
Keesokan harinya ....
Sesuai dengan isi surat, malam ini Nenek mempersiapkan acara makan malam untuk keluarga Alana.
Alana sendiri sangat senang tentunya karena keluarganya akan datang, tapi disatu sisi dia masih khawatir dengan apa yang akan terjadi jika Levin mengetahui yang sebenarnya.
"Alana apa kau sudah siap?" Levin berdiri di belakang Alana.
"Iya," jawabnya dengan lirih.
"Ada apa? Kenapa kau seperti lesu begitu, kau baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa, ayo!"
"Kau yakin?"
"Iya, ayo!" Alana menarik tangan Levin.
Levin hanya mengikuti langkah Alana saja.
...----------------...
Mobil milik Arif sudah tiba di rumah Levin, Arif datang bersama istri dan kedua anaknya.
Mereka keluar dari dalam mobil langsung disambut hangat oleh keluarga Levin, terutama Nenek. Dia sangat senang karena bisa bertemu dengan keluarga Alana.
Almahira dan Rendra sama-sama tidak menyangka bahwa ternyata Alana dari keluarga yang tidak sembarang, Alana adalah anak dari seorang CEO terkenal.
"Aku tidak menyangka ternyata Alana dari keluarga yang sangat kaya." bisik Rendra.
"Kau benar, selama ini aku berpikir bahwa Alana adalah seorang gadis kelas menengah. Ternyata aku salah, dia memiliki orang tua yang sangat kaya dan terkenal," jawab Almahira.
"Terima kasih karena kalian sudah mau datang memenuhi undangan kami," ujar Nenek setelah bersalaman dengan Arif dan Anaya.
"Tentu kami tidak akan menolak, karena ini undangan makan malam dari keluarga Alana juga."
"Mari silahkan masuk!" ajak Melda.
"Terima kasih."
Arif dan Anaya serta kedua anaknya masuk ke dalam rumah Levin.
"Silahkan duduk, aku akan menyuruh Maid untuk membawakan minum." Melda berlalu menuju dapur.
"Di mana Alana dan Levin?" tanya Alana setelah mereka duduk.
"Sebentar lagi mereka turun ... itu mereka." Semua orang melihat ke arah tangga, Alana dan Levin menuruni anak tangga dengan perlahan.
"Daddy, Bunda." Alana kembali memeluk kedua orang tuanya.
"Iya, Bun."
Levin dan Alana duduk bersebelahan.
Tak lama Melda datang bersama kedua Maid nya. "Ini minumannya, silakan!"
"Terima kasih."
"Oyah, Nek. Ini adik-adikku ... Alex dan Rex."
Alex dan Rex tersenyum kearah Nenek.
"Sangat tampan dan sopan," ujar Nenek.
"Perkenalkan juga ini adalah ibu dari Levin. Melda, ini kedua adiknya. Almahira dan Aeleasha, itu bibi Levin dan putranya Rendra."
"Salam kenal."
"Salam kenal juga."
"Kami senang bisa datang kemari dan bertemu dengan kalian," ujar Arif.
"Tentu kami juga sangat senang, kalau perlu sering-seringlah datang kemari," ucap Melda.
"Tentu."
"Kami juga sangat tidak menyangka bahwa Alana masih memiliki keluarga, selama ini kami tidak pernah bertanya padanya ... kami juga ingin meminta maaf, karena pernikahan antara Levin dan Alana terjadi begitu saja. Kami benar-benar tidak menyangka bahwa ini semua ...." Melda menggantung ucapannya.
"Sudahlah, Alana juga sudah menceritakan semuanya. Kami mengerti."
Sekian lama mereka mengobrol dan tibalah waktunya makan malam, mereka segera pergi menuju meja makan.
"Alana apa kau bisa ambilkan garpu di dapur?" tanya Nenek.
"Tentu, nek. Akan aku ambilkan."
Alana pergi menuju dapur untuk mengambil garpu, belum sempat dia sampai di dapur tangannya lebih dulu ditarik seseorang.
"Eeeh, siapa kau?!" bentak Alana.
"Ssst! Ini aku. Devano." Devano melepaskan maskernya.
Alana terkejut dengan kehadiran Devano, bagaimana dia bisa masuk ke dalam sini?
"Devano, kau ...?"