Learn to Love You

Learn to Love You
Vitamin



Semuanya menatap Arsyi dengan tatapan aneh, sampai akhirnya Arsyi yang menyadari perkataannya langsung menjelaskan bahwa arti dari ucapannya itu tidak seperti apa yang ada dipikiran mereka.


...*...


...*...


Malam hari tepat pukul 7, semua sahabat Fayra dan Ace sudah berkumpul di Mal Matahari. Kemudian mereka langsung memesan tiket, dan berjalan menuju bioskop.


Mereka semua duduk saling bersebelahan dimana ada 4 pasangan duduk saling berjejer. Mereka semua terlihat begitu serius menonton film dengan genre campur, yaitu horor, komedi dan juga romance.


Mereka tertawa, menangis dan juga ketakutan selama film tersebut di putar. Bahkan Eric, Tian dan juga Louis menjadi pelindung bagi ketiga wanita cantik disampingnya.


Berbeda halnya dengan Nicho dan juga Ace. Sheila sama Fayralah yang menjadi pelindung bagi big baby kesayangannya.


Ya, meskipun Sheila belum merespon apa pun dari perlakuan Nicho. Akan tetapi Sheila bisa merasakan kasih sayang yang besar darinya.


Selama 2 jam kurang film diputar, akhirnya film pun telah selesai dengan ending yang sangat lucu bercampur horor.


Mereka pergi sebuah tempat makan untuk mengisi perutnya, setelah itu barulah mereka kembali kerumah sambil mengantar putri cantik pulang ke rumahnya masing-masing dengan selamat.


...*...


...*...


Di rumah kediaman Rodriguez


Ace dan Fayra baru saja sampai dirumah tepat pukul 11 malam lebih, mereka segera pergi ke kamarnya masing-masing untuk membersihkan badannya yang sedikit lengket.


Disaat Fayra baru saja keluar dari kamar mandi sambil menghanduki rambutnya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seseorang yang sudah berada di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponsel milik Fayra.


"Astaga, Bunny! Ngapain kamu ada disini? Mendingan sekarang Bunny keluar, sebelum Mommy dan Daddy mengetahui semua ini." pekik Fayra dengan semua kegelisahannya.


Fayra berusaha menarik lengan Ace, membawanya keluar dari kamarnya. Cuman sayangnya, tubuh mungil Fayra masih kalah sama tubuh suaminya yang sangat berisi dan juga kekar.


Ace tersenyum miring. Disaat Fayra sedikit lengah, Ace segera menarik balik lengan istrinya hingga dia terjatuh tepat di atas tubuhnya.


Cup!


Satu kecu*pan dari bibir Fayra berhasil mendarat tepat dibibir suaminya. Kini bibir keduanya saling bersentuhan untuk beberapa detik.


Ace yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, segera mencicipi kembali bibir istrinya yang sudah menjadi candu unruknya.


Ace sangat menikmati vitamin malam sebelum tidur yang diberkan oleh istrinya sendiri. Fayra memberontak kecil, tetapi dia tetap tidak bisa melepaskan tubuhnya dari pelukan Ace yang saat ini sudah mengunci seluruh tubuhnya.


Fayra begitu pasrah menikmati setiap sentuhan bibir serta gigitan kecil yang telah suaminya berikan, Fayra mencoba menyeimbangi suaminya.


Sampai seketika napasnya sudah mulai habis, Fayra memukul kecil dada suaminya. Ace yang mulai mengerti, segera melepaskan bibirnya sambil tersenyum, menatap wajah istrinya kian memerah.


"Hah ... Apa kamu sudah gila, Bunny! Bagaimana jika tiba-tiba saja Mommy ke sini terus melihat posisi kita kaya begini, nanti disangkanya kita lagi---"


"Lagi apa, hem? Lagi buat dedek? Memangnya Honey udah siap, kalau kita akan punya dedek?" goda Ace sambil mengelus wajah istrnya.


"Aaaa, ti-tidak! A-aku tidak siap, mendingan sekarang Bunny pergi dari sini. Aku mau tidur!" ucap Fayra bwrgegas bangkit dari kasur dan duduk di depan cermin.


Ace yang melihat wajah istrinya semakin memerah, membuatnya malah semakin gencar berniat ingin menjahili istrinya.


Ace menuruni ranjang dan berjalan perlahan lalu berdiri di belakang Fayra, lalu sedikit membungkuk sambil memeluk istrinya.


"Fiuhh ... Sayang, kita buat dedek, yuk!" ajak Ace dengan suara paraunya.


Fayra yang mendengar suara indah itu, berhasil menghentikan aksi tangan yang saat itu masih mengolesi wajah dengan kapas dan juga skin care lainnya.


"Ayolah, Sayangkuh. Udah lama nih enggak ayo!" gumam kecil Ace didekat telinga istrinya.


Tubuh Fayra langsung menegang, di saat Ace berhasil menggigit kecil telinga milik istriya. Cuman selang beberapa detik Fayra berbalik mendongak kearah.


"Bunny! Apa selama ini ternyata kamu sudah membuka segelmu lebih dulu?" tegas Fayra.


"Enggk, tapi kalau kamu mau membukanya silakan. Aku akan menyambutmu dengan senang hati. Bagaimana, hem?" goda Ace, kembali.


"Yak, dasar pria me*sum! Udahlah Bunny mendingan pergi dari sini, Fayra mau tidur, capek." Fayra kembali merias wajahnya meakupun hanya menggunakan skin care saja.


"Hihi, ya kan siapa tahu aja kamu mau membuka lebelku sekarang. Aku tidak keberatan, malah aku senang." sahut Alex, tersenyum sambil melangkahkan kaiknya dan menariki ranjang milik Sasya.


"Huhh, dahlah. Ohya, Bunny aku mau nanya. Selama aku tertidur Bunny ngapain aja?" tanya Fayra, membuat senyman diwajah Ace menghilang dan tergantikan oleh kepanikan diwajahnya.


"E-enggak nga-ngapa-ngapain kok, cuman tiduran terus pas Bunny enggak bisa tidur. Bunny meluk Honey aja, akhirnya tidur deh hehe ...."


"Me-memangnya kenapa Bunny nanya seperti itu?"


Ace kembali mengalihkan ucapan istrinya, dan malah membalikan semuanya kepada Fayra. Saat ini entah kenapa Ace merasa detak jantungnya kian memburu, cuman Ace berusaha tetap tenang bagaikan air yang mengalir dilautan.


"Gapapa sih, cuman aku penasaran aja. Waktu aku bangun Bunny kan lagi mandi, terus aku kembali ke kamarku. Pas aku ngaca, kok aku lihat kaya ada tanda merah dileher, terus juga satu kancing piyamaku terbuka."


"Apa karena aku tidurnya terlalu pules jadi, kemungkinan kancingnya kaya tidak sengaja kebuka sendiri kali ya?"


Fayra berbicara sambil melanjutkan mengolesi skin care ke wajahnya, tak lama Fayra langsung bangkit dan berpindah ke tepi kasur.


"Mu-mungkin saja se-seperti itu Ho-honey hehe, ya-ya sudah aku ke kamar dulu ya. Kayanya enggak jadi tidur di sini, soalnya aku baru ingat. Sebentar lagi ada mabar sama teman games, takutnya nanti kamu keganggu. Aku balik dulu ya, dah ..."


Cup!


Ace mengecup bibir Fayra sekilas, lalu dia tergesa-gesa menuruni kasur dan berlari cepat meninggalkan kamar istrinya. Dimana Fayra terdiam membeku melihat perubahan sifat Ace yang sangat drastis.


"Ada apa dengan, dia? Perasaan tadi saat aku suruh kembali ke kamarnya malah enggak mau. Cuman, sekarang tiba-tiba saja malah memilih kembali ke kamarnya,"


"Aneh? Ya, memang aneh. Tapi, ya sudahlah. Biarkan saja, malahan aku bisa tidur tenang tanpa gangguan dia hihi ...."


Fayra terkekeh sendiri, lalu dia mengecek ponselnya sebentar. Kemudian memainkan sosmednya sampai membuat Fayra ketiduran dalam keadaan ponsel masih berada ditangannya.


Namun, berbeda dengan Ace. Didalam kamarnya Ace malah mondar-mandir seperti orang yang sedang gelisah sambil menggigit-gigit jarinya.


Hanya saja itu tidak bertahan lama, saat Ace kembali mendatangi kamar istrinya lalu, mengintipnya sedikit. Seketika Ace melihat Fayra sudah tertidur, dia masuk secara perlahan untuk membenarkan posisi tidurnya.


Setelah Fayra tertidur dalam keadaan lurus dengan selimut di tubuhnya, Ace pun mengusap kepalanya sambil mengecup keningnya beberapa kali. Bahkan bibirnya pun tidak terlewat, itu yang paling utama untuk Ace sebagai vitamin setiap saat. Kemudian Ace kembali ke kamarnya.