
Tanpa mereka sadari ternyata beberapa menit yang lalu, kedua orang tua mereka sudah kembali dari kantin. Lalu, mereka semua dikejutkan oleh adegan yang sangat romantis.
Mereka berempat hanya bisa mengintip kedua anaknya yang sedang mencium satu sama lain. Padahal nyatanya, jika mereka melihatnya dari jarak dekat. Pasti mereka akan tahu, jika bibir Fayra dan Ace belum sama sekali bersentuhan.
Uhuk ... Uhuk ...
Fayra terbatuk membuat Ace tersenyum, dia merasa menang dengan semuanya. Segera mungkin Ace menjauhi wajah istrinya,berpura-pura terkejut.
Namun, ketika mereka mau mulai kembali menjadi seekor tikus dan kucing. Tiba-tiba kedua orang tuanya segera masuk, tanpa ekspresi apa pun. Seolah-olah mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi barusan.
"Tadi itu ada-ada aja ya, Kak hehe ...." ucap Mommy Rosa pura-pura tertawa menatap Amma Trysta yang tersenyum.
"Eh, kalian ngapain? Kenapa kamuu mendekati bangkar menantuku?" sambung Mommy Rosa, menyipitkan matanya menatap Ace.
"E-enggak kok, ta-tadi ada binatang di wajah Fayra. Jadi aku mau mengusirnya." ucap Ace sedikit gugup.
"Eleh, binatang apaan! Kakak itu yang jadi binatangnya. Untung aja, tadi aku pura-pura batuk. Coba kalau enggak pasti mereka bisa melihat adegan itu!" gumam Fayra didalam hatinya, penuh kekesalan.
"Oh begitu, kirain mau ngapain. Ya udah sana kembali ke tempat tidurmu. Jangan dekati menantuku!" titah Mommy Rosa.
"I-iya, Mom. Ma-maaf ...." ucap Ace, menunduk dan kembali ke bangkarnya.
Fayra yang melihat Ace begitu pasrah, malah menjadi tanda tanya untuknya didalam hati. Dia tidak menyangka hanya satu ucapan Mommy Rosa, mampu membuat Ace langsung menjauhinya.
"Jika dia mencintaiku, kenapa dia sepasrah itu ketika Mommy menyuruhnya menjaihiku? Apa yang dibilang mereka semua tentang Kak Ace telah mencintaiku, itu bohong?"
"Hem, aku tahu. Mungkin ini hanya akal-akalan Kak Ace aja, biar seolah-olah dia terlihat mencintaiku? Cuman pada kenyataannya, dia tidak sama sekali mencintaiku?"
"Haha, dasar pembohong besar! 3 kata yang memang sangat pantas untukmu, Kak."
"This is the truth. If you're a loser, bullshit and a hypocrite!"
...[Inilah kenyataannya. Jika kau seorang pecundang, omong kosong dan juga munafik!]...
Fayra bergumam didalam hatinya, dia terlihat begitu kecewa melirik ke arah Ace yang sudah tertidur diatas bangkarnya sambil dibantu oleh Daddy Gerry.
Tak lama seorang suster datang sambil membawakan troli makanan untuk kedua pasien yang saat ini berada diatas bangkar.
Ya memang Mommy Rosa masih marah sama anaknya, tetapi tidak menutup kemungkinan dia akan mengurus anaknya sampai sembuh seperti semula.
Setelah selesai memberikan makan siang, sang suster pun keluar dari ruangan. Dimana Amma Trysta segera menyuapini Fayra. Sama halnya Mommy Rosa yang ikut menyuapini Ace, anaknya yang sangat nakal.
Jika Fayra makan dari tangan Amma Trysta dalam keadaan tenang, berbeda dengan Ace yang selalu saja dapat omelan keras dari sang Mommy.
Mereka semua menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil ketika melihat keributan Ace sama Mommy Rosa, hanya karena rasa makanan rumah sakit yang begitu hambar dan juga tidak gurih.
...*...
...*...
3 hari berlalu, keadaan Fayra dan juga Ace sudah mulai membaik. Saat ini Fayra berangkat sekolah menggunakan supir pribadi yang sudah diberikan oleh Daddy Gerry.
Awalnya Ace menolak keras semua itu, tetapi dia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya jika istrinya sudah memintanya sendiri.
Ace tahu saat ini mungkin dia harus menjaga jarak terlebih dulu dari istrinya, sampai semua keadaan kembali pulih.
Sesampainya dikelas, Fayra disambut meriah oleh sahabatnya. Terlihat jelas dari raut wajah mereka, kalau kembalinya Fayra merupakan kebahagiaan mutlak bagi mereka.
Tepat dijam istirahat, Fayra dan sahabatnya pergi bersama-sama kearah kantin. Kemudian mereka duduk di salah satu meja panjang yang paling pojok.
"Raa, gua seneng deh lu udah bisa kembali lagi sama kita." ucap Nata penuh keceriaan.
"Ya bener banget, cuman sayangnya. Gua enggak bisa nengokin lu, habisnya si kunyuk tiba-tiba pingsan karena Mamih ngomong---"
Arsyi menghentikan pembicaraannya ketika dia menyadari kesalahannya, lalu dia bergumam didalam hatinya.
"Eh, kok gua malah mau ngasih tahu mereka sih! Yak, dasar Arsyi bod*doh! Untung aja baru setengah. Tapi, gua harus jawab apa ini!"
Rasa gugup bercampur dilema, membuat Arsyi terdiam. Dia belum memiliki jawaban apa pun jika temannya langsung mencecarnya habis-habisan.
"Emngnya Mamih lu ngomong apa sama Eric? Bukannya kata lu Eric pingsan akibat belum makan?" sahut Sheila, cuek.
"Bilang kalau muka gua pucet, lantaran gua lupa isi perut. Apa lagi gua ada riwayat lambung. Jadi ya gitu deh." jawab seorang pria yang berada dibelakang Fayra dan juga Sheila.
Arsyi yang melihat pria itu hanya bisa menatapnya tanpa berkedip, begitu juga dengan Nata. Semakin hari dia melihat Louis, malah terkesan semakin tampan.
Fayra serta Sheila langsung menoleh kearah belakang, dimana mata mereka tepat mengenai sasaran menatap kearah Ace dan juga Nicho.
"Eh, Kak Tian. Sini Kak, duduk" Fayra malah mengalihkan pandangannya, lalu milih menatap kearah Tian sambil menepuk kursi sebelahnya yang kosong.
Ace mendengar ucapan istrinya langsung membolakan matanya. Dia tidak menyangka, bahwa istrinya malah mempersilakan pria lain untuk mendekatinya.
"Wah, enggak bisa dibiarin ini!" batin Ace.
Tian melirik kearah Ace, dia paham jika saat ini Ace sedang dilanda kecemburuan akibat ulah Fayra.
Siapa sangka, alih-alih Tian mau memanasi Ace dan duduk disamping Fayra. Tiba-tiba Ace bergegas menyerobotnya lalu duduk disamping istrinya. Ace sedikit mendorong Tian untuk menjauh dari Fayra.
"Yak! Kakak ngapain sih duduk di sini, minggir sana! Huss, huss, huss ...." usir Fayra, mendorong kecil lengan Ace.
Namun Ace malah tetap cuek, dia tidak mau berubah posisi sedikit pun. Apa lagi sampai istrinya di dekati oleh pria lain.
Mau tidak mau yang lain duduk di sebelah wanita yang diam-diam berhasil meluluhkan hati mereka. Hanya Tianlah yang duduk di samping Ace tanpa bertatapan atau bersebelahan oleh siapa pun.
"Nasib jomblo angkut ya begini, kalu enggak jadi obat nyamuk ya jadi kacang mahal! Tapi tenang aja Tian. Gua yakin, jodoh lu sebentar lagi datang kok." gumam batin Tian.
Baru beberapa detik Tian bergumam, seorang bidadari cantik dan juga anggun datang kearah kantin seorang diri.
Secepat kilat, Arsyi langsung menyapa untuk memanggilnya. "Kak! Hei, Kak Chelsea. Aku di sini!"
Arsyi melambaikan tangannya, agar Chelsea dapat mendengar suaranya ditengah kebisingan.
Merasa namanya dipanggil Chelsea menoleh, lalu tersenyum dan berjalan perlahan mendekatinya.
"Hai, semuanya. Tumben pada ngumpul satu meja, hehe ...." Chelsea menyapa semuanya dan berdiri tepat disamping Tian.
Mata Tian melirik perlahan dari kaki, perut, dada dan kemudian matanya menatap wajah Chelsea yang sangat bersinar.
"Ca-cantik." gumam lirih Tian, tanpa terdengar oleh siapa pun.
"Entahlah. Udah Kakak gabung aja sini, itu kursi sebelah Kak Louis kosong." ucap Nata.
"Memangnya boleh, aku ikut gabung dengan kalian?" tanya Chelsea menatap mereka satu persatu dan matanya terhenti menatap Tian yang saat ini sedikit salah tingkah.
"Udah duduk aja, Kak. Hari ini semuanya aku yang teraktir, hitung-hitung sebagai perayaan jika aku sudah berhasil melewati masa yang paling buruk dalam hidupku." ucap Fayra sambil tersenyum.
Chelsea pun duduk perlahan, dimana matanya malah langsung bertemu dengan mata Tian. Sedetik kemudian mereka segera mengalihkan pandangannya menatap yang lainnya.
"Wiss ... Boleh nih, sekalianlah teraktir nonton. Hari ini ada film bagus loh, yakin deh kalian suka." ucap Arsyi, antusias.
"Film apa?" tanya mereka semua, kompak.
"Ada deh, pokoknya seru. Ada campuran romantis, komedi dan juga horornya gitu" jawab Arsyi.
"Jam berapa filmnya?" tanya Ace, cuek.
"Kayanya jam 7 atau jam 8 malam gitu, Kak." sahut Arsyi.
"Ya udah, gua teraktir lu semua. Jam 7 kita kumpul di Mall Sinar Jaya. Nanti gua kesana sama cewek gua, Fayra." sahut Ace, spontan membuat Fayra menoleh melongo menatapnya.
"Haah? Pa-pacar?" Fayra membuka mulutnya begitu lebar.
Jangankan Fayra, semuanya pun ikut terkejut atas ucapan Ace. Mereka tahu dan juga mulai sadar, kalau Ace telah memiliki perasaan pada Fayra.
Hanya saja untuk yang pertama kalinya Ace bisa mengatakan jelas kalau Fayra adalah kekasihnya.
Mereka tidak mengerti bagaimana bisa Ace mengatakan semua itu, sebelum adanya pernyataan cinta untuk Fayra? Entahlah, cuman Ace yang bisa mengerti dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...