
Tak lama bel masuk istirahat pun berbunyi, semua orang langsung pergi meninggalkan kantin dan kembali ke kelasnya masing-masing. Begitu pun mereka, cuman terlihat dari wajah Tian, dia sangat memikirkan keadaan Ace dan juga Fayra. Tian hanya bisa berharap, semoga pikiran buruk yang ada di dalam hatinya tidak sampai terjadi.
Disaat semua murid fokus meneruskan pelajarannya dikelasnya masing-masing. Hanya saja dikelas Fayra berbeda, suasananya yang awalnya hening kinin terdengar begitu ricuh ketika seorang wali guru memberikan kabar tentang keadaan Fayra yang sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Isak tangis mulai terdengar dari ketiga sahabat Fayra, mereka benar-benar terkejut dan juga tidak percaya jika keadaan Fayra bisa semiris ini. Pada akhirnya guru tersebut memberikan jam kosong selama 1 jam kedepan.
"Fa-fayra, lu kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi, pantesan dari kemarin gua ngerasa seperti ada yang aneh dengan menghilangnya lu tanpa kabar, dan sekarang sudah terjawab, jika Fayra kita sedang berjuang dirumah sakit." ucap Nata berlinang air mata.
"Gua yakin pasti ada sesuatu hal yang penting terjadi pada Fayra, sehingga dia bisa mengalami kejadian tragis ini." tegas Sheila tatapan lurus kedepan, dimana dia seperti memikirkan sesuatu.
"Apa jangan-jangan ini akibat ulah Genk Three Angel's?" sahut Arsyi membuat Nata menoleh kearahnya.
"Sepemikiran, gua juga mikirnya kaya gitu. Cuman kita harus cari bukti dulu, jika benar dia pelakunya gua akan kasih pelajaran yang enggak pernah dia bayangkan." ujar Sheila, penuh keseriusan.
"Tapi, buat apa mereka membuat Fayra sampai seperti ini? Apa mereka tidak takut, jika ulahnya ketahuan pasti mereka akan langsung dikeluarkan dari sekolah ini." jawab Nata, bingung.
"Biarin aja, peduli amat lu sama mereka! Lagian mereka biang onar disekolah, semua murid juga udah muak kali sama tuh orang!" perkataan Arsyi langsung diangguki oleh Sheila dan juga Nata.
"Terus gimana? Apa sebaiknya sehabis pulang sekolah kita langsung kerumah Fayra aja?" sambung Arsyi, menatap Nata dan Sheila secara bergantian.
"Boleh, gua kontek supir dulu biar enggak usah jemput. Nanti kita ke rumah Fayra naik taksi atau grab bike aja, bagaimana?" tanya Sheila, antusias.
"Oke, gua juga mau chat, Pak supir." jawab Arsyi.
Ketika mereka asyik dengan ponselnya, berbeda sama Nata yang masih terdiam menatap kedua sahabatnya dan berkata. "Perasaan Fayra kan ada dirumah sakit, kenapa kalian malah main ke rumahnya? Kenapa bukan langsung ke rumah sakit aja, sih?"
Perkataan Nata berhasil mengalihkan mata mereka dari ponselnya, kemudian Sheila dan Nata saling menatap satu sama lain. Lalu mereka serentak menggelengkan kepalanya sambil menepuk keningnya sendiri.
Mereka tidak menyangka disaat keadaan genting begini bisa-bisanya otak Nata tidak bekerja dengan baik. Mau marah, cuman Nata masih sahabat mereka. Tapi bawaannya mereka ingin sekali menenggelamkan Nata kedalam sumur yang paling dalam.
"Kenapa pada diem? Pasti enggak kepikiran ya, makannya kalau mau apa-apa dipikirin dulu. Kaya gua dong!" Nata berbicara penuh percaya diri.
"Eh, Tukiyem! Yang enggak kepikiran tuh lu, kalau lu enggak ke rumah Fayra, terus lu tahu gitu Fayra dirawat dirumah sakit mana, hah?" pekik Arsyi, sambil menoyor kening Nata dengan kesal.
Sheila yang melihat mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kembali mencoba menghubungi supirnya agar tidak menjemputnya.
"Oh iya, ya. Kok gua enggak kepikiran hehe ...." Nata menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan.
"Apa-apa enggak kepikiran, apa-apa enggak kepikiran, itu aja yang ada diotak lu ampe lumutan sekalian!" sahut Arsyi yang sudah dongkol.
"Memang ada ya otak lumutan?" tanya Nata wajahnya terlihat polos tak berdosa.
"Lu!" geram Arsyi, rasanya ingin sekali menelan Nata bulat-bulat. Berkat Sheila yang langsung menahannya karena ada seorang guru yang baru masuk untuk meneruskan pelajaran yang sempat tertunda.
Nata terkekeh saat Arsyi tidak sampai memakannya bulat-bulat, bahkan Nata malah meledek Arsyi dan membuat mereka beberapa kali terkena teguran dari guru yang saat ini sudah mulai menjelaskan pelajaran.
*
*
*
"Kalian mau kemana, kelihatannya lagi buru-buru?"tanya Tian menatap mereka secara bergantian.
"I-ini Kak, kami mau ke rumah Fayra soalnya tadi kita dapat kabar kalau Fayra ...." Nata menghentikan ucapannya ketika matanya menatap wajah Louis yang terlihat sangat tampan.
"Fayra kenapa, Nat? Apa yang terjadi sama Fayra? Dia baik-baik aja, kan?" tanya Tian begitu panik dan juga khawatir.
"Ta-tampan ...." gumam Nata matanya melihat kearah Louis, sedangkan Louis wajahnya mulai memerah akibat rasa malunya.
Mereka semua membolakan matanya ketika ucapan Nata berhasil membuatnya terkejut. Tetapi balik lagi, seketika mereka menaruh curiga dan pandangan mereka mengikuti kemana perginya arah tatapan mata Nata, disitulah mereka menjadi paham.
"Sempat-sempatnya ini bocah nyari kesempatan disaat begini!" gumam Arsyi didalam hatinya.
"Nat, woi ... Nat!" pekik Arsyi yang menyadarkan Nata.
"Eh, i-iya. Ke-kenapa?" ucap Nata terbata-bata.
"Astaga! Itu Kak Tian nungguin jawaban lu, ini malah diem ngeliatin Kak Louis. Gua sumpahin lu jodoh sama dia, baru tahu rasa!" jawab Arsyi, spontan.
"Wah, gua mau dong di sumpahin biar berjodoh sama Ayang Sheila. Siapa tahu kan, gua bisa nikah sama dia terus punya anak yang lucu. Huaa ... Jadi pengen nikah." sahut Nicho.
"Yayaya ... Gua sumpahin lu pada berjodoh, puas!" gumam Arsyi, kesal.
"Kalau mereka lu sumpahin berjodoh, terus gua sama siapa dong? Ya kali, gua jomblo sendiri, ogah banget!" sahut Eric, menatap kesal kearah Arsyi.
"Bodo amat!" pekik Arsyi.
"Jahat banget, lu!" jawab Eric, memelas.
"Udah enggak usah pada ribut, gua yang sumpahain lu berdua berjodoh biar akur!" ujar Sheila yang mampu membuat Eric dan Arsyi secepat kilat menyangkal semuanya.
Nata dan Louis wajahnya semakin terlihat merona, bahkan mulai salah tingkah. Tapi, akibat Tian begitu penasaran membuat dia kembali melontarkan pertanyaan yang membuat semuanya kembali ke topik semula.
"Astaga! Kenapa kalian pada sumpah-sumpahan, sih. Ini kabar Fayra bagaimana, dia kenapa? Apa dia sakit?" tanya Tian, wajahnya penuh keseriusan menatap ketiga sahabat Fayra.
"Bukan sakit lagi, Kak. Lebih tepatnya dia sedang berjuang antara hidup dan mati." jawab Arsyi.
Tian yang mendengar jawaban Arsyi, hatinya berdetak begitu kencang. Tian masih belum mengerti apa yang di maksud oleh Arsyi, sehingga dia kembali melontarkan pertanyan yang malah mendapat jawaban begitu mengejutkan bahwa Fayra mengalami koma dirumah sakit.
"Fa-fayra ko-koma?" gumam seseorang dari arah belakang.
Mereka semua langsung menoleh kearah belakang, dimana seorang wanita datang menghampiri. Mereka menatap satu sama lain dengan tatapan yang sedikit aneh ketika melihat wanita itu.