
"Ada apa ya Jull?" Tanya Ale sedikit bingung.
"Al, aku butuh bantuanmu. Namun sebelumnya kamu harus jawab dengan jujur pertanyaanku." Jawab Jully serius.
"Tentang apa ya Jull?"
"Ini tentang Wicky dan juga... Raning."
Ale sedikit terkejut tentang apa yang barusan Jully katakan. Tidak mungkin Jully mengetahui tentang rencana Wicky yang hanya diketahui oleh dirinya dan Wicky saja, setidaknya itu yang ada dibenak Ale. Dia mencoba bersikap tenang agar Jully tidak mencurigai dirinya, dan semoga apa yang ada dipikirannya tidak terjadi.
"Maksud kamu apa ya Jull? Aku gak ngerti." Ale tetap pura-pura tidak tahu, karena kalau Jully sampai mengetahui rahasia ini dia pasti bakalan digorok oleh Wicky, meski sebenarnya dia tidak setuju dengan rencana konyol Wicky ini. Tapi meskipun demikian Wicky tetaplah sahabatnya, dia tidak ingin ini menjadi masalah yang lebih besar lagi.
"Sudahlah Le, gak usah pura-pura lagi! Aku sudah mengetahui semuanya."
"Mengetahui apa ya? Aku bener-bener gak ngerti apa maksud kamu Jull..." Ale tetap kekeh tidak mau membuka mulutnya dan ini membuat Jully semakin geram.
"Aku tahu semuanya tentang Wicky yang pura-pura mendekati Raning untuk membuat diriku cemburu!" Balas Jully telak yang membuat Ale terperanjat kaget.
"Dan jika rencananya berhasil dia akan membuang Raning begitu saja, benar kan Le?" Sambung Jully yang membuat Ale semakin tak bisa berkata apapun lagi.
"Jull, kamu tahu semua ini dari siapa? Kamu ngaco deh!" Ale tetap tak mau membuka suaranya.
"Please Le... kamu mau tetap seperti ini? Kamu ingin tetap membiarkan sahabat sableng kamu itu menjalankan rencana konyolnya dan menyakiti hati orang lain? Sahabat macam apa kamu ini yang membiarkan temannya menyakiti hati seseorang yang tidak bersalah?!" Jully benar-sudah marah karena Ale masih saja menutupi kesalahan temannya.
Ale bagaikan tertampar wajahnya oleh kata-kata Jully. Benar apa yang diucapkan Jully padanya, dia sangat memalukan sebagai seorang sahabat yang tidak bisa menghentikan tindakan buruk temannya, bahkan dirinya sengaja menutup nutupinya.
"Okey Jull... aku akan menceritakan semuanya, tapi tidak di sini, kita cari tempat lain untuk bicara." Jawab Ale menyerah dan langsung diangguki oleh Jully.
Akhirnya mereka pergi dari tempat itu dengan menggunakan motor Ale. Mereka memilih cafe ice cream untuk membicarakan mengenai masalah Wicky. Jully sengaja memilih tempat ini untuk bicara agar otaknya lebih dingin dan untuk meredakan emosinya dengan memesan ice cream strawberry favoritnya. Sengaja Jully memilih tempat duduk dekat kolam ikan yang terdapat di dalam cafe tersebut agar memudahkan dia menceburkan Ale ke kolam ikan tersebut jika cowok jangkung itu tetap saja membela sahabat sablengnya itu. Ahh sungguh jahat pikiran Jully. Tapi dia memang ingin benar-benar menceburkan Ale bila cowok itu membuat dirinya geram. Jully bisa sangat lembut dan santai tapi juga bisa begitu tegas bila menyangkut hal-hal yang serius.
"Eehmm... Begini Jull, sebelumnya aku mau tanya dari mana kamu mengetahui tentang semua ini?" Tanya Ale ragu-ragu.
"Sudahlah itu tidak penting aku mengetaui dari siapa, yang terpenting sekarang ini adalah bagaimana kita harus menghentikan rencana gila Wicky ini sebelum semuanya terlambat." Akhirnya Ale benar-benar menyerah dan tak akan lagi menanyakan dari siapa Jully mengetahui rahasia ini, dia sadar itu semua tidaklah penting untuk sekarang ini, yang terpenting adalah mencari cara penyelesaiannya. Ale pun mengangguk tanda setuju.
"Jadi tolong ceritakan semuanya Le!" Pinta Jully.
"Ini semua berawal dari kamu yang setiap hari memperoleh kiriman juice strawberry dari seseorang dengan inisial "W". Inisial yang sama dengan nama Wicky. Dia merasa terganggu dengan hal itu, dia merasa tidak terima ada seseorang yang memberi perhatian khusus untukmu selain dirinya. Awalnya dia ingin memanfaatkan keadaan itu dengan berpura pura mengaku sebagai Mr. W karena inisial nama mereka sama."
"Apa?!" Jully terkejut atas penuturan Ale barusan. Dia tak habis pikir Wicky rela melakukan hal tersebut hanya untuk mendapatkannya.
"Tapi tenang, itu tak akan pernah terjadi. Aku sudah menghentikannya. Namun semua itu tak bisa menghentikan Wicky untuk melakukan hal yang lainnya, yaitu mendekati Raning demi membuat dirimu cemburu dan mengakui bahwa kamu juga menaruh hati pada dirinya."
"Lalu jika dia tak berhasil membuatku cemburu, dia akan menjadikan Raning pacarnya, karena Wicky ingin membuatku menyesal karena tidak memilihnya. Dan yang lebih parahnya lagi dia akan meninggalkan Raning entah rencananya berhasil ataupun tidak, karena pada dasarnya Raning hanyalah alat untuk dirinya mendapatkanku." Ale tercekat seketika mendengarkan perkataan Jully barusan, dia tidak bisa mengelak lagi karena apa yang dikatakan Jully memang benar adanya.
"Benar begitu kan Le?" Lanjut Jully. Ale hanya bisa diam dan mengangguk.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya?" Tanya Ale.
"Tentu saja kita harus segera menghentikannya."
"Tapi dengan cara apa? Aku sudah berkali kali meminta Wicky untuk menghentikan rencana gila ini tapi dia tetap tidak peduli." Kata Ale yang sudah tidak bisa mencari cara lagi untuk menghentikan Wicky.
Jully berfikir sejenak kemudian dia berkata, "Kalau Wicky sudah tidak bisa dihentikan, maka kita harus menghentikan Raning."
"Caranya?" Tanya Ale.
Jully kemudian menceritakan rentetan rencananya kepada Ale. Mereka terlibat obrolan yang cukup serius. Sesekali terlihat Ale mengangguk anggukkan kepalanya. Sepertinya Aleando menyetujui apa yang direncanakan Jully dan berakhir dengan menghela nafas lega. Sesekali Jully menyendok ice cream strawberry nya dengan senyum dibibir.
"Semoga rencana kita ini berhasil ya Jull... terus terang aku juga tidak membenarkan akan tindakan Wicky meski dia sahabatku." Kata Ale.
"Hallaaahh... tadi aja mau nutup-nutupi gitu, coba kalau gak aku paksa, emang kamu mau cerita?" Ledek Jully, sementara Ale hanya bisa nyengir sambil nenggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Terus terang saja ya Le, kalau kamu tetap kekeh menutupi kelakuan sahabatmu itu, aku akan menceburkanmu ke kolam ikan ini." Aku Jully sambil menunjuk ke arah kolam ikan dengan dagunya.
"Dihh... Jahat bener kamu Jull! Pasti bercanda kan?" Ale tidak percaya seorang Jully yang kalem akan melakukan hal tersebut.
"Siapa yang bercanda? Aku serius kali... Lagian buat apa coba aku memilih tempat duduk yang dekat dengan kolam ikan? Ya buat ceburin kamulah kalau sampai bikin aku kesel!" Ucap Jully yang bikin Aleando melongo.
"Jadi kamu beneran sengaja milih tempat duduk disini agar mudah nyeburin aku?" Jully mengangguk tegas atas pertanyaan Ale.
"Waaahh... ternyata diam-diam kamu ngeri juga ya orangnya." Ale bergidik ngeri membayangkan bila hal itu benar-benar terjadi. Mungkin tak akan sakit rasanya jika dilihat dari kedalaman kolam itu yang mungkin sebatas lutut orang dewasa. Namun masalahnya malunya itu lho... Masak cowok sekeran dan secakep dirinya ditendang ke dalam kolam ikan oleh seorang cewek? Mau ditaruh mana mukanya nanti? Ale segera menggeleng untuk membuyarkan bayangan tentang hal itu.
Jully yang mengamati tingkah laku lelaki di depannya hanya bisa menahan tawanya. Sungguh lucu memang menjahili Ale di saat seperti ini. Paling tidak dia sudah menemukan solusi untuk masalah Wicky dan Raning, tinggal eksekusi besoknya, semoga rencananya bersama Ale membuahkan hasil dan tidak ada Raning yang menangis akan ketidak adilan yang disebabkan oleh Wicky. "Sabar ya Ning, aku akan menyelamatkanmu dari kucing garong!" Batin Jully.
🍓🍓🍓🍓🍓
Keesokan paginya di sekolah....
"Raning!!" Raning yang berjalan memasuki gerbang sekolah tiba-tiba berhenti ketika ada seseorang memanggilnya.
"Ohh Jully, kirain siapa?" Ternyata Jully lah yang memanggilnya.
"Bareng yuk masuknya, kita kan satu tujuan." Pinta Jully dengan senyum manisnya. Tentu saja hal itu tidak bisa ditolak oleh Raning, dia sebenarnya menyukai Jully yang cantik dan ramah, cuma dirinya yang terlalu diam sulit untuk mendekati Jully, disaat seperti ini dia sungguh senang karena Jully menyapa dan mengajak duluan dirinya untuk bareng ke kelas.
"Ohh ya untuk tugas Biologi kita satu kelompok kan?" Tanya Jully.
"Iya." Jawab Raning singkat.
"Gimana kalau ngerjaiinnya di rumah aku aja?" Tawar Jully.
"Emang boleh ya?" Tanya Raning balik.
"Kenapa nggak? Tentu boleh dong..."
"Gak ngerepotin gitu?" Tanya Raning lagi.
"Ya gaklah... Lagian nantinya kan ramai-ramai." Jully meyakinkan dan akhirnya diiyakan oleh Raning.
"Okey deh kalau gitu, nanti aku infokan ke anak yang lainnya." Kata Jully selanjutnya.
Mereka akhirnya berjalan menyusuri lorong sekolah menuju ke kelas dengan berbincang santai dengan sesekali tertawa lirih.
Hari minggu, mereka yang tergabung kelompok Jully dalam tugas Biologi berkumpul di rumahnya, dan itu hari ini. Semuanya sudah berkumpul di rumah Jully. Kansari dan Raning, terkecuali Aleando dan Wicky. Mereka berdua belum sampai di rumah Jully, dalam perjalanan katanya. Semoga tidak ada suatu halangan apapun. Karena ini merupakan sebagian dari rencana Jully bersama Ale. Kalau sampai Wicky tidak datang, maka dirinya harus mengatur ulang rencananya.
"Assalamu'alaikum..."
Bersambung...