Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 15 Kalian Pacaran?



Bell istirahatpun berbunyi, Wigih langsung membereskan buku-buku yang ada di atas mejanya. Setelahnya dia langsung berlari ke luar kelasnya menuju ke kelas Jully, dia mencoba mencari-cari sosok Jully di kelas itu namun tidak menemukan sosoknya.


"Ehh ada kak Wigih di sini, cari siapa kak?" Tiba-tiba Kansari muncul disebelahnya.


"Oh.. itu.. Aku mencari Jully kok gak ada ya?" Tanya Wigih gagap.


"Tumben kakak nyari Jully, tapi sayangnya Jully gak ada di kelas kak, dia sedang sakit, sekarang lagi istirahat di UKS, ini aku mau ke sana ngecek keadaannya." Terang Kansari panjang lebar.


"Ahh kalau gitu aku ikut sekalian boleh?"


"Boleh kok kak, boleh banget malahan."


"Ya udah yuk!" Ajak Wigih yang langsung diiyakan oleh Kansari.


Akhirnya mereka berduapun menuju UKS bersama sama. Kansari tersenyum sepanjang jalan, dia tidak habis pikir bisa berjalan beriringan dan ngobrol seperti ini dengan salah satu most wanted sekolah ini. Duuhh... hati dan pikiran Kansari jadi traveling kemana mana deh... Tau sendiri kan kalau Kansari itu gak bisa jika lihat yang bening-bening macam begini, maunya matanya itu minta dicolok aja, nikmat mana yang bisa Kansari dustakan? Sampai-sampai nih udah nyampai depan pintu UKS saja dia gak ngerasa. duh duh duuhhh... Kansari.


"Udah sampai nih... emm nama kamu Kansari kan?" Tanya Wigih memastikan.


"Ahh iya udah di UKS aja sampai gak kerasa, maaf tadi kakak nanya apa?" Dasar Kansari kalau sudah ngelamun angin mah cuma lewat, antara budek sama gak dengar beda tipis.


"Itu aku tadi... "


"Nanya nama aku benaran Kansari kan?" Nahh kann...tadi aja pura-pura gak dengar, siapapun tolong jedotin aja kepala Kansari. "Iya kak, aku Kansari Hermawan panggil saja Kansari atau Sari aja." Lanjutnya sambil senyum-senyum gak jelas.


"Iya Sari." Jawab Wigih kikuk.


"Masuk yuk kak!" Ajak Sari sambil membuka pintu UKS.


"Yuhuuu... Jully, Sari here... " Teriaknya sambil memanggil Jully dengan nada yang centil. Jully yang tadinya tidur jadi terbangun.


"Duuhh...berisik banget sih!" Keluh Jully.


"Upss Sorry! " Kansari langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Ini sudah jam istirahat ya?" Tanya Jully lemas, dia belum menyadari jika ada Wigih di situ.


"Iya beb, makanya aku ke sini lihat keadaan kamu, gimana udah mendingan?" Tanya Kansari.


"Masih pusing." Jawab Jully dengan mata yang masih terpejam.


"Kalau begitu ijin pulang saja, biar aku yang antar." Suara Wigih yang begitu tiba-tiba terdengar oleh telinga Jully membuat gadis itu langsung membuka matanya.


"Kak Wigih ada di sini juga?" Tanya Jully kaget.


"Iya, tadi aku nyariin kamu di kelas soalnya aku khawatir sebab terakhir kali kita bertemu tadi pagi muka kamu pucat dan badanmu panas, tapi pas ke kelas kamunya gak ada, lalu kebetulan aku ketemu Kansari terus dia ngajak ke sini karena kata dia kamu lagi di UKS." Terang kak Wigih menjelaskan. "Oh ya kamu perlu apa? Biar aku bantu, atau kamu mau makan sesuatu? Ini kan jam istirahat mungkin kamu lapar." Lanjut Wigih dengan perhatiannya dan itu tertangkap oleh mata Kansari, biasa... radar kekepoan Kansari langsung terditeksi maksimal.


"Aku gak ingin makan apa-apa kak, mulutku pahit, rasanya aku ingin pulang saja." Jawab Jully.


"Ya sudah biar aku antar kamu pulang." Wigih menawarkan diri.


"Eh jangan kak, ntar malah ngerepotin kak Wigih, lagian kak Wigih juga harus masuk kelas berikutnya kan... Biar aku sama Sari saja." Tolak Jully yang meras tak enak hati jika harus merepotkan seniornya.


"Gak apa-apa, lagian Kansari juga sama saja, dia juga harus masuk ke kelas berikutnya, kalau aku kan bisa cari alasan lain buat antar kamu." Jawab Wigih meyakinkan Jully, selain dia ingin lebih dekat dengan gadis itu, dia juga merasa khawatir dengan keadaannya, Wigih hanya ingin memastikan jika Jully kembali ke rumahnya dengan keadaan aman.


"Iya Jull benar kata kak Wigih, lagian setelah ini bakalan ada quis di jam Biologi, yang gak ikut tanpa alasan yang jelas bakalan dapat nilai E, jadi maaf ya Jull." Sari memberi alasan untuk menolak ajakan Jully, sekalian dia ingin memberi kesempatan buat Ketos tampannya itu lebih dekat dengan Jully, siapa yang gak tahu bahwa Ketosnya itu memberi signyal-signyal ketertarikan, Jully saja yang kelewat cuek.


"Ya sudah, aku mau bikin surat ijin buat kamu dan aku sebentar. Sari tolong kamu ambil barang dan tas Jully di kelas." Perintah Wigih yang diangguki oleh Kansari.


"Baik kak." Kansari langsung kembali ke kelasnya untuk mengambil tas Jully.


"Aku tinggal sebentar ya, kalau ada apa-apa kamu bisa hungin aku lewat phonsel." Pamit Wigih.


"Iya kak, terimakasih."


Tak membutuhkan waktu yang lama, Kansari kembali dengan membawa tas Jully.


"Ini Jull tas kamu, tadi Rere dan Ningsih titip salam katanya maaf gak bisa jenguk ke sini, mereka sekarang lagi kelabakan gegara quis Biologi, katanya lagi mereka bakalan mampir ke rumah kamu setelah pulang sekolah."


"Oh ya Jull, tadi aku gak sengaja nemuin ini di dalam laci mejamu." Kansari menyodorkan sebuah surat beramplop biru muda.


"Ini kan..."


"Dari si Yuyu kan?" Tanya Sari memotong ucapan Jully yang dibalas anggukan.


Jully begitu kaget, dia tak menyangka bahwa Cancer Boy sudah kembali lagi, betapa bodohnya dia karena tak mengecek isi laci bawah mejanya pagi ini. Beruntung Sari menemukannya.


"Terimakasih ya Sar, untung kamu menemukannya."


"Jull, kamu tadi lihat kan? Kak Wigih perhatian banget sama kamu."


"Masa sih? Biasa saja."


"Kamu itu ya Jull, kelewat cuek! Masa kamu gak bisa ngerasain sih? Aku saja bisa."


"Perasaan kamu saja kali, mungkin kak Wigih khawatir karena kebetulan tadi pagi ketemu aku pas aku sempyongan mau jatuh."


"Dihh ni anak dibilangin juga gak percaya." Sari terlihat gemas melihat Jully yang begitu cuek jadi cewek. Sementara Jully terlihat begitu senang mendapatkan surat yang selama ini dia nantikan, terpancar dari raut wajahnya yang tersenyum memandang amplop biru muda di tangannya. Dan momen itu tertangkap oleh mata Wigih yang kebetulan baru saja kembali dari kantor guru untuk meminta surat ijin. Hati Wigih berdesir melihat senyum Jully yang begitu mempesona meski masih terlihat pucat di wajah gadis pujaannya itu. Dia bahagia ternyata Jully menerima surat darinya dengan hati yang tulus. Wigih juga tak sabar ingin mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya mengingat ada seseorang yang menginginkan hati Jully selain dirinya, namun dia belum menemukan waktu yang tepat, apa lagi Jully sekarang dalam keadaan tumbang. Dirinya tidak ingin Jully shock setelah pengakuannya tersebut, dan dia belum siap jika Jully menolak dirinya nantinya.


"Ehm.. Kamu sudah siap Jully?" Wigih berusaha menetralkan suaranya untuk menutupi debar di hatinya.


"Ehh kak Wigih udah di sini?" Ini Sari yang berucap.


"Sudah kak, kakak beneran gak papa nganter aku?" Jully masih merasa tidak enak dan terbebani melihat dia dan Ketos yang merupakan seniornya itu tidak pernah akrab sebelumnya.


"Tenang saja, aku sudah ijin kok. Yuk berangkat sekarang saja, takut kamunya semakin parah." Ajak Wigih yang disetujui oleh Jully. Kansari membantu Jully untuk turun dari ranjang dan memapahnya sampai ke parkiran sekolah. Banyak siswa di sekitarnya memperhatikan mereka, mungkin beberapa dari mereka bertanya tanya apa yang terjadi diantara mereka sampai sedekat itu. Maklum Jully dan Wigih sama-sama siswa yang masuk dalam jajaran most wanted di sekolahannya. Pastinya akan ada gosib setelah ini.


Beruntungnya hari ini Wigih membawa mobil, jadi dia bisa lebih nyaman mengantar Jully yang dalam keadaan sakit seperti ini. Wigih segera membukakan pintu untuk Jully, gadis itu mengucapkan terimakasih setelah masuk dan duduk di bangku penumpang bersebelahan dengan Wigih yang kini sudah masuk ke dalam mobilnya untuk mengemudi. Wigih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali dia melirik Jully, memastikan gadis di sebelahnya merasa nyaman.


"Masih pusing banget ya?" Tanya Wigih, Jully hanya mengangguk. Gadis itu merasa berat hanya untuk membuka mulutnya, bukan dia tak suka tapi karena dia memang tak punya tenaga untuk menjawab.


"Atau kita langsung ke dokter saja? Biar nanti aku hubungi keluarga kamu."


"Gak usah kak, aku ingin langsung pulang saja." Tolak Jully dan Wigih tidak bisa memaksanya.


"Tadi kenapa tidak menelpon atau kirim pesan kepadaku? Kamu bisa minta tolong apapun itu selama aku bisa." Tanya Wigih.


"Aku gak mau ngerepotin kakak."


"Aku gak merasa direpotkan kok, jadi jangan khawatir." Jully tersenyum sambil berucap terimakasih.


Setelah menempuh waktu kurang dari 30 menit mereka sampai juga di halaman rumah Jully. Wigih langsung memapah Jully keluar dari mobilnya. Ibu Jully yang kebetulan sedang menanam bunga di halaman rumahpun kaget melihat anaknya pulang dalam keadaan pucat, diantar seseorang yang belum pernah dia lihat pula.


"Aduh... Anak ibu kenapa nih kok jam segini sudah pulang? Kamu sakit nduk ?" Tanya ibu Susi khawatir.


"Iya, Jully sedang sakit bu, badannya demam tapi gak mau diajak ke dokter, maunya cuma pulang."


"Iya, Jully memang begitu...memang susah kalau disuruh ke dokter saat sedang sakit, takut disuntik katanya."


"Ibu, jangan bikin malu Jully dong..."


"Lho.. Kamu masih bisa ngomong Jull? Kirain gak bisa ngomong sangking lemesnya." Ini bu Susi malah ngeledek anaknya, sementara Wigih yang melihat interaksi ibu dan anak ini hanya tersenyum.


"Ya sudah masuk yuk, ntar pingsan lagi."


"Ohh ya... Nak ganteng siapa ya namanya?"


"Saya Wigih Sasongko bu, kakak kelasnya Jully."


"Kalian pacaran?"


Bersambung...