Learn to Love You

Learn to Love You
Part 8



"Haaaaah!" teriak Alana.


"Siapa itu?!" Levin membalikkan badannya saat mendengar suara teriakan Alana.


Alana segera membekap mulutnya.


Jangan sampai Levin tau Alana mengikutinya, bisa habis dirinya.


Alana melihat ke arah Levin tadi berdiri, tapi sekarang dia tidak ada. Ke mana dia pergi?


"Ke mana Levin pergi?" Alana melihat sekeliling tapi dia tak menemukan keberadaan Levin, apa Levin sudah pergi?


Sekarang dirinya jadi kehilangan jejak karena kakinya tersandung akar tadi, kalo kakinya tak tersandung mungkin dia sudah berhasil mengikuti Levin dan mengetahui keberadaan Devano.


"Sekarang aku harus ke mana?"


Alana kembali mengamati sekitar. Siapa tau dirinya menemukan petunjuk.


"Sedang apa kau di sini?"


"Aaaaaa!" Alana terlonjak kaget mendengar suara Levin di belakangnya.


"A--aku ...? I--itu, A---"


"Jawab!" bentaknya. "Kenapa kau berada di sini? Apa kau mengikutiku?!"


Alana mengusap keringat di dahinya dan menarik nafas dalam-dalam. "Iya, aku memang mengikutimu."


Levin mendekati Alana dengan tatapan tajam. "Kenapa kau mengikutiku?"


"Ka--karena kau pergi sepagi ini, dan kau juga memasuki hutan rimbun ini. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."


"Siapa kau yang mengkhawatirkan keadaanku.? Aku bisa menjaga diriku sendiri," ujarnya, setelahnya dia pergi meninggalkan Alana kembali masuk ke dalam rumah.


"Kenapa dengannya? Jika memang tidak ada apa-apa kenapa dia harus marah aku pergi mengikutinya? Pasti ada sesuatu."


...----------------...


Di sisi lain Arif kalang kabut mencari keberadaan tentang Alana, putri satu-satunya ntah berada di mana kini? Ayana juga terus saja menangis dan sulit untuk makan, untung saja Rex dan Alex selalu bisa membujuk Ayana untuk makan dan mereka selalu berjanji bahwa Alana baik-baik saja. Walaupun mereka sendiri pun tidak tahu bagaimana keadaan Alana sekarang.


"Alana ...!" Ayana melihat foto dirinya berdua dengan Alana.


"Kamu di mana, sayang?" Ayana mendekap foto putri tercintanya.


Rex dan Alex benar-benar tidak tega melihat sang bunda terus menangis.


"Bagaimana ini Kak?" tanya Rex.


Alex hanya menggeleng lesu. Dia sudah mencari Alana ke sana-kemari tapi tak juga ketemu, Alana seperti hilang ditelan bumi.


"Bunda!" panggil Rex. Dia menghampiri dan duduk di samping Ayana.


"Sudah jangan menangis lagi!" Rex menghapus air mata Ayana.


"Iya, Bun. Rex yakin kak Alana pasti baik-baik saja." Rex berlutut di hadapan Ayana.


"Tapi ...."


"Daddy dan uncle Zi serta beberapa bodyguard juga sedang mencari keberadaan kak Alana, bahkan uncle Zi juga sedang mencari informasi. Jadi, Bunda tidak boleh sedih, Kita harus terus berdoa, Hmm."


Ayana mengangguk. Keduanya memeluk Ayana dengan erat.


Ayana cukup bersyukur memiliki dua anak laki-laki yang begitu menyayangi dan ingin yang terbaik untuknya.


...----------------...


Gawat! Alarm darurat rumah berbunyi.


"Si4l! Sepertinya ada penyusup, Dino bawa semua anggota keluarga masuk ke dalam bilik kebal!" perintah Levin yang langsung berlari keluar rumah.


Dino segera menuruti perintah Levin. Dia membawa semua anggota keluarga masuk ke dalam satu ruangan yang kebal dengan tembakan.


Levin memang sengaja membuat ruangan anti peluru karena disaat ada bahaya keluarganya akan aman. Walaupun dirinya dalam bahaya.


Dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti keluarganya, biarlah para musuh membunuhnya. Asalkan orang-orang yang dia sayang selamat.


Terdengar tembakan yang saling bersahutan membuat suasana semakin tegang.


"Levin!"


"Nek. Nenek ingin ke mana?"


"Levin, dia dalam bahaya," ujar Zaida


"Nenek harus tetap berada di sini! Levin sudah sering menghadapi ini, nenek tenang saja," ujar Melda—Ibu Raja.


"Tapi ...."


"Nek."


Alana yang kebetulan sedang berada di taman belakang terkejut mendengar suara tembakan yang saling bersahutan, dia mengintip dari balik pohon. Rupanya sedang terjadi tembak menembak.


"Astaga bagaimana ini? Aku takut," ujar Alana mencengkeram erat bajunya. Dia tidak pernah berada di situasi seperti ini.


Ingin lari, tapi tak mungkin. Bagaimana jika dirinya tertembak? Tidak-tidak!


Tapi apa yang harus Alana lakukan? Dia tidak mungkin berada di sana sampai tembak menembak ini berakhir.


'Apa Alana hubungi komandan? Mungkin komandan bisa menyelamatkan Alana,' ujar batinnya. Dia sesekali melihat orang-orang yang saling tembak menembak.


Levin berhasil melumpuhkan beberapa orang yang ingin menembaknya. Levin dengan cekatan melepaskan satu persatu peluru kepada lawannya.


Salah seorang dari musuh Levin melihat Alana yang ketakutan dibalik pohon. Dia mengarahkan pistolnya ke arah Alana.


Levin yang melihat itu langsung berlari menghampiri Alana. Sebelum peluru tersebut mengenai Alana.


Alana baru ingin menghubungi komandan tapi niatannya terhenti saat mendengar tembakan dibelakangnya.


Dorr!


"AAA!"


"Akghhh!" Alana terkejut saat melihat Levin tertembak karena melindunginya.


Levin memegangi tangan kanannya yang tertembak peluru, sedangkan anak buah Levin langsung menangkap orang yang sudah menembak Levin.


Alana berjalan menghampiri Levin. "Kau tidak apa-apa?" tanya Alana khawatir melihat darah segar mengalir dari tangan Levin.


"Kau sudah g1la! Untuk apa kau berada di sini, hah?!" bentaknya.


"A--aku tidak tahu jika akan ada tembak menembak seperti ini."


"Jika kau tertembak. Maka aku yang akan disalahkan oleh atasanmu."


"Ma--maaf, mariku bantu." Alana membantu Levin masuk ke dalam rumah untuk mengobati lukanya.