
Namun, ada satu hal yang membuat Ace bingung lantaran kedatangan mereka semua sudah berhasil membuat jantungnya berpacu cepat. Ditambah didalam ruangan ada kedua orang tua Ace dan Fayra yang sedang menunggu Fayra.
"Ka-kalian? Ka-kalian ngapain a-ada disini?" tanya Ace, begitu gugup. Dia berdiri sambil menatap semua temannya satu persatu.
"Harusnya gua yang nanya, kenapa lu ada disini?" ucap Sheila, dingin.
Ace terdiam, mulutnya terasa kaku, lidahnya terasa keluh, dan tubuhnya pun mulai menegang.
Dimana Ace sangat takut jika mereka tahu, maka mereka semua akan membencinya, lalu menjadi penghalang untuknya agar bisa mengambil hati istrinya kembali.
"Apa jangan-jangan Fayra udah tahu semuanya, terus mereka ribut besar akhirnya Fayra jadi seperti ini?" bisik Nicho di telinga kanan Louis.
Semua terdiam menunggu jawaban dari Ace atas pertanyaan Sheila yang belum terjawab. Sedangkan Louis, Nicho dan juga Tian mereka menyimak sesekali menatap Ace dengan tatapan penuh arti.
"Apa yang terjadi sama Fayra, Ace? Terus kenapa kamu ada disini?" tanya Chelsea, mengerutkan pelipisnya.
"Oh, gua tahu. Pasti Fayra begini karena ulah lu, kan?" sahut Sheila penuh kecurigaan.
Kali ini Sheila mencecar habis Ace dengan semua ucapannya, seperti mewakili pertanyaan semua yang ada disana.
"Sekarang gua tanya. Apa sih kurangnya Fayra buat lu? Dia cantik, baik, tulus."
"Cuman kenapa lu tega banget sama dia, padahal sudah jelas jika dia sangat mencintai lu. Bahkan dia rela nerima semua keburukan lu. Tapi apa tidak ada sedikit aja, rasa care lu buat dia?"
"Asal lu tahu, Ace. Di dunia ini tidak banyak wanita seperti Fayra, 1 banding 1000. Kalau pun ada, gua yakin dia tidak akan bertahan sejauh ini ketika tahu sikap lu seperti apa!"
"Sayangnya sahabat gua yang lugu itu terlalu bo*doh dalam hal mencintai. Untuk itu gua selaku sahabatnya enggak akan pernah membiarkan lu kembali ngedeketin Fayra, Ngerti lu!"
Terlihat jelas kekecewaan yang besar diraut wajah Sheila, sorot matanya juga memancarkan sebuah emosi besar yang selama ini dia tahan. Sampai akhirnya air mata Sheila tak terasa menetes begitu saja.
Nata yang paham betul jika Sheila sedang dikuasi amarah, langsung mendekatinya dan memeluknya begitu erat.
Isak tangis terdengar begitu nyaring diantara mereka berdua, begitu juga dengan Chelsea yang berusaha menenangkan Nada dan juga Sheila.
"Oke, gua tahu gua salah, gua bo*doh dan gua pengecut! Tapi satu hal yang harus kalian ketahui, bahwa gua udah benar-benar mencintai Fayra!"
Ace berbicara penuh kelantangan, membuat mereka semua terkejut kecuali sahabatnya dan juga Tian, karena mereka memang sudah mengetahuinya.
Akan tetapi mereka baru benar-benar mendengar jelas keseriusan Ace melalui kelantangan suaranya hari ini. Nata dan Sheila melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajah Ace yang mulai meneteskan air matanya.
"Ya, gua tahu kalian pasti enggak percaya kan, sama ucapan gua? Untuk itu gua akan buktiin kalau gua beneran mencintai Fayra!" ucap Ace kembali.
Semua menatap Ace satu persatu, mereka bingung dan juga masih ragu sama apa yang keluar dari mulut Ace. Kemudian Tian yang dari tadi terdiam, kembali memberikan satu pertanyaan pada Ace.
"Gua yakin, lu pasti tahu kan apa yang terjadi sama Fayra? Jadi ga mohon, ceritakan semuana secara detail!"
Ace menarik napas panjang, rasanya berat sekali untuk Ace mengatakan bagaimana kronologi kejadian yang sebenarnya pada mereka semua.
Satu persatu dari mereka mulai menunjukkan ekspresi marahnya ketika mendengar kalau Ace telah menjadikan Fayra sebagai bahan taruhannya dengan Andrew.
Sheila yang sudah kepalang emosi langsung melayangkan satu tamparan cantik tepat dipipi Ace, bahkan beberapa kali dia memukul Ace tanpa ampun.
Nata dan Chelsea yang tidak bisa mengendalikan Sheila, membuat hati Nicho bergerak untuk segera memeluk Sheila dan menenangkannya.
"Lu jahat, Ace. Lu jahat! Hiks ...." tangis Sheila didalam pelukan Nicho.
"Sstt, hei. Dengarkan gua, Shel. Gua tahu lu marah, kecewa, emosi. Tapi ingat, semua orang pernah melakukan kesalahan sampai akhirnya, satu kesalahan itulah yang akan menyadarkan dirinya sendiri, sama halnya seperti Ace."
"Gua juga kecewa sama dia, kecewa banget. Cuman kita enggak boleh menghakimi dia seperti ini, jika dia enggak peduli sama Fayra terus ngapain dia bela-belain di sini?"
"Lu lihat dia, bahkan dia rela enggak masuk sekolah hanya demi menunggu Fayra, ditambah baru kali ini selama gua jadi sahabatnya ini adalah penampilan yang paling buruk,"
"Wajah kucel, pucet, sembab, rambut berantakan, belum lagi luka ditangannya itu udah membuktikan jika dia benar-benar mencintai Fayra,"
"Jadi stop nyiksa diri lu, gua enggak mau liat orang yang gua sayang nangis kaya gini."
Sheila terkejut saatperkataan Nicho langsung membungkam mulutnya, segera mungkin Sheila melepaskan pelukannya lantaran dia baru menyadari jika saat ini tubuhnya dipeluk oleh seorang pria.
Siapa sangka Nicho yang terhanyut di dalam suasana, tanpa sengaja malah menyatakan perasaannya. Nicho yang sudah menyadarinya hanya bisa cengengesan menatap semuanya.
"Lu bisa enggak sih, serius dikit. Orang lagi panik malah bisa-bisanya nyatain perasaan!" tegas Louis.
"Dasar buaya modus!" pekik Nata dengan kesal.
Sheila yang sudah kepalang malu berpindah posisi berada disamping Chelsea, karena detak jantungnya masih berdetak sangat cepat. Mungkin dengan berada disampung Chelsea bisa sedikit menetralkan kegrogian dan juga kegugupannya.
"Kalau lu semua kecewa sama gua, gapapa. Gua rela jadi samsak kalian, tapi gua mohon jangan jauhin gua sama Fayra. Kali ini gua yakin sama diri gua sendiri, kalau gua akan mencintai Fayra selamanya." ujar Ace penuh keseriusan.
"Gua kecewa sama lu Ace, harusnya disaat posisi seperti itu lu bawa Fayra masuk kedalam mobil, bukan malah kalian berbicara dibawah guyuran hujan!" sahut Tian, tangannya mulai mengepal, tatapan menyorot tajam.
"Gua tahu, mungkin saat itu diposisi lu berada diambang kebingungan dan juga kesal. Tapi seharusnya lu bisa gunakan akal sehat lu,"
"Semarah-marahnya wanita, tetapi dia butuh diperhatiin. Apa lagi seorang wanita memiliki fisiknya yang lemah."
"Jadi seharusnya lu bisa dan lu mampu paksa dia untuk masuk kedalam mobil dengan cara digendong. Terus lu kunci semua pintu, baru kalian bicara."
"Kalau udah begini, siapa yang enggak kecewa sama lu. Terlepas dari lu cinta atau tidaknya sama Fayra, rasa kecewa itu akan tetap melekat didalam hati."
Ucapan Louis dan Tian berhasil membungkam Ace, dia bahkan sampai tidak kepikiran sejauh itu. Sampai seketika emosi Ace mulai kembali tidak stabil, lagi-lagi dia menyakiti dirinya sendiri.
Semua sahabat Ace mencoba untuk menahannya, hingga akhirnya pintu kamar Fayra pun terbuka bersamaan dengan munculnya orang yang mereka kenal.