
Nouval akhirnya menyusul Rere memasuki warung rujak cingur tersebut. Di dalam ternyata cukup bersih, bau khas petis dari bumbu rujak yang tengah diulek menguar sampai ke penciuman membuat Nouval hampir menutup hidungnya kalau tidak mengingat Rere yang tengah berdiri di sebelah si penjual untuk memesan pesanan mereka. Dia hanya ingin menghargai Rere yang mengajaknya kesana dengan sekuat tenaga menahan bau petis yang menyengat itu.
"Kak sini cepat!" Panggil Rere dengan melambaikan tangannya.
"Ada apa Re?" Tanya Nouval setelah berdiri disamping Rere.
"Kakak mahu cabai berapa?"
"Satu saja cukup, gak usah pedes-pedes." Jawab Nouval.
"Oke deh!" Rere mengacungkan jempol tangannya tanda mengerti lalu dia kembali lagi berbicara ke ibu penjual rujak untuk mengulang lagi pesanannya.
"Saya ulang pesanannya ya bu... Dua rujak cingur yang satu cabainya lima, yang satunya lagi satu saja cabainya." Kata Rere ke ibu penjual rujak.
"Siap neng, trus minumnya apa?" Tanya si penjual.
"Emm bentar bu." Rere menengok ke arah Nouval. "Kakak mahu minum apa? Di sini ada es campur juga yang rasanya enak banget lho..." Tanya Rere sambil menawarkan es campur favorit dari kedai warung itu.
"Ya sudah itu saja." Jawab Nouval dan Rere langsung memesan dua es campur untuk mereka berdua.
Mereka memilih duduk di meja paling pojok belakang dimana di sana lebih dekat dengan kipas angin yang terpasang di dinding tembok. Maklum cuaca hari ini begitu panas menyengat.
Tak lama kemudian es campur pesanan mereka datang terlebih dahulu, disusul rujak cingur beberapa saat kemudian. Nouval bergidik ngeri memandang hitamnya rujak cingur dengan bau petis yang khas menguar menyusup ke penciumannya. Nouval memandang ke arah Rere yang duduk di hadapannya, gadis itu memakan rujaknya dengan sangat lahap. Entah itu benar-benar enak atau memang dia yang sedang lapar.
"Lho kak Nouval kok gak makan sih? Ayo makan enak lho." Rere memergoki Nouval yang hanya memandangi dirinya tanpa menyentuh makanannya sedikitpun.
"I iy iya ini juga mahu dimakan kok he..he..." Jawab Nouval yang enggan-engganan saat menyendok rujak cingur di hadapannya. Diliriknya Rere yang duduk di depannya, ternyata gadis itu tengah memperhatikannya, menunggu dirinya memasukkan makanan dengan saus kacang berwarna hitam itu ke dalam mulutnya.
"Re, jangan ngelihatin kaya gitu dong..." Nouval serasa sedang diawasi kalau seperti itu.
"Habisnya kakak katanya lapar, tapi pas sudah ada makanan di hadapannya kaya ogah-ogahan gitu makannya. Kenapa? Gak suka?" Tanya Rere tepat sasaran.
"Sebenarnya aku belum pernah makan rujak cingur, membayangkan makan dengan bumbu petis yang bau seperti ini bikin eneg duluan." Nouval akhirnya mengaku jika dirinya tidak menyukai makanan itu.
"Hahh? Jadi gara-gara itu kakak gak makan-makan dari tadi?" Nouval mengangguk meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tadi aja sok-sokan suruh aku yang milih tempat makannya, eehh ternyata sama petis rujak cingur saja takut." Ledek Rere dengan mencibirkan bibirnya, membuat harga diri seorang Nouval sebagai lelaki sejati jatuh di hadapan sang gadis pujaan.
"Ehh siapa yang takut? Cuma gak suka saja." Nouval berkilah.
"Emang kak Nouval sudah pernah coba makan? Belum kan?" Nouval menggeleng.
"Mangkanya dicoba dulu baru bisa menilai enak apa gak, lagian ini sudah dipesan kak, kalau gak dimakan jadinya ntar mubadzir. Cepet makan gih!" Kata Rere dengan nada memerintah. Entah karena takut harga dirinya jatuh di hadapan Rere atau karena nada perintah Rere sudah seperti nada perintah maminya yang selalu cerewet jika anaknya tidak nurut, Nouval dengan gerakan cepat menyendok rujak cingurnya.
"Siapa yang takut, nih aku makan!" Nouval langsung menyuapkan sesendok rujak cingur ke dalam mulutnya dan mengunyahnya. Tiba-tiba dia terdiam, matanya terbelalak namun tetap mengunyah seakan menilai rasa yang ada di mulutnya.
"Hmm... Ternyata tidak seburuk itu rasanya." Kata Nouval tersenyum dibalik bibirnya yang tetap mengunyah.
"Enak kan? Makanya jangan protes dulu sebelum dicoba. Tuh doyan juga." Cibir Rere sambil terkekeh geli.
"Habisnya dari tampilan dan aromanya saja sudah bikin paranoid."
"Jadi sekarang gak bakal takut lagi makan rujak cingur kan?" Tanya Rere lagi.
"Ya gaklah, ini bakal aku masukin ke list makanan favoritku, soalnya enak banget." Kata Nouval sambil tetap melahap rujaknya dengan antusias.
"Hahhaa... Kak Nouval lucu deh, tadinya takut, sekarang malah suka." Rere tertawa renyah di hadapan Nouval, membuat lelaki yang mendapat predikat play boy itu terpana saking terpesonanya dengan tawa Rere yang sangat langka dia jumpai itu begitu sangat bebas dan cantik di matanya.
"Iya suka, suka banget malahan." Ucap Nouval tanpa melepas pandangannya menatap gadis ayu di hadapannya. Dia memegang dadanya, detak jantungnya begitu cepat. Fix sudah, dia jatuh cinta dengan Rere si gadis datar dan jutek namun mampu memporak porandakan hatinya.
"Ohh ya kak, cobain juga es campurnya, ini tuh enak dan seger banget lho... Apa lagi diminum pas cuaca panas kaya gini tuh cocok banget, seperti nemu air di padang tandus." Rere berceloteh sambil menyeruput kuah es campur dari sendoknya.
"Haha... Ternyata kamu lumayan cerewet ya?" Nouval terkekeh gemas melihat Rere yang begitu cerewet hari ini.
"Enak saja! Aku gak cerewet ya!" Rere mengerucutkan bibirnya sebal namun itu justru terlihat menggemaskan di mata Nouval.
"Haha... Iya iya kamu gak cerewet cuma agak bawel saja." Nouval tak bisa menahan tawanya.
"Ihh kak Nouval nyebelin deh!" Rere merajuk.
"Duuhh... Bikin gemeess deh kamu." Nouval mencubit gemas hidung Rere.
"Auw sakit kak! Kak Nouval jahil banget sih." Rere melotot lucu dengan bibir yang cemberut sambil memegang hidungnya yang nyut-nyutan karena ulah Nouval.
"Makanya jangan terlalu manis jadi cewek, bikin gemes kan jadinya." Ucap Nouval tanpa melepas senyum dan pandangannya.
"Dasar play boy sukanya ngegombal." Gumam Rere yang masih bisa didengar oleh Nouval.
"Ihh mana ada?" Rere langsung salah tingkah dan langsung memegang kedua pipinya dengan malu-malu. Akhirnya tawa mereka pecah secara bersamaan.
"Ohh ya Re, nanti malam kamu ada acara gak?" Tanya Nouval disela-sela menikmati es campurnya.
"Gak ada sih kak, paling di rumah saja movie maraton. Memangnya kenapa kak?"
"Kamu suka nonton?" Tanya Nouval yang diangguki Rere.
"Daripada nonton di rumah, giman kalau kita nonton di bioskop saja?" Ajak Nouval.
"Kakak ngajak aku nonton bareng?" Rere membeo, Nouval mengangguk.
"Ogah ahh!" Tolak Rere.
"Kok gak mau? Katanya nanti malam gak ada acara."
"Kak Nouval kan play boy, ntar kalau pas di jalan ketemu pacar-pacar kakak terus aku dijambak, ditampar gimana dong? Aku kan yang sakit."
"Waduhh gitu banget bayanganmu neng." Nouval bergidik ngeri atas fantasi Rere yang berlebihan itu.
"Lagian siapa sih yang bilang aku play boy? Ya aku akui aku sering gonta ganti pacar, tapi aku tidak pernah sama sekali menduakan mereka. Selama pacaran dengan satu perempuan, aku tidak pernah menduakannya dengan perempuan yang lain." Terang Nouval.
"Tapi tetap saja, hampir perempuan cantik di sekolah kita rata-rata adalah mantan pacar kak Nouval, apa coba kalau bukan play boy? " Rere masih tak percaya.
"Rere... Rere... Pernah pacaran dengan beberapa perempuan bukan berarti seorang play boy, itu karena masih belum ada yang benar-benar pas di hati. Kami para lelaki butuh perempuan yang bisa menghargai pasangannya, yang tulus menerima diri kami apa adanya bukan dilihat dari harta yang kami punya, dan satu hal lagi Re... Kami para lelaki butuh perempuan yang bisa menghargai dirinya sendiri dengan begitu dia juga akan menghargai pasangannya." Kata-kata Nouval langsung mengena di hatinya. Di hadapannya kini Nouval terlihat seperti lelaki yang begitu kesepian dibanding Nouval yang tengil.
"Lalu apa yang terjadi dengan mantan-mantan kakak?" Tanya Rere penasaran.
"Ada dari mereka yang ngajak balikan haha..." Nouval tertawa sumbang mengingat hal itu.
"Dan kakak mau?"
"Ya enggaklah... Kalau aku mahu, mana mungkin aku duduk denganmu di sini bahkan mengajakmu untuk nonton nanti malam."
"Kenapa?" Tanya Rere lagi.
"Karena mereka tidak pantas untukku, yang dia inginkan dariku hanyalah hartaku dan kepopuleran di sekolah karena berpacaran denganku, tapi saat di luar sana bersenang-senang sendiri dengan lelaki yang berbeda. Bukankah itu sama halnya dia tidak menghargai dirinya sendiri? Wanita terhormat tidak akan menjatuhkan harga dirinya sendiri layaknya seorang yang murahan." Ada sedikit emosi dan rasa sakit yang keluar dari ucapan Nouval. Rere tertegun, dia tidak menyangka lelaki sepandai dan setampan Nouval yang mempunyai segalanya ternyata tidak beruntung dalam hal percintaan. Bagaimana bisa wanita-wanita itu mempermainkan Nouval yang se-pervect itu?
"Ahh sudahlah jangan ingat hal itu lagi dan jangan lihat aku seperti itu, seakan kamu melihatku begitu menyedihkan." Nouval menyudahi ceritanya, dia tak ingin momen langka berdua bersama Rere ini merusak harinya.
"Kak Nouvla gak menyedihkan kok, mereka saja yang bodoh melepas lelaki baik seperti kak Nouval." Ucap Rere tulus sembari tersenyum manis yang tak kalah tulusnya, membuat Nouval bagai tersihir sesaat.
"Lalu kalau aku ini lelaki baik, kamu pasti mahu dong jalan bareng aku nanti malam?" Ahh Nouval bisa saja mencari celah buat meyakinkan Rere menerima ajakannya ngedate nanti malam.
"Hmm...Boleh deh, tapi pulangnya jangan malam-malam ya?" Dengan sedikit berfikir akhirnya Rere menerima ajakannya.
"Serius?" Nouval ternganga tak percaya, dia begitu senang saat Rere mengangguk meyakinkan jawabannya.
"Kalau begitu nanti aku jemput tepat jam tujuh malam." Kata Nouval dibarengi anggukan Rere.
"Ohh ya kak, tapi ini rahasia ya... Jangan sampai teman-teman aku atau teman kakak tahu." Pinta Rere.
"Kenapa begitu?"
"Ya sementara cukup kita berdua saja yang tahu, biar mereka tahu dengan sendirinya." Alasan Rere.
"Atau kamu takut bakal menimbulkan kehebohan di sekolah karena kita sekarang lebih dekat?" Tebak Nouval.
"Itu juga sih, aku kan gak suka mencolok. Pleasss... ya kak?" Mohon Rere.
"Iya aku ngerti, tenang saja semuanya aman." Ucap Nouval mengiyakan permintaan Rere.
Rere pun bernapas lega, paling tidak untuk saat ini dirinya tidak ingin menunjukkan kedekatannya dengan Nouval. Bukan tidak mahu, tapi belum saatnya. Lagian kedekatan mereka ini masih hitungan jam, tidak pantas jika dia mengumbarnya di depan umum sekarang, ditambah saat ini sahabatnya Jully sedang bersedih, dia tidak mahu terlihat bahagia di atas penderitaan teman baiknya itu. Biarlah semua mengalir apa adanya, biarlah mereka tahu dengan sendirinya, suatu saat ada kalanya dia menceritakan itu semua. Tapi tidak untuk sekarang.
"Ohh ya Re, sebenarnya siapa sih yang ngasih tahu kamu kalau aku ini play boy?" Tanya Nouval penasaran.
Rere langsung terperanga dengan pertanyaan Nouval yang tiba-tiba.
"Duhh mati aku! Gak mungkin kan kalau aku bilang bahwa Kansari yang cerita?" Ucap Rere dalam hati.
Flash Back Off
Bersambung...