Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 39 Good Bye My First Love



Jully lega telah menceritakan semua masalahnya kepada trio KRN, kini mereka sedang tiduran di atas karpet ruang tengah rumah Jully dengan wajah yang ditutupi masker. Mereka saling bercerita ini itu sambil mengunyah camilan yang di bawa Kansari tadi. Mereka berempat saling bersenda gurau mengejek satu sama lain dan selalu diakhiri dengan tertawa lepas.


"Udah deh ketawanya jangan kenceng-kenceng, kan lagi pakai masker ntar muka kita gak kencang lagi dong..." Kata Kansari mengingatkan.


"Habisnya aku masih teringat kejadian tadi saat Ningsih nabrak kaca minimarket haha..." Rere akhirnya ketawa lagi.


"Hah?! Kok bisa sih?" Tanya Jully sambil menahan tawanya.


"Ya bisalah beb, dikiranya di sana gak ada pintu." Jawab Kansari sambil memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya.


"Ya siapa suruh kacanya bening banget, bikin jidatku benjol nih!" Seloroh Ningsih dengan menunjukkan kepalanya yang sedikit memar.


"Utu.. uttuu... Baby elephant bisa kalah juga sama kaca, sini-sini Sarsar tiupin biar gak sakit." Goda Kansari yang membuat Ningsih semakin cemberut saja, sementara Jully dan Rere hanya bisa menahan tawa mengingat masih ada masker di wajah mereka.


"Oh ya gimana kemarin Re rasanya diantar pulang sama kak Nouval?" Ningsih mengalihkan pembicaraannya dan melirik Rere yang menjadi terkesiap mendengar pertanyaan Ningsih.


"What?! Demi apa? Rere kemarin pulang bareng kak Nouval? Kok aku gak tahu?" Kansari langsung melonjak kaget dan langsung terduduk menatap ke arah Rere dengan matanya yang besar itu.


"Wahhh gercep juga kak Nouval." Sambung Jully.


"Kalian berdua kan pulang duluan, sementara kemarin aku masih nungguin Rere sampai jemputannya datang." Jawab Ningsih.


"Trus gimana ceritanya kak Nouval bisa anter Rere pulang?" Tanya Kansari kembali dengan rasa penasaran.


"Itu karena mamanya Rere gak bisa jemput karena motornya mogok, nahh setelah itu pas sekali kak Nouval lewat depan kita trus nawarin buat nganter Rere pulang." Jelas Ningsih.


"Beneran Re? Cuma kebetulan atau jangan-jangan ini memang sudah rencana kamu dengan kak Nouval biar terkesan natural saja." Jully memicingkan matanya curiga ke arah Rere membuat Ningsih dan Kansari juga menatap ke arahnya.


"Ihh kalian kok pada su'udzon gitu sih sama aku... Beneran kemaran gak sengaja guys." Rere mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengahnya untuk meyakinkan ketiga temannya itu.


"Trus habis itu gimana? Kalian kemana? Ngapain aja?" Tanya Kansari memberondong.


"Ya pulanglah." Jawab Rere santai.


"Gitu doang?" Tanya Ningsih tak percaya.


"Ahh gak asyik, garing!" Cerca Kansari.


"Memangnya kalian berharap seperti apa?" Tanya Rere yang tidak mengerti apa mahu teman-temannya.


"Ya mampir dulu kek kemana gitu... Makan, nongkrong di cafe atau minimal ngebakso dulu gitu di warung kang Ujang di ujung gang rumah kamu. Masak PeDeKaTe kaya gitu?" Celoteh Kansari.


"Ya maklumlah yang diboncengin lempeng-lempeng wae, mana berani kak Nouval ngebelokin arah selain ke arah jalan pulang." Seloroh Ningsih menyindir Rere.


"Atau sebenarnya mereka beneran jalan entah kemana tapi gak mahu kita tahu guys." Jully kembali menggoda Rere.


"Iihh Jully dari tadi bawaannya curiga mulu sama aku." Ucap Rere dengan nada rengekannya yang manja.


"Haha... Bercanda Re, yang pasti kamu musti hati-hati membawa hati biar ujung-ujungnya gak sakit hati." Nasihat Jully pada Rere.


"Iya betul apa kata Jully, kita semua pasti dukung apapun keputusan kamu, itulah gunanya teman." Ucap Ningsih bijak.


"Makasih ya teman-teman, jadi terharu nih." Balas Rere dengan mata berkaca-kaca, mereka berempatpun saling berpelukan, saling mendukung, saling menguatkan. Begitulah persahabatan mereka meski kadang adu mulut namun mereka saling menyayangi.


Ditengah keasyikan mereka berempat, tiba-tiba terdengar suara bell rumah Jully berbunyi.


"Ehh siapa ya yang datang?" Gumam Jully. "Bentar ya aku lihat dulu siapa tamunya." Lanjut Jully seraya bangkit dari tempatnya berbaring, melepas masker topengnya dan melangkah menuju pintu luar rumahnya.


"Wicky?!" Jully terperanjat kaget setelah membuka pintu ternyata lelaki penyebab sakit hatinya kemarin yang datang.


"Hai Jull..." Sapa Wicky yang berdiri di hadapan Jully dengan senyum yang canggung.


"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Jully jutek tidak menanggapi sapaan Wicky.


"Kamu ada waktu sebentar gak? Aku ingin bicara sama kamu." Pintanya.


Jully mendengus lelah namun akhirnya menyanggupi permintaan Wicky. Tidak ada alasan bagi Jully untuk menghindari Wicky terus menerus, toh nantinya mereka harus bicara juga. Lebih cepat lebih baik dari pada ditunda terus agar masalah ini cepat selesai.


"Masuk." Jully menyuruh Wicky masuk dengan isyarat kepalanya.


Jully membawa Wicky masuk ke ruang tamu. Mereka duduk saling berhadapan dengan rasa yang canggung. Sedangkan Kansari yang tadinya berada di ruang tengah penasaran siapa yang datang karena Jully tidak kunjung kembali memilih untuk mengintip dari balik tembok penghubung ruang tamu dan ruang tengah. Betapa terkejutnya Kansari siapa yang datang dan ia bergegas kembali menemui Rere dan Ningsih.


"Guys cepetan bangun! Gawat nih gawat!" Ujar Kansari sambil mengguncang tubuh Rere dan Ningsih agar mereka lekas bangkit dari rebahannya.


"Apa sih Sarijem? Jangan bikin rusuh deh." Ningsih memperingati.


"Yang bikin rusuh tuh bukan aku tapi yang ada di ruang tamu sana tuh!" Pungkasnya dengan mata yang mengkode ke arah ruang tamu.


"Memang siapa yang datang Sarsar?" Tanya Rere yang masih santai rebahan dengan mata tertutup.


"Wicky ada di sini!" Ujar Kansari tegas.


"Apa?!" Seketika Ningsih dan Rere bangkit dan terduduk kaget mendengar ucapan Kansari.


"Kalau gak percaya lihat saja sendiri." Tantang Kansari yang langsung membuat Rere dan Ningsih beranjak dari duduknya menuju ruang tamu. Mereka bertiga mengintip dari balik tembok ruang tengah dan benar saja apa yang dikatakan Kansari bahwa Wicky sedang ada di sana, duduk berhadapan dengan Jully.


"Waahh gak bisa dibiarkan ini, mahu apa dia ke sini?" Ningsih tiba-tiba emosi dan hendak melangkah ke arah Wicky namun segera dicegah oleh Rere.


"Ehh jangan!" Cegah Rere menekan suaranya agar tidak terdengar Jully dan Wicky. Tangan Rere sedikit menarik lengan Ningsih ke belakang agar teman semoknya itu tidak menampakkan diri. Bisa tambah runyam nantinya.


"Kenapa sih Re? Itu anak musti dikasih pelajaran biar jera." Ujar Ningsih dengan suara yang ikut dipelankan.


"Aku tahu kita ini temannya, tapi ini urusan Jully dengan Wicky yang tidak bisa kita campuri. Biar saja mereka berdua menyelesaikan masalahnya, kita percaya saja pada Jully. Jully tahu apa yang harus dia lakukan." Kata Rere bijak.


"Kurasa apa yang dikatakan Rere ada benarnya, mending kita pantau dari sini saja." Tambah Kansari yang membenarkan ucapan Rere.


"Iya deh kalau gitu." Akhirnya Ningsih mengangguk setuju.


Disisi lain Jully dan Wicky masih saling diam, tidak ada salah satu dari mereka yang membuka suara. Ini benar-benar canggung bagi mereka. Wicky bingung ingin memulai percakapan itu. Namun Jully akhirnya memulainya terlebih dulu.


"Apa yang ingin kamu katakan katakanlah, aku akan mendengarnya." Suara Jully menginterupsi begitu tenang namun juga begitu datar.


"A..aku hanya ingin melusruskan kesalah pahaman kita." Jawab Wicky yang kentara begitu gugup.


"Hahh, salah paham? Salah paham yang mana?" Balas Jully dengan senyum sinisnya.


"Soal kemarin saat kita di kantin sekolah. Semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan Jully."


"Terus?" Jully masih menahan kesabarannya.


"Itu karena aku tidak ingin kamu berpikir keras untuk mencari tahu siapa orang yang mengirim minuman itu ke kamu. Orang itu mungkin hanya iseng saja, ingin membuatmu bingung dan mempermainkan kamu saja." Wicky berusaha menjelaskan kesalah pahaman menurut dirinya yang justru malah terdengar hanya sebuah alasan menurut Jully. Alasan untuk menutupi kesalahannya.


"Dan itu benar menurut kamu?" Wicky mengangguk untuk menjawabnya.


"Tapi menurutku itu salah besar! Terlepas apa tujuan orang itu entah iseng atau cuma main-main saja, tetap kamu gak ada hak untuk ikut campur apalagi mengaku-ngaku sebagai orang itu Wicky!" Jully mulai meninggikan suaranya, emosinya mulai tersulut lagi namun dia segera sadar dan meredamkan amarahnya.


"Aku hanya ingin menjagamu Jully, karena aku peduli padamu." Kilahnya.


Jully membuang napasnya panjang, lelah harus bagaimana lagi menyadarkan lelaki egois di hadapannya itu.


"Peduli? Apa kamu peduli dengan perasaanku? Apa kamu peduli dengan perasaan orang itu jika mengetahui hal ini? Kamu hanya menduga-duga, kamu tidak mengetahui pasti perasaan orang itu, siapa tahu dia memang benar-benar tulus padaku. Itu berarti kamu telah menghancurkan perasaan dan harapannya." Jully sudah mulai melunak, mencoba menyadarkan Wicky dengan suara yang lebih rendah, namun sepertinya sia-sia.


"Kalau memang dia tulus padamu tentu dia sudah menampakkan dirinya di hadapanmu." Wicky tetap kekeh dengan keegoisannya.


"Semua orang punya caranya sendiri untuk dekat dengan orang lain Wicky. Dan kamu, kamu dan caramu yang salah untuk mendekatiku apa itu patut dibenarkan?" Ucap Jully tepat sasaran.


"Tapi..." Ucapan Wicky menggantung karena Jully langsung memotongnya.


"Aku belum selesai Wicky! Apa kamu belum sadar juga apa yang kamu lakukan ini sungguh egois Wicky. Kamu bahkan tidak menunjukkan penyesalanmu dan berusaha meminta maaf padaku." Perkataan Jully itu langsung menghantam hatinya, seolah menampar wajahnya. Satu yang dia lupakan yaitu permintaan maaf.


"Seandainya kamu langsung meminta maaf padaku, mungkin yang kurasakan tidak sesakit ini. Kamu tahu? Kamu hanya ingin terlihat benar di mataku tanpa memikirkan apa yang benar atau yang salah. Aku tidak tahu jika kamu adalah lelaki yang seegois ini Wicky. Aku sangat kecewa denganmu." Jully merendahkan suaranya, menyesali keadaan ini, mengapa nasibnya dan Wicky harus berakhir seperti ini.


"Jully aku... Ya, aku salah, aku hanya mementingkan inginku tanpa peduli inginmu." Wicky menunduk lesu, mengakui kesalahannya.


"Aku rasa sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, sebaiknya kamu pulang sekarang." Jully berdiri dari tempat duduknya, mengisyaratkan untuk Wicky meninggalkan rumahnya sekarang juga.


"Baiklah, aku pergi sekarang." Wicky berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya keluar dari rumah Jully, namun dia berbalik sebelum sampai ke arah pintu.


"Jully... Aku minta maaf dan terimakasih." Ucapa Wicky tulus seraya tersenyum, senyum tersedih yang pernah dia tunjukkan pada Jully, mungkin setelah ini tidak ada kesempatan lagi untuknya bersama gadis yang dia puja ini. Setelahnya dia berbalik, melangkah keluar hingga tubuhnya tidak lagi terlihat dari ambang pintu. Suara gas sepeda motornya perlahan terdengar menjauh, menandakan dia benar-benar pergi dari rumah Jully.


Jully mendesah panjang, seakan beban berat yang ada di pundaknya menguap begitu saja. Hatinya begitu lega, masalah ini akhirnya selesai meski harus dibarengi perdebatan terlebih dahulu. Paling tidak satu masalah di hidupnya terselesaikan.


"Jully..." Suara Kansari menyadarkannya dari lamunan. Dia menengok ke belakang, di sana ternyata sudah berdiri Rere, Ningsih dan Kansari yang langsung berlari menghambur memeluk dirinya.


"Terimakasih teman-teman, karena selalu ada untukku." Ucap Jully dalam hati dalam pelukan ketiga sahabatnya.


🍓🍓🍓🍓🍓


Hari berganti esok, seperti biasanya Jully datang ke sekolah bersama Kansari. Tidak sengaja kedatangannya bersamaan dengan Wicky yang baru saja turun dari motornya. Mereka saling bertemu pandang, Wicky tersenyum lembut ke arah Jully yang dibalas senyuman juga oleh Jully. Setelah itu Wicky langsung melangkah pergi menuntut motornya masuk melewati gerbang sekolah. Sudah tidak ada beban di hati mereka, meski Jully yakin ada sedikit penyesalan di hati Wicky. Tapi ini adalah jalan terbaik untuk mereka berdua, mungkin suatu saat nanti mereka akan bisa saling menyapa dengan cara yang benar.


"Selamat tinggal cinta pertamaku, kini aku melepasmu." Ucapa Jully dalam hati dengan senyum yang tersungging dari bibirnya.


Bersambung....


.


.


.


Hai.. haiii para Reader ku tercinta, semoga kalian sehat terus ya... 😄 Terimakasih atas dukungan kalian selama ini. Jangan lelah untuk mendukung Author yang tidak sempurna ini...


Jangan lupa klik tombol like, komen and vote serta tambahkan Jully Mahardika sebagai novel favorit kalian... 😄


Tunggu terus kisah selanjutnya 😘