Learn to Love You

Learn to Love You
Part 27



"Bagus, besok kau harus datang kesebuah taman yang tidak jauh dari rumah Levin ... aku akan mengirimkan lokasinya."


"Tentu-tentu, terima kasih Kim. Akhirnya aku akan segera bertemu dengan putriku tersayang."


"Tidak masalah."


Alana sejak tadi pagi terus saja memanyunkan bib1rnya, dia merasa bosan saat ini.


Levin yang melihat itu merasa heran, kenapa dengan Alana? Apa dia baik-baik saja?


"Ada apa?" tanya Levin duduk di samping Alana.


"Aku bosan," jawabnya.


"Lalu bagaimana agar kau tidak bosan lagi?"


"Aku tidak tahu."


Levin memikirkan sesuatu bagaimana caranya agar Alana tidak merasa bosan.


Maid mata-mata komandan Kim memanfaatkan ini untuk membuat Alana keluar dari dalam rumah.


"Maaf, Tuan, Nona. Jika saya lancang ... kenapa Tuan tidak mengajak Nona ke taman dekat mansion saja?" usulnya.


"Taman?" Levin menaikan sebelah alisnya.


"Betul, Tuan. Agar ona tidak bosan jika nona sampai stress, itu sangat berbahaya sekali untuk kandungannya."


"Benarkah?"


"Tentu."


"Alana, apa kau mau pergi ke taman?"


"Iya, aku mau." Alana mengangguk senang.


Akhirnya setelah sekian purnama Alana bisa keluar jalan-jalan, walaupun hanya ke taman. Tapi tak apa ... ini mungkin bisa sedikit menghilangkan rasa bosannya.


...----------------...


Sampai taman ....


Alana dan Levin berjalan melihat-lihat sekitar taman yang indah dipenuhi oleh bunga-bunga, banyak anak kecil yang bermain, yang sedang berkencan, mengobrol. Dan lain sebagainya.


Alana menghirup udara segar dengan perasaan tenang, Levin yang melihat itu tersenyum tipis. Tangannya terus menggenggam tangan Alana.


"Kau tidak bosan lagi?" tanya Levin. Pandangannya lurus ke depan.


"Tidak."


"Baguslah, setelah itu kita pulang."


"Mengapa secepat itu?!" kesal Alana menghentikan langkahnya.


"Alana sayang, lama kelamaan cuaca akan semakin panas, aku tidak mau kulitmu hitam," ujarnya.


"Kau ini ...!" Alana menghentak-hentakan kakinya kesal.


Bugh!


"Hei, apa kau tidak bisa melihat?!" bentak Levin kepada anak yang tak sengaja menabrak Alana.


"Sudah Levin aku tidak apa-apa"


"Apa ada yang terluka? Perutmu sakit? Atau yang lainnya?"


"Tidak ada, aku baik-baik saja.


"Untunglah."


"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja," ujar orang yang tidak sengaja menabrak Alana tadi.


"Iya, tid---" Alana mengehentikan ucapannya saat melihat siapa orang yang baru saja bertabrakan dengannya.


"Rex ...!" kaget Alana.


Rex juga pura-pura terkejut sesuai dengan rencana komandan Kim kemarin.


"Kak Alana."


"Kalian saling mengenal?" Levin menatap keduanya bergantian.


"Levin, dia adikku. Adikku Rex!" tangis Alana langsung memeluk Rex.


Mereka berpelukan melepaskan rasa rindu yang beberapa bulan ini tak bertemu.


"Rex, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, kak. Bagaimana dengan Kakak apa kakak baik-baik saja selama ini ...? Kaka ke mana saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu."


"Aku baik, Rex. Apa kau sendiri di sini?"


"Tidak."


"Lalu kau pergi dengan siapa?"


"Daddy dan bunda."


"Daddy dan bunda!" Alana kembali meneteskan air matanya, dia benar-benar merindukan kedua orang tuanya.


"Iya, kak."


"Di--dimana mereka?"


"Ada di sana, ayo kita temui mereka. Mereka pasti senang bisa bertemu dengan Kakak."


"Iya."


Alana melirik ke arah Levin, Levin yang mengerti akan maksud Alana hanya mengangguk dengan ekspresi datar.


"Terima kasih ..., ayo Rex kita menemui Daddy dan Bundal!"


Rex pun membawa Alana untuk menemui Arif dan Anaya diikuti oleh Levin juga tentunya.


BERTEMBUNG...


Maaf typo semoga kalian suka:).