
"Panggil mempelai wanitanya!"
"Pa---"
"Itu dia sudah datang," ujar Levin menyela ucapan nenek.
Seluruh keluarga terkejut melihat kehadiran Alana yang menggantikan Syaqila.
"Levin?" Nenek menatap Levin, Levin hanya menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana bisa gadis kelas menengah itu yang menggantikannya!" kesal Almahira.
Alesha tersenyum senang. "Makasih ya Tuhan doaku untuk Alana menjadi Kaka ipar akhirnya terkabul." Senang Alesha.
Alana duduk di samping Levin. "Ini hukuman yang harus kau terima karena hampir membuat keluargaku malu." bisik Levin.
Alana kembali meneteskan air mata. "Maaf." lagi-lagi hanya itu yang bisa Alana ucapkan.
"Baik bisa kita mulai?"
"Silakan," ujar nenek.
"Baik, mbak Syaqila---"
"Maaf tapi sepertinya stafku melakukan kekeliruan, nama calon istriku adalah Alana Mayer ."
"Oh, baik."
Acara akad nikah berjalan dengan lancar, Levin mengucapkan dengan satu tarikan nafas saja.
'Maafkan aku Devano. Aku telah mengkhianati cinta kita.'
Alana kembali menangis dalam diam, hidupnya kini hancur.
"Jangan menangis, aku tidak suka air matamu itu!" sinis Levin.
...----------------...
Alana duduk di kasur pengantin yang sudah dihias dengan begitu cantik, dia melihat bunga yang dipilihnya terpanjang indah disetiap sudut.
Bunga yang dirinya sendiri pilih untuk malam pertama Levin dan Syaqila. Kini, dirinyalah yang menjadi pengantin itu yang menikmati keharuman dan keindahan bunga yang dirinya pilih.
Dirinya memiliki bayangan indah di malam pertama, tapi bukan dengan Levin. Dia menginginkan ini dengan orang yang dia cinta.
"Kenapa, kenapa harus seperti ini? Ini yang aku inginkan tapi bukan dengan dia!" tangis Alana.
"Bunda, Daddy. Apa mungkin ini karma karena aku telah bohong kepada kalian."
"Maafkan aku."
Ceklek!
Alana segera menghapus air matanya saat Levin masuk ke dalam kamar.
"Sekarang kau menerima akibat dari perbuatanmu sendiri jangan kau pikir kau berada di tempat yang aman. Ini bukanlah dunia dongeng." Levin mendekatkan wajahnya.
"Malam pertama itu harus dinikmati, mengerti!"
Levin menarik Alana ke dalam dekapannya, dia mulai memaksakan apa yang dia inginkan. Walaupun Alana menolak tapi apalah dayanya.
...----------------...
Pagi tiba, Alana bangun lebih dulu. Dia menangisi apa yang terjadi semalam antara dirinya dan Levin, dia memang memimpikan itu tapi kenapa harus dengan Levin argh! Rasanya dunia hancur.
"Kenapa?!" Alana menangis tersedu-sedu.
Levin yang terusik dengan tangisan Alana pun membuka matanya dan bangkit dari tidurnya.
Levin mengelus kepala Alana. "Jadilah istri yang baik, karena sekarang surgamu ada padaku, hormati aku seperti kau menghormati ibumu."
Levin lalu menggendong Alana.
"Mau kau bawa ke mana aku?" tanya Alana dengan sesegukan.
"Kesenangan satu lagi," ujarnya membawa Alana masuk ke dalam kamar mandi.
Alana hanya bisa pasrah, mau melawan tak mungkin.
"Komandan!"
Komandan Kim berbalik. "Ada apa?"
"Ada yang ingin aku tanyakan," ujar orang tersebut.
"Baik, apa itu?"
"Di mana Alana?"
"Kenapa kau mencarinya?"
"Aku, Aku hanya ingin bertanya saja, karena saat aku datang ke rumahnya dia tidak ada."
"Untuk apa kau masih mencarinya?"
"Tolong katakan saja di mana Alana? Aku yakin Alana pasti datang ke sini."
"Alana sudah pergi ke tempat yang seharusnya."
"Ke mana?"
"Untuk apa kau tau, kau sudah menghianatinya Devano."
Iya, orang yang mencari Alana adalah Devano.
"Komandan---."
BERTEMBUNG.....