Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 54 Upss! Aku Ketahuan!



Siang harinya di ruang inapnya Jully tengah menikmati makan siang bersama ibunya. Selang beberapa saat Rendi datang pas Jully selesai makan dan meminum obatnya.


"Siang pemalas... Sudah makan siang?" Sapa Rendi ketika memasuki kamar inap Jully.


"Ohh dokter Rendi, aku baru saja selesai makan siang." Jully menunjukkan piring kosongnya guna menjawab pertanyaan Rendi.


"Nak Rendi sudah makan siang?" Tanya bu Susi.


"Sudah barusan bu dan langsung ke mari untuk melihat keadaan wanita pemalas ini." Jawab Rendi dengan menyipitkan matanya melirik Jully untuk menggodanya.


"Kenapa dokter selalu memanggilku pemalas sih?" Sahut Jully sedikit tidak terima.


"Karena setiap aku datang kemari kamu selalu berada di tempat tidur, ayolahh...kamu sudah cukup lama menjadi puteri tidur, kenapa kau tetep di kasur setelah membuka mata? Apa itu coba kalau bukan pemalas?" Ejek Rendi kembali, menggoda Jully merupakan hiburan tersendiri baginya akhir-akhir ini, apalagi kalau sudah melihat wanita itu menampakkan wajah sebalnya maka Rendi akan tertawa puas. Tapi dia akan berada di mode bahaya jika Wigih memergokinya menggoda wanita kesayangan sahabatnya itu. "Dasar bucin!" Rendi selalu melontarkan kalimat itu jika Wigih sudah memelototinya.


"Aku selalu jalan-jalan untuk melemaskan otot-ototku yang kaku setiap hari." Jawab Jully dengan sebalnya. Jully berpikir bagaimana bisa Rendi yang lembut dan selalu bijaksana dulu menjadi sangat menyebalkan setelah menjadi dokter?


"Tapi aku tidak pernah sekalipun melihatmu berjalan-jalan di sekitar Rumah Sakit ini." Ujar Rendi yang masih menggoda Jully, padahal ia sering melihat Jully dari kejauhan ketika wanita itu berjalan-jalan di sekitar taman Rumah Sakit.


"Itu karena waktunya saja yang tidak pas, coba dokter ke sini ketika aku hendak berjalan ke luar." Jully juga tidak mahu kalah atas dakwaan Rendi terhadap dirinya, menjadi seorang pengacara membuat dirinya terlatih jika urusan debat mendebat.


"Oh ya? Kalau begitu mengapa kita tidak keluar sebentar menghirup udara segar sekalian berjalan-jalan untuk melemaskan otot-ototmu mumpung hari ini Matahari tidak begitu terik di luar sana." Ajak Rendi.


"Baiklah jika itu bisa membuat dokter Rendi yang terhormat berhenti mengomel." Jawab Jully dengan santainya dan beranjak turun dari ranjangnya tanpa memperdulikan Rendi yang menatapnya melongo.


"Waahhh... Sepertinya kamu sudah tidak canggung lagi padaku Jully." Sindir Rendi, sedangkan Jully hanya mengangkat bahunya acuh.


"Melihat kalian berdua yang ribut seperti ini membuat ibu merasa punya dua anak yang masih SMA." Ucap bu Susi sambil geleng-geleng kepala melihat dua orang yang sudah tidak remaja lagi itu bertingkah kekanakkan.


"Ibu, aku jalan-jalan sebentar dengan dokter cerewet ini." Pamit Jully pada ibunya dan melewati Rendi begitu saja tanpa peduli pelototan Rendi padanya.


"Lihat bu, sepertinya putri anda sudah benar-benar sembuh, kami keluar sebantar ya bu." Pamit Rendi yang dibalas kekehan dan anggukan dari bu Susi, lalu ia segera menyusul Jully yang sudah lebih dulu berlalu pergi.


"Biar aku yang bawa ini." Rendi meraih tiang penyangga infus yang diwaba Jully saat pria itu sudah menjajarkan langkahnya.


"Terimakasih." Balas Jully.


Jully terlihat sedikit melamun saat mereka berjalan berdua melewati lorong Rumah Sakit.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Rendi ketika menyadari tatapan kosong dari mata Jully dan keheningan diantara mereka.


"Entahlah." Jawab Jully lesu.


"Apa kamu memikirkan tentang sebagian ingatanmu yang hilang? Heii jangan kamu pikirkan, lagian ini tidak permanen, lambat laun juga ingat sendiri." Tebak Rendi sekaligus berusaha menghibur mantan juniornya itu.


"Bukan itu." Sahut Jully.


"Lalu apa?" Tanya Rendi yang masih belum puas akan jawaban Jully.


"Entahlah." Sahut Jully lagi dengan jawaban yang benar-benar membuat Rendi gedek sendiri.


"Kamu ini sungguh tidak jelas." Rendi pasrah sendiri, mungkin wanita yang baru saja bangun dari koma di sampingnya ini dalam fasse labil.


"Memang saat ini aku sedang tidak jelas." Mendengar jawaban Jully itu membuat Rendi semakin heran, tidak biasanya Jully membenarkan perkataannya disaat dirinya sedang menggoda dengan kata-kata sindiran. Biasanya Jully memilih untuk berdebat dengannya, hampir satu minggu ini dirinya dan Jully menjadi teman untuk berdebat satu sama lain.


"Tunggu!" Rendi menghetikan jalan Jully.


"Sebaiknya kita temui dokter Ibrahim." Lanjutnya.


"Untuk apa?" Tanya Jully heran.


"Karena sepertinya ada yang tidak beres dengan otakmu hari ini." Ujar Rendi dengan wajah yang dibuat serius walau sebenarnya ia hanya bercanda.


"Huh! Sudahlah dok, aku tahu kamu tidak serius." Balasan Jully membuat Rendi menampilkan smirk-nya.


"Huffft... " Jully menghela panjang napasnya.


"Sebaiknya kita jalan dulu dok, aku ingin duduk di taman kali ini." Jully tidak menjawabnya, justru dia mengalihkan pembicaraan. Rendi hanya bisa menurutinya, mungkin di taman nanti Jully ingin menceritakan apa yang ada di pikiran cantiknya.


Sepanjang jalan menuju taman mereka hanya diam, sementara orang-orang yang berpapasan dengan mereka hanya memandang dengan penasaran. Melihat seorang dokter tampan dengan relanya menolong seorang pasien cantik membawa tiang infusnya. Sementara para perawat dan staff sudah mulai bergosib, dokter Rendi yang tampan idola para hawa di Rumah Sakit ini sedang berjalan beriringan dengan seorang pasien cantik.


"Ehh lihat itu kan dokter Rendi?"


"Iya, tumben sekali dokgan Rendi terlihat berjalan-jalan dengan pasiennya, mana cantik lagi?"


"Jangan-jangan itu perempuan yang digosibkan ya?"


"Pasien perempuan yang jadi rebutan dokgan Rendi dan dokgan Wigih?"


"Wahh...Cinta segitiga dong namanya."


"Sstt!! jangan asal bicara kalau belum tahu kebenarannya, bisa jadi salah paham dan fitnah apalagi kita semua tahu dokter Rendi sudah punya tunangan yang juga salah satu dokter di Rumah Sakit ini."


"Iya, dokter anak yang berada di lantai atas yang konon katanya dokter tercantik di sini."


"Memang kamu sudah pernah lihat secantik apa dokter itu?"


"Pernah sekali waktu tidak sengaja melihat mereka sedang berdua keluar dari dalam mobil yang sama dan dia mamang benar-benar cantik."


"Waahh bagaimana jika dokter cantik itu melihat dokter Rendi berjalan berdua dengan pasien cantiknya itu?"


Itu semua adalah ucapan-ucapan dari beberapa perawat dan staff Rumah Sakit yang melihat kedekatan Rendi dan Jully saat berpapasan dengan mereka. Tentu saja itu akan menjadi rumor serta bahan gibahan terhangat di Rumah Sakit saat ini.


Sementara Jully dan Rendi tidak peduli dengan bisikan-bisikan yang terdengar samar di telinga mereka dan terus berjalan tanpa menghiraukan tatapan dari beberapa staff perawat di sana. Sesampainya di taman mereka berdua memilih duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana.


Jully menghela napas panjang setelah mendudukkan diri di bangku taman tersebut, sementara Rendi memandang Jully seakan menuntut sebuah penjelasan. Dan akhirnya Jully mulai membuka suaranya.


"Dokter sebenarnya aku..." Kalimat Jully menggantung ketika seorang wanita cantik berjas putih menghampiri mereka berdua.


"Ternyata kalian berdua ada di sini, aku sudah mencarinya sedari tadi." Ucap wanita cantik itu yang membuat Jully dan Rendi terkejut.


"Kak Anita?" Ujar Jully spontan.


"Haii Jully, senang bertemu denganmu kembali." Sapa wanita cantik itu sembari tersenyum yang tak lain adalah Anita, mantan seniornya ketika SMA yang juga satu angkatan dengan Wigih dan Rendi.


"Aku juga kak, senang bertemu denganmu." Sahut Jully bangkit dari duduknya dan menyambut pelukan Anita. Sementara Rendi semakin dibuat bingung oleh Jully.


"Tunggu Jully! Kamu mengingat Anita namun tidak mengingatku maupun Wigih?! Aku rasa kali ini kamu harus menjelaskan tentang apa yang kulihat dan yang kudengar saat ini!" Ujar Rendi dengan geram dan tatapan tajam.


"Upss!! Aku ketahuan!"


Bersambung....


.


.


.


Hai hai haaiii... Jully Mahardika kembali lagi, kali ini bareng Rendi yang penuh dengan tanda tanya di kepalanya. Kira-kira apa ya jawaban dari Jully?


Simak terus kisahnya dan jangan lupa tinggalkan Like, Komen, klik vote dan jadikan favoritmu agar tidak ketinggalan ceritanya. Thank you all...


Lope Lope πŸ’•πŸ’•πŸ’•buat reader ku semuanya....