
Malam ini di kamarnya Jully tidak bisa memejamkan mata. Ingatannya masih berputar pada kejadian siang tadi di sekolah. Dia yang sebenarnya bukanlah anak kecil lagi, dimana bekas minumnya yang diminum oleh lawan jenisnya akan berpikiran bahwa itu adalah ciuman tak langsung. Bahkan ciuman yang sebenarnya saja Jully sudah pernah merasakannya, dulu dengan mantan pacarnya ketika masih kuliah. Tapi mengapa hal sekecil ini saja dapat membuat hatinya tak karuan. Benar-benar bukan fisiknya saja yang berubah menjadi ABG, pikirannya juga ternyata menjadi selabil pikiran ABG. Jully tertawa sumbang, pikirannya sudah tak waras. Bahkan kini gerakan jakun Wigih yang naik turun saat meneguk minuman tergambar jelas di pikirannya. Jully membenamkan kepalanya pada bantal dan menekannya, lalu berteriak dengan keras.
"Aaarrrggghh!!!"
Dia membuka bantal yang menutupi kepalanya dan mulai terengah. Matanya menatap langit-langit kamarnya disaat terdengar sebuah lantunan lagu "Kita" dari Sheila On7 yang berasal dari phonselnya.
"Ahh siapa sih yang telepon malam-malam gini?" Gumamnya setengah jengkel. Diraihnya benda pipih itu yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya dengan malas. Tertera nama Sarsar disana alias Kansari. Jully mengerenyit, tak biasanya Kansari menelponnya dijam-jam seperti ini, ini sudah lewat jam sepuluh malam. Tidak mahu berfikir terlalu lama, ia pun menjawab telponnya.
"Assalamu'alaikum Sar..."
"Wa'alaikumsalam... Kamu udah tidur ya Jull?" Tanya Sari di seberang sana.
"Sudah." Jawab Jully sembarangan.
"Ihh bo'ong, masak tidur bisa angkat telpon?" Cerca Sari polos. Disini yang blo'on sebenarnya siapa ya? Kansari atau Jully?
"Pertanyaanmu itu lho... Unfaidah! Udah jelas masih aja nanya." Balas Jully geram, matanya ngantuk berat, hanya saja tak bisa terpejam, ditambah telpon dari Kansari yang mungkin akan berakhir panjang, anak itu bila jam segini bikin rusuh pasti juga lagi gak bisa tidur sama seperti dirinya.
"Jangan sewot gitu dong..."
"Abisnya ini sudah jam berapa Sar? Mata aku ngantuk berat, ini udah mau otw merem, kamunya ngerusuh, besok sekolah pasti bakal kesiangan nih." Omel Jully.
"Ihh teman masa gitu? Bentar aja napa... Aku gak bisa tidur nih, pengen curhat bentar aja. Ya?" Ucapnya nelangsa.
"Kenapa mesti ngerusuhnya ke aku sih? Ningsih sama Rere nganggur juga kali..." Protes Jully.
"Ogah! Mereka mah suka kepeleset lidahnya." Ungkap Kansari.
"Emang situ kalau ngomong gak suka bocor?" Sindir Jully.
"Hehe... Kadang-kadang aja sih, pas lagi kilaf aja." Sari terkekeh mengakui. "Lagian kamu juga jam segini belum bobok, pasti lagi mikirin sesuatu, hayoo ngaku!" Nah kan skak mat dah Jully gak bisa jawab kan..
"Ihh bawel deh kamu Sar, cepetan ngomong kalau gak aku tutup nih!" Ancam Jully.
"Ehh jangan dong beb... Curhat aja belum." Cegah Kansari.
"Makanya cepet cerita gih!"
"Gini lho beb... Aku gak bisa bobok, bawaannya kebanyang terus sama muka gantengnya kak Daniel." Sari mulai sesi curhatnya. "Sikap manisnya tadi siang tuh bikin susah move on, kok bisa ya udah ganteng, kalem, pinter lagi, paket komplit dah pokoknya." Lanjutnya bercerita.
"Yaelahh Sarsar... Kamu gangguin orang malam-malam cuma karena masalah gituan?" Padahal Jully sendiri tidak bisa memejamkan mata juga karena masalah yang sama. Hanya saja dia malu untuk mengakuinya.
"Ehh ini itu hal yang langka lho Jull, jarang banget aku gak bisa tidur hanya karena mikirin masalah cowok." Ungkapnya.
"Masa sih? Perasaan kamu beberapa minggu yang lalu juga gini gara-gara dimodusin dikit sama Jono anak kelas sebelah udah baper duluan." Ledek Jully.
"Jono mah beda, dia ternyata buaya darat! Jangan disamain sama kak Daniel dong beb... Kak Daniel tuh cowok idaman banget, sepertinya aku sudah catuh cinta dengan dia." Kansari di seberang sana sudah menerawang jauh membayangkan jika kelak dirinya bersanding dengan Daniel.
"Halahh ngeles aja kamu! Terus sekarang mahumu itu apa?" Tanya Jully gemas.
"Ya kamu bantuin aku dong beb..." Rengeknya.
"Bantu gimana? Deket aja enggak, kenal juga seadanya." Jawab Jully jujur.
"Duhh gak pinter banget sih kamu Jull."
"Ehh... Gitu saja ngambek, gini lho bebeb Jully sayang... Maksud aku itu kamu kan lumayan deket nih sama si Ketosgan, bisa dong nolongin aku lewat dia, kak Wigih sama kak Daniel kan sohiban, apa lagi kak Wigih kaya ada signyal cinta gitu ke kamu Jull, lumayan kan kalau kita bisa double date gitu hehe.." Ungkap Kansari dengan kekehan gejenya.
"Kenapa harus lewat aku sih? Bilang sendiri aja sana ke kak Wigih."
"Malu beb..."
"Masih punya urat malu ternyata." Ledek Jully. "Lagian nih.. Kak Daniel belum tentu juga mau, memangnya kamu gak mikir kalau kak Daniel ternyata sudah punya cewek gitu?" Lanjutnya mengingatkan Kansari.
"Eh iya ya... Masa kak Daniel udah punya gebetan? Selama ini aku perhatiin dia di sekolah gak pernah tu yang namanya jalan sama cewek, setahuku gak ada juga gosib tentang dia yang berurusan dengan cewek." Balas Kansari.
"Ya bisa saja kan ceweknya gak satu sekolah dengan kita atau mungkin dia juga sekarang ini lagi demen sama seseorang, hati dia siapa yang tahu Sarsar..."
"Kok kamu malah ngomong gitu sih Jull... Gak mendukung banget jadi temen." Rengek Kansari sebal.
"Bukannya gitu Sar... Kamu pikir deh logikanya, secara cowok kaya kak Daniel yang kamu bilang paket komplit tadi gak mungkin gak ada cewek yang gak naksir dia. Pasti dong ada satu atau dua yang lagi deket sama dia, apa lagi dia salah satu most wanted -nya sekolah kita." Jully menerangkan panjang lebar pada Kansari, dia tidak ingin sahabatnya itu asal grusa grusuh saja dengan cowok, takutnya malah sakit di akhir. Masalahnya luka yang gak berdarah itu nyatanya lebih menyakitkan ketimbang luka yang berdarah, ingetnya sepanjang masa.
Hening.
Mereka berdua sama-sama terdiam. Jully menunggu reaksi Kansari, sedangkan di seberang sana Kansari terdiam setelah mendengar penuturan Jully, mencoba mencerna satu persatu ucapan yang dilontarkan sahabatnya itu.
"Lalu aku harus bagaimana Jull?" Ucap Kansari kemudian.
"Mending kamu jangan gegabah dulu, suka boleh tapi jangan terlalu suka dulu, kita belum tahu betul kak Daniel itu seperti apa, takutnya kamu kecewa di kemudian hari. Aku dan yang lainnya pasti mendukung kamu jika memang kak Daniel juga suka sama kamu, namun kita sebelumnya harus cari tahu dulu tentang kak Daniel, ntar aku bantu deh..." Kata-kata Jully barusan sedikit membuat hati Kansari menghangat, gak salah dia curhat ke Jully malam ini, meski harus diawali omelan Jully yang sudah mirip omelan mamanya.
"Thanks ya beb... Kamu memang yang terbaik." Ucap Kansari dengan senyum yang tentunya tidak bisa dilihat oleh Jully.
"Sama-sama Sarsar... Ya sudah bobok gih sana!" Balas Jully yang ingin segera mengakhiri obrolan mereka, namun Kansari mencegahnya.
"Ehh sebentar dong beb..."
"Apa lagi Sar?"
"Itu Jull... Kamu sudah nemuin belum kira-kira siapa si Yuyu itu? Masalahnya tadi siang aku lupa mau namya ke kamu." Tanya Kansari penasaran.
"Nihil Sar, aku belum bisa nemuin dia, ditambah lagi tadi ada insiden cideranya kak Wigih jadi buyar semuanya." Jawabnya lesu.
"Sabar ya Jull, mungkin belum jodoh." Balas Kansari mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Makasih ya Sar, aku tutup ya... Ngantuk nih."
"Tunggu ada satu lagi."
"Apa lagiiii??" Jully musti ekstra sabar menghadapi sahabatnya yang satu ini.
"Aku cuma mau tanya gimana rasanya ciuman tak langsung dengan kak Wigih?"
"Hahh?!"
Yaelaahh... Diingetin lagi, alamat begadang nih Jully. Sabar ya Jull... Sari emang suka gitu. Gak tahu sikon.
Bersambung...