Learn to Love You

Learn to Love You
Kisah Papih Arsyi



Tanpa di sadari Ace terjatuh ketika dia masih memeluk istrinya, mereka yang melihat itu langsung panik.


Appa Daniel memapah Ace tiduran di sofa panjang. Sedangkan Amma Trysta dia segera memanggil dokter untuk bisa memeriksa keadaan Ace.


Tak lama seorang dokter datang bersama dengan asistennya dalam keadaan tergesa-gesa, mereka kira keadaan Fayra mengalami penurunan. Ternyata suaminya, malah ikut terjatuh sakit.


Dokter mengatakan bahwa saat ini Ace mengalami dehidrasi dan juga, daya tubuhnya sangatlah lemah. Dia harus dirawat untuk beberapa hari kedepan.


Namun, saat Ace tersadar dia tidak mau dirawat. Dia mau di sini menemani istrinya. Jika dia dirawat, maka peluang untuknya bertemu dengan Fayra akan semakin susah.


Apa lagi kedua orang tua Fayra sudah mengizinkannya bertemu, meskipun harus mengumpet dari kedua orang tuanya. Itu saja sudah sangat cukup untuk Ace, sehingga dia tidak harus menahan rindu seperti sebelumnya.


Ace memberontak, lalu berjalan serta duduk dikursi tunggal tepat disamping bangkar istrinya.


Tangan Ace memegang tangan Fayra, kemudian meletakkannya dipipinya sambil terus menangis. Satu tangan Ace terarah mengelus pipi istrinya.


Sang dokter hanya bisa memberikan sedikit resep obat yang akan Ace minum setiap harinya. Ditambah Ace tidak boleh telat makan atau pun kekurangan minum.


Setelah sang dokter keluar, kedua orang tua Fayra mengusulkan untuk Ace beristirahat terlebih dahulu dirumahnya. Ace menolak keras semua itu. Rasanya Ace tidak mau sedikitpun melepaskan tangan istrinya.


Namun mereka terkejut saat melihat Fayra meneteskan air matanya, ketika Ace berkali-kali mengungkapkan perasaannya dan juga penyesalan.


Kedua orang tua Fayra terharu anaknya mulai memberikan responnya, walaupun hanya meneteskan air matanya. begitu juga Ace, dia langsung memeluk Fayra.


Betapa bahagianya Ace, ketika dia bisa memeluk tubuh istrinya yang selama ini dia benci.


Melihat respon itu, Ace semakin bersemangat untuk terus menceritakan kisah-kisah unik diantara mereka, dimana Ace menceritakan perjuangan Fayra untuknya.


...*...


...*...


Dirumah kediaman keluarga Arsyi


Beberapa jam yang lalu, Eric sudah tersadar dari pingsannya. Dia sangat terkejut ketika berada didalam kamar yang tidak dia kenali.


Eric bergegas menuruni ranjang, lalu berlari dalam keadaan tergesa-gesa. Rasa panik kian melanda Eric, dia mengira bahwa dirinya sedang diculik.


Eric berhasil membuat kegaduhan dan juga kebisingan di dalam rumah Arsyi, sedangkan pemiliknya yang sedang asyik menonton televisi menjadi terganggu.


Suara Arsyi yang menggelegar berhasil menyadarkan Eric, jika dia tidak berada di dalam lingkungan penjahat. Melainkan dia berada dirumah bidadari.


Eric kembali mengingat semuanya dan dia pun tertawa cengengesan, menggaruk tengkluknya yang tidak gatal.


Mamih Syahnaz hanya bisa menggelengkan kepalanya, ternyata bukan hanya anaknya saja yang bisa membuat dirinya kesal. Melainkan Eric pun lebih menyebalkan dari pada anaknya sendiri.


Mau tidak mau, dengan perasaan yang masih gugup. Eric mencoba berusaha tenang. Dia tahu mungkin ini adalah hal pertama baginya, bisa menginjakkan kaki dirumah seorang wanita.


"Kita makan malam cuman bertiga, doang?" tanya Eric, spontan.


"Ya, iyalah. Kalau sekampung, itu namanya kondangan bukan makan malam!" celetuh Arsyi, kesal.


"Memangnya kenapa, Eric? Apa ada yang salah dengan menunya? Atau kamu tidak menyukainya?" tanya Mamih Syahnaz.


Mereka semua duduk diatas kursi, lalu seorang pembantu rumah tangga segera membalikan piring mereka agar bisa segera mengambilkan nasi keatasnya. Tak lupa dia jug menuangkan air putih diatas gelasnya.


Setelah siap, pembantu tersebut meninggalkan meja makan. Eric menatap Mamih Syahnaz sambil berkata. "Dimana Papihnya Arsyi, Tan? Memangnya jam segini belum pulang!"


Pertanyaan Eric berhasil membuat Arsyi tersendak air yang baru saja dia minum, sedangkan Mamih Syahnaz dia menjatuhkan sendoknya ketika mendengar ucapan Erix.


Arsyi menatap Mamihnya, begitupun Mamihnya. Mereka saling menatap satu sama lain, hingga Eric melihat itu malah menjadi bingung.


"Kok diam? Apa pertanyaku ada yang salah?" ucap Eric, lagi.


"Tidak, Nak. Wajar saja jika kamu menanyakan soal itu, cuman yang harus kamu ketahui. Hampir 5 tahun Arsyi sudah ditinggalkan oleh Papihnya yang menderita penyakit jantung,"


"Papihnya meninggal ketika sedang mengendarai mobil menuju kantor, tetapi ditengah jalan ternyata Papihnya mengalami serangan jantung secara mendadak dan mengakibatkan kecelakaan tunggal."


Dengan berat hati, Mamih Syahnaz menceritakan semuanya pada Eric. Padahal Eric adalah orang luar, cuman entah mengapa batin Mamih Syahnaz mengatakan, bahwa Eric suatu saat nanti bisa menjadi pelindung untuk anaknya.


Eric terkejut mendengar cerita yang telah diceritakan, belum lagi mata Eric melirik kearah Arsyi yang terus menundukkan kepalanya.


Arsyi yang sudah tidak kuat langsung pergi meninggalkan meja makan begitu saja, dia berlari ke arah kamarnya dalam keadaan menangis.


Eric yang melihat respon Arsyi begitu sedih, membuat hatinya merasa tidak enak. Awalnya Eric mau menyusul Arsyi, cuman Mamih Syahnaz melarangnya. Akhirnya Eric kembali duduk dikursinya.


"Lebih baik kita makan ya, biarkan Arsyi tenang dulu. Dia memang seperti itu ketika mengingat Papihnya." ucap Mamih Syahnaz, tersenyum kecil.


"Ma-maaf, Tan. Ka-karena pertanyaan Eric, Arsyi malah menangis seperti itu." jawab Eric, tidak enak.


"Tidak apa-apa, sudah makan dulu. Nanti keburu malam loh, pulangnya." ucap Mamih Syahnaz.


Eric pun menganggukan kepalanya, kemudian mereka makan bersama. Dimana suasana dimeja makan menjadi sedikit canggung, bahkan pikiran Eric juga selalu memikirkan keadaan Arsyi.


Selesai malam malam, Eric baru akan akan bersiap-siap untuk kembali pulang. Tapi, siapa sangka dia malah terjebak hujan yang cukup deras dirumah Arsyi.


Lagi-lagi, Eric harus berdiam diri dirumah Arsyi. Sampai seketika Eric meminta izin pada Mamih Syahnaz bertemu dengan anaknya untuk sekedar meminta maaf. Setelah mendapatkan izin, Eric pun tersenyum dan segera pergi menuju kamar Arsyi.