Learn to Love You

Learn to Love You
Part 30



"Apa! Jadi selama ini Alana membohongi kita."


"Itu yang aku pikirkan, sepertinya ada sesuatu yang janggal di sini."


"Kalau begitu, kita harus bisa membongkar kedok Alana yang sebenarnya dihadapan semua orang."


"Harus."


...****************...


Alana baru saja selesai mandi, dia melihat sekeliling kamar tapi tidak menemukan keberadaan Levin, ke mana lagi dia?


Alana menyisir rambutnya, dia memandang lekat pantulan wajahnya. Lebih tepatnya pada perutnya.


"Bagaimana jika suatu saat Levin tahu yang sebenarnya tentang tujuanku datang ke sini? Apa dia nanti akan memisahkan aku dengan anakku? Aku tidak siap untuk itu, bagaimanapun dia juga anakku. Aku tidak mau pisah darinya," lirih Alana membayangkan jika suatu saat nanti kemungkinan terburuk yang Alana takutkan terjadi, dia tidak siap.


"Lalu aku harus apa?"


Alana benar-benar stress memikirkan itu, bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Tuhan, kenapa kau menempatkan Alana dalam posisi sesulit ini ... jika nanti Levin tahu, Alana senang karena otomatis bisa bersama lagi dengan Devano. Tapi ada kemungkinan dia akan berpisah dengan anaknya, lalu mana yang harus dia pilih? Orang yang dia cintai atau anak yang dia sayangi?


Alana hanya bisa meneteskan air mata membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi di masa yang akan datang.


Ceklek!


Levin masuk ke dalam kamar, dia baru selesai menanda tangani beberapa berkas yang dibawa asistennya.


Levin terkejut melihat Alana yang menangis, dia segera menghampiri Alana takut terjadi sesuatu.


"Alana, apa kau baik-baik saja?" tanya Levin menuntun Alana duduk di atas tempat tidur.


"Levin apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya balik Alana dengan deraian air mata.


"Apa?"


"Ji--jika suatu saat kau mengetahui sebuah kebenaran tentang diriku yang tidak bisa kau maafkan, apa kau akan memisahkan aku dari bayiku?" pertanyaan Alana membuat Levin bingung, kebenaran tentangnya?


"Apa maksudmu? Kebenaran apa?"


"Jawab saja."


Levin membuang nafas pelan. "Jika kesalahan itu sesuatu yang akan sangat menyakitkan untukku. Maka, sudah pasti aku tidak akan memaafkanmu ... untuk aku menjauhkan bayi kita darimu aku rasa tidak, bagaimanapun dia tetap butuh dirimu. Tapi hak asuhnya akan aku pastikan jatuh ke tanganku, dan kau hanya bisa bertemu dengannya dua minggu sekali. Itupun atas persetujuanku," jelasnya.


Alana yang mendengar itu kembali menangis, mana mungkin dia akan tahan bila sehari tak bertemu dengan bayinya? Apa lagi dua minggu sekali itu waktu yang cukup lama, jika Levin benar-benar marah padanya sudah pasti Alana tidak akan bisa bertemu dengan sang bayi.


Levin yang melihat Alana menangis dengan lirih membuat Levin semakin bingung, apakah ini pengaruh kehamilan?


Levin segera memeluk Alana. "Ada apa? Kenapa kau bertanya seperti itu?" Levin berusaha untuk membuat Alana tenang.


"Ti--tidak ... aku hanya takut bila ada kemungkinan terburuk di masa yang akan datang, dan kau akan membenciku."


"Kita menikah memang bukan atas dasar cinta, dan akupun tidak tahu dulu kau seperti apa, memiliki masa lalu seperti apa, aku tidak tahu. Tapi jika memang ada sebuah kenyataan yang membuatku benci padamu, sudah pasti itu karena kesalahanmu sendiri."


"Maaf." Alana semakin mempererat pelukannya.


...****************...


"Apa aku menyamar saja, dan masuk ke rumah Levin?"


"Ide yang bagus."


"Permisi, pos!"


"Anda mencari siapa?" tanya seorang Maid.


"Ada surat untuk tuan Arif Mayer" ujarnya.


"Dari siapa?"


"Dari tuan Levin Christiansen."


"Ohh, baik. Terima kasih." Maid itupun menerima surat dari Levin untuk diserahkan kepada Arif.


"Tuan, ada surat." Maid tadi memberikan surat itu kepada Arif.


"Surat? Dari siapa?"


"Katanya dari Tuan Levin Christiansen"


"Levin ...? Baik, terima kasih. Kau boleh pergi!"


"Permisi Tuan."


Levin membuka surat tersebut, dan ternyata isinya adalah undangan makan malam.


"Anaya!" panggil Arif.


"Ada apa, Mas?"


"Lihat ini! Kita mendapatkan undangan makan malam di rumah Levin."


"Benarkah? Ayo kita pergi aku tidak sabar untuk bertemu dengan keluarganya, dan juga Alana" heboh Anaya.


"Sabarlah, sayang. Undangan ini untuk besok malam."


"Kenapa tidak malam ini saja?!" kesalnya.


Arif terkekeh kecil. "Mau bagaimana lagi, Levin mengundang kita besok malam. Yang harus kau marahi adalah dirinya," ujar Arif.


"Baiklah, aku akan memarahi Levin besok, harusnya dia mengundang kita malam ini."


Arif tertawa kecil melihat tingkah Anaya yang tidak berubah.


BERTEMBUNG....