
POV Jully
"Bang Mamat soto ayamnya satu ya! Sama teh angetnya juga satu.
"Siap neng Jully!" Jawab bang Mamat dibalik panci besar soto ayam yang masih mengepul panas. Soto ayam bang Mamat adalah salah satu menu favorit di kantin sekolahku ini. Pagi ini aku memilih menikmati sarapanku di kantin sekolah, dikarenakan ibu dan bapakku ada urusan di rumah salah satu saudara yang berada di luar kota. Mereka berangkat kemarin sore dan kemungkinan menginap untuk beberapa hari sampai urusan mereka selesai. Sementara aku di rumah hanya berdua dengan mbak Enin, kakak keduaku, sementara kakak pertamaku mbak Saras sudah berumah tangga dan tinggal bersama suami berserta anak-anaknya di pulau Bali. Bila kedua orang tua kami pergi ke luar kota seperti sekarang ini, tersisalah aku dan mbak Enin di rumah. Tidak ada yang namanya sarapan pagi di rumah seperti biasanya, aku sibuk bersiap untuk pergi ke sekolah, sedangkan mbak Enin sibuk bersiap pergi ke kantor. Kantor mbak Enin cukup jauh dari rumah, makanya dia harus pagi-pagi sekali berangkat ke tempat kerja. Jadi tidak ada satupun dari kami yang memasak untuk sarapan. Ya... Di sinilah aku sekarang duduk sendiri di kantin sekolah yang tidak terlalu ramai, karena masih terlalu pagi untuk menunggu soto ayam pesananku.
"Ini neng Jully pesanannya." Akhirnya datang juga yang ditunggu, soto ayam special bang Mamat.
"Makasih ya bang... "
"Sama-sama neng, tumben juga neng Jully pagi-pagi sarapan di kantin?" Tanya bang Mamat.
"Iya bang, ibu saya lagi ke rumah saudara, jadi gak ada yang masakin di rumah." Jawabku.
"Oh... Gitu, ya sudah kalau gitu neng silahkan menikmati soto ayamnya mumpung masih hangat."
"Iya bang terimakasih, soto bang Mamat memang paling the best dah.." Ucapku sambil mengacungkan kedua jempol tanganku semangat.
"Oh... Ya pasti dong, bang Mamat gitu... Sering-sering makan soto ayam saya neng." Sahutnya bangga.
Akhirnya kunikmati sarapan pagiku dengan semangat. Beberapa siswa mulai berdatangan di kantin ini, ada yang datang sekedar membeli minuman dan ada juga yang menikmati sarapannya seperti diriku ini. Namun kemudian kulihat Ale datang sedikit berlari dengan peluh terlihat jelas di dahinya. Memangnya apa yang baru saja dia lakukan di pagi hari dengan peluh sebanyak itu? Olahraga? Joging? Kuperhatikan dia membeli minuman dingin di sana, lalu meminumnya dari sedotan dengan tidak sabar. Sebenarnya apa yang terjadi? Mending aku menanyakannya langsung.
"Ale!" Panggilku.
"Ah... Jully? Kamu ada di sini? Sorry aku gak lihat kamu tadi." Jawabnya sambil nyengir.
"Gimana kamu bisa lihat? Kamu tiba-tiba datang sambil berlari dan membeli minuman dengan terburu buru begitu serta meminumnya dengan terburu buru juga seakan tidak ada hari esok saja. Memang ada apa sih?" Tanyaku penasaran.
"Itu Jull, tadi di jalan ada anjing gila, ehh dia ngejar aku sampai ke sekolah, trus aku lari ke sini buat sembunyi sekalian beli minuman, aku haus juga Jull gara-gara lari sedari tadi." Jawab Ale menjelaskan.
"Kamu lari dari anjing gila apa lari dari kenyataan?" Godaku sambil menahan ketawa, Ale itu lucu kalau lagi panik gini.
"Suer Jull! Tadi ada anjing gila ngejar aku, kan takut juga kalau sampai digigit bisa rabies." Sahutnya sambil bergidik ngeri.
Kemudian pandanganku beralih ke minuman yang diminum Ale, baru sadar kalau yang diminumnya adalah juice strawberry yang sama biasa aku temukan di atas meja kelasku.
"Al, itu yang kamu minum juice strawberey kan?
"Ahh ini? Ini tadi kan waktu aku lari ke sini yang terlihat mataku langsung adalah kulkasnya bu Siti, itu lho.. Kios nasi goreng dekat kios soto ayamnya bang Mamat. Jadi aku langsung ke sana buat beli minuman." Terangnya kepadaku.
"Trus kenapa harus juice strawberry?" Tanyaku lagi masih penasaran.
"Karena yang tersisa di kulkasnya bu Siti hanyalah air mineral dan juice strawberry ini, maka dari itu aku ambil juice ini Jull... Energiku terkuras habis karena berlari tadi, aku kan butuh yang manis-manis." Terangnya kembali padaku yang kubalas manggut-manggut mengerti.
"Ohh ya Le, kamu tahu juice strawberry yang selalu ada di mejaku setiap pagi kan?" Tanyaku.
"Ahh.. Yang katanya dari Mr. W itu?"
"Nah itu kamu ngerti." Balasku sambil menjentikkan jari.
"Kan bukan rahasia lagi, semua anak di kelas juga pada tahu kali Jull... Emang kenapa sih?" Tanyanya penasaran.
"Menurutmu juice strawberry itu dibeli dari kantin ini gak sih? Misalnya dari kios kantin bu Siti." Tanyaku balik ke Ale.
"Bisa jadi, bisa juga gak." Jawaban Ale tidak meyakinkan.
"Kok bisa gitu? Kemungkinan besar yang naruh itu juice juga bersekolah di sini, mungkin satu kelas juga dengan kita." Tanyaku yang tak mengerti atas jawaban Ale.
"Kenapa? Kamu curiga yang melakukan itu semua adalah Wicky hanya karena inisial nama mereka sama?" Tebak Ale tepat sasaran.
"Ya bisa jadi, siapa yang tahu kan...?" Balasku.
"Gini ya Jull... Pertama, Wicky itu sekolah saja kadang ogah-ogahan, apa lagi harus berangkat pagi-pagi hanya buat naruh juice strawberry di meja kamu stiap hari mesti dia punya rasa... Something special ke kamu, dia bakalan memilih cara lain daripada harus bangun pagi." Diam-diam dalam hati aku membenarkan apa yang dikatakan Ale barusan, pakek acara dijelasin segala lagi masalah rasa... Ehmm aku kan jadi malu, pasti sekarang ini wajahku sudah seperti udang rebus.
"Trus yang kedua, ini juice gak dijual di sini aja, di minimarket manapun juga ada, bisa jadi itu orang sudah membelinya di tempat lain sebelum datang ke sekolah. Lagian di kantin gak selalu ada stocknya." Jelas Ale yang menurutku memang benar, bisa jadi orang itu sudah memiliki stock juice strawberry yang memang disiapkan buat aku. Duhhh... GeErnya aku...
"Kurasa ucapan dan pemikiranmu itu benar Al, lalu menurutmu siapa ya orang itu?"
"Aku tidak tahu Jull, yang jelas orang itu punya akses keluar masuk ke sekolah ini dengan bebas."
Aku kembali membenarkan ucapan Ale barusan. Memang bukan hal yang mudah dan bukan hal yang sulit juga menaruh sekotak juice ukuran 180 ml di atas mejaku asal hati-hati dan yang terpenting dia punya akses keluar masuk ke dalam kelasku atau minimal akses masuk ke sekolah ini. Tapi mengamati seseorang yang terlihat mencurigakan dari sekian banyak orang di sekolah ini merupakan suatu hal yang sangat sulit. Aarrghh!! Pusing! Kenapa harus pakai rahasia-rahasiaan sih? Tinggal dikasih saja langsung apa susahnya?
"hei Jull... Jull... Jully! Ale tiba-tiba menepuk pundakku agak keras yang membuatku kaget seketika dan membuyarkan segala yang kupikirkan tadi.
"Astagfirullah Ale.. Bikin sport jantung aja!" bentakku.
"Habisnya kamu diam saja aku panggil-panggil dari tadi."
"Sorry Al, ngelamun bentar tadi aku hehe... Kamu tadi mau ngomong apa?"
"Hadeewwhh... Sudah gak usah mikirin yang tadi, pikir aja ntar, sekarang mending balik ke kelas, bentar lagi bell masuk bunyi, yuk?!" Ajak Ale yang aku iyakan.
Namun baru saja kami ingin melangkah pergi, tiba-tiba Wicky datang dengan berkacak pinggang.
"Naaahh di sini rupanya kamu sembunyi ya Al." Kata Wicky.
"Mati aku! Anjing gilanya nyampai sini lagi." Ucap Ale setengah berbisik.
"Ohh jadi yang kamu maksud anjing gila itu dia?" Tunjukku mengarah ke Wicky.
"Apa kamu bilang? Kamu nyamain aku dengan anjing gila?! Sini kamu Le, biar sekalian aku gigit beneran!"
Akhirnya terjadilah aksi kejar-kejaran antara mereka berdua di dalam kantin yang membuat beberapa orang yang ada di sana memperhatikan mereka. Duhh bikin malu saja, sudah gede masih saja kekanak kanakan.
"Udah stop kalian berdua!" Leraiku. Merekapun akhirnya berhenti.
"Sebenarnya ada apa sih dengan kalian berdua? Kejar-kejaran, umpet-umpetan, yang satu ngumpet yang satunya lagi nyari, udah seperti Tom and Jerry saja." Tanyaku penasaran, karena tak biasanya Ale menghindari Wicky sampai pakai acara ngumpet dan kejar-kejaran seperti ini.
"Anu.. itu Jull, Wicky... hmm.. emmm!"
Tiba-tiba Wicky membekap mulut Ale yang akan mengatakan sesuatu, membuat Ale meronta ingin dilepaskan dari tangan Wicky yang membekapnya.
"Bukan apa-apa kok Jull, aku dan Ale balik dulu ke kelas, bye Jully..!" Wicky segera menyeret Ale keluar dari kantin ini dengan mulut Ale yang masih dibekapnya. Sebenarnya apa sih yang mereka sembunyikan? Bikin aku penasaran saja. Ahh sudahlah, mungkin nanti akan aku tanyakan lagi ke mereka bila bertemu. Lima menit lagi bell masuk akan berbunyi, mending aku segera balik sekarang jika tak ingin terlambat masuk ke kelas dan di usir bu Mei guru Kimia yang super killer itu dari kelasnya.
POV Jully off...
🍓🍓🍓🍓🍓
Di lain sisi Wicky masih saja menarik Ale dengan sebelah tangannya masih membekap mulut Ale padahal jarak mereka dengan kantin sudah terlewat jauh.
"Hmm.. Emmm... Hah! Hahh!!" Akhirnya Ale bisa melepaskan tangan Wicky dari mulutnya dan langsung saja ia meraup udara sebanyak banyaknya.
"Hahh!! Gila kamu Wick! Mau bunuh aku apa?!" Protesnya sedikit marah pada lelaki tengil itu yang naasnya adalah sahabatnya sendiri.
"Habisnya kamu hampir saja membocorkan rencanaku pada Jully." Itu pembelaan Wicky.
"Aku gak setuju ya dengan rencanamu, itu nantinya bukan menguntungkanmu tapi malah akan menambah masalah baru untukmu Wick." Jawab Ale yang sedikit menasehati Wicky tentang rencana Wicky yang tak masuk akal. Entah rencana apa itu, hanya mereka berdua yang tahu.
"Kalau Jully sampai tahu tentang rencana konyolmu itu, dia pasti akan marah besar." Ale mencoba kembali meyakinkan Wicky. Ohh... Ternyata ini ada kaitannya dengan Jully tooo... Tentu saja tentang Jully, karena diotak Wicky saat ini adalah bagaimana caranya meluluhkan hati seorang Jully Mahardika.
"Maka dari itu jangan sampai Jully tahu!" Balas Wicky yang sepertinya tidak mempan atas ucapan Ale barusan.
"Terserah dirimu sajalah.. Yang jelas aku sudah memperingatkanmu, aku tidak mahu tahu bila terjadi apa-apa nantinya." Ale pun melangkah meninggalkan Wicky yang masih berdiam di tempatnya berdiri. Entah apa sebenarnya rencana Wicky yang membuat Ale uring-uringan dengan sahabatnya itu. Bell masukpun berbunyi dan Wicky mulai melangkahkan kakinya mengikuti jejak Ale menuju kelasnya.
Bersambung....