Learn to Love You

Learn to Love You
Kekayaan



Namun, perkataan seseorang mampu membuat kesombongan Alena berhasil menghilang. Rasa malu, kesal dan juga marah melanda diri Alena. Hingga akhirnya dia menaruh dendam kepada orang tersebut.


"Tadi, apa yang lu bilang? Bokap lu donatur terbesar disekolah ini?" tanya seorang pria.


"Ya, memang kenapa? Lu nyesel ninggalin gua?" ucap Alena, menatap pria tersebut.


"Nyesel, lu bilang? Haha ... Jangan mimpi! Jika Bokap lu donatur disini, Bokapnya Fayra pun bisa membeli sekolah ini dalam waktu sekejap mata!"


"Untuk itu gua bisa pastikan. Kalian bertiga segera angkat kaki, keluar dari sekolah ini! Bagaimana, wahai wanita angkuh?"


Seorang pria menatap Alena yang saat ini sedang dipenuhi oleh amarah, pria itu hanya tersenyum licik begitu bahagia.


Awalnya wajah Alena yang terlalu sombong, menari-nari bak bidadari diatas awan. Kini, telah terhempaskan oleh kedatangan angin topan yang telah menyapu tubuhnya, hingga membuatnya terjatuh kebumi.


"Kak Ace!" pekik Fayra, dia sangat terkejut ketika Ace membuka rahasia kekayaan keluarga mertuanya.


Sakit? Ya, memang sakit. Tetapi rasa sakit yang Alena rasakan lebih mendalam, bagaikan ribuan pisau yang menancap didalam hatinya. Berbeda halnya ketika Alena merasakan sakit akibat terjatuh dalam keadaan tubuh luka parah.


"Lu!" geram Alena.


Dia mulai mengepalkan kedua tangannya begitu erat. Alena tidak menyangka jika Fayra, merupakan anak dari salah kolong merat yang kekayaannya melebihi keluarganya.


Banyak hinaan, sorakan, cacian dan juga makian sana-sini yang berhasil memecahkan gendang telinga Alena.


Rasanya dia ingin sekali merobek, mencabik dan juga menyayat mulut-mulut sampah yang saat ini sedang menyorakinya.


Tatapan tajam menyorot keras menusuk mata pria tersebut, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ace. Alena merasa harga dirinya dan juga harga dirinya telah jatuh sejauh-jatuhnya didepan semua murid.


Alena bisa memastikan bahwa kedepannya, tidak akan ada satu murid pun yang akan memiliki ketakutan besar pada dirinya seperti sebelum kejadian hari ini.


"Kenapa? Malu? Sakit? Atau--"


"Arghhh! Liat aja kalian, gua akan balas semuanya! Pokoknya gua enggak terima!" teriak Alena segera meninggalkan kantin tersebut.


Ace dan juga para sahabatnya beserta sahabat Fayra, terlihat begitu puas ketika ucapan Ace mampu membungkam kesombongan yang ada didalam diri Alena.


Hanya ada satu orang yang sama sekali tidak menyukai sikap Ace, siapa lagi jika bukan Fayra. Dia begitu kecewa dengan Ace, bisa-bisanya dia membuka jati diri siapa Fayra sebenarnya.


Ya, meski semua sahabat Fayra tahu siapa dirinya. Akan tetapi, mereka tidak bisa membuka privasi Fayra.


Mereka menghargai Fayra yang hanya mau dianggap sebagai, gadis biasa yang tidak mempunyai apa pun. Jika pun punya, itu semua hanya milik kedua orang tuanya.


"Kak Ace itu benar-benar ya! Kalau udah begini, semua orang akan takut sama Fayra. Dan Fayra tidak mau itu semua terjadi! Fayra tahu kita semua anak orang berada, tapi ingat!"


"Kekayaan seseorang berbeda, untuk itu Fayra hanya mau dianggap gadis biasa tidak lebih. Karena, kekayaan yang Kakak ucapkan itu bukanlah hasil dari jernih payah keringat Fayra sendiri. Paham!"


Fayra terlihat begitu marah atas ucapan suaminya, jikalau memang Ace mau menjatuhkan kesombongan dan juga membalas perbuatan Alena. Kenapa Ace bukan membawa nama keluarganya saja, kenapa harus mertuanya? Itulah yang menjadi kesalah pahaman kembali diantara mereka.


"Tapi, Raa. Aku begini karena---"


"Stop! Aku sudah mengerti, Kakak begini karena Kakak mau membuat semua orang bertekuk lutut padaku, bukan? Tapi, itu cara yang salah Kak!"


Fayra menekankan kata-katanya, lalu pergi begitu saja dalam keadaan marah, emosi dan juga kesal.


Ace yang tidak terima melihat istrinya seperti itu, langsung ikut mengejarnya, sehingga mereka berlari kearah rooftop.


Rooftop? Ya, itulah tempat favorite Fayra ketika dia sedang bersedih, marah atau pun kecewa dengan suatu hal.


Sahabat Fayra awalnya ingin segera menyusul dua sejoli yang sedang bertengkar, cuman secepat kilat ditahan oleh sahabat Ace.


Mereka menginginkan agar sahabat Fayra tidak akan ikut campur urusan dia sejoli yang kelakuannya sangat memusingkan kepala.


Dengan berat hati, mereka semua kembali duduk. Kemudian Eric serta Nicho bergegas memesan menu makan siang mereka yang sempat tertunda.


Berbeda halnya sama Alena, dia berteriak didalam kamar mandi sambil membanting apa pun yang ada disampingnya.


Violet dan Lydia hanya bisa melihat aksi Alena sambil berbisik manja. Ternyata mereka baru mengetahui bahwasanya, orang yang mereka benci adalah anak dari kolong merat yang sangat tajir melintir.


Disinilah niat mereka berdua mulai bercabang antara memilih Alena, atau dia harus mendekati Fayra. Mungkin saja dia bisa mendekati keduanya itu jauh lebih baik. Jadi, mereka akan mendapatkan 2 keuntungan sekaligus.


Berbeda halnya, Fayra dan Ace yang sudah berada di atas rooftop. Ace berusaha memegang tangan istrinya, lalu menariknya hingga membentur dada bidang milik suaminya sedikit keras.


"Dengarkan aku dulu, Raa. Aku enggak ada maksud kaya gitu. Please, dengarkan aku!" ucap Ace, berusaha menahan tangan Fayra yang selalu memberontak.


"Apa, Kak? Apa! Aku sudah tidak mau mendengar apa pun dari mulut Kakak. Semua yang keluar itu adalah kebohongan!" pekik Fayra menatap tajam, matanya mulai berkaca-kaca.


Namun, ketika Fayra berhasil melepaskan tangannya dia berbalik dan kembali ditarik oleh Ace. Sampai akhirnya Ace mencium bibir istrinya begitu dalam.


Fayra awalnya terkejut, ketika merasakan pergerakan bibir Ace yang menyentuh bibirnya. Gigitan kecil yang Ace berikan, berhasil membuat Fayra membuka mulutnya.


Tanpa basa basi lagi, lidah Ace menerobos masuk kedalam, mengabsen semua isi yang ada didalam mulut istrinya.


2 menit berlalu, akhirnya Ace melepaskan bibirnya sambil menempelkan kening dan hidungnya kepada istrinya. Helaan napas saling berhembusan satu sama lain, membuat debaran jantung mereka kian berpacu cepat.


Salah satu tangan Ace memegang erat pinggul istriny, kemudian tangan satunya memegang rahan hingga leher sambil jarinya mengelus pipi Fayra perlahan.


"Aku tidak ada maksud seperti itu, Sayang. Aku melakukan semua ini agar Alena tidak selalu merendahkanmu,"


"Aku tahu saat ini kamu msih sangat marah atas kejadian beberapa hari lalu, tapi Raa. Kali ini aku enggak bisa bohongin perasaanku sendiri, kalau aku--"


"Kalau Kakak hanya berpura-pura mencintaiku seperti biasanya!" ucap Fayra mendorong Ace hingga tubuh mereka saling berjauhan.


Fayra berbalik, berjalan kearah pembatas rooftop. Kemudian dia menatap ke arah langit sambil melipat kedua tangannya didada. Bersamaan dengan itu, air matanya pun seketika mulai berjatuhan.


Ace tidak bisa lagi mengontrol perasaannya langsung memeluk istrinya dari arah belakang. Kemudian Ace meletakan dagunya tepat di pundak, begitu pun kedua tangannya yang melingkar di perut istrinya.


Beberapa detik mereka terdiam, hanya terdengar isak tangis keduanya yang saling bersahutan. Dimana Ace bisa merasakan kekecewaan istrinya, dan Fayra bisa merasakan bahwa suaminya memang sudah mulai menganggapnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...