
Alana berlari sekuat tenaganya, kakinya masih cukup sakit untuk Alana bisa berlari kencang, Alana melihat ke belakang dan benar saja. Wanita bertopeng itu sedang mengejar Alana.
"Astaga! Aku harus cepat."
Alana memaksakan kakinya untuk bisa berlari lebih cepat lagi. Walaupun begitu sakit rasanya.
"Alana, berhenti!" teriak wanita bertopeng itu.
"Tuhan selamatkan aku."
Alana bersembunyi di balik salah satu kontainer yang sedang berhenti di pinggir jalan.
Alana membekap mulutnya sendiri. Karena wanita bertopeng itu semakin mendekat ke arah kontainer tempatnya bersembunyi.
"Di mana dia?"
Wanita bertopeng itu terus saja melihat-lihat sekeliling guna mencari keberadaan Alana.
Trek!
Alana melototkan matanya saat dirinya tak sengaja menginjak ranting.
Wanita bertopeng itu tersenyum sinis saat mendengar suara seseorang menginjak ranting dari balik kontainer, sudah pasti itu adalah Alana yang sedang bersembunyi. Pikirnya.
'Mau lari ke mana kau. Gadis manis.'
Wanita bertopeng itu berjalan dengan perlahan menghampiri samping bagian kontainer. Yang terbilang cukup mepet dengan kontainer lainnya, Alana semakin dibuat takut kala wanita bertopeng itu semakin mendekat.
Alana menutup matanya.
"Alana. Kau---"Wanita bertopeng itu menghentikan ucapannya, ternyata Alana tidak ada di balik kontainer itu.
Lalu ke mana Alana?
"Di mana dia? Sudah pasti tadi dia ada di sini!" geram wanita bertopeng itu.
...----------------...
Levin dan asistennya— Dino. Sudah mencari-cari Alana ke beberapa tempat yang dekat dengan Taman. Tempat di mana ajakan yang Levin palsu berikan.
"Tuan, sekarang kita harus mencari nona Alana ke mana lagi? Semua tempat yang dekat dengan Taman sudah kita datangi, tapi nona Alana tidak ada. Apa kita harus mencari lebih jauh lagi?"
"Tunggu dulu, sebaiknya kita tunggu kabar dari bodyguard yang sudah mencari Alana keluar dari kawasan Taman."
"Baik, Tuan. Apa sekarang kita kembali ke rumah?"
"Hemm."
Levin memandang keluar kaca mobil, dia benar-benar mengkhawatirkan Alana. Hanya saja dia terlalu gengsi untuk memperlihatkan itu semua.
'Di mana kau Alana?'
Levin kembali mengingat momen-momen kebersamaannya dengan Alana. Yang selalu membuatnya rindu.
•
•
•
"Devano!" panggil Alana.
Iya, Devano lah yang telah menyelamatkan Alana dari wanita bertopeng itu.
Saat dirinya sedang berjalan menuju sebuah kedai. Dirinya tak sengaja melihat Alana berlari seperti sedang menghindari sesuatu, dia melihat Alana bersembunyi di balik kontainer. Dan dirinya mengerti saat melihat wanita bertopeng itu, sepertinya Alana berusaha menghindarinya.
Maka dari itu, Devano segera menghampiri Alana diam-diam. Dan langsung menariknya ke belakang pabrik yang dekat dengan tempatnya bersembunyi tadi.
"Kau tidak papa, 'kan?"
"Tidak, terima kasih Dev. Kau sudah menolongku."
"Tidak masalah, tapi kenapa wanita itu mengejarmu?"
"Dia telah menculikku, dan dia juga mengatakan bahwa dirinya ingin menghancurkan Levin. Ma---"—Alana teringat sesuatu.
"Aku harus segera pulang, sekali lagi terima kasih."
Alana segera berlari agar cepat sampai di rumah. Sebelum wanita bertopeng itu marah, dan meledakkan bom seperti yang dia katakan.
Devano hanya menatap Alana dengan raut bingung.
"Ada apa dengannya?"
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Devano, dan Devano pun berbalik. "Kau ...."
•
•
•
Akhirnya setelah Alana berlari cukup jauh. Dia bisa sampai juga, untunglah jarak rumah dengan tempatnya di culik hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit lebih untuk sampai jika berjalan kaki.
Alana menarik nafas sebanyak-banyaknya, dia sudah tiba di gerbang rumah.
"Levin, nenek, ibu, Alesha. Di mana kalian!" panggil Alana saat dirinya memasuki rumah.
"Kau dari mana saja, Kak?"
"Akan aku jelaskan nanti, tapi di mana semua orang?"
"Kak Levin masih belum kembali. Dia pergi mencari Kakak, ibu sedang pergi ... nenek!"
Nenek berjalan menghampiri keduanya. "Alana apa kau baik-baik saja?"
"Iya, Nek. Aku baik."
"Syukurlah."
"Alesha, telpon kakakmu suruh dia cepat kembali."
"Iya, Nek."
"Ada sesuatu yang harus aku cek, Nek."—Alana segera berlari.
"Kau mau ke mana?"
Alana teringat akan sesuatu, dia segera berlari mengecek beberapa ruangan yang kemungkinan besar bisa menghancurkan seisi rumah jika terdapat peledak di sana.
Alana mengecek setiap sudut ruangan, dia harus segera menemukan peledak itu jika tidak. Seluruh rumah akan hancur.
"Di mana wanita bertopeng itu meletakkan peledaknya?"
Alana terus mencari, sampai dia mendengar suara dari balik Gucci yang cukup besar di ruangan itu.
Tit. Tit. Tit ....
"Apakah itu suara ...."
Alana buru-buru menggeser Gucci yang cukup besar di depannya, Gucci itu sangat berat. Mungkin butuh beberapa orang untuk mengangkatnya, karena Alana tak mungkin mengangkat Gucci itu sendirian. Dia lebih memilih untuk menggesernya.
Setelah berhasil. Dia langsung mengambil sesuatu yang di bungkus kresek hitam, Alana dengan rasa takut memberanikan diri untuk membuka kresek tersebut.
"Jika isinya benar-benar peledak. Aku harus menyingkirkannya sebelum meledak," ujarnya, dengan perlahan Alana membuka kresek tersebut. Dan ternyata ....
"Nek, di mana Alana?"
Levin langsung berjalan menghampiri Nenek. "Dia ada di sana. Ntah, apa yang dia lakukan, tapi dia ada di sana."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Tenanglah, Alana baik-baik saja. Kau jangan khawatir."
"Syukurlah."
"Din, suruh bodyguard untuk kembali! Alana sudah pulang."
"Baik, Tuan."
"Aku akan menemui Alana."
"Baiklah."
Alana terkejut saat melihat isi di dalam kresek tersebut.
"Ini jam weker, bukan peledak."
Ternyata isi di dalam kresek hitam itu bukanlah peledak, melainkan jam weker yang berukuran cukup besar.
"Tapi wanita bertopeng itu mengatakan ... apa dia menipuku, hanya untuk membuatku takut saja?"
Di balik pilar sepasang b1b1r pink tersenyum menyeringai. 'Kau begitu mudah untuk ditipu, ternyata kau tidak secerdas itu, ya. 'Nona Alana Chiristiens.'
Alana melempar kresek hitam itu. "Aku sudah ditipu, tapi apa maksudnya dia mengatakan itu padaku?!" kesal Alana.
"Alana!" panggil Levin. "Levin."—Alana memeluk Levin.
"Kau dari mana saja? Aku sangat khawatir, mengapa kau pergi dari rumah seorang diri?"
"Maaf, aku pikir surat itu benar-benar darimu."
"Al, jika memang ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku tidak akan mungkin menulis surat, aku bisa menelponmu, mengirim pesan padamu. Bukan menulis surat. Itu, bukan diriku."
"Kau benar, aku memang bodoh. Aku percaya begitu saja."
"Kau memang bodoh."
"Levin!" rengek Alana, Levin hanya tersenyum melihat Alana. Padahal dia sendiri yang mengatakan dirinya bodoh, lalu mengapa dia marah?
"Sudah, sebaiknya kau mandi setelah itu istirahat."
"Huum."
Levin dan Alana pun pergi menuju kamar.
Setelah Alana dan Levin sudah pergi, wanita pemilik b1b1r pink tadi berjalan menghampiri kresek yang dilempar Alana. Dia mengambil kresek tersebut.
'Untunglah isinya hanya jam weker, jika peledak sungguhan. Apa yang akan kau lakukan Alana?' batinnya terkekeh.
BERTEMBUNG...