
Syukurlah ... Surti!" panggil Nenek.
Muncullah seorang wanita sekitar berusia 25-27 tahunan, dia memakai pakaian Maid berwarna hitam putih. Sepertinya dia pekerja baru.
"Iya, Nyonya besar."
"Ambilkan air minum!"
"Baik."
"Dia siapa, Nek?" Levin menatap penuh curiga kepada Maid tadi yang bernama Surti.
"Surti. dia Maid baru."
"Dia sudah bekerja sekitar satu Minggu yang lalu," timpal Melda.
"Ohh."
"Ini minumannya, Nyonya muda." Surti menyodorkan gelas di tangannya kepada Alana.
"Terima kasih."
Alana meminum minuman tersebut hingga tandas.
"Kami pamit istirahat."
"Baiklah."
Levin dan Alana menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
Prang!
*
*
*
"Ah, si4l! Kenapa Alana bisa keguguran? Rencanaku untuk membuat Alana benci kepada Levin. Lewat anak yang dikandung Alana jadi berantakan Akgrhhh---!" kesal Devano.
Devano mengetahui tentang kecelakaan yang Alana alami beberapa Minggu lalu. Dari salah satu anak buahnya yang dia perintahkan untuk mengawasi rumah Levin.
Dia benar-benar tak habis pikir, siapa orang yang sudah mendahului rencananya untuk membuat Alana kehilangan bayinya? Kalau begini sudah pasti rencana Devano untuk memisahkan Alana dari Levin gagal total.
"Aku harus mengubah rencanaku, aku akan membuat Alana benci kepada Levin lewat cara lain."
Devano memijat pelipisnya, dia harus mengubah total rencana yang sudah dia buat semaksimal mungkin.
Dia juga harus menyelidiki siapa orang yang telah mendahului rencananya, siapapun dia. Pasti adalah orang yang juga memiliki tujuan yang sama dengannya.
Pukul 01.03 ....
Alana membuka matanya perlahan, dia melihat ke samping. Levin sudah tertidur pulas sampai terdengar dengkuran halus.
"Aku haus." Alana melihat gelas yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya, ternyata airnya habis.
"Habis ... aku akan mengambilnya sendiri."
Alana bangkit keluar dari kamar, dia merasa kasian jika harus membangunkan Levin. Dia pasti sangat lelah, apa lagi belakangan ini dia selalu lembur.
Alana berjalan dengan hati-hati menuju dapur, ditambah rumah sudah gelap. Karena orang-orang sudah tertidur.
'Baiklah, tanpa perlu susah payah akhirnya kau masuk perangkapku.'
Sosok bayangan hitam berjalan mengikuti langkah Alana, dia berjalan tepat di belakang Alana tanpa Alana sadari.
Alana menghentikan langkahnya saat melihat bayangan lain di lantai yang terkena cahaya lampu dari luar, dia membalikkan badannya. Tapi tidak ada siapapun.
"Aku seperti melihat bayangan lain di belakangku, tapi siapa?" Aira memperhatikan beberapa sudut ruangan.
"Apa ada orang, di sini?!" panggil Alana
Hening.
Setelah memastikan tidak ada orang lain Alana kembali berbalik. "Mungkin itu hanya perasaanku saja," ujarnya kembali melanjutkan langkahnya.
Begitu juga bayangan hitam tersebut, dia kembali mengikuti langkah Alana sampai dapur.
Alana menuangkan air ke dalam gelas, dia meminumnya sampai tersisa setengah. Alana melamun untuk beberapa saat. Ntah, apa yang dia pikirkan.
"Sepertinya aku harus kembali ke kamar, jika Levin terbangun dan tidak mendapati aku. Dia bisa marah."
Alana melangkah keluar dapur menuju anak tangga, dan masih diikuti oleh bayangan hitam tersebut.
'Aku seperti merasa diikuti.' batin Alana. Dia terus berjalan sambil memperhatikan sesuatu di belakangnya lewat ekor mata.
Sosok bayangan hitam itu menyentuh punggung Alana.
Alana menghentikan langkahnya, dia dengan perlahan membalikkan badannya, dan ....
Dan apa hayo, ada yang bisa menebak? Kira-kira apa yang akan terjadi?
BERTEMBUNG...
Semoga suka dengan alur ceritanya:)