
Wigih masih tertegun tak percaya jika keponakan kecilnya itu melakukan hal yang selalu ingin ia lakukan, yaitu memeluk dan mencium Jully yang selalu mengisi hati dan pikirannya itu. Ironisnya si kecil Leo lebih bisa berekspresi dan bertindak cepat dibandingkan dengan dirinya yang dari belasan tahun yang lalu tidak ada kemajuan sama sekali.
"Heii... Aku tak semenyedihkan itu!" Desisnya pelan namun masih bisa didengar oleh Ernita yang berdiri tepat di sampingnya.
"Tapi nyatanya seperti itu kak... Mungkin kakak harus belajar dari anakku." Ujar Ernita dengan senyuman mengejeknya.
"Kecil-kecil sudah genit pasti itu semua hasil didikanmu dan Daniel." Sahut Wigih sewot.
"Ayolah kak... jangan limpahkan kemarahanmu dengan menyalahkan orang lain, akui saja jika kamu cemburu dengan anak kecil." Ernita terkikik geli diakhir kalimatnya, ekspresi kakaknya yang sedang cemburu itu sungguh luar biasa lucu. Jarang-jarang dia melihat Wigih seperti ini. Terakhir Ernita melihat Wigih dengan wajah marahnya yang tidak pernah ia jumpai selama ini adalah dua hari yang lalu ketika dirinya ingin menemui Jully, namun tidak jadi ketika dia tidak sengaja melihat kakaknya sedang berbicara dengan salah seorang teman SMAnya dulu. Tidak jauh dari ruang inap Jully, Ernita melihat Wigih kakaknya dengan raut wajah yang menyeramkan tengah berbicara serius dengan Wicky. Ernita tidak pernah melihat kakaknya seperti itu sebelumnya. Karena rasa penasarannya Ernita diam-diam mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.
Dua hari yang lalu...
"Kenapa kamu ke sini? Jika kamu tidak bisa menepati janjimu seharusnya kamu tidak usah muncul kembali di hadapannya!" Seru Wigih pada Wicky.
"Aku masih temannya dan aku ke sini untuk menjenguk temanku yang sedang sakit." Jawab Wicky datar.
"Dan sekaligus mengundangnya untuk hadir di pernikahanmu begitu?" Ujar Wigih dengan pertanyaan yang sarkas.
"Waahhh... Kau memang pemberi luka yang hebat bung!" Lanjutnya lagi dengan bertepuk tangan sebagai sindiran untuk Wicky.
"Aku memang salah, aku datang juga untuk meminta maaf padanya. Aku memberinya undangan pernikahanku bukan untuk melukainya, aku hanya melakukannya sebagai teman, aku mengharaginya sebagai teman terbaikku. Aku pernah melukai perasaannya dan juga memisahkan kalian berdua. Paling tidak untuk terakhir kalinya aku ingin memberi kesan yang baik sebagai teman, ini merupakan satu-satunya cara untuk melepasnya, mengucapkan selamat tinggal pada cinta pertamaku." Kata-kata Wicky terdengar seperti sebuah alasan di telinga Wigih.
"Kau sungguh egois! Kamu melukai hatinya berkali-kali namun masih ingin dipandang sebagai seorang teman yang baik?! Kalau kau benar-benar mencintainya seharusnya kau menjaganya dengan baik bukan justru menyakitinya!" Wigih meninggikan suaranya, matanya menatap nyalang mata Wicky.
"Aku memang mencintainya dan aku benar-benar menjaganya, bahkan aku tidak bisa menyentuhnya sehingga membuatku gila dan melakukan kesalahan dengan teman sekampusku. Itu sungguh membuatku gila! Membuatku menjadi laki-laki brengsek yang tidak pantas lagi untuk Jully!" Wicky ikut meninggikan suaranya.
"Hahh?!" Ernita yang mencuri dengar dari balik tembok langsung membekap mulutnya sendiri. Apa yang ia dengar sungguh mengejutkan.
Bugh!!
Terdengar suara pukulan, Ernita terperanjat kaget ketika dia melihat kakaknya meninju wajah Wicky dengan keras. Ini pertama kalinya Ernita melihat kakaknya memukul seseorang. Yang ia tahu, Wigih orang yang sangat anti kekerasan, kakaknya itu selalu bisa menjaga emosinya dengan baik. Lalu ada apa dengan kakaknya hari ini? Mungkin ini adalah puncak kemarahan Wigih yang telah ia pendam bertahaun-tahun lamanya. Ernita ingin muncul di hadapan mereka agar tidak terjadi hal yang lebih jauh lagi dari itu, namun segera ia urungkan. Mungkin ini adalah cara laki-laki untuk menyelesaikan masalah mereka, lagi pula bukan haknya untuk ikut campur dalam masalah antara Wicky dan kakaknya. Dia percaya bahwa kakaknya tidak akan bertindak lebih jauh dari apa yang ia lihat. Wigih hanya memukul Wicky sekali, apa lagi ini masih berada di ruang lingkup tempat kerjanya, Wigih bukan pria gegabah yang melakukan hal bodoh yang dapat merugikan dirinya sendiri.
"Brengksek!! Seharusnya aku memukulmu dari dulu, di saat aku tahu semua juice strawberry yang aku tinggalkan untuk Jully di meja kelasnya kau buang dan membuat Jully menyimpulkan sendiri bahwa surat yang kukirim untuknya berasal darimu." Ucap Wigih datar dan dingin namun menekan. Kedua tangannya mencengkeram kerah baju Wicky lalu menghempaskannya begitu saja.
"Tapi melihatmu memintaku untuk menjauh darinya dengan wajah memohonmu itu, membuatku percaya bahwa kau akan membahagiakannya kelak. Melihat Jully yang terlihat memandangmu penuh damba membuatku berkecil hati dan memilih mundur. Namun sekarang itu merupakan penyesalan terbesarku, seharusnya aku tidak pernah mengalah padamu." Suara Wigih meski tidak tinggi lagi namun terdengar dalam dan menekan.Terlihat dia mengepalakan jari-jari tangannya dengan kuat sehingga buku-buku tangannya memutih. Dia sedang menekan emosinya.
"Aku minta maaf padamu kak.... Aku memang laki-laki yang bodoh. Aku sungguh berdosa padamu." Tak disangka Wicky langsung merosot, berlutut di hadapan Wigih dan itu membuat Ernita kembali terperangah dengan apa yang ia lihat. Sedangkan Wigih masih berdiri tegak memandang dingin pada Wicky seakan tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh lelaki di hadapannya itu.
"Sudah tidak ada gunanya kau melakukan hal ini. Aku ingin memaafkanmu namun hatiku masih begitu sesak, aku sendiri masih belum bisa memaafkan diriku sendiri yang telah melepaskan Jully untukmu." Setelah mengatakan hal itu Wigih segera berlalu pergi meninggalkan Wicky yang masih duduk bersimpuh dengan wajah yang menunduk, air matanya mengalir pelan melewati kedua pipinya, dia benar-benar menyesal karena telah melukai dua orang sekaligus, dua orang yang mungkin akan bahagia jika dia tidak menghalanginya.
"Huuff... Hampir saja aku mati berdiri karena harus menahan napas berkali-kali, untung di lorong ini sedang sepi karena ruang VIP lebih privacy. Kalau tidak mungkin mereka sudah jadi tontonan banyak orang." Gumam Ernita lirih, berkali-kali ia harus mengelus dadanya dan beruntung hari ini dia ke Rumah Sakit tanpa membawa Leo yang super berisik.
"Ahh... Mungkin hari ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Jully." Gumam Ernita lagi dan langsung membalikkan badan untuk melangkah pergi kembali pulang ke rumahnya.
Kembali ke sekarang...
Saat ini Jully kembali ke kamar inapnya ditemani oleh Wigih, sedangkan Ernita sudah kembali pulang karena Leo terlihat sudah mengantuk dan Jully harus kembali untuk beristirahat. Mereka terlihat hanya diam ketika berjalan menyelusuri lorong-lorong Rumah Sakit. Terlihat jelas rasa canggung diantara mereka berdua. Jully melirik pergelangan kiri tangan Wigih, diam-diam dia tersenyum tipis. Selain jam tangan yang bertengger manis di pergelangan kokoh tangan Dokgan itu, juga terdapat gelang couple yang sama dengan apa yang pernah Jully terima di masa lalu. Entah di masa ini dimana pasangan gelang itu yang seharusnya dia terima?
"Dok..."
"Jully..."
Mereka tidak sengaja memanggil satu sama lain secara bersamaan.
"Haha... Kau duluan." Ucap Wigih.
"Tidak, sebaiknya dokter duluan." Tolak Jully tegas.
"Baiklah... Aku hanya ingin bertanya, apakah setelah kepulanganmu besok, kita masih bisa sering bertemu?" Tanya Wigih ragu-ragu.
"Tentu saja dok, selama dokter tidak sibuk dengan pasien-pasien dokter yang lainnya." Jawab Jully dengan senyum mengembang dan itu sukses membuat Wigih bernapas lega serta ikut mengembangkan senyumnya.
"Ohh ya, tadi kamu ingin mengatakan apa?" Tanya Wigih kemudian.
"Ahh... Aku lupa dok, lagian itu tidak penting hehehe..." Sahut Jully, sebenarnya dia ingin menanyakan perihal gelang itu namun ia urungkan.
"Mungkin lain kali saja jika kami bertemu lagi di lain tempat, tidak di sini." Gumam Jully dalam hati.
Mereka berdua telah sampai di kamar inap Jully, Wigih segera membukakan pintu untuk Jully. Saat mereka berdua telah masuk ke dalam kamar tersebut telah ada orang lain selain bu Susi yang memang sedari tadi berada di dalam sana menunggui anaknya.
"Hallo sayang... Kamu dari mana saja? Di saat aku datang kenapa kamu tidak ada?" Sambut lelaki hitam manis itu sedikit merajuk.
"Auliya...!!" Jully langsung menghambur dalam pelukan lelaki yang ia panggil Auliya itu saat lelaki itu merentangkan kedua lengan tangannya.
"Aku merindukanmu nenek lampir..." Ucap Auliya yang masih memeluk Jully.
"Apa katamu?!" Jully melepaskan pelukannya menatap sengit lelaki di depannya.
"Ahh maksudku sayang..." Auliya menarik lagi Jully dalam pelukannya, sudut bibirnya terangkat, sudah lama dia tidak menggoda kakak sepupunya itu. Ya, Auliya lelaki hitam manis itu adalah adik sepupu Jully. Dia memang sering memanggil Jully dengan kata sayang sehingga membuat orang lain yang tidak mengenal mereka menjadi salah paham seperti lelaki yang tengah berdiri memandang kemesraan dua sepupu itu. Siapa lagi kalau bukan Wigih? Sudah jelas saat ini hatinya tengah berkecamuk.
"Siapa sebenarnya lelaki itu?" Tanya Wigih dalam hatinya.
Bersambung....