Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 19 Mencari Jawaban



Jully menghirup udara pagi dalam-dalam, meresapi kesegarannya lewat wangi bunga dan dedaunan yang membuat hatinya damai. Pagi ini dia sudah berada di depan gerbang sekolahnya, melakukan aktifitasnya yang sempat tertunda dua hari terakhir ini.


"Hmmm senangnya kembali ke sekolah." Gumamnya.


Dia merasa lebih semangat dari hari sebelumnya. Ada hal yang harus segera dia selesaikan, Jully tidak ingin menundanya lagi karena ia tidak tahu sampai kapan waktu akan mengembalikannya kembali ke tempat semula. Sebelum waktu itu tiba semuanya harus selesai sehingga tidak ada lagi penyesalan dikemudian hari.


"Hai beeebb, gimana udah enakan?" Tiba-tiba Kansari datang dari belakang dan langsung merangkul pundak Jully, membuat gadis itu kaget.


"Sarijah! Bikin kaget saja!" Pekik Jully, sedangkan Kansari hanya meringis memperlihatkan sederet giginya yang putih dan rapi seraya menggumamkan kata maaf.


"Ehh Sar, kamu gak bawa motor?" Tanya Jully dengan mata menelisik ke arah samping Kansari.


"Bawa kok, udah aku parkir di parkiran depan, kalau di belakang males ngambilnya susah." Kansari menjawab dan Jully hanya mengangguk dengan mulut membulat menyerukan huruf O tanpa suara.


"Pulangnya nebeng ya? hehe.." Pinta Jully.


"Sipp... Masuk yuk beb!" Ajak Kansari.


Mereka berdua melangkah menyusuri lorong-lorong sekolah hingga sampai ke kelas yang dituju. Di sana ternyata masih sepi, hanya dua anak yang sudah datang lebih awal yaitu Raning yang terlihat sedang membolak balikkan buku LKSnya dan Ernita yang nampak tengah menidurkan kepalanya di atas meja bangkunya, matanya terpejam, sepertinya dia sedang tidur. "Untuk apa datang lebih pagi jika pada akhirnya hanya untuk tidur di kelas? Entahlah, mungkin dia harus berangkat lebih awal karena jarak rumahnya yang jauh dari sekolah." Itu yang ada dipikiran Jully saat melihat Ernita, karena tidak sekali atau dua kali Jully melihat Ernita tertidur di pagi hari dan dia akan bangun tepat setelah guru dijam pertama masuk ke kelas mereka. Jully tidak tahu jika selama ini Ernita lah yang meletakkan juice strawberry dan menyelipkan surat dari si Yuyu ke dalam laci bangku miliknya. Tentu saja semua itu atas permintaan atau lebih tepatnya perintah dari kakanya yaitu Wigih Sasongko si Ketos ganteng pujaan sekolah ini.


"Hai Jull, apa kabar? Sudah sehat?" Sapa Raning begitu melihat Jully memasuki kelas bersama Kansari.


"Alkhamdulillah sudah sehat, makasih." Jully menjawab dengan tersenyum manis.


"Ahh.. Kamu sudah datang dari tadi Ning?" Tanya Jully seraya mengedarkan pandangannya kesekelilling ruangan kelas.


"Gak kok, baru saja sebelum kamu masuk, sekitar tujuh menitan sebelum kamu." Jawab Raning mengingat ingat. "Ernita datang lebih awal dari aku dan dia sudah tertidur sejak aku datang." Lanjutnya.


"Apa benda itu sudah ada di mejaku sejak kamu datang?" Tanya Jully sambil menunjuk kotak juice strawberry yang sudah ada di mejanya.


"Iya, sudah ada." Jawab Raning jujur.


"Berarti jawabannya ada pada Ernita" Gumam Jully dalam hati.


"Memangnya kenapa ya Jull?" Tanya Raning penasaran.


"Ohh gak papa, cuma nanya saja." Jawab Jully setenang mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan, kemudian dia berlalu dari hadapan Raning dan menuju mejanya diikuti Kansari yang sedari tadi hanya diam menyimak.


Jully meraih kotak juice di hadapannya, ada stiker dengan emoti smile tertempel di kotak tersebut. Memandangnya sekilas lalu memasukkannya ke dalam tas sekolahnya. Kemudian dia merogoh laci di bawah mejanya, seperti biasa sepucuk surat dengan sampul biru muda sudah tergeletak anteng disana. Jully mengambilnya, dia merasa isinya lebih berat dari biasanya, ada sesuatu di dalamnya namun ia tak ingin membukanya sekarang, dia akan menunggu hingga nanti sepulang sekolah. Diam-diam Kansari memperhatikan pergerakan Jully, kemudian dirinya mendekatkan badannya ke arah Jully seraya berkata lirih...


"Jull, aku tahu kecurigaanmu, apa perlu aku tanyakan lansung ke Ernita?"


"Jangan! Biar aku sendiri saja yang menanyakannya." Cegah Jully.


"Gak papa biar aku saja." Kansari berdiri dari duduknya hendak membangunkan Ernita dan" menanyakan kebenaran yang masih menjadi praduga. Namun segera di cegah oleh Jully.


"Please biar aku saja, aku takut kamu terbawa emosi." Kansari pun pasrah setelah mendengar penuturan Jully. "Lagian dia masih tidur, tidak enak membangunkan orang yang sedang tidur, biar nanti saja." Lanjut Jully, Kansari mengangguk dan kembali duduk di kursinya.


Kelas mulai ramai dan waktu begitu cepat berlalu hingga jam istirahat tiba begitu suara bell berbunyi, siswa siswi berhamburan keluar kelas untuk mengganjal perut mereka yang sudah keroncongan atau hanya sekedar keluar dari kelas untuk menjauh dari rasa penat setelah pelajaran usai, mesti tak sedikit dari mereka yang memilih untuk tetap tinggal di dalam kelas. Seperti halnya Jully cs, mereka masih duduk anteng di dalam kelas. Jully berdiri dari duduknya, tangannya menggenggam kotak juice strawberry yang tadinya ia simpan di dalam tasnya, menghampiri Ernita yang hendak melangkah pergi.


"Ernita tunggu sebentar." Panggil Jully membuat langkah Ernita terhenti.


"Iya, ada apa ya Jull?" Tanya Ernita.


"Boleh, tanya apa?" Jawab Ernita yang sebenarnya merasa was-was tentang apa yang akan ditanyakan Jully.


"Begini, apa tadi pagi kamu datang lebih dahulu daripada yang lainnya?" Tanya Jully.


"Aku rasa...tidak, saat aku datang sudah ada Wicky di sini." Jawab Ernita mencoba mengingat.


"Wicky?" Tanya Jully tak percaya.


"Iya, Wicky yang duduk di bangku sebelah sana." Ernita mencoba meyakinkan Jully atas jawabannya sambil menunjuk ke arah tempat duduk Wicky.


"Tapi waktu aku dan Kansari datang hanya ada kamu dan Raning di kelas ini."


"Ohh soal itu dia langsung keluar lagi setelah melihatku datang dan aku langsung duduk di tempatku, masalah Raning aku tidak tahu kapan dia datang karena aku langsung tidur di bangkuku setelah Wicky keluar." Jawab Ernita menjelaskan.


"Lalu...apakah juice strawberry ini sudah ada ketika kamu datang?" Jully bertanya dengan menunjukkan sekotak juice yang ada digenggamannya.


"Sudah, saat aku datang aku sudah melihat Wicky berdiri di samping mejamu dan memandang juice itu." Jawaban Ernita barusan membuat Jully memicingkan matanya. Ia berfikir untuk apa Wicky mendekati bangkunya di saat semua anak belum ada yang datang? Apa mungkin Mr. W itu benar-benar Wicky? Namun Jully segera menepis pemikiran itu, dia tak ingin hanya menduga-duga, yang dia butuhkan adalah jawaban yang pasti.


"Jull.. Juuull... Jully!" Panggil Ernita seraya menepuk pundak Jully, karena gadis itu tak langsung menjawabnya.


"Ahh iya Er ada apa?" Tanya Jully setelah sadar dari lamunannya.


"Aku tanya, apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan? Soalnya aku sudah lapar, mau jajan di kantin." Ernita memegang perutnya yang memang benar-benar sangat lapar sekarang, tadi pagi dia hanya memakan selembar roti selai dan air putih untuk sarapan karena harus memburu waktu agar sampai seawal mungkin dadi teman-temannya.


"Upss sorry, kamu boleh pergi, terimakasih ya." Ucap Jully merasa tak enak.


Setelah Ernita melangkah keluar dari kelas, Kansari dan lainnya mendekati Jully, penasaran apa yang barusan Jully bicarakan bersama Ernita.


"Bagaimana beb? Apa kata Ernita?" Tanya Kansari dengan rasa penasaran. Namun ketika Jully hendak menjawab, terlihat Wicky yang tadinya keluar saat bell istirahat berbunyi kini kembali masuk ke dalam kelas. Jully langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Wicky yang tengah bergurau dengan Ale.


"Wick, ikut aku sebentar!" Ajak Jully sambil menyeret ujung lengan seragam Wicky. Wicky yang tak siap dan hampit terjengkang karena perbuatan Jully hanya bisa menurut pasrah mengikuti Jully meski agak kaget dan bingung.


Jully mengajak Wicky bicara di luar kelas, mereka berjalan ke arah lapangan basket, lumayan jauh dari kelas mereka. Pemandangan itu tak sengaja terlihat oleh mata Ernita yang sedang duduk di kantin menikmati makan siangnya. Arah lapangan basket dari kelas Jully memang melewati kantin sekolah. Ernita memandang mereka berdua yang berjalan tergesa gesa dengan Jully berada di depan sedangkan Wicky mengikutinya dari belakang.


"Pasti yang terjadi dengan meraka saat ini karena ucapanku kepada Jully barusan, sorry ya Wick..." Ernita bergumam sendiri. Dia merasa tak enak terhadap Wicky karena dirinya membawa-bawa nama Wicky untuk menyempurnakan alibinya.


Flash Back...


"Duuhh kak Wigih ni bener-bener ngrepotin deh! Katanya hanya sampai dia kembali aku melakukan tugas ini, nyatanya dia nyuruh aku ngelakuin lagi kan... Kalau bukan abang sendiri aku mah ogah! Mana pagi-pagi buta pintu kamar udah digedor, trus sarapan sekenanya pula. Awas saja kalau dia sampai ingkar janji!" Ernita menggerutu sepanjang jalannya menuju ke ruang kelasnya. Pagi ini dia harus kembali menuruti permintaan yang lebih ke sebuah perintah dari kakaknya untuk menaruh sekotak juice strawberry dan sepucuk surat di meja Jully. Sesampainya di kelas, Ernita langsung melakukan tugasnya, menaruh barang titipan kakaknya ke tempatnya masing-masing. Dia bermaksud segera keluar dari kelas agar tak ada seseorang mencurigainya, namun dia mendengar derap kaki melangkah semakin mendekat ke kelasnya. Tak ingin ketahuan, dia segera bersembunyi dibalik pintu. Ia melihat seseorang memasuki kelasnya dan orang itu adalah Wicky. Ernita memperhatikan lelaki itu dari balik pintu kelas. Terlihat Wicky melangkah mendekati meja Jully, memandang sendu ke arah juice strawberry yang ada di atas meja Jully. Wicky hendak meraih kotak juice itu, Ernita yang melihatnya segera keluar dari tempat persembunyiannya, seolah-olah dia baru saja datang. Wicky pun terkejut dan menjadi salah tingkah, kemudian dia langsung pergi meninggalkan Ernita begitu saja.


"Huuff... Untung gak ketahuan, tapi tadi Wicky mau ngapain juice ini ya? Bodo amatlah yang penting semuanya aman, kalau gak bisa gawat dapat omelan si kutu buku." Ernita bermonolog, mensyukuri apa yang terjadi barusan masih aman terkendali. Kemudian dia menuju bangkunya, mendudukkan diri disana dan memilih untuk memejamkan matanya yang terasa masih kantuk hingga bell masuk berbunyi.


Flash Back Off...


Jully dan Wicky kini tengah berada di dekat lapangan basket, berdiri berhadapan saling memandang. Jangan harap kalian berfikir mereka memandang penuh cinta. Mereka memandang dengan penuh tanda tanya di otak mereka masing-masing. Kemudian Jully membuka suaranya terlebih dahulu...


"Wicky... Mari kita bicara dari hati ke hati."


Bersambung...