
Para tamu undangan sudah berdatangan, dimulai dari rekan-rekan bisnis Levin, Arif, kerabat kedua keluarga. Bahkan, teman-teman Alana juga datang, mereka sempat terkejut saat mengetahui bahwa ternyata Alana sudah menikah dan sudah berjalan satu tahun.
Dinda dan Zi juga datang beserta si kembar, Zyan dan Zayan.
"Zyan, Zyana." Alana langsung berlari memeluk kedua sahabat dekatnya yang sudah seperti saudara baginya.
"Alana. Kau sangat cantik," puji Anaya. Melihat Alana memakai gaun berwarna biru dengan hiasan bunga-bunga.
"Terima kasih, kau juga cantik." Mereka berdua tertawa senang, mereka benar-benar saling merindukan.
"Zayan bagaimana dengan kuliahmu?" Alana beralih menatap Zayan yang juga terlihat tampan dengan jas hitam.
"Semuanya baik, kau tahu aku paling pintar soal pelajaran," ujarnya bangga.
"Sombong sekali!" sinis Zyan. "Memangnya kenapa? Aku tau kau iri, kau itu bodoh."
"Aku ini lebih pintar darimu."
"Sudah jelas bahwa aku jauh lebih-lebih pintar darimu."
Keduanya saling menatap tajam satu sama lain, keduanya masih tidak berubah.
"Sudah-sudah jangan bertengkar! Ngomong-ngomong, di mana paman Zindan bibi Dinda?"
"Mereka di sana sedang mengobrol."
"Baiklah, aku ke sana dulu. Kalian jangan bertengkar lagi."
Alana pun pergi menemui kedua orang tuanya dan juga Zi, dan Dinda.
"Kenapa kau menatapku?!" ketus Zyan, Siapa yang menatapmu, aku sedang melihat bidadari. Dia sangat cantik." Zayan langsung pergi meninggalkan Zyan. "Dasar. Ntah, kenapa Tuhan memberikan aku kakak seperti dia."
Zayan berjalan menghampiri Alesha sambil membawa dua gelas berisi jus. "Hai!" Sapanya. "Oh, hai."
"Jus?"
"Terima kasih."—Alesha mengambil satu gelas dari tangan Zayan.
"Kau sangat cantik dengan dress ungu, siapa namamu?" tanyanya. "Aku Alesha, dan kau?"
"Zayan."
"Zayan. Kau sangat tampan."
"Aku tahu, sudah banyak orang yang mengakui itu."
Alesha tertawa mendengar ucapan Zayan. Dia ini sudah terlewat PD rupanya, tapi Zayan memang tampan.
"Paman, Bibi."—Alana memeluk keduanya. "Apa kabar?"
"Aku sangat baik, bagaimana dengan Paman dan Bibi?"
"Kami juga baik, apa kau sudah bertemu dengan si kembar?"
"Sudah, mereka sedang bertengkar tadi."
"Bertengkar kenapa?"
"Biasalah, keduanya memang seperti itu sejak dulu."
"Monica!"
"Ada apa?"
"Kau siap menjalankan rencana kita malam ini?"
"Iya, apa yang harus aku lakukan?"
"Mudah saja, kau cukup buat Alana untuk berdiri di bawah lampu gantung itu, nanti aku yang akan memotong tali yang mengikat lampu gantungnya dan lampu gantung itu akan menimpa Alana." bisiknya.
"Mengerti?"
"Baiklah." Monica mengangguk setuju.
"Bagus, semoga sukses."
Dirinya pergi setelah menepuk pundak Monica, Monica menatap Alana yang sedang tertawa senang bersama teman-temannya yang sudah hampir satu tahun tidak bertemu.
"Bersiaplah, Alana,"
•
•
•
"Alana, suamimu sangat tampan," ujar Syaqil menatap Levin yang sedang mengobrol dengan Arif, dan beberapa rekan bisnisnya.
"Aku tau dia memang tampan, tapi kau jangan memandangnya seperti itu." Alana menepuk dahi Syaqil.
"Ahah, apa kau cemburu?" Syaqil menatap Alana dengan tatapan menggoda.
"Tidak."
"Lalu untuk apa kau marah, biarkan aku menatap ciptaan Tuhan yang begitu indah ini."
"Syaqil jangan tatap dia! Dia itu suamiku."
"Yang mengatakan dia suami Chelsea siapa?"
"Hei, kenapa kau menyebut namaku?!" sewot Cheslea.
"Memangnya kenapa?"
"Sudah kalian jangan bertengkar."
"Alana acaranya akan segera dimulai," ujar Monica.
"Benarkah?"
"Iya, ayo ikut aku."
"Kalau begitu aku pergi."
"Dahh!"
BERTEMBUNG...