
"Pergilah Devano jangan datang lagi kemari, kau hanya membuat kegaduhan!" usir seseorang, dia membawa Devano menjauh dari area rumah.
"Berani sekali kau mengusirku, hah!"
"Tentu aku berani, apa masalahmu?"
"Kau ...." Devano menggantung ucapannya.
Rasya masih terus menatap geram kepada orang yang sudah berani mengusirnya.
"Sudahlah, sekarang kau pergi dari sini dan jangan datang lagi," ujarnya.
"Aku tidak akan pergi, aku akan tetap di sini sampai tujuanku tercapai."
"Kau tidak akan berhasil, keluarga ini termasuk Aira dalam pengawasan kami orang-orang berpengalaman. Yang akan menjauhkan orang sepertimu agar tidak melakukan kejahatan yang hanya membuat duka."
"Silakan halangi aku jika kau bisa ... tapi tujuanku akan tetap berjalan, walaupun aku harus mengorbankan nyawa seseorang yang belum melihat dunia."
"Apa maksudmu? Jangan-jangan kau akan melakukan sesuatu yang membuat Aira kehilangan bayinya?"
"Kau pintar sekali rupanya ... iya, aku akan membuat Aira kehilangan bayinya dan Raja yang akan disalahkan. Lalu Aira kembali benci padanya!" ujarnya penuh penekanan.
"Kau jangan gila."
"Aku memang g1la, hentikan aku jika kau dan orang-orangmu bisa." Rasya tersenyum sinis.
•••
Pagi pun tiba, suara burung di pagi hari disertai gerimis kecil benar-benar membuat pagi yang indah.
Aira membuka matanya. Orang pertama yang dia lihat adalah Raja yang masih tertidur, senyuman manis terukir di b1b1r Aira.
Aira menyentuh setiap inci wajah Raja, tangannya berhenti tepat di b1b1r pink alami Raja. Dia tidak pernah merokok atau minum makanya b1b1rnya merah alami.
"Kalau ingin mendapatkan morning kiss katakan saja."—Raja membuka matanya, Aira segera menjauhkan telunjuknya dari b1b1r Raja.
"Ti--tidak." Aira memalingkan wajahnya yang merah.
"Kau yakin?" Raja mengubah posisi tidurnya menghadap Aira.
Aira mengangguk ragu, sebenarnya dia memang sempat berpikir untuk itu. Tapi, ya sudahlah. Xixixi.
"Aira!"
"Hem?"
"Kau cantik."
Aira memukul lengan Raja. "Kenapa kau memukulku? Aku hanya memuji bukan menghina!" kesalnya.
"Pujianmu bagaikan hinaan untukku."
"Kenapa begitu?"
"Aku tidak merasa aku cantik."
"Benarkah? Tapi yang aku lihat kau itu, memang tidak cantik."
"Raja!"
"Kau yang mengatakan kau tidak cantikan?"
"Kau jangan mengatakannya dengan jujur!" Aira memanyunkan b1b1rnya.
Raja terkekeh. "Kau memang tidak cantik, tapi kau itu sangat cantik."
"Aaaa!"
Raja menarik selimut dan menindih tubuh Aira.
•••
"Halo, komandan. Sepertinya kita harus memperketat penjagaan untuk Aira."
"..."
"Baik."
Panggilan pun terputus.
Apa yang akan Rasya lakukan sangatlah berbahaya, Aira benar-benar harus diawasi dengan ketat sekarang ini.
...----------------...
Beberapa hari kemudian ....
Hari ini Levin akan membawa Alana menginap di rumah Arif, Alana terus saja merengek ingin segera menginap. Jadi, Levin mau tidak mau harus menyelesaikan pekerjaannya sampai lembur.
"Ayo!" Alana menarik tangan Levin yang masih bersiap.
"Sabarlah, aku masih harus memakai jam tangan."
"Nanti saja!" rengeknya.
"No!"
"Levin!"
"Tidak!"
"Baik-baik, ayo!"
Alana tersenyum mendengarnya. "Ayo!"
Levin hanya geleng-geleng kepala saja, semenjak Alana hamil dia jadi begitu manja.
"Nek, kami pamit untuk berkunjung ke rumah Bunda." Alana menghampiri Nenek yang sedang duduk bersama Melda.
"Baiklah, hati-hati."
"Kalian akan menginap berapa lama?" tanya Melda.
"Mungkin beberapa hari," jawab Levin.
"Yasudah."
Setelah berpamitan, Levin pun mulai menjalankan mobilnya. Dia sengaja mengendarai mobil sendiri.
"Levin, nanti setelah tiba di sana kita harus berkeliling mansion. Aku rindu sekali kepada paman Zi, dan kedua anak kembarnya."
"Hem."
"Aku juga akan mengajak Zean dan Zyan untuk bermain bola seperti dulu lagi. Pasti akan sangat seru, 'kan?"
"Heum."
"Tapi apa tidak bahaya jika aku bermain bola dalam keadaan hamil ...? Oh, atau tidak kau saja yang bermain bola dengan mereka aku akan menonton saja, pasti itu akan sangat seru. Aku tidak akan mendukungmu. Aku akan mendukung tim Zean dan Zyan saja," ujarnya panjang lebar.
"Heum."
"Kau mau, kan?" Alana menatap Levin yang fokus menyetir.
"Hem ...."
"Kau itu kenapa? Sejak tadi jawabanmu hanya hem-hem saja!" kesalnya.
Levin menghembuskan nafas panjang. "Maaf, baiklah. Nona Alana nanti setelah kita sampai. Kita akan melakukan apapun yang kau mau."
"Benar?"
"Iya."
"Terima kasih." Alana memeluk Levin erat, Levin hanya tersenyum tipis.
Sepanjang perjalanan Alana terus saja berbicara banyak hal yang hanya ditanggapi, hem, oh oleh Levin, Alana kesal tentunya dengan jawaban Levin. Tapi dia terus saja berceloteh tentang banyak hal.
Sampai atensinya teralihkan saat melihat penjual Somay di sebrang jalan.
"Levin berhenti! Aku mau membeli Somay," ujar Aira.
"Baiklah, tapi hanya itu saja."
"Iya."
Levin membelokkan mobil miliknya, saat dia ingin mengerem. Tapi mobilnya tidak mau berhenti.
"Astaga!" kaget Levin terus berusaha menginjak rem agar berhenti.
"Ada apa Levin?" tanya Alana yang melihat Levin panik.
"Ti--tidak," jawabnya masih berusaha menghentikan mobilnya, bagaimana sekarang? Dia sedang membawa Alana dan calon anaknya. Kenapa remnya bisa blong?
'Argh! Si4l, kenapa remnya bisa blong seperti ini!' kesal Levin.
Alana menyadari mobilnya tak berhenti di tempat sang penjual Somay. "Levin kenapa tidak berhenti? Kita terlewat!" kesal Alana.
Levin tak menghiraukan ucapan Alana, yang harus dia pikirkan adalah. Bagaimana cara menghentikan mobilnya.
"Levin!"
"Diamlah, Alana!" bentak Levin yang mulai tersulut emosi.
Alana terperanjat kaget. "Kenapa kau membentakku? Aku hanya bertanya."
"Saat ini bukan waktunya untuk menjawab pertanyaan konyolmu itu."
"Kenapa?"
"Rem mobil ini blong, Alana."
"Apa! Lalu sekarang bagaimana?"
"Aku juga tidak tahu, berpeganganlah Alana!"
Alana berdoa dalam hatinya agar tidak terjadi sesuatu.
Levin terus berusaha menghentikan laju mobilnya, tapi sayang usahanya sia-sia.
Di depan mobil mereka melintas mobil lain dari arah berlawanan, Levin tentu saja terkejut. Dia menghindari mobil tersebut dengan membanting setir ke kanan, tepat menghantam bahu jalan.
"Levin!" teriak Alana.
Brakk!
Kepala Levin terbentur stir, sedangkan Alana tertahan oleh pelindung yang ada di sabuk pengaman—author lupa namanya apa, tapi tetap saja perutnya terguncang cukup kuat.
Bagaimana nasib Alana selanjutnya?