
Ternyata tidak butuh waktu lama makanan yang mereka pesan sudah diantar ke meja mereka padahal antrian di stand-stand makanan cukup ramai. Beruntunglah mereka karena yang datang untuk mengantri adalah Rendi, karena ketampanan dan populeritasnya di sekolah banyak cewek-cewek yang antri di stand makanan rela memberikan antrian mereka pada Rendi. Disenyumin sedikit saja semua cewek di sana sudah pada minggir semua. Disyukuri saja, untung si Rendi yang antri makanan, kalau yang antri Jully paling sekarang mereka masih belum menikmati makan siang hari ini. Apalagi Nouval yang sekarang ini menikmati rujak cingurnya bagaikan kesetanan saking lahapnya.
"Ni anak lagi kelaparan atau apa ya? Buru-buru amat." Kata Wigih yang merasa heran dengan sahabatnya yang satu itu.
"Kesambet kali Gih!" Sahut Rendi.
"Enak saja! Ini ni enak banget meski gak seenak yang kemarin aku makan sih." Jawab Nouval sambil tetap mengunyah makanannya.
"Aku tahu tempat yang enak beli rujak cingur, dekat daerah rumahnya Rere." Kansari menimpali.
"Nah itu... Aw aduhh!" Tiba-tiba Nouval mengaduh seperti orang kesakitan saat akan meladeni ucapan Kansari.
"Kenapa lagi kamu Val?" Tanya Wigih yang heran dengan tingkah laku Nouval sedari tadi.
"Ini gak sengaja lidahku kegigit." Nouval beralasan sambil matanya melirik Rere yang ada di sebelahnya, sementara Rere dengan santainya menikmati soto ayam di hadapannya.
"Ada-ada aja kamu Val, mangkanya kalau makan kalem dikit napa." Ujar Rendi.
"Iya, iya..." Balas Nouval yang melirik Rere lagi, tapi Rere seakan tidak merasa berdosa.
"Beneran ni cewek dari luar saja kelihatan kalem, gak tahunya barbar, apa kabarnya kalau kita berdua sudah jadian? Belum genap sehari aku paling sudah jadi rempeyek. Tadi kena cubitan setrum, sekarang kena injakan maut. Untung sayang." Ucap Nouval dalam hati. Mungkin setelah ini dia harus beneran hati-hati kalau mahu ngomong jika ada banyak orang seperti ini, karena hampir saja dia keceplosan.
"Ohh ya tadi kakak mau bilang apa?" Tanya Kansari yang masih saja penasaran apa yang akan Nouval katakan tadi.
"Yang mana?" Tanya Nouval pura-pura lupa.
"Yang tadi sebelum kakak kegigit lidahnya." Emang Kansari ini keponya kebangetan.
"Ohh aku cuma mau bilang kapan-kapan nyoba beli rujak cingur di sana." Balas Nouval hati-hati sambil waspada siapa tahu setelah kena cubitan dan injakan dia bakal kena jurus yang lainnya dari Rere haha..
"Minta anter Rere saja, kan dekat tuh sama rumahnya." Seloroh Ningsih.
"Uhuk...uhukk!" Rere tiba-tiba jadi terbatuk mendengar ucapan Ningsih.
"Ya ellaahh Re... Pakai acara kesedak segala, nih minum dulu." Dengan santainya Ningsih berujar seraya mengulurkan minuman untuk Rere. Ningsih ini emang suka iseng, dia pasti ngerasa ada yang terjadi antara Rere dan Nouval saat mereka berdua pulang sekolah bareng. Sebenarnya hal ini juga ditangkap oleh Jully tapi dia tidak ingin ikut campur terlalu dalam sebelum Rere sendiri yang menceritakannya. Kalau belum ingin cerita itu berarti Rere tidak ingin Jully dan teman yang lainnya tahu. Cukuplah mereka sebagai sahabat yang baik hanya bisa menunggu sampai Rere siap bercerita.
Wigih memandang Jully, ada perasaan sedih karena bagaimanapun apa yang terjadi pada Jully kemarin lusa secara tidak langsung karena dirinya. Karena dirinya yang belum siap berterus terang pada Jully, karena dirinya Jully harus mencari-cari kebenarannya sendiri, karena dirinya yang terlalu pengecut, karena dia takut rasa cintanya pada Jully suatu saat akan menyakiti gadis itu terlebih jika Jully ternyata juga menyukainya. Bukannya tidak suka jika Jully suatu saat menyambut cintanya, hanya saja dia takut suatu saat dia akan meninggalkan Jully. Mata Wigih menatap Jully nanar, ada kesedihan di sana.
"Kak... Kak, kak Wigih!" Jully menepuk lengan Wigih karena lelaki itu diam saja saat Jully memanggil-manggil namanya.
"Ehh.. I iiya, ada apa Jull?" Wigih tergagap kaget.
"Kakak dari tadi aku panggil lho... Tapi diam saja, kenapa? Kaki kakak terasa sakit lagi?" Tanya Jully khawatir.
"Nggak kok, hanya saja..." Ucapan Wigih menggantung, matanya tidak sengaja menangkap gelang yang dipakai Jully dipergelangan tangan kirinya. Ya, itu gelang yang dia kasih untuk Jully. Sudut bibirnya melengkung ke atas, lelaki itu tersenyum.
"Gelang kamu cantik, cocok sekali kamu pakai." Ucapnya kemudian.
"Ohh itu aku juga mahu nanya ke Jully, kamu beli di mana beb? Sepertinya masih baru ya? Soalnya aku belum pernah lihat kamu memakainya." Tiba-tiba Kansari menyambar obrolan Wigih dan Jully.
"Ahh ini hadiah dari seseorang." Jawab Jully dengan tersipu malu.
"Ihh... Kok jawabnya malu-malu gitu, hayooo dari siapa? Pasti dari si Yuyu ya?" Emang Kansari ini mulutnya gak bisa direm kalau sudah kelewat heboh. Bikin semua teman dan kating mereka yang duduk satu meja dengannya penasaran dengan ucapan Kansari.
"Yuyu?" Rendi membeo sambil menautkan kedua alisnya tanda tidak mengerti.
"Ehkm... Sorry, sorry gak sengaja bro." Wigih meminta maaf karena hampir saja semburannya itu mengenai Nouval.
"Pelan aja kalau minum bro." Kata Nouval memperingatkan, Wigih pun mengacungkan jempol tangannya sebagai jawaban.
"Busyet... Gitu banget pemilihan katanya, untuk gak diganti namanya jadi Rajungan." Batin Wigih yang gak habis pikir Cancer Boy sebagai nama samarannya diganti jadi Yuyu. Wigih hanya bisa tepok jidat saja. Dimaklumi saja kalau Kansari sahabat Jully yang satu itu memang rada unik orangnya.
"Emang dia siapa sih? Pacar Jully?" Tanya Nouval sekenanya.
"Bukan!" Jully langsung menjawabnya cepat.
"Ohh... Gebetan? Duhh kasihan dong sama yang lagi antri, ternyata sudah diserobot dulu sama si Yuyu Yuyu itu... Hmppt!" Nouval menahan tawanya sambil melirik Rendi dan Wigih secara bergantian. Rendi yang merasa tersindir hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, sementara Wigih tetap slow menikmati bakso di hadapannya.
"Emm jangan dengerin Kansari, dia mah suka ngasal kalau ngomong." Ucap Jully sambil meringis canggung menahan malunya, kemudian dia menengok ke arah Kansari yang ada di sebelahnya sambil melotot dan bibirnya komat kamit tanpa suara, tapi Kansari tahu jelas ucapan Jully itu adalah "Awas Kau!" . Kansari membalasnya dengan cengiran sambil berucap "Sorry" lirih nyaris tak bersuara.
Akhirnya mereka yang ada di meja itu melanjutkan sisa makanan yang ada di mangkuk dan piring mereka masing-masing dengan suasana yang sedikit canggung.
🍓🍓🍓🍓🍓
Jully dan teman-temannya berjalan kembali ke kelas dengan perut yang kenyang, banyak mata yang melihat ke arah mereka saat mereka berjalan. Bagaimana tidak? Mereka berempat kini tengah berjalan beriringan dengan ketiga cowok most wanted di sekolah mereka tentu saja membuat banyak murid yang melihat dan berbisik-bisik membicarakan mereka. Ini saja sudah menarik perhatian warga sekolah, apalagi tadi disaat mereka makan siang bersama di kantin, tentu saja meja mereka menjadi pusat perhatian.
"Re, sadar gak sih dari tadi kita dilihatin mulu sama anak-anak sekolah ini?" Bisik Ningsih pada Rere yang berjalan di sampingnya.
"Iya, aku juga ngerasa." Balas Rere dengan berpisik juga.
"Kakak gak apa nih kakinya dibuat jalan seperti ini?" Tanya Jully yang berjalan tepat di samping Wigih.
"Gak apa-apa, kan aku jalannya pakai tongkat, amanlah." Jawab Wigih sambil melirik ke arah tongkatnya.
"Tapi kan capek juga berjalan seperti itu." Ujar Jully.
"Dari pada di kelas duduk mulu lebih capek lagi, bosen juga iya." Balas Wigih sendu.
"Semoga cepat sembuh ya kak, biar dapat berjalan normal lagi." Ucap Jully mendo'akan.
"Amin, makasih ya." Wigih mengamininya dengan tersenyum lembut ke arah Jully. Duuhh gimana Jully gak meleleh coba melihat senyum Ketosgan dambaan sejuta cewek di sekolah ini.
Mereka bertujuh akhirnya memisahkan diri di salah satu tikungan lorong kelas karena arah menuju kelas mereka berbeda. Namun di saat Wigih dan Nouval serta Rendi menuju ke arah kelas mereka, ternyata Anita sudah menunggu di depan kelasnya yang kebetulan bersebelahan dengan kelas Wigih dan Nouval, sementara Rendi memanglah satu kelas dengan Anita dan Daniel. Mereka bertiga pun berhenti sesaat, ketika hendak berjalan lagi untuk melewati Anita, langkah mereka tertahan karena dihentikan oleh gadis itu.
"Tunggu dulu, aku ingin bicara sebentar dengan kamu Gih." Pinta Anita. Wigih berhenti dari langkahnya, diliriknya Anita tanpa sepatah katapun.
"Pless Gih, aku mohon kali ini saja, aku janji tidak akan lama, setelahnya aku tidak akan mengganggumu lagi." Mohon Anita dengan tatapan sendu.
"Kalian duluan saja guys." Suruh Wigih pada Rendi dan Nouval.
"Okey, aku tunggu di kelas." Jawab Nouval.
Wigih beralih ke Anita, memandang dengan tatapan dingin.
"Sepuluh menit, tidak lebih." Ujarnya.
"Okey." Jawab Anita.
Bersambung....