Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 59 Praduga Tak Bersalah



"Siapa sebenarnya lelaki itu? Kenapa dia terlihat begitu akrap dan begitu...intim? Atau mungkin dia kekasih Jully? Setelah kebodohanku meninggalkan Jully pada si brengsek Wicky itu, sekarang Jully mempunyai seorang kekasih? Bahkan tadi aku sudah dibuat malu karena kelambananku bertindak dibandigkan dengan anak kecil, huuufff..." Wigih bergumam sendiri sampai sebuah tepukan di bahunya berhasil mengagetkannya.


"Hai bro... Kenapa kau mendesah seperti itu?" Ternyata seorang yang menepuk bahunya adalah Rendi.


"Kenapa kamu bisa ada di sini? Seharusnya kau mengetuk pintu duluan sebelum masuk ke ruang kerja orang lain!" Tegur Wigih sedikit sengit. Dia sekarang sudah kembali ke ruangannya sendiri setelah mengantar Jully ke kamarnya dan moodnya menjadi jelek setelah kembali dari sana. Bagaimana tidak? Dia melihat lelaki yang dulu pernah ia lihat juga saat Jully masih terbaring koma. Lelaki yang dulu terlihat khawatir kini begitu terlihat romantis saat bertemu Jully tadi.


"Aku sudah mengetuknya berkali-kali tapi tidak ada jawaban, jadi aku masuk saja dan aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi kamu tetap diam dan bergumam tidak jelas. Apa...pendengaranmu sedikit terganggu?" Jawab Rendi yang malah bikin emosi Singa jantan yang sedang kretek-kretek hatinya kini semakin tersulut.


"Sialan! Kau pikir aku ini sudah tuli?!" Sembur Wigih yang justru membuat Rendi terbahak-bahak.


"Haha... Habisnya aku lihat dari tadi kau terlihat seperti anak gadis yang berpikir keras untuk melarikan diri dengan kekasihnya." Ejek Rendi.


"Haruskah?" Sahut Wigih.


"Maksudmu?" Tanya Rendi bingung.


"Haruskah aku membawa Jully lari agar tidak bersama lelaki itu lagi?" Jawab Wigih dengan muka seriusnya.


"Heeii... Jangan konyol! Kamu tidak akan benar-benar melakukannya kan? Lagian tadi aku hanya bercanda, kenapa kau jadi serius?" Rendi tiba-tiba menjadi khawatir dengan sahabatnya tersebut, baru kali ini seorang Wigih Sasongko yang ia kenal selalu tenang mempunyai pikiran diluar akal sehatnya. Pria yang selalu berpikir rasional dan selalu berpikir dulu sebelum bertindak ini menjadi aneh saat berkenalan dengan cinta. Rendi pun rasanya ingin membenturkan kepala Wigih ke tembok agar otak lelaki cerdas itu kembali waras.


Wigih pun menyangga kepalanya yang terasa berat itu dengan kedua tangannya, lalu membenamkan wajahnya pada telapak tangannya. Apakah dia begitu frustasi saat ini? Bahkan semua yang ia lihat hari ini belum jelas kebenarannya, tapi sudah membuat kepalanya berdenyut pening.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu boleh cerita padaku, mungkin aku bisa membantu. Jangan seperti ini... Aku jadi takut, ini bukan seperti dirimu saja." Ujar Rendi sambil mendudukkan dirinya di hadapan Wigih. Akhirnya lelaki itu mendongakkan wajahnya yang tadinya menunduk tertutupi jari-jari tangannya.


"Apakah kamu ingat seorang laki-laki yang sering datang di awal Jully koma?" Tanya Wigih dan Rendi mengangguk setelah ia mengingat-ingatnya.


"Maksudmu lelaki yang datang dengan wajah khawatir dan terlihat frustasi itu? Kalau tidak salah dia datang setelah dua hari Jully dinyatakan koma." Ujar Rendi setelah berusaha mengingatnya.


"Benar, dia ada bersama Jully sekarang, kau tahu siapa dia?" Tanya Wigih.


"Tidak, karena dia tidak pernah mengatakannya dan aku juga tidak pernah menanyakan hal itu. Dia terlihat sangat dekat dengan ibunya Jully, aku pikir dia salah seorang dari kerabatnya? Jawab Rendi sambil mengutarakan presepsinya.


"Mana ada kerabat lelaki yang memanggilnya sayang dengan mesra?!" Sahut Wigih sengit.


"Mungkin saja kan...?" Sahut Rendi balik.


"Memangnya kamu pernah melihat hal yang begitu sebelumnya?" Wigih sangsi dengan pendapat Rendi.


"Nggak juga sih...." Rendi mengangkat kedua bahunya sambil menampakkan cengiran kakunya.


Bahu Wigih langsung luruh begitu saja, dia mendesah panjang dengan wajah tampan yang terlihat suram saat ini.


"Terus aku harus bagaimana? Kalau benar pria itu kekasihnya bagaimana?" Keluh Wigih tak bertenaga.


"Kenapa pusing-pusing? Rebut saja!" Jawab Rendi santai.


"Apa aku tidak waras merebut kekasih orang?!" Seru Wigih.


"Memangnya kenapa? Tadi saja kamu berpikir untuk membawanya lari, kenapa sekarang nyalimu jadi ciut?" Ejek Rendi.


"Itu karena tadi aku sedang frustasi, sekarang aku sudah waras." Balas Wigih.


"Kalaupun sekarang kamu ingin merebutnya aku pasti akan dukung asal tidak kau bawa lari saja anak gadis orang. Toh mereka juga belum menikah, apapun bisa terjadi." Ungkap Rendi tak kalah menggebunya dengan Wigih.


"Asal kamu melakukannya dengan cara yang elegan." Lanjut Rendi.


"Kau cari tahu saja sendiri... Apa gunanya wajah tampan dan otak cerdasmu itu? Sudahlah... Aku pergi dulu, ada janji dengan pasienku sore ini." Jawab Rendi sarkas seraya beranjak dari tempat duduknya dan melambai pergi meninggalkan Wigih sendiri di ruangannya.


Wigih memijat kepalanya yang terasa berdenyut.


"Cara yang elegan? Bagaimana aku harus melakukannya?" Gumamnya.


Sedangkan di kamar inap Jully, Auliya masih berada di sana mendengarkan omelan kakak sepupunya itu.


"Kamu kok baru sekarang sih ke sini? Baru inget kalau punya kakak yang hampir sekarat?!" Oceh Jully pada adik sepupunya.


"Husstt!! Kamu itu Jull kalau ngomong mbok ya dijaga! Kami semua itu khawatir setengah mati sama kamu, Auliya juga sama, dia beberapa kali ke mari lihat perkembangan kamu pas masih koma." Bela ibunya.


"Bener kata budhe, aku selalu sempetin lihat kakak waktu masih koma, kadang malah ikutan ngeronda sama budhe di sini sehabis pulang kerja." Tambah Auliya.


"Terus setelah aku sadar kok baru sekarang jenguk aku?" Protes Jully lagi.


"Siapa suruh gak bangun-bangun macam putri tidur? Jadinya banyak kerjaan yang menumpuk, aku musti menghendel kerjaan kakak juga, klien kan gak bisa nunggu." Sindir Auliya.


"Ohh jadi gak ikhlas nih bantunya? Minta dipotong gajinya? Aku kan gak minta jadi koma, lagian siapa yang suka ketabrak mobil? Sakit tahu!" Cerca Jully.


"Lhaaa kok malah jadi aku yang salah? Bawa-bawa gaji lagi... Emang dah bawahan selalu salah." Ucap Auliya ngenes.


"Sudah-sudah... Kalian kalau ketemu selalu saja ribut, tapi kalau gak ketemu nyariin mulu." Ujar bu Susi menghentikan adu mulut dua sepupu itu.


"Nyariinnya buat ngajak ribut budhe..." Sahut Auliya sambil melirik ke arah Jully.


"Trus kabar kantor gimana?" Tanya Jully yang sekarang lebih slow.


"Aman, tenang saja. Tadinya Melda dan Billy mau ikutan ke sini tapi aku larang, karena kantor lagi sibuk banget, besok ada tiga kasus yang musti sidang. Jadi hari ini semua dokumen harus selesai tanpa celah sedikitpun." Jelas Auliya. Sebagai info saja Melda dan Billy adalah asisten Jully dan Auliya di kantor firma hukumnya.


"Good! Ingatkan saat aku kembali ke kantor untuk memberi bonus pada mereka." Ujar Jully.


"Asyik... Aku dapat juga kan?" Tanya Auliya girang.


"Enak aja, gak ada! Situ gajinya sudah gede, belum juga bonus dari klien pribadi yang masuk kantong sendiri." Tolak Jully mentah-mentah.


"Kok gitu sih boss? Ini adek sendiri lho... Masa pilih kasih sih?" Protes Auliya dengan wajah melasnya.


"Salah sendiri itu mulut tadi gak bisa direm waktu ada dokter Wigih di sini, pakai acara panggil sayang segala! Tuh Dokgan pasti salah paham deh...! Jully semakin sewot saja pada Auliya.


"Yaelaaah tinggal dilurusin aja napa? Beres kan? Cinta gitu amat." Sahut Auliya santai yang langsung dapat pelototan tajam dari Jully.


"Emang kamu beneran suka sama dokter Wigih Jull? Ibu sih setuju saja, sudah pinter ganteng pula." Ucap bu Susi tiba-tiba menyela.


"Masalahnya dokter Wigih-nya mau gak sama kamu?" Tambah bu Susi yang langsung bikin Auliya ngakak seketika. Ini ibu-ibu emang suka jatuhin anak sendiri.


"Huaahahhaha..."


"Tau' ahh!! Dan kamu Auliya ketawa terus! Gak bakalan ada bonus buat kamu!" Setelah mengucapkan itu Jully langsung merebahkan tubuhnya, menutupnya dengan selimut dan tidur dengan memunggungi Auliya yang kini duduk lemas di kursi sebelah ranjang Jully.


"Kok aku ngerasa jadi Praduga Tak Bersalah ya?Apes bener dah jadi aku." Rutuk Auliya.


Bersambung....