
Mamih Syahnaz pun mengukit tersenyum kecil saat melihat Arsyi sudah mulai tenang, belum lagi Eric benar-benar bisa menjadi superhero untuk anaknya.
Disaat Eric sedang menyuapi anaknya, Mamih Syahnaz pun pergi kearah kamarnya dengan perasaan yang sangat lega.
Disaat kesibukan Eric menyuapi Arsyi, ditempat lain ada seorang pria yang masih setia menunggu istrinya. Siapa lagi jika bukan Ace.
Bahkan kedua orang tua Fayra saja sudah tertidur akibat kelelahan, tetapi tidak dengan Ace. Meskipun Ace masih merasa pusing dan juga lemas. Dia tetap setia menjaga Fayra.
Hingga seketika Ace terus memandangi wajah Fayra, menggenggam tangannya dan mengelus pipinya tanpa rasa lelah. Ace tidak sadar, jika tangan Fayra mulai bergerak meskipun sedikit.
Ace mulai terkejut melihay respon gerakan tangan Tangan Fayra, awalnya Ace tidak percaya. Saat Ace segera mengangkat tangan Fayra, tepat didepan wajahnya.
Kedua matanya melihat reaksi jari telunjuk Fayra yang mulai bergerak, disitulah Ace tersenyum begitu lebar bersamaan runtuhnya air matanya yang mulai menurun.
"Sa-sayang? Ka-kamu su-sudah bangun?" gumam kecil Ace menatap jari telunjuk istrinya yang semakin memberikan responnya.
Ace mencium tangan Fayra, kemudian kembali menatap wajah istrinya sambil mengelus pipinya. Ace yang diselimuti rasa bahagia. Kemudian melihat kedua orang tua Fayra masih tertidur pulas, jadi dia mengurungkan niatnya untuk berbicara penuh semangat.
Perlahan demi perlahan, mata Fayra mulai menyesuaikan cahaya ruangan yang cukup terang. Lantaran hampir kurang lebih 1 minggu ini, Fayra hanya bisa menutup matanya.
Namun, sekarang tidak lagi. Fayra bisa kembali membuka matanya dan orang yang pertama berhasil dilihat adalah Ace, suaminya sendiri.
Kedua mata mereka menatap satu sama lain, sehingga air mata Ace terus mengalir deras sambil tersenyum lebar.
Ace seperti memberikan pertanda bahwa dia sangat bahagia, saat istrinya kembali membuka kedua matanya.
Berbeda halnya sama Fayra, dia meneteskan air matanya ketika ucapan Ace bersama sahabatnya berputar diingatannya. Fayra mengalihkan pandangannya, menatap keatas langit rumah sakit.
Fayra mencoba mengingat semua kejadian yang telah berhasil membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Ace yang melihat respon istrinya, bisa memaklumi semua itu. Setidaknya Fayra tidak melepaskan genggaman tangan Ace, walaupun matanya enggan menatapnya.
Fayra mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, dimana dia telah selesai makan siang dikantin bersama sahabatnya.
...Flashback On...
Fayra sudah tidak tahan ingin kekamar mandi. Lalu dia pergi seorang diri dalam keadaan terburu-buru. Setelah selesai dari kamar mandi, Fayra melihat Tian berjalan kearah rooftop.
Siapa sangka, ternyata Tian sedang mengikuti Ace dan sahabatnya. Fayra yang merasa curiga langsung mengendap-endap untuk mengikuti semuanya.
Awalnya Fayra tidak bisa mendengar apa pun, karena jaraknya cukup jauh dari Tian. Sedangkan suara Ace dan sahabatnya pun tidak terdengar sama sekali.
Tapi, ketika Tian berjalan mendekati Ace dan sahabatnya. Barulah Fayra bisa mendengar semua percakapan yang mereka bicarakan.
Fayra mendengar sangat jelas, bahwa suaminya rela mempertaruhkan dirinya diajang balapan bersama Andrew.
Air mata Fayra runtuh bersamaan detak jantungnya yang kian memompa begitu cepat. Sesak, sakit dan juga kecewa telah melanda hatinya.m
Fayra tidak menyangka jika suaminya yang selama ini, dia kira hanya bisa menyakiti hatinya, ternyata dia juga bisa menghancurkan hatinya.
"Kamu jahat, Kak! Kamu jahat! Sebenci itukah kamu sama aku, Kak? Sampai kamu tega mempertaruhkan aku diantara urusan kalian, yang sama sekali aku tidak tahu!"
"Selama ini aku berusaha kuat demi cinta dan juga rumah tangga kita yang masih seumur jagung. Tapi nyatanya, kamu berkali-kali menghancurkan hatiku,"
"Dan sekarang? Sekarang, aku sudah tidak bisa lagi menerima semua ini! Apa yang kamu lakukan ini, sudah sangat kelewatan batas!"
"Ini semua menyangkut tentang harga diriku, Kak! Pokoknya aku tidak mau kamu menginjak-injak harga diriku lagi! Aku kecewa, benar-benar kecewa!"
"Dihari ini juga, aku sudah sadar, Kak. Kalau perjuanganku semuanya hanyalah sia-sia. Mungkin, benar apa yang kamu bilang. Jika aku enggak pantas bersanding dengan Kakak yang sangat sempurna,"
"Untuk itu, aku tidak akan mengemis cinta Kakak lagi. Terima kasih, Kakak sudah membuktikan padaku bahwa cinta itu tidak selamanya indah dan karena cinta juga, kita bisa merasakan sakit hati!"
Fayra bergumam didalam hatinya ketika melihat Ace dan Tian bertengkar, bahkan disaat Ace terjatuh pun Fayra sudah tidak peduli.
Fayra memilih segera meninggalkan rooftop, kembali ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya supaya tidak membuat sahabatnya curiga.
Namun, Fayra yang tidak bisa menahan rasa sakit didalam hatinya langsung berpamitan sama sahabatnya yang berada didalam kelas.
Fayra pamit untuk pulng lebih dulu karena ada urusan mendadak, serta dia meminta semua sahabatnya untuk memberikan alasan yang kuat kepada guru yang akan datang mengajar, pelajaran selanjutnya.
...Flashback Off...
Alex yang melihat respon Fayra hanya terdiam, sedikit khawatir. Lalu dia melepaskan tangan istrinya, segera memecet tombol diatas bangkar Fayra.
Setelah Ace memencet tombol tersebut, kemudian dia segera keluar dari kamar Fayra untuk menunggu kedatangan sang dokter. Ace tidak mau sampai membangunkan kedua orang tua Fayra yang terlihat kelelahan.
Fayra yang mendengar pintu tertutup, langsung mengalihkan pandangannya. Mata Fayra menatap wajah kedua orang tuanya, Fayra tersenyum sambil menangis.
"Ma-maafkan Fa-fayra, Amma, Appa. Fa-fayra gagal membuat Kak Ace membalas cinta Fayra, bahkan saat ini Fayra benar-benar sudah menyerah dengan pernikahan ini,"
"Semoga keesokan hari, Appa dan Amma tidak akan kecewa dengan keputusan Fayra yang akan mengakhiri semuanya, hiks ...."
Fayra bergumam didalam hatinya, dia tidak tega ketika wajah kedua orang tuanya yang terlihat tenang berubah menjadi penuh kesedihan.
Namun, Fayra memang sudah tidak kuat. Perlakuan Ace padanya sudah kelewat batas, Fayra yang masih menatap wajah kedua orang tuanya sedikit terkejut saat terdengar suara pintu.
Pintu kembali terbuka bersamaan munculnya Ace dan datangnya seorang dokter serta suster untuk memeriksa kondisi Fayra yang baru saja tersadar.
Fayra secepat mungkin menghapus air matanya, dia tersenyum menatap sang dokter. Tanpa berlama-lama sang dokter langsung memeriksa keadaan Fayra.
Ace selalu berdiri di samping istrinya sambil menatap wajahnya, cuman sayangnya Fayra tetap enggan untuk membalas tatapan suaminya.
Fayra malah memilih menatap wajah sang dokter atau pun suster, setelah selesai dan dinyatakan kondisi Fayra mulai membaik membuat Ace tersenyum lebar sambil mengelus kepalanya.
Tangan Fayra terangkat menepis kecil tangan Ace yang sedang menyentuh kepalanya. Ace tetap terdiam seolah-olah dia tidak mengerti sama isyarat yang tangan Fayra berikan.
Sampai akhirnya sang dokter dan juga suster keluar dari ruangan, barulah Fayra menepis tangan suaminya cukup bertenaga walaupun masih lemas.
Ace mencoba menerima semua perlakuan istrinya, dia berusaha bersabar menghadapi sifatnya yang sudah mulai berubah padanya.
Inilah yang Ace takutkan, cuman bagi Ace tidak masalah yang terpenting dia sudah bisa melihat istrinya kembali tersadar. Walaupun Ace harus menerima kemarahan, kecuekan dan juga kekecewaan istrinya.