Learn to Love You

Learn to Love You
Malu-Malu Meong



Fayra merasa malu dan menunduk ketika guru tersebut menggelengkan kepalanya.


Banyak siswi yang meledeknya, sampai membuat guru tersebut mengetahui hubungan kasmara Fayra dan juga Ace yang baru saja dimulai.


...*...


...*...


Setelah bel pulang berbunyi, semua siswa-siswi bergegas meninggalkan kelas ketika semua guru sudah menyelesaikan mata pelajarannya.


Ace beserta sahabatnya yang lebih dulu meninggalkan kelas, segera mendekati kelas Fayra untuk menjemputnya. Ace berdiri sambil melipat kedua tangannya menatap kearah pintu kelas Fayra.


"Astaga, dibalik sikapnya yang dingin. Ternyata Ace tipe cowok yang bucin akut ya." bisik Eric kepada Nicho.


"Mungkin dia udah ketemu pawangnya. Lagian lu tahu sendirilah, selama kita sahabatan tidak ada satu pun gadis yang berhasil membuatnya bucin. Kecuali Fayra, gadis manja yang sempat dia benci." bisik Nicho.


Louis yang mendengar bisikan tersebut hanya bisa menoleh menatap tajam kearah dua sahabatnya. Sehingga mereka berdua terlihat gugup, sambil sedikit cengengesan menggaruk kepalanya.


Ace hanya terdiam acuh, meskipun telinganya mendengar tawa Nicho dan juga Eric. Ace cuman fokus untuk menatap masa depannya yang sebentar lagi muncul.


Tak lama Fayra beserta sahabatnya keluar kelas dalam keadaan tertawa, sampai akhirnya tawa mereka menghilang ketika mata mereka menatap Ace dan juga sahabatnya yang sudah berdiri di depan mereka semua.


Langkah mereka berhenti bersamaan munculnya wajah Ace. Mereka sangat terkejut, begitu juga Fayra. Dia tidak menyangka bahwa suaminya akan bersikap semanis ini demi menunggunya keluar kelas.


"Ka-kak Ace?" gumam lirih Fayra, bola matanya sedikit membesar menatap wajah suaminya.


Ace merubah posisinya, lalu dia berjalan beberapa langkah sambil tangannya terangkat mengusap kepala istrinya begitu lembut, serta dihiasi oleh senyuman kecil di bibirnya.


"Udah selesai belajarnya, hem?" ucap Ace, sangat lembut.


Banyak pasang mata yang langsung meleleh, ketika melihat perlakuan Ace pada Fayra. Berbeda halnya ketika Ace menjalani hubungan bersama Alena.


Alena yang tidak sengaja melihat kemesraan itu, kembali menggoyangkan hatinya. Semakin dia menahan rasa amarahnya, maka semakin besar pula rasa dendam didalam dirinya.


"Fayra, Ace! 2 nama yang sangat gua benci. Lihat aja kalian berdua, gua akan membalas semua rasa sakit yang saat ini gua rasakan!" gumam batin Alena, matanya dipenuhi oleh dendam tersumbat.


"Len, lu gapapa?" tanya Lydia saat melihat kemerasaan Fayra dan Ace.


"Cabut!" sahut Alena, nadanya terdengar sangat marah. Mereka berdua segera meninggalkan tempat tersebut, mengikuti kemana pun Alena pergi.


Ace dan Fayra berjalan perlahan sambil berpegangan tangan, menelusuri lorong kelas sampai akhirnya mereka telah berada dihalaman sekolah.


"Kamu tunggu sini ya, aku mau jemput Killer dulu." ucap Alex diangguki oleh Fayra sambil tersenyum.


"Lu bertiga, temenin cewek gua. Jangan sampai dia kenapa-kenapa, ngerti kan!" sambil Ace menatap tajam kearah ketiga sahabat Fayra.


"Dish, siapa lu! Dikata gua bodyguardnya Fayra kali, lagian itu jemputan gua udah nungguin. Gua duluan ya, bye ...." Arsyi melongos pergi begitu saja meninggalkan mereka semua.


"Lu enggak mau bareng sama gua, Syi?" teriak Eric saat melihat Arsyi sudah mendekati mobil pribadinya.


"Enggak usah, makasih. Gua balik ya, dah ...." Arsyi melambaikan tangannya sambil masuk kedalam mobil, lalu pergi meninggalkan sekolah.


"Fayra gapapa kok, nungguin Kakak disini sendirian. Udah sana, Kakak jemput Killer kasian dia nungguin." ucap Fayra sambil mendorong kecil tubuh Ace, agar dia segera pergi kearah parkiran.


"Enggak usah khawatir, ada gua sama Nata. Pergilah!" ucap Sheila, cuek.


"Ya bener, gua juga enggak buru-buru. Ini aja lagi cari gojek dulu." sahut Nata yang baru saja mengeluarkan ponselnya.


"Enggak perlu, gua yang akan anter lu pulang. Tunggu disini dan jangan kemana-mana, atau memesan gojek. Paham, kan!" jawab Louis, cuek.


"Ekhem, kayanya sebentar lagi ada yang menyusul kita Banny." sindir Fayra melirik kearah Nata dan Louis.


"Apaan sih!" sahut Nata, wajahnya sedikit merona menahan malu.


"Cielah, kalau engak ada apa-apa, kenapa wajahnya mereh begitu, Neng? Haha ...." ledek Nicho.


"Biasa, Bro. Cewek kan memang suka malu-malu meong. Hati-hati, deket dikit auto dicakar haha ...." imbuh Eric.


Semua pun terkekeh melihat wajah Nata dan Louis semakin memerah. Hingga akhirnya Louis langsung menghentikan tawa mereka, lalu segera pergi kearah parkiran bersama Ace dan yang lainnya.


Selang beberapa menit, disaat Fayra dan Sheila sedang menyindir Nata. Tiba-tiba seorang pria datang, memberhentikan mogenya tepat dia dekat mereka.


"Hai, sudah pulang ya?" ucap pria tersebut sambil tersenyum manis menatap Fayra, dari atas mogenya.


"Ka-kak Andrew?" gumam kecil, Fayra.


"Ikut aku jalan-jalan, yuk!" ajak Andrew.


"Enggak bisa. Lebih baik lu pulang sana, jangan ganggu temen gua lagi. Paham!" sahut Sheila, dingin.


"Apa hubungannya sama lu? Gua ngajak Fayra, bukan ngajak lu. Jadi enggak usah sok ikut campur urusan orang!" jawab Andrew, kesal.


"Sudah, Shel. Tenang dulu, jangan emosi."


"Dan untuk Kak Andrew, maaf ya. Fayra tidak bisa ikut Kakak, lebih baik Kakak pulang saja."


Fayra mencoba menahan Sheila, karena dia tahu jika saat ini kemungkinan besar Sheila masih sangat kesal dengan kisah yang dia tahu tentang Andrew.


Nata yang hanya bisa terdiam, matanya membola ketika melihat Andrew turun dari mogenya langsung memegang pergelangan tangan Fayra.


"Enggak bisa gitu, Raa. kamu harus ikut sama aku, temenin aku jalan-jalan sebentar aja. Please ...." Andrew memegang tangan Fayra sambil memohon padanya.


"Ish, apaa sih Kak. Lepasin tangan Fayra sakit tahu. Bukannya Fayra sudah bilang, kalau Fayra tidak mau, kenapa Kakak maksa." pekik Fayra, ketika merasakan pergelangan tangannya dicengkram kuat oleh Andrew.


"Lepasin sahabat gua, atau gua akan bertindak kasar!" geram Sheila, matanya menyorot tajam penuh amarah.


"Lepasin tangan Fayra!" pekik Nata memukul-mukul tangan Andrew begitu keras.


"Lu berdua enggak usah ikut campur!" bentak Andrew, melototkan matanya.


Nata terus berusaha melepaskan tangan Fayra dari genggaman Andrew. Nata sudah tidak bisa berpikir panjang, segera menggigit tangan Andrew ketika Andrew sedang sibuk meladenin Sheila.


"Arrghh ... Si*alan! Rupanya lu mau cari gara-gara ya sama gua!" pekik Andrew, mendorong keras Nata hingga tubuhnya terhuyung kebelakang.


"Nata!" teriak Fayra dan Sheila.


Andrew sama sekali tidak peduli, dia kembali bergegas menarik tangan Fayra serta berpura-pura meminta maaf lantaran dia tidak sengaja mendorong Nata.


Fayra yang sudah tidak bisa mempercayai Andrew, segera memutuskan pertemanannya. Kali ini Fayra sudah tidak mau lagi mengenal atau pun melihat wajah Andrew didekatnya.


Namun, semua itu malah membuat Andrew menjadi kesal dan juga marah. Dia tetap memaksa Fayra untuk ikut bersamanya, membuat isak tangis Fayra mulai terdengar sangat pilu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...