Learn to Love You

Learn to Love You
Kelinci Menggemaskan



"Ya iya sih ngebantu, tapi kan enggak di tabok keras juga kali, Kak!" gumam Fayra didalam hatinya, menatap Ace yang saat ini sedang menunduk.


Fayra yang tidak tega melihat suaminya, langsung memeluknya begitu erat sambil mengelus punggung suaminya. Sedangkan Ace dia tersenyum miring didalam pelukan istrinya.


"Ternyata semudah ini meluluhkan hati Honey? Tahu begini mah, udah dari kemarin aku lakuin biar Honey enggak marah-marah terus hihi ..."


"Cuman bermodal air mata dan sedikit suara rengekan anak bayi bisa langsung mendapatkan sebuah pelukan hangat. Lantas bagaimana nanti jika aku bisa mendapatkan yang lebih dari ini?"


"Huaa ... Ternyata begini ya rasanya bucin sama pasangan. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya, ini sih namanya kerugian besar. Sudah hampir setahun menikah, tetapi belum sempat membuka segel hihi ...."


Ace berbicara didalam hatinya sambil terus tersenyum jahil didalam pelukan istrinya. Beberapa menit akhirnya Fayra melepaskan pelukannya, membuat wajah Ace kembali murung dan matanya berkaca-kaca.


"Astaga, kenapa Bunny malah terlihat sangat menggemaskan jika sedang mode manja seperti ini? Pipinya yang menggembung, matanya yang cantik, hidungnya sedikit memerah, bahkan suaranya yang tegas kini telah berubah menjadi manja hihi ..."


"Ternyata panggilan Bunny memang sangat cocok untuk kelinci menggemaskan ini. Andai saja kamu seperti ini dari awal Kak. Kemungkinan besar kemarin aku tidak akan pernah, sedikit pun terlintas pikiran untuk meninggalkanmu dan menyerah sama keadaan pernikahan kita."


Fayra tersenyum menatap wajah suaminya, dimana Ace bisa melihat bahwa saat ini istrinya sedang memikirkan sesuatu hal.


Detak jantung Fayra kian memburu, napasnya pun sedikit sesak, ditambah matanya juga mulai berkaca-kaca. Ya, mungkin ini adalah perwakilan dari ekpresi seseorang yang lagi bersedih.


Namun dibalik kesedihan itu, ada secercah harapan bagi Fayra yang mulai perlahan demi perlahan telah terwujud.


"Honey kenapa kok nangis? Apa Bunny menyakiti Honey? Apa Bunny membuat kesalahan? Ma-maaf, ji-jika Bunny selalu membuat Honey kecewa."


"Tapi, Bunny sedang berusaha untuk membuat Honey bahagia. Jadi Bunny mohon, jangan seperti ini ya. Bunny sedih lihatnya. Honey kan tahu, kalau Bunny sudah mulai mencinta Honey, cuman kenapa Honey masih aja sedih?"


Ace mengusap air mata istrinya menggunakan kedua tangannya, di mana ibu jarinya mengusap pelan pipi Fayra. Disini terlihat jelas jika perlakuan Ace pada istrinya semakin kesini semakin lembut.


Fayra menggelengkan kepalanya secara cepat, lalu dia berkata. "Tidak, Bunny. Tidak! Bunny tidak salah kok, Fayra begini lantaran Fayra bahagia. Sangat bahagia, saat melihat Bunny bisa seperti saat ini."


"Bunny pasti ingatkan, kita itu sama sekali tidak pernah akur. Baru sekarang, Bunny. Baru sekarang! Aku bisa merasakan apa itu cinta, bagaimana rasanya jika cinta itu terbalaskan dan seperti apa sih perlakuan romantis terhadap pasangan."


"Pada akhirnya, aku bisa merasakan itu semua Bunny. Rasanya aku tidak percaya, kalau cinta yang aku anggap bertepuk sebelah tangan kini telah terbalaskan berlipat-lipat."


"Aku senang Bunny, benar-benar sangat senang. Aku berharap semoga saja esok, lusa atau pun seterusnya kita akan tetap seperti ini dan tidak akan pernah terpisahkan."


Fayra mengoceh tanpa jeda, membuat Ace hanya bisa tersenyum mencium keningnya. Rasa bahagia didalam hati Fayra, seketika berpindah kedalam hati Ace melalui senyuman dibibirnya.


Sampai akhirnya mereka kembali berpelukan sebentar, kemudian melepaskan sambil saling menatap satu sama lain dan tiba-tiba saja mereka terkekeh kecil.


Fayra mengambil mangkuk soup itu, lalu tangannya terangkat perlahan menyuapini suaminya yang begitu antusias menerima suarapan dari tangan istrinya.


"Bagimana, Bunny? Rasanya tidak buruk, bukan?" tanya Fayra, penasaran.


Ace terdiam memetung dan hanya bisa mengunyahnya, sesekali melirik kearah istrinya tanpa ekspresi. Sedangkan Fayra, dia menunggu jawaban dari suaminya setelah dia menerima suapan pertama di dalam mulutnya.


"Pa-pasti en-enggak enak ya, Bunny? Ma-maaf ...." gumam lirih Fayra, sedikit menunduk menatap soup yang ada di dalam genggaman tangannya.


"Kata siapa? Ini enak banget kok Honey, aku suka. Suka banget hehe ... Aaa, lagi dong." ucap Ace, sambil memnuka lebar mulutnya.


"Bunny se-serius, ji-jika soup ini rasanya se-seenak itu? Bu-bunny enggak bohong, kan? Ka-kalau memang rasanya seenak itu kenapa ekspresi wajah Bunny biasa aja?"


Fayra mencecar Ace dengan semua pertanyaan yang dari tadi mengganjal dipikirannya, ketika melihat wajah Ace yang tidak ada ekspresi sama sekali.


"Aku enggak bohong Honey, aku serius. Ini rasanya enak banget, hampir mirip sama bikinan Mommy. Hanya saja rasanya sedikit asin, tapi tidak masalah. Ini masih bisa dimakan kokz tidak seperti waktu kamu memasak nasi goreng dengan taburan garam sekilo didalamnya hihi ...."


Ace terkekeh ketika mengingat kejadian sebelumnya, dimana dia merasakan masakan pertama istrinya benar-benar membuatnya trauma akan nasi goreng.


"Ini orang sebenarnya lagi muji atau gimana sih. Awalnya doang bagus, akhirnya bikin hati nyesek!"


"Memang, aku akui nasi gorengku itu sangat buruk, tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk membuatnya, kan? Ya, walaupun diluar dari ekspetasiku."


"Tapi, lumayan lah buat pelajaran agar kedepannya aku tidak akan membuat nasi goreng bertabur garam. Melainkan nasi goreng bertabur paku, biar tahu rasa sekalian!"


Fayra tersenyum kaku sambil menyuapinya suaminya, sedangkan didalam hatinya dia sangat gondok ketika mendengar pujian yang diberikan Ace padanya.


Disela-sela Fayra menyuapini suaminya. Dia merasakan perasaan yang sangat bahagia, dia jugabtidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.


Jika boleh memilih, rasanya Fayra ingin sekali memberhentikan waktu agar dia bisa terus bersama Ace dalam keadaan semanis ini.


Namun, entah mengapa disaat kebahagia menyelimuti hati mereka. Tiba-tiba saja, sesuatu hal buruk terlintas didalam bayangan pikiran Fayra. Dia seperti bisa merasakan bahwa suatu saat akan ada kejadian besar yang akan menguji cinta mereka.


Fayra benar-benar bingung dan juga dilema. Sebenarnya ketakutan apa yang sedang dia rasakan saat ini. Kenapa rasanha dia seperti seorang cenayang yang bisa menebak sesuatu yang belum sempat terjadi.


...*...


...*...


15 menit kemudian, Ace sudah selesai mengisi perutnya. Hanya tinggal meminum obat pusing saja, supaya besok kondisi tubuhnya mulai membaik.


"Bunny obatnya diminum ya, aku mau menaruh semua ini di dapur dulu. Nanti kalau sudah beres, aku langsung kembali lagi ke sini."


Fayra bangkit dari ranjang sambil memegang nampan tersebut, ketika kakinya mulai langkah Fayra kembali membalikkan tubuhnya menatap wajah Ace yang kembali berulah.


"Honey .... Honey jangan lama-lama perginya, Bunny takut sendirian dikamar. Kalau enggak Bunny ikut aja ya ke dapur, boleh kan?" ucap Ace, lirih.


"Enggak! Bunny harus diam disini. Kalau sampi Bunny turun dari kasur, Fayra akan sangat marah dan enggak akan mau tidur di sini. Mau?" tegas, Fayra.


"Enggak mau, enggak mau, enggak mau! Bunny mau bobok sama Honey, jadi Honey cepat bawa semua itu ke dapur. Terus kembali lagi ke sini, Bunny mau bobok sambil di peyuk." jawab manja, Ace.


"Iya, ya. Ya udah itu obatnya dimeja, diminum dulu. Fayra pergi ke dapur, sebentar."


Fayra pun pergi dari kamar suaminya, meninggalkan Ace yang masih melirik menatap obatnya yang terletak diatas meja tepat di samping ranjangnya. Ace hanya bisa tersenyum menatapnya, ide jahil kembali bersarang didalam pikirannya.


"Ada-ada aja. Perasaan selama ini dia tidur sendirian enggak pernah takut deh. Cuman kenapa sekarang tiba-tiba malah jadi pria penakut seperti itu?"


"Astaga, hari ini benar-benar terlihat seperti mimpi. Tapi, ya sudahlah setidaknya Kak Ace benar-benar telah mencintaiku itu sudah lebih dari cukup."


Fayra berjalan sambik berbicara didalam hatinya. Setelah melihat Fayra keluar dari kamar, Ace berkali-kali terkekeh lantaran telah menyadari betapa jahilnya dirinya sendiri.


Hanya saja untuk mendapatkan kasih sayang istrinya dia selalu berusaha melakukan berbagai cara yang sedikit terkesan licik. Tetapi tidak sampai membahayakan istrinya, ya meskipun Ace harus memanfaatkan kepolosan Fayra.