
Malam ini adalah pesta ulang tahun Levin, seluruh keluarga termasuk Alana memakai pakaian senada. Ya itu serba biru, Levin menyukai warna itu.
Seluruh rumah juga dihiasi kebanyakan ornament biru, biru melambangkan ketenangan.
Beberapa tamu yang diundang sudah mulai berdatangan, tidak lupa mereka membawa kotak-kotak kado dari yang kecil sampai besar.
"Almahira!" panggil Rendra.
Almahira berbalik menghadap Rendra. "Ada apa?"
"Aku tahu kau tidak menyukai kehadiran Alana, aku pun sama ... apa tidak sebaiknya kita melakukan sesuatu untuk mempermalukan dia?"
"Tunggu! Apa yang membuatmu tidak menyukainya?"
"Semuanya, menurutku kehadiran Alana hanya membawa petaka untuk keluarga ini. Termasuk kau dan aku coba kau bayangkan. Jika Alana berhasil mengambil hati kak Levin lalu mereka memiliki anak. Apa yang akan terjadi? Sudah pasti seluruh rumah ini serta harta kekayaan kak Levin akan dia kuasai, lalu kita? Kita hanya akan jadi budak!" ujar Rendra penuh penekanan.
"Yang kau katakan itu benar, kita harus bisa menyingkirkan Alana dari rumah ini ... dia adalah ancaman terbesar bagi kita, kalau sampai dia memiliki anak dari kak Levin. Sudah bisa dipastikan seluruh harta kekayaan kak Levin akan menjadi miliknya."
"Itu yang aku sebut sebagai kerja sama, kau dan aku sama-sama harus membuat Alana pergi dari rumah ini."
"Bagaimana caranya?"
"Yang tadi kukatakan, malam ini kita harus mempermalukan Alan di depan tamu-tamu kak Levin. Kau tahu sendiri bagi kak Levin kehormatan itu nomor satu, jika kita mempermalukan Alana. Otomatis kak Levin juga akan merasa malu kesempatan inilah yang harus kita manfaatkan untuk bisa mengusir Alana, kita harus bisa membuat kak Levin dan anggota keluarga malu. Sampai-sampai mereka tidak bisa menunjukkan wajah mereka di depan orang karena perbuatan Alana."
"Tapi bagaimana caranya kita mempermalukan Alana? Kau tahu kita tidak memiliki apapun untuk mempermalukan Alana, asal-usulnya saja tidak jelas."—Almahira mengibaskan rambutnya.
"Soal itu kau serahkan kepadaku, hmm?"
"Oke, kita lihat sampai kapan Alana bertahan di rumah ini."
Almahira dan Rendra sama-sama tersenyum menyeringai.
...----------------...
Alana tengah mengoleskan sedikit makeup di wajahnya, dia sebenarnya tidak suka berdandan. Tapi karena ini acara ulang tahun Levin yang dihadiri oleh orang-orang terhormat, jadi Alana harus berpenampilan Ok.
"Sudah, ini sudah cukup ... apakah b1b1rku tidak terlalu merah?" Alana kembali merapikan polesan lipstik di b1b1rnya.
Levin tiba-tiba memeluk Alana dari belakang. Alana tentu saja terkejut.
"Ka--kau!" Alana terkejut melihat pantulan Levin dari cermin riasnya.
"Kenapa kau terkejut?"
"Ti--tidak, kau memelukku tiba-tiba. Jadi, aku sedikit terkejut." Alana berusaha tersenyum.
"Menurutku Nyonya Alana Christensen, b1b1rmu ini sudah cantik. Untuk apa kau menghapusnya?" tanya Levin menyentuh b1b1r Alana.
"I--itu, aku merasa terlalu mencolok. Jadi, aku menghapusnya."
"Umm, kalau begitu pakai yang ini! Ini warna peach yang indah. Cocok untuk b1b1rmu yang indah," ujar Levin mengoleskan lipstik berwarna peach di b1b1r Alana.
"Perfect!" Levin memandang Alana dari ujung rambut hingga ujung kaki, benar-benar ciptaan Tuhan yang indah.
Nikmati Tuhan-mu yang manakah yang kau dustakan.
Alana hanya tersenyum mendengar pujian Levin.
"Segeralah turun! Aku menunggu di bawah."
Cup.
Alana terpaku saat Levin menc1um b1b1rnya sekilas, setelahnya dia pergi.
Alana menyentuh pipinya. "Kenapa pipiku terasa hangat? Apa aku sen--nang dengan apa yang dilakukannya?"
Alana bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dengannya? Harusnya dia marah. Karena Levin menc1umnya tiba-tiba.
Rendra dengan mengendap-endap mengganti salah satu sirup dengan alkohol, dia mengambil gelas tersebut dan memberikannya kepada Almahira.
"Pastikan Alana meminumnya." bisik Rendra.
"Hmm."
Almahira mulai mencari kesempatan untuk memberikan minuman itu kepada Alana tanpa dia curiga.
"Ini menantu kami, namanya Alana." Nenek mulai memperkenalkan Alana ke beberapa tamu yang cukup dekat dengan mereka.
"Wah sangat cantik, Levin beruntung memiliki istri sepertinya!" puji salah satu dari mereka.
Alana hanya tersenyum. "Terima kasih."
"Alana kemari!" panggil Levin.
"Ah, Nenek, Bibi. Aku pergi dulu."
"Iya, Nak."
Alana berjalan menghampiri Levin yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
"Iya."
"Ini Alana, Dia istriku maaf karena disaat pernikahanku kalian tidak aku undang. Bukan maksudku tidak menghargai kalian sebagai teman, tapi pada saat itu posisi kalian sedang jauh," jelas Levin sambil merangkul pundak Alana.
"Tidak masalah, justru kami senang di hari ulang tahunmu kami bisa hadir dan bertemu Kakak ipar yang cantik."
Levin hanya tersenyum tipis. "Tentu."
"Sekarang bagaimana aku bisa memastikan Alana meminum minuman ini? Dia sedang bersama kak Levin!" kesal Almahira.
Almahira melihat Alesha sedang berjoget-joget ria bersama dua temannya. Dia mendapatkan sebuah ide.
Almahira berjalan menghampiri Alesha.
"Alesha ikut aku sebentar!"
"Ke mana? Aku masih ingin menari."
"Baiklah, teman-teman aku pergi sebentar."
"Iya Alesha."
Almahira menarik Alesha sedikit menjauh. "Ada apa?"
"Malam ini sangat istimewa, karena kak Levin berulang tahun. Kita harus merayakannya dengan meriah, bukan?"
"Tentu saja."
"Kau mau minum?" tawar Almahira.
"Tapi ...."
"Ayolah, kau sudah lama tidak minum. Sedikit saja! Hanya untuk senang-senang."
"Emmm ... baiklah, hanya sedikitkan?"
Almahira mengangguk. "Tapi agar lebih menyenangkan. Bagaimana kalau kita juga mengajak Alana untuk minum?"
"Memangnya dia setuju?"
"Kau jangan mengatakan ini minuman! Cukup katakan ini sirup, mengerti?"
"Baiklah." Alesha menganggu setuju.
"Ambil ini!"
Alesha mengambil gelas minuman dari tangan Almahira dan berjalan menghampiri Alana.
"Bagaimana?" tanya Rendra.
"Semua akan beres, kita hanya tinggal menunggu waktu mainnya saja."
Rendra dan Almahira tersenyum penuh rencana.
Alesha menarik tangan Alana. "Ehh!" Alana terkejut saat ada yang menarik tangannya.
"Alesha, apa yang kau lakukan?"
"Kak minum ini!"
"Apa ini?"
"Ini sirup, ayo minum! Kita harus merayakan ulang tahun kak Levin dengan sangat meriah," ujarnya dengan sedikit mabuk.
"Tapi aku tidak haus!" tolak Alana.
"Ayolah, minum sirup itu tidak harus menunggu haus."
"Demi aku!" mohon Alesha.
Alesha terkekeh. "Baik-baik, aku minum."
"Habiskan-habiskan!"
Alana meminum minuman tersebut hingga tandas.
"Sudah?"
"Iya, terima kasih."
Alesha berjalan dengan oleng meninggalkan Alana yang hanya geleng-geleng kepala.
Almahira dan Rendra sama-sama tersenyum melihat Alana sudah meminum minuman keras tersebut.
"Satu." Mereka mulai menghitung maju.
Alana mulai merasakan pandangannya buram.
"Dua."
Alana menggeleng-gelengkan kepalanya seperti semuanya terlihat bergerak, Alana mulai kehilangan kesadarannya.
"Tiga."
"Haah! Lampu-lampu yang indah!" Alana teriak kegirangan sambil menari-nari tidak jelas.
Alana memakan apapun yang dia lihat di atas meja tamu.
"Umm, ini enak. Aku harus memakannya atau membuangnya? Ini sangat enak," ujarnya mulai berbicara ngawur.
Setelah puas mencicipi setiap makanan Alana beralih kepada sang DJ yang tengah asik makan.
"Musik? Sepertinya aku harus menari!" girangnya berlari ke sang DJ.
"Ayo nyalakan musiknya! Aku ingin menari," ujar Alana memainkan gaunnya.
"Oke."
Sang DJ pun mulai menyalakan music, Alana mulai menari-nari yang menyita perhatian seluruh tamu.
"Itukan istri Tuan Levin, sedang apa dia?"
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Astaga! Dia sepertinya mabuk."
"Apa yang terjadi dengannya?"
"Apakah dia sudah tidak waras?"
Itulah sebagian bisik-bisik para tamu yang melihat Alana yang dalam pengaruh alkohol.
"Ayo menari!" Ajaknya.