Kau tidak tahu saja, kakakku itu sulit sekali dalam memakan sesuatu. Bahkan aku dan anggota keluarga lainnya tidak tahu apa yang dia suka!" kesal Alesha bersedekap dada, kakaknya itu terlalu misterius dalam hal apapun.
"Kalo begitu kita pilih kue yang disukai Syaqila."
"Aku tidak tahu Syaqila suka apa, semenjak dia datang kemari dia tidak pernah berbicara atau mengatakan apapun. Dia selalu diam dan mengurung diri."
"Kenapa?"
"Kakakku menikahi Syaqila hanya karena sebuah alasan."
"Alasan?"
"Iya, ayah Syaqila menjual Syaqila untuk membayar utangnya. Jadi, kakaku menikahinya walaupun Syaqila tidak mau," jelasnya.
Alana baru mengerti apa yang membuat Syaqila ingin pergi dan tidak mau menikah dengan Levin.
Dia harus membantu Syaqila. Syaqila berhak untuk bahagia dengan orang yang dia cintai.
Karena Alana tahu bagaimana rasanya berpisah dengan orang yang dicintai.
...----------------...
Ceklek!
Alana masuk ke dalam kamar Levin, tapi dia ke mana ...? Alana membawakan baju pengantin untuk Levin besok walaupun dia tidak ingin berurusan dengan Levin. Karena ini perintah nenek dia tidak bisa menolak.
"Aku taruh di sini saja." Alana meletakkan pakaian Levin di atas ranjang.
Saat dia berbalik dia menabrak dada bidang Levin. Yang membuat keduanya terjatuh ke atas ranjang dalam posisi Levin di atas tubuhnya.
Mereka bertatapan cukup lama, sampai Alana sadar bahwa Levin hanya memakai handuk sebatas pinggang saja.
Alana mendorong tubuh Levin. "Maaf, aku datang kemari hanya ingin mengantarkan pakaianmu untuk besok."
"Hem."
"Aku pergi."
"Tunggu!"
Alana berbalik. "Pakaikan pakaianku! Tanganku masih cukup sakit," ujarnya.
"Tap---"
"Aku tidak suka penolakan."
Akhirnya Alana terpaksa membantu Levin memakai pakaiannya. "Sudah."
"Bagaimana dengan celananya?"
Alana melototkan matanya. "Kau pakai saja sendiri!" setelahnya Alana pergi meninggalkan kamar Levin.
Levin tersenyum miring. "Menarik."