Learn to Love You

Learn to Love You
Part 7



Setelah Alana keluar. Dia menekan tembok tersebut. Sampai temboknya kembali tertutup.


'Apakah Devano juga ditempatkan di tempat seperti Syakila? Di balik tembok?'


'Kalo itu memang benar, aku harus bisa menemukannya.'


"Hei, kau. Kemari!" panggil Almahira.


Alana perlahan mendekati Almahira yang sepertinya sedikit mabuk.


"Iya?"


"Ambilkan aku minum!" ujarnya dengan suara khas orang mabuk.


"Tapi kau sudah minum cukup banyak," ujar Alana melihat banyak bekas gelas alkohol.


"Itu kurang untukku, cepat ambilkan!"


"Kau sudah mabuk berat, tolong jangan minum lagi."


"Siapa kau yang berani menasehatiku, hah? Orang tuaku saja tidak masalah. Kenapa kau yang bermasalah? Di sini kau itu hanya pelayan!" bentaknya.


"Aku hanya---"


"Apa?!"


"Almahira!"


Seorang wanita paruh baya berjalan menghampiri Alana dan Almahira yang sudah mabuk berat.


"Benar yang dikatakan olehnya, kau itu sudah mabuk berat. Kau tidak bisa minum lagi!" cegah Zaida—nenek Raja.


"Nenek tau apa tentang anak jaman sekarang? Sudahlah. Cepat ambilkan aku minum atau kuadukan kau kepada kakakku agar kau dipecat!"


"Kau mau mengadukannya? Nenek yang akan mengadukanmu lebih dulu."


"Levin!"


Seorang wanita berjalan menghampiri mereka. Tatapan mata yang tajam dan aura yang dingin.


"Ada apa, Nek?" tanyanya.


"Lihat adikmu! Dia sudah minum cukup banyak dan juga sudah mabuk, dia malah ingin minum lagi."


"Almahira, pergi ke kamarmu!" titahnya.


"Aah, kakak aku masih ingin minum dan bersenang-senang," ujarnya menari-nari tak jelas. Karena efek minuman yang dia minum dengan jumlah banyak.


"Kau tidak bisa berada di pesta jika kau mabuk, karena kau tidak akan sadar apa yang kau lakukan dan apa yang terjadi. Pergi ke kamarmu! Kembali lagi jika kau sudah sadar!" tegasnya.


"Baiklah-baik, aku pergi ... ohh sayangku, di mana dirimu berada."


Almahira pergi ke kamarnya dengan langkah gontai.


"Kau. Ikut aku!"


"Iya."


Alana pun berjalan mengikuti Levin.


Mereka tiba di salah satu ruangan, di sana terdapat banyak sekali makanan yang tersaji. Dari mulai makanan utama, makanan penutup, buah-buahan segar, minum-minuman dingin dan kue-kue yang terlihat cantik tersaji dengan baik.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Alana setelah mengamati ruangan tersebut.


"Antar beberapa makanan ini ke meja Mr Lu She Cheng !"


"Baiklah."


Setelah itu Levin pergi kembali ke tempatnya, sedang Alana mengambil beberapa makanan untuknya hantar.


'Yang mana meja Mr Lu She Cheng?


"Maaf, apa kau tau yang mana Mr Lu She Cheng?" tanya Alana pada seorang wanita.


"Mr Lu She Cheng, itu dia di sana! Dia memakai jas berwarna Silver."


"Terima kasih."


"Taruh di sini!"


Saat Alana hendak menaruhnya di atas meja. Dia tak sengaja menjatuhkan makanan tersebut ke baju istri Mr Lu She Cheng.


Brak!


Piring dan gelas yang Alana bawa tumpah.


"Astaga!"


"Ma--maaf."


"Ada apa ini?"


"Lihatlah! Apa yang dilakukan pegawaimu!" bentak Mr Lu She Cheng.


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja."


"Maafkan atas keteledorannya, aku akan mengganti pakaian istrimu dengan yang lebih mahal."


"Hmmm."


Levin mencekal lengan Alana. "Kau ikut denganku!"


Levin menarik tangan Alana menuju satu ruangan yang cukup besar.


"Kau tau apa yang sudah kau lakukan? Sudah kukatakan jangan merusak pestaku!"


"Ma--maaf, aku tidak sengaja ... tadi---"


"Aku tidak butuh alasan! Sebagai hukumannya. Kau harus bekerja di sini sampai dua hari kedepan."


"Tap---"


"Tidak ada penolakan!"


Levin pun pergi meninggalkan Alana.


"Sesuai rencana." Alana tersenyum.


Jika kau tidak bisa menemukan Devano dalam waktu semalam. Maka kau harus melakukan sesuatu yang membuatmu tetap bisa bertahan di dalam rumahnya, karena jika kau sudah keluar dari dalam rumahnya kau tidak akan bisa masuk kembali, tapi berhati-hatilah jangan sampai kau melakukan kesalahan yang membuatmu dalam bahaya!' itulah pesan komandan Kim.


Alana melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang, Alana menekan tombol merah dibalik kalung hatinya.


"Komandan, aku tidak bisa menemukan di mana Devano. Maka aku akan memanfaatkan kesempatan dua hari ke depan untuk mencari ruangan rahasia yang kemungkinan ada Devano."


Setelah mengirim pesan tersebut. Alana kembali ke area pesta agar tidak ada yang curiga.


...----------------...


Pesta semalam berjalan dengan lancar, pagi ini beberapa orang sedang merapi-rapikan bekas dekorasi semalam. Alana juga membantu merapikan beberapa barang sambil sesekali mencuri-curi pandang ke beberapa tempat. Siapa tau dirinya bisa menemukan sesuatu.


Saat dirinya sedang memasukkan beberapa barang ke dalam kardus. Dia melihat Levin pergi ke keluar.


'Dia mau ke mana pagi-pagi seperti ini?'


'Aku akan mengikutinya.'


Alana pergi mengikuti Levin yang berjalan ke halaman belakang rumah, mau ke mana sebenarnya dia se-pagi ini?


'Mau ke mana dia? Kenapa dia pergi ke arah hutan sana?'


Alana menghentikan langkahnya saat Levin pergi memasuki hutan yang berada di belakang rumahnya, apakah Alana harus mengikutinya sampai masuk ke dalam hutan sana?


"Sebaiknya aku ikuti saja, siapa tau dia ingin pergi ke suatu tempat yang dimana ada Devano."


Alana kembali melanjutkan langkahnya mengikuti Levin masuk ke dalam hutan.


"Haaaaah!" teriak Alana.


"Siapa itu?!" Levin membalikkan badannya saat mendengar suara teriakan Alana.


Alana segera membekap mulutnya.


Jangan sampai Levin tau Alana mengikutinya, bisa habis dirinya.