Learn to Love You

Learn to Love You
Part 6



'Di mana kamar rahasia itu berada? Aku harus cari ke mana? Aku yakin pasti kamar rahasia itu ada di dalam rumah ini. Hanya saja tempatnya yang tidak aku ketahui.'


Ke mana Alana harus mencari kamar rahasia itu untuk menemukan Devano? Sebentar lagi fajar tiba. Waktunya semakin mepet.


Tuhan, tolonglah!


Musik berdentum dengan kencang dengan lampu kelap-kelip dan banyak para wanita serta pria-pria hidung belang yang berjoget ria, minuman beralkohol di mana-mana. Asap rokok meluap kemana-mana, bau-bau alkohol dan asap rokok bercampur menjadi satu membuat Alana terbatuk-batuk. Dia tidak pernah menc*ium asap rokok apa lagi bau alkohol, tapi di tempat ini dia menc*ium semua itu.


"Uhuk-uhuk! Baunya sangat menyengat, uhuk-uhuk!" Alana berjalan sedikit menjauh dari sana. Dia tidak tahan dengan bau-bau yang asing baginya.


Alana akhirnya bisa bernafas lega saat sudah menjauh dari area pesta. Kini, dia sedang berdiri di salah satu ruangan yang cukup kedap.


"Huuff! Akhirnya aku bisa mengambil nafas, di sini benar-benar tidak nyaman. Jika bukan karena Devano aku tidak akan mau datang ke sini," ujar Alana mengambil nafas sebanyak-banyaknya.


Saat Alana tengah berpikir bagaimana caranya untuk bisa menemukan sebuah ruangan rahasia yang pasti di dalamnya ada Devano. Dia mendengar suara barang dilemparkan ke dinding.


Prang!


"Hah! Suara apa itu?" Alana melihat sekeliling tapi tidak ada siapapun.


Prang!


Prang!


Alana melihat ke sana-kemari untuk mencari asal suara tersebut.


'Apa itu suara seseorang yang sedang mengamuk?'


Alana mendekati salah satu sudut ruangan yang terdengar suara pecahan benda tadi.


"Apa di sini?" Alana menempelkan telinganya ke sebuah dinding berwarna putih.


"Apa ada orang di dalam?!" teriak Alana memukul-mukul tembok tersebut.


Tiba-tiba tembok tersebut terbelah menjadi dua. Alana memundurkan langkahnya saat tembok tersebut semakin terbelah dua memperlihatkan sebuah ruangan yang terlihat indah. Namun, berantakan sekali, pecahan beling di mana-mana, sprei yang tak beraturan dan bantal berserakan di lantai.


Alana perlahan memasuki ruangan tersebut. "Apa ada orang?"


Aneh, ruangan ini begitu sunyi tidak sebising tadi.


"Ap--- AAA!" teriak Alana saat seseorang menarik tangannya.


"Kak, ngomong-ngomong di mana calon istrimu? Apakah kau tidak mau mengenalkannya kepada seluruh tamu?" tanya Almahira menghampiri Levin sambil membawa minuman di tangannya.


"Tidak."


"Why?"


"Pernikahanku akan dilaksanakan dua hari lagi, biarkan semua orang tahu siapa calon nyonya Christensen di hari spesial nanti."


"Begitu, tapi aku hanya ingin memperingatkanmu. Jangan sampai Syaqila melarikan diri di hari pernikahan."


"Tidak akan, tidak ada yang tau di mana Syaqila berada. Dan dia tidak akan bisa lahir ke manapun."


Almahira menganggukkan kepalanya.


"Siapa kau?" tanya Alana terkejut melihat seorang wanita dengan penampilan yang acak-acakan.


"Oh itu, tadi saat aku sedang mencari minum. Aku mendengar suara barang dilemparkan, jadi aku pikir ada seseorang di balik tembok."


"Oh."


"Apa yang terjadi? Kenapa penampilanmu seperti ini?"


Dia perlahan memundurkan langkahnya. "A--aku. Aku tidak mau di sini, dia itu monster," ujarnya.


"Siapa? Siapa yang kau sebut monster?"


"D--dia itu monster. Aku takut!"


"Tenanglah! Ada aku di sini. Jangan takut!" Alana menghampirinya lalu memeluknya. Sepertinya gadis ini benar-benar ketakutan.


"Sejak kapan kau berada di sini?"


"S--sudah seminggu," jawabnya lirih.


"Siapa yang mengurungmu?"


"Mo--monster. D--dia jahat."


'Monster? Siapa yang dia sebut monster?'


"Kalo aku boleh tahu, siapa namamu?"


"Sya--kila."


"Syaqila, nama yang indah."


"Be--benarkah?"


"Tentu, kau jangan takut! Aku berjanji aku akan membebaskanmu."


"Tapi bagaimana?"


"Sudah jangan pikirkan soal itu, intinya kau harus tenang dan percayakan semuanya padaku, hm?"


"Baiklah."


"Bagus, kalo begitu aku akan pergi dulu."


Syaqila menahan tangan Alana. "Tapi kau janjikan akan membebaskanku?"


"Iya, aku janji."


Alana membalas senyuman Syaqila, setelahnya dia buru-buru keluar dari ruangan tersebut.


Setelah Alana keluar. Dia menekan tembok tersebut. Sampai temboknya kembali tertutup.


'Apakah Devano juga ditempatkan di tempat seperti Syakila? Di balik tembok?'


'Kalo itu memang benar, aku harus bisa menemukannya.'