
Siang hari di Smile Cafe...
"Eh tahu gak sih gaes... Jully sama si 'Yuyu' tu ibarat pacaran jaman bahula, udah jauh gak pernah ketemu pula, pakek acara surat suratan segala hihihii... " Kata Kansari lebay... Dan yang lainnya pada koor, "So sweet..." Ini nih gara-gara lambe bocornya Kansari, tu bocah emang suka kesleo lidahnya, pada tahu kan sekarang kalau selama ini Jully punya penggemar rahasia selain 'Mr. W' yang setiap hari kirim juice strawberry untuk Jully. Alhasil mereka semua disini, Rere, Ningsih dan pastinya Kansari si biang kerok pada godain Jully serta menuntut Jully buat menceritakan asal muasal datangnya surat rahasia ini.
"Ho'oh! Apa tu istilahnya? Tak..tak..tak apa ya? Timpal Ningsih yang bingung mengenai sebuah istilah hubungan lelaki dan perempuan.
"Ta'aruf beb... " Balas Kansari.
"Nah itu dia maksudku!" Ucap Ningsih.
"Yaelah... Kalian ini gak usah berlebihan dong! Orang ta'aruf itu meskipun tak pernah ketemu paling tidak diantara mereka pasti dan harus tahu betul asal usulnya, rumahnya, keluarganya, minimal pernah lihat fotonya, lha ini... Nama asli dia aja siapa aku tidak tahu, mau pacaran atau ta'aruf kaya gimana? Emang kalian mau beli kucing dalam karung?" Jelas Jully panjang lebar.
"Lha kok kucing sih beb? Meski dia pakek nama 'Yuyu', tapi kan dia tetap manusia bebeb Jully..." Gubrak!! Semuanya pada nyerah dah.. Kalau berurusan dengan kepinterannya Kansari.
"Trus kalau masalah juice strawberry itu gimana?" Tanya Rere, "Sudah pasti Wicky kan?" Tambahnya.
"Bukan." Jawab Jully singkat.
"Lho kok bukan? Sudah pasti itu ulah Wicky! Siapa lagi 'Mr. W' kalau bukan dia? Apa lagi selama ini cuma dia yang berusaha mendekatimu." Tanya Rere lagi.
"Bukan Re... Jully sudah pernah menanyakan hal itu langsung ke Wicky, tapi katanya bukan dia." Jelas Kansari.
"Bisa saja kan dia bohong, dia kan suka pura-pura bego gitu." Ningsih menambahkan argumen atas ketidakpercayaannya terhadap Wicky. Memang sih, siapa yang mudah percaya sama bocah tengil yang selalu mengganggu sahabatnya tersebut dengan tampang gantengnya yang menyebalkan itu?
"Namun tetap saja bukan dia orangnya, Wicky yang aku kenal bukanlah tipe lelaki yang melakukan sesuatu hal dengan cara diam-diam, dia lebih ke memperlihatkannya secara langsung. Dia tipe cowok yang suka mencari perhatian." Jelas Jully.
"Kamu ngomong seperti itu kaya kamu sudah pernah kenal lama saja dengan dia Jull." Ucap Rere curiga.
"Apa sih?! Ya gaklah!" Jawab Jully salah tingkah. "Udah deh... Kita ke sini kan buat ngerjain tugas, bukannya ngomongin masalah aku." Secepat mungkin Jully mengalihkan pembicaraan sebelum melebar kemana mana, karena dia tahu gimana mulut para sahabatnya ini yang tidak bisa direm, jadi lebih baik dia menghentikannya sampai disini.
🍓🍓🍓🍓🍓
Di sore yang gerimis ini, seorang lelaki remaja tengah duduk di kursi belajarnya dalam sebuah kamar tidur, kamar itu tertata rapi dengan nuansa biru dan putih, warna kesukaannya. Namun hanya meja belajarnya saja yang terlihat berantakan. Terlihat disana beberapa buku Fisika dan kertas-kertas penuh coretan berserakan di atas meja belajarnya dengan tak beraturan. Tiba-tiba pintu kamarnya perlahan terbuaka, seorang wanita sekitar umur empat puluhan tahun masuk dengan membawa nampan berisikan makanan ringan dan segelas juice. Tapi lelaki remaja itu tak menyadari kehadirannya, dia terlalu fokus dengan rumus-rumus fisika di hadapannya. Perlahan wanita tersebut mendekatinya dan meletakkan nampan yang dibawanya di sisi meja yang masih tersisa karna disana sudah terisi banyak buku. Lelaki itu sedikit terkejut, dan tersenyum setelahnya.
"Eh mama, kirain siapa?" Ohh, ternyata wanita tersebut adalah mamanya.
"Sayang, mama bawain cemilan sama juice strawberry buat nemenin belajar kamu. Mama tahu sebentar lagi kamu bakal ikutan Olimpiade Fisika sehingga hal ini menambah jam belajar kamu, tapi tetap perut tidak boleh kosong nanti malah gak bisa konsenterasi." Wanita itu membelai sayang rambut anaknya sembari tersenyum tulus, terlihat masih sangat cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi.
"Iya ma... "
"Ya sudah, mama tinggal dulu ya, nanti kalau masih lapar, mending kamu keluar dan turun ke dapur buat makan, mama masak rendang kesukaan kamu." Wanita itu melangkah keluar dari kamar anaknya, namun sebelum mencapai gagang pintu dia berbalik.
"Oh ya sayang, sejak kapan kamu suka juice strawberry?" Tanya mamanya.
Namun sang anak hanya tersenyum sambil mangangkat bahunya. Dan sang mama tak ambil pusing atas sikap anaknya yang mungkin tak bisa atau memang tidak mahu menjawab pertanyaannya, lalu ia memilih pergi dan keluar dari kamar anaknya.
Selang beberapa saat, pintu kamar lelaki itu terbuka kembali tanpa ketukan, tanpa permisi. Sang pemilik kamar hanya menoleh sebentar tak menghiraukan. Nampak seorang gadis muda berparas ayu seusia Jully saat ini masuk dan menghampiri sang lelaki, dia menyandarkan bokongknya di tepian meja belajar lelaki tersebut sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Dahinya berkerut, sembari berkata...
"Aku gak habis pikir ya... Gimana bisa otak kakak ini membagi antara pelajaran dan cinta tanpa mempengaruhi keduanya? Ckckck... Wigih Sasongko, anda benar-benar genius." Puji gadis tersebut yang ternyata merupakan adiknya. Ya, lelaki itu adalah Wigih Sasongko, si Ketua OSIS dambaan ciwi-ciwi sejuta umat di SMA Angkasa.
"Sombong amaaatt..." Balas adiknya dengan menyebikkan bibirnya.
"Mangkanya kalau kamu kepingin pintar seperti kakakmu ini, ya belajar dong... Jangan kerjaannya main melulu." Sindir sang kakak.
"Iihh.. Mana ada aku sering main?" Elaknya.
"Tadi siang siapa coba yang nongkrong di Smile Cafe sama teman-temanmu?" Jawab Wigih dengan smirk di bibirnya. Adiknya itu tentunya tidak bisa mengelak lagi karna sudah ketahuan olehnya.
"Kakak tahu dari mana? Kakak buntutin aku ya... Atau lagi menguntit Jully? Soalnya tadi siang itu Jully and the genk juga ada di sana." Kali ini Ernita yang mengeluarkan senyum menggoda untuk membuat kakaknya tak bisa berkutik. Jelas Wigih kalah telak kalau sudah menyangkut nama Jully. Walau sebenarnya dia memang tak sengaja melihat Jully beserta teman-temannya asyik bercanda di Smile Cafe ketika dirinya hendak ke toko buka di sebelah cafe tersebut.
"Siapa yang buntutin kamu apalagi menguntit Jully.. Gak ya, kakak tu gak sengaja lewat sana pas lagi ke toko buku yang ada di sebelah cafe." Bantahnya tak mau kalah, bisa malu kan kalau yang dikataka Ernita benar.
"Udah deh kak... Gak usah ngeles! Erni sudah tahu kok kalu yang naruh kotak juice strawberry di bangku Jully setiap hari itu kakak, bahkan kakak rela beli satu dus juice strawberry buat persediaan untuk di kasih ke Jully. Ya kan? Ngaku deh!" Ernita tak mahu kalah demi membuat Wigih kakaknya itu mengaku. Sedangkan Wigih terlihat mulai gelisah atas pernyataan adiknya yang mulai curiga atas dirinya. Bagaimana bisa adiknya itu mengetahui apa yang dilakukan dirinya seminggu terakhir ini. Padahal dirinya yakin kalau dia sudah melakukannya dengan sangat hati-hati agar tidak ada yang mengetahu identitas si Mr. W yang menjadi tanda tanya anak-anak di kelas Jully, murid baru yang sejak awal sudah mencuri perhatiannya.
"Dan juga, kakak kan yang naruh white cryshan di bawah laci mejanya Jully?" Tambah Ernita yang membuat kakaknya semakin kaget dibuatnya.
"Kok kamu tahu?" Tanya Wigih heran.
"Tu kan kakak ngaku... Gak usah kaget gitu kali kak... Kakak lupa kalau aku itu satu kelas sama Jully? Aku melihat sendiri Jully mengambil bunga tersebut dari lacinya." Ternyata Wigih memang lupa bahwa adiknya Ernita Manda Sasongko satu kelas dengan sang pujaan hati Jully Mahardika.
"Ya bisa jadi bunga itu dari orang lain, kamu bahkan tidak melihat siapa yang menaruhnya. Kamu hanya melihat dia mengambilnya saja dari dalam lacinya." Wigih tetap saja tak mahu kalah dan terus mengelak.
"Eiitt... Kakak gak boleh bohong, mama tadi pagi tu marah-marah karena bunga chrysan putih kesayangannya ada yang memetik, malah dikiranya aku yang ambil. Mau aku aduin ni ke mama kalau anak lelaki kesayangan yang jadi maling kembang?" Ancam Ernita. Kalau sudah ketangkap basah begini mau mengelakpun juga sulit. Luruh juga pundak Wigih, lemas karena aksinya sudah ketahuan sang adik.
"Sstt.... Ini rahasia ya dek... Kumoho kali ini saja ya?" Pinta Wingih, memohon ke adiknya untuk menjaga rahasianya. Bukan Ernita Manda namanya kalau tidak bisa memanfaatkan ketidak berdayaan kakaknya. Kapan lagi kalau bukan sekarang?
"Ehmm... gimana ya?" Ernita pura-pura berfikir lalu melanjutkan ucapannya, "Tapi gak gratis lho... Mana ada di dunia ini yang gratis? Apalagi menjaga sebuah rahasia itu sulit lho... "
"Dasar licik kamu dek!"
"Ya sudah kalu gak mau, gak rugi juga akunya." Ancamnya.
"Okey deh... sebagai imbalannya kakak akan kasih uang jajan tambahan ke kamu, tapi ingat jangan dipakai buat hal yang gk penting dan jangan lupa kamu harus jaga baik-baik rahasia kakak. Kalau sampai bocor, kakak bakalan ambil kembali uang jajan kamu." Ancam Wigih balik.
"Okey deal!!" Jawab Ernita sembari mengaitkan jari kelingkingnya dengan kakaknya, kebiasaan mereka dari kecil bila saling berjanji.
"Berhubung kamu sudah gak punya urusan di sini, huss..huss... Keluar sana, kakak mau belajar jangan ganggu." Usir Wigih.
"Ehh... Aku belum selesai kak, kakak belum cerita bagaimana bisa kakak naksir Jully?"
"Udah gak usah keppo deh.. Cepet keluar gih!" Wigih segera mendorong adiknya untuk segera keluar dari kamarnya. Panjang urusannya kalau adiknya itu tahu terlalu banyak. Setelah di ambang pintu kamarnya Wigih memperingatkan sekali lagi untuk adiknya tutup mulut.
"Dek... Ingat! Ssttt..!!
Bersambung...