
Sungguh suatu kejutan di malam minggu ini, bukan hanya Jully saja melain untuk kedua lelaki yang ada bersama Jully di rumahnya saat ini.
"Hai Jull..." Wicky datang ke rumah Jully bermaksud menemui Jully, salah satu upaya pendekatannya. Namun tak disangka di sana bukan hanya ada dirinya.
"Wicky?!" Jully tak menyangka Wicky akan datang di malam ini.
"Ahh... Apa aku ganggu?" Tanya Wicky yang tiba-tiba menjadi canggung.
"Hmm enggak sih... Masuk gih." Jawab Jully salah tingkah, bingung mau apa setelah ini.
"Iya, ganggu banget!" Batin Wigih yang jadi gerah hati. Maklum amarahnya susah payah dia tahan setelah apa yang diceritakan Ernita tadi siang tentang pengakuan palsu Wicky kepada Jully. Dan kini amarah itu kembali muncul setelah orang itu ada di depan matanya. Tangan Wigih mengepal, mencoba menahan amarahnya. Ingatannya kembali kecerita Ernita siang tadi...
Flash Back...
Siang hari di kediaman Sasongko, Ernita pulang dalam keadaan kesal.
"Assalamu'alaikum..." Ernita mengucapkan salam dengan wajah cemberut.
"Wa'alaikumsalam..." Jawab mama Sinta. "Lho dek, kok datang-datang cemberut gitu?" Tanya mamanya. Tak menjawab pertanyaan mamanya, tapi justru balik tanya.
"Kak Wigih mana ma?"
"Ada tu di kamarnya." Ernita langsung naik ke lantai dua menuju kamar kakaknya setelah mendengar jawaban dari mamanya.
"Ehh ni anak ditanya orang tua gak dijawab malah nyelonong pergi begitu aja." Mama Sinta jadi kesal dan heran sendiri dengan tingkah anak gadisnya itu.
Sesampainya di lantai dua, Ernita langsung membuka pintu kamar kakaknya begitu saja tanpa mengetuknya terlebih dahulu, membuat Wigih menjadi kaget.
"Kak!"
"Astaghfirullah... Erni! Bikin kaget aja, ketuk pintu dulu dong sebelum masuk, kalau kakak pas lagi gak pakek baju gimana?" Oceh Wigih melihat kelakuan adiknya.
"Udah, itu semua gak penting! Ada hal yang lebih penting lagi yang harus kakak ketahui." Ucap Ernita serius.
"Hal penting? Hal penting apa?" Tanya Wigih membuat dirinya penasaran.
"Ini tentang Jully kak, kalau kakak gak segera bertindak, bisa-bisa usaha kakak selama ini hancur!" Ucapan Ernita yang setengah-setengah malah membuat Wigih menjadi tambah bingung.
"Maksud kamu apa dek?"
"Wicky kak!"
"Wicky? Wicky siapa?"
"Kakak ingat kan aku pernah bilang ada salah satu teman sekelas yang suka caper sama Jully? Yaitu Wicky dan saat di sekolah tadi dia mengaku ke Jully jika yang menaruh juice strawberry selama ini adalah dirinya. Kurang ajar banget kan kak?!"
"Apa?!" Wigih langsung kaget setengah mati mendengar cerita Ernita. Sungguh membuat dirinya marah besar. Dia yang berusaha melainkan orang lain yang menikmati hasilnya. Enak saja... Bukankah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Kamu serius dengan ucapan kamu kan dek?" Tanya Wigih sekali lagi demi memastikan ucapan adiknya.
"Serius kak! Aku yakin betul dan aku dengar sendiri dengan kedua telingaku, tadi Jully dan ketiga temannya pergi ke Smile Cafe lalu aku membuntutinya. Disana Jully menceritakan semuanya tentang Wicky yang mengaku sebagai Mr. W kepada Jully." Terang Ernita.
Wigih shock tentang apa yang diceritakan adiknya, dia mengeratkan giginya dengan tangan mengepal menahan amarah.
"Dek, kakak harus apa kalau seperti ini?" Tanya Wigih frustasi, dia terduduk di ranjangnya seraya menyugar rambutnya kasar. Pikirannya benar-benar buntu sekarang.
"Kakak punya rencana?" Tanya Ernita melembut. Wigih menggeleng lemas. Dia kasihan melihat kakaknya, belum pernah dia melihat Wigih selemah ini hanya karena seorang perempuan.
"Tapi aku punya." Lanjut Ernita membuat Wigih langsung mendongak melihat kearah adiknya.
"Apa itu?" Tanyanya tak sabar.
"Kakak ikutin saja permainan Wicky, kita lihat saja apa yang akan dia lakukan dan disaat yang tepat kita akan bongkar kebusukannya." Jawab Ernita.
"Caranya?"
"Biarkan saja dia seperti itu, biarkan dia bahagia lebih lama. Kakak harus tetap mengirim juice ke meja Jully, hal itu pasti akan menarik perhatian Jully, dia pasti akan sadar ada sesuatu yang janggal. Lagian kakak masih punya kartu AS. Surat sampul biru yang kakak berikan suatu saat akan membantu kakak." Terang Ernita dengan smirk dibibirnya.
"Benar juga! Pintar kamu dek... Muachh!!" Wigih puas dengan jawaban adiknya dan dengan langsung mencium kening adiknya gemas, tumben sekali dia bisa diandalkan disaat genting seperti ini.
"Ihh kakak!" Bibir Ernita seketika manyun dengan tingkah laku kakaknya namun tersenyum kemudian setelah mendengar ucapan Wigih.
"Makasih ya dek, tumben otaknya dipakai gak digadai."
"Adik siapa duluuu..." Ernita menepuk dadanya bangga.
"Ohh ya, hari ini kan malam minggu, ngapel gih sana! Jangan sampai keduluan lagi." Lanjut Ernita meminta kakaknya untuk pergi ke rumah Jully.
"Emang gak papa ya?" Tanya Wigih ragu.
"Ya gak papalah... Atau tanya dulu sama Jully boleh gak?"
"Okey deh." Wigih langsung mengambil phonselnya dari dalam saku celananya dan mengetik pesan untuk Jully.
"Udah aku kirim pesan untuknya."
"Kalau gitu tinggal nunggu balasannya."
"Tapi kalau gak dibalas gimana?"
"Dan kalau teleponnya gak diangkat, langsung samperin aja, masalah dia mau nemuin atau tidak itu urusan nanti." Ucap Ernita untuk meyakinkan kakaknya agar tetap maju apapun yang terjadi nanti.
"Okey deh, siapa takut?!" Jawab Wigih semangat.
"Gitu dong... Itu baru namanya Wigih Sasongko Ketosgan Most Wanted SMA Angkasa." Puji Ernita kepada kakaknya.
Flash Back End...
Sekarang mereka bertiga tengah duduk di gazebo depan rumah Jully, mereka memilih pindah tempat dari ruang tamu ke gazebo karena dirasa udara di dalam rumah mendadak berubah menjadi panas.
"Ahh kak, kenalin dia adalah Wicky teman sekelas aku. Wicky ini kak Wigih Ketua OSIS sekolah kita, tentunya kamu sudah tahu kan?" Jully memperkenalkan mereka berdua untuk mencairkan suasana.
"Salam kenal kak, aku Wicky." Wicky mengulurkan tangannya ke arah Wigih dengan senyum yang dipaksakan.
"Aku Wigih, salam kenal juga." Jawab Wigih datar dengan senyum yang dipaksakan juga seraya membalas uluran tangan Wicky lalu menjabatnya dengan sangat erat hampir meremukkan telapak tangan Wicky. Wicky meringis tertahan merasakan tangannya yang remuk redam, dia tidak tahu kalau Wigih itu jago taekwondo tentu saja kekuatan fisiknya tidak diragukan lagi.
"Duuhh ni orang tenaganya kuat banget, untung tanganku langsung terlepas, kalau gak mungkin sudah remuk. Dendam kali ya sama aku." Batin Wicky.
"Ohh ya Wick, tumben banget kamu ke rumah aku malam-malam begini?" Tanya Jully.
"Iya, tadi ada urusan di dekat sini terus teringat ada catatan bahasa Inggris yang belum aku catat tadi, jadi sekalian aku mampir buat pinjam catatan kamu. Boleh kan?" Wicky berkilah, padahal kenyataannya memang sengaja buat ngapelin Jully, ehh malah keduluan sama Wigih.
"Emang kebiasaan kamu ini, makanya kalau di kelas itu buat merhatiin pelajaran jangan merhatikan yang lain." Ejek Jully.
"Aku kan merhatiin kamu Jull..." Jawab Wicky geje.
"Uhuk.. uhuk.." Wigih langsung keselek ludahnya sendiri mendengar jawaban Wicky yang gak jelas itu, membuat dirinya semakin muak dengan pria di hadapannya ini.
"Kak Wigih kenapa?" Tanya Jully khawatir melihat Wigih yang tiba-tiba terbatuk batuk.
"Gak tahu tiba-tiba gatel aja tenggorokan aku." Jawab Wigih asal.
"Owh... Ya ampuunn aku lupa gak bawa minumannya ke sini. Bentar ya kak aku ambil minumannya sekalian ambil buku catatan buat Wicky." Jully langsung menepuk dahinya karena lupa memberi suguhan buat tamu-tamunya, kemudian ia langsung berdiri melangkah ke dalam rumah untuk mengambil minuman dan buku catatannya. Sementara sepeninggalan Jully hanya ada dua lelaki tampan duduk berhadapan yang saling menatap tajam.
"Kak Wigih ada urusan apa ya ke rumah Jully?" Wicky membuka suara.
"Memang harus ada urusan dulu baru ke rumah Jully? Seperti kamu?" Jawab Wigih sarkas.
"Ya gak juga, cuma aku baru tahu kalau kakak kenal baik sama Jully." Jawab Wicky kikuk.
"Memangnya Jully harus bilang dulu ke kamu kalau dekat dengan orang lain seperti aku?" Haha... Wigih semakin ngegas saja dengan pertanyaan Wicky yang menurutnya gak mendasar sama sekali.
"Duhh ni orang dari tadi jawabnya malah balik nanya pakek ngegas lagi, fix! Wigih ini gak suka sama aku, apa sih hubungannya dengan Jully?" Wicky semakin dibuat bingung dengan sikap Wigih.
"Ya gak juga sih kak, cuma nanya doang."
"Hemm.." Wigih hanya menjawab dengan deheman, malas sekali untuk berbicara lebih lama dengan orang yang bikin darahnya naik. Setelahnya hanya ada sunyi diantara mereka hingga Jully kembali dengan sebuah nampan berisi minuman dan kue buatan ibunya tadi serta tak lupa buku catatan yang akan dipinjamkannya untuk Wicky.
"Kok kalian diam saja? Gak ada obrolan sama sekali nih?" Tanya Jully sambil menaruh minuman dan kue yang dia bawa.
"Udah kok tadi kita ngobrol, iya kan kak?" Jawab Wicky sambil melirik kikuk ke arah Wigih.
"Iya." Wigih hanya menjawab singkat.
"Ohh kirain cuma diam-diaman aja hehe... Nih buku yang mau kamu pinjam, jangan lama-lama pinjamnya, soalnya mau aku buat belajar." Titah Jully sambil mengulurkan buku catatannya kepada Wicky.
"Siipp..." Jawab Wicky dengan senyumnya.
"Kalau mau belajar bahasa Inggris, aku mau kok ngajarin kamu." Wigih menimpali.
"Serius?" Tanya Jully dengan mata yang berbinar.
"Serius, mata pelajaran yang lain kalau ada yang belum kamu mengerti boleh tanya ke aku juga." Wigih menjawab dengan percaya dirinya, berterimakasihlah dia dengan Tuhan yang memberinya otak yang cemerlang.
"Boleh deh kak, aku seneng banget deh kakak mau ngajarin aku tapi apa gak akan ngerepotin kakak?"
"Insya'allah enggak." Jawab Wigih seraya tersenyum lembut.
"Makasih ya kak." Dibalas Jully dengan senyum yang tak kalah manis membuat jantung Wigih berdegub semakin cepat. "Ohh jantung tolong dikondisikan" Batin Wigih. Sementara Wicky yang melihat interaksi mereka berdua hanya diam menahan rasa nyeri yang berkecamuk dihatinya. Susah memang kalau hati udah diserang rasa cemburu.
"Ohh ya... Kalian minum dulu dan dicicipi kuenya, ini kue buatan ibuku lho..."
"Iya, makasih." Jawab mereka hampir bersamaan. Kemudian mereka bertiga terlibat percakapan sambil menikmati kue buatan bu Susi, ibunya Jully.
"Ahh... Gak terasa sudah malam, aku pamit dulu ya Jull, tolong bilang ke ibumu terimakasih kuenya enak." Pamit Wigih dengan senyum andalannya.
"Iya, nanti aku sampaikan kak."
"Kamu gak pulang juga Wick? Ini udah malam lho... Mau digrebek orang sekampung?" Ini Wigih lho yang ngomong, kalau dirinya pulang maka rivalnya ini juga gak boleh lama-lama di dekat Jully kan...
"Ehh iya, aku pulang juga ya Jull, sampai jumpa di hari Senin." Akhirnya Wicky yang tadinya mau lebih lama lagi di rumah Jully terpaksa harus berpamitan juga. Apes memang dia. Wigih dilawan? hehe...
"Okey... Hati-hati ya kalian, terimakasih sudah main ke rumah aku." Jully mengantarkan dua lelaki itu sampai di depan pagar rumahnya. Dan akhirnya dia bisa menghembuskan napas dengan lega selepas motor kedua lelaki itu menghilang dari depan pagar rumahnya.
"Fiuuhh... Leganya, sumpah kok rasanya tegang banget ya tadi? Serasa kaya orang kepergok mau selingkuh. Ehh??" Haha... Jully...Jully...
Bersambung...