
"Jull... Jully?!" Dari tadi Ernita memanggil-manggil Jully namun wanita itu hanya terdiam dengan pandangan kosong seakan tak mendengar panggilan Ernita.
"Jully!" Ernita menepuk bahu Jully, membuat Jully tersentak dan sadar dari lamunannya.
"Ahh i iya??" Jawab Jully tergagap.
"Dari tadi aku panggil-panggil kamu lho... Kok bengong aja, mikirin apa?" Tegur Ernita.
"Ahh itu... Kamu tambah cantik saja, sampai bikin aku terpesona, makin seksi saja kamu." Ujar Jully untuk menutupi pikiran-pikiran anehnya.
"Ihh bisa aja kamu, padahal suami aku bilangnya aku makin semok saja, perlu dikecilin katanya. Sebel kan? Lelaki emang gitu kalau sudah nikah, protesnya banyak!" Ungkap Ernita.
"Masa sih dokter Wigih bilang seperti itu ke kamu? Cantik gini lho..." Ucap Jully sedikit mancing-mancing. Tapi justru membuat Wigih dan Ernita saling pandang sejenak lalu mereka berdua tertawa lepas bersama.
"Lho... Kenapa kalian tertawa?" Tanya Jully bingung dengan reaksi mereka.
"Haha... Jully... Jully, kak Wigih ini bukan suami aku, tapi kakak aku." Ujar Ernita seraya mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya karena tertawa terlalu kencang.
"Tapi kan itu bocah tadi manggil dokter Wigih..." Ucapan Jully terjeda karena langsung disambar oleh Wigih.
"Papa? Memang dari pertama kali Leo bisa bicara dia manggil aku papa, jadi keterusan sampai sekarang. Aku dan Ernita ini saudara kandung." Ungkap Wigih yang membuat Jully tidak percaya menemukan satu lagi fakta tentang Wigih yang tidak ia ketahui.
"Hahh?! Beneran? Kok aku gak tau ya... Teman-teman SMA juga gak ada yang ngebicarain soal ini." Ucapan Jully seakan meminta penjelasan lebih.
"Nah itu dia... Aku yang nyuruh buat kak Wigih ngerahasiain kalau aku ini adik kandungnya." Jawab Ernita.
"Kenapa?" Tanya Jully lagi.
"Ribet ntar urusannya! Kamu tahu sendiri kan gimana populernya kakak aku ini... Kalau cewek-cewek di sekolah pada tahu kalau aku ini adiknya yang ada semua cewek itu pada ngrecokin aku buat nyomblangin mereka sama dia." Jelas Ernita sambil menunjuk ke arah kakaknya.
"Bisa gitu ya?" Jully terheran-heran.
"Bisalah, karena aku sudah ngalamin sendiri waktu SMP dulu gimana rusuhnya ngurusin fansnya kak Wigih, kalau saja dia gak mau merahasiakan ini semua, aku gak bakalan mau satu sekolah sama dia." Cerocos Ernita sambil melirik tajam ke arah Wigih yang masih menggendong Leo, rasanya Ernita masih sebal jika mengingat kejadian itu.
"Udah dong Er... Jangan natap kakak kaya gitu, serem tau! Mending kamu omongin tujuan kamu yang sebenarnya pada Jully karena dia gak boleh lama-lama di luar dan harus istirahat." Tegur Wigih pada adiknya.
"Kamu ada perlu sama aku?" Tanya Jully to the point dan Ernita langsung mengangguk.
"Selain buat jenguk kamu, ada hal lain yang ingin aku sampaikan padamu Jully." Ungkap Erntia yang membuat Jully semakin dirundung rasa penasaran.
"Kok aku jadi deg-degan gini ya?" Ungkap Jully dalam hati.
"Sebelumnya aku mau minta maaf dan juga sekalian terimakasih banyak sama kamu." Ucap Ernita dengan mimik wajah yang kini serius dan juga tulus.
"Tunggu deh Er... Maksud kamu apa? Aku gak ngerti." Sela Jully bingung dengan ucapan Ernita.
Ernita menatap Jully lembut sembari meraih tangan Jully yang bebas dari selang infus dan menggenggamnya.
"Aku sangat, sangat, sangaatt berterimakasih padamu Jully, karena telah menyelamatkan Leo anak lelakiku satu-satunya saat kecelakaan itu, jika tidak ada kamu aku tidak tahu pasti apa yang akan terjadi pada Leo. Dan aku juga minta maaf karena menyelamatkan anakku kamu harus melewati rasa sakit ini begitu lama. Maafkan aku Jully, aku tidak bisa menjaga anakku dengan baik waktu itu sehingga kamu mengalami hal buruk ini." Satu hal lagi kenyataan yang Jully ketahui, atau mungkin ini merupakan jalan takdirnya agar terhubung lagi dengan Wigih melalui Leo keponakannya. Ernita menangis tersedu, menundukkan kepalanya sambil menggenggam erat jemari Jully.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, ini semua hanyalah musibah, semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa dan aku ikhlas itu." Ucap Jully sembari tersenyum tulus dibalik matanya yang berkaca-kaca.
"Tapi tetap saja aku merasa bersalah padamu, sebagai ibu aku sudah lalai menjaga anakku sehingga mencelakakan orang lain...hiks.." Ujar Ernita yang masih saja mengeluarkan banyak air mata itu.
"Kalau begitu kamu tinggal intropeksi diri dong... Anggap ini sebagai pelajaran buat kamu intuk lebih berhati-hati." Ernita mengangguk dalam tangisnya.
"Dan lagi, ini aku anggap sebagai takdir Tuhan sehingga kita bisa bertemu lagi seteleh sekian lama." Lanjut Jully.
"Juga.... Karena hal ini pula aku bisa kembali lagi menikmati masa mudaku dan mengetahui hal-hal yang tidak pernah aku ketahui." Tambah Jully dalam hati.
"Jadi, kamu maafin aku kan?" Tanya Ernita disela-sela isakannya dan Jully pun mengangguk dengan senyum tulusnya. Sedetik kemudian Ernita menghambur memeluk Jully.
Perlahan mereka mengurai pelukannya. Jully melirik bocah yang digendong Wigih tak jauh dari mereka duduk. Bocah lelaki yang dipanggil Leo itu menatap sendu kearah mommy-nya yang menangis bersama Jully.
"Ohh ya, sebagai gantinya kamu harus memperkenalkanku pada si pembuat onar dong..." Ucap Jully sambil menunjuk ke arah Leo dengan dagunya.
"Hahaa... Tentu saja, kak bawa Leo kemari!" Seru Ernita pada kakaknya. Wigih pun berjalan ke arah mereka berdua dengan Leo yang masih berada digendongannya.
Wigih menurunkan Leo dari gendongannya. Bocah lelaki yang tampan dengan pipi yang cubby itu langsung memeluk Ernita setelah turun dari gendongan pamannya.
"Mommy... Kenapa mommy nangis? Leo nakal ya?" Tanya bocah kecil itu dengan wajah sendunya.
Ernita mengangguk pelan, "Iya, Leo nakal, jadi Leo harus minta maaf." Ernita selalu mengajarkan pada anaknya jika melakukan kesalahan maka harus mengakui dan meminta maaf agar jika dewasa nanti tidak menjadi seorang yang pengecut.
"Leo minta maaf ya mommy... Leo sudah bikin mommy sedih dan nangis." Ucap bocah lima tahun itu dan langsung memeluk mommy-nya.
"Leo minta maafnya bukan ke mommy, tapi ke tante Jully." Ucap Ernita membuat Leo kebingungan dan melihat ke arah Jully lalu berganti lagi ke arah Ernita. Melihat anaknya yang kebingungan membuat Ernita tersenyum kecil.
"Tante Jully itu yang menyelamatkan kamu waktu di jalan raya itu sayang, kamu ingat kan?" Lanjut Ernita.
Leo beralih pandangannya pada Jully, tatapannya meneliti wajah Jully yang tengah tersenyum padanya.
"Ahh Puteri Tidur!" Tiba-tiba Leo berseru dengan mata membulat lucu.
"Puteri Tidur?" Jully membeo.
"Mommy Leo ingat sekarang! Tante ini Puteri Tidur yang waktu itu kan?" Seru Leo lagi sembari bertanya pada mommy-nya dan Ernita pun mengangguk.
"Nama kamu Leo?" Tanya Jully pada anak kecil itu yang langsung mengangguk pasti. "Leo pernah ketemu sama tante setelah kecelakaan?" Tanya Jully lagi dan langsung dianggukinya lagi.
"Leo sama mommy, daddy dan juga papa pernah ketemu sama tante tapi tante gak mau bangun-bangun, tante lagi marah sama Leo ya? Leo minta maaf tante, Leo udah nakal." Celoteh anak kecil itu sembari menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
"Leo... Angkat kepalanya dulu dong..." Perintah Jully lembut membuat Leo mengangkat kepalanya sehingga matanya bertatapan dengan mata Jully.
"Sebelumnya tante mau tanya sama Leo, waktu itu kenapa Leo berlari ke jalan raya begitu saja? Itu kan berbahaya sayang..." Tanya Jully lembut.
"Pesawat terbang Leo meluncur ke jalan raya tante, Leo mau tangkap." Jawab bocah itu lugu.
"Lain kali tidak boleh seperti itu lagi ya...! Di jalan banyak motor dan mobil, nanti kalau tertabrak rasanya sakit." Tutur Jully menasehati bocah kecil di hadapannya itu.
"Kaya tante waktu nyelamatin Leo waktu itu ya? Tante jadi ketabrak mobil, pasti sakit. Maafin Leo tante..." Leo kembali merasa bersalah dan menundukkan kepalanya lagi, raut wajahnya kini terlihat begitu murung dan matanya berkaca-kaca.
"Karena Leo sudah mengakui kesalahan Leo pada tante, maka tante akan maafin tapi dengan satu syarat." Ujar Jully.
"Apa itu tante?" Leo langsung menengadahkan wajahnya kembali dengan penuh harap.
"Cuku Leo jangan mengulangi kesalahan yang sama, jika Leo ingin menyeberang jalan harus meminta tolong pada orang yang lebih dewasa karena anak kecil tidak boleh menyeberang jalan raya sendirian, itu berbahaya. Mengerti?" Nasehat Jully pada Leo itu langsung diangguki bocah itu.
"Mengerti tante!" Jawab Leo mantab. "Jadi Leo sudah dimaafin?" Tanya Leo dengan tatapan puppy eyes-nya yang menggemaskan, membuat siapapun yang melihatnya luluh.
"Iya, tante maafin." Balas Jully dengan tersenyum cerah.
"Terimakasih tante..." Ucap Leo sembari menjinjitkan kakinya dan mencuri satu kecupan kecil di pipi Jully dan itu sukses membuat semua orang yang di sana terkesima oleh tingkahnya.
"Ohh... Pembuat onar yang manis." Ucap Jully sembari menoel pipi cubby Leo gemas.
"Maaf kak, anakku selangkah lebih maju dari pada kakak." Bisik Ernita pada Wigih sambil mengerlingkan matanya pada lelaki yang kini terdiam membatu memandang Leo dan Jully yang tengah tersenyum ceria.
Bersambung...