Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 40 Dibalik Cerita Antara Rere dan Nouval #1



Bell istirahat berbunyi, menjadi euforia tersendiri bagi seluruh siswa yang sedari tadi bersitegang dihadapan guru dan buku pelajaran akhirnya bisa meregangkan otot-otot mereka yang kaku. Sama halnya dengan Jully dan teman-temannya kini mengucap syukur telah terbebas dari tegangnya rumus Matematika.


"Kantin yuk gengs...Sarsar lemes ini butuh glukosa." Ajak Kansari dengan nada dan ekspresi yang lemas tak bertenaga.


"Iya ni aku juga kok keliyengan ya?" Sambat Ningsih yang memegang perutnya.


"Yang keliyengan kepala apa perut kamu Ning? Masa keliyengan yang dipegang perut." Cibir Rere tak habis pikir punya teman kok pada aneh semua.


"Hehe... Dua-duanya Re." Jawab Ningsih sambil nyengir. Jully hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka yang bikin gemes.


"Ya udah cepetan yuk!" Ajak Kansari tidak sabar yang langsung menggamit lengan Jully dengan manjanya, menggiring temannya itu untuk lekas berjalan keluar kelas yang diikuti Rere dan Ningsih dari belakang.


Setibanya di kantin ternyata antrian beberapa stand makanan sudah cukup penuh. Bingung mahu pilih apa, mereka akhirnya memilih untuk mencari tempat dahulu sebelum habis ditempati murid yang lainnya.


"Enaknya makan apa nih? Hampir semua stand penuh antrian." Keluh Kansari.


"Aku tadinya mahu makan soto ayamnya bang Mamat tapi kok antrinya panjang banget sih?" Ningsih juga mengeluhkan hal yang sama.


"Iya nih, Sasar juga sebenarnya mahu itu." Rengek Kansari.


"Tumben kalian berdua sehati." Selidik Jully sedikit menggoda kedua temannya itu yang biasa suka adu mulut.


"Lapeeerr..." Jawab Kansari dan Ningsih barengan.


"Tuh kan sehati lagi, jangan-jangan sebenarnya kalian itu kembar tapi terpisah haha..." Ledek Jully.


"Kalau dibuat novel judulnya Rahasia Si Kembar Yang Terpisah huakakak..." Rere ikut meledek mereka berdua yang membuat Jully tambah ngakak bersama Rere.


"Idiihh ogah ya, masa aku kembaran sama baby elephant secara beda rupa dan bentuk." Sergah Kansari tak terima.


"Ho'oh aku juga gak mahu, masa aku yang semok seksi gini dibandingin sama sebiji upil." Tambah Ningsih yang juga ikut sewot dengan mencebik ke arah Kansari.


"Nah kalau begini kalian sudah kelihatan normal." Seloroh Jully yang masih dibarengi kekehan lirih.


"Sudah-sudah sekarang pesan dulu keburu kehabisan kita." Rere menyudahi obrolan unfaedah mereka dan mulai menimbang-nimbang makanan apa yang akan mereka pesan.


"Aku tetap soto ayam saja." Kata Kansari.


"Aku bakso tamba dua bungkus lontong." Ucap Ningsih.


"Gak jadi soto ayam?" Tanya Jully sambil menyipitkan matanya dibalik kaca mata bundarnya itu.


"Gak jadi, biar gak dibilang kembar lagi sama si upil." Alasan Ningsih membuat Kansari melotot ke arahnya. Jully dan Rere jadi terbengong mendengar alasan Ningsih.


"Aku samain saja dengan Ningsih tapi gak pakai lontong, kamu pesan apa Re?" Jully sudah memilih pesanannya.


"Aku samain saja dengan Kansari biar cepat, minumnya semua es teh manis saja ya biar gak antri lagi, ribet." Tawar Rere yang disetujui mereka bertiga.


Namun ketika Jully hendak berdiri dari duduknya untuk memesan tiba-tiba Rendi, Nouval dan Wigih yang kakinya masih terbalut gips datang menghampiri meja mereka.


"Biar aku saja yang mesenin buat kalian." Suara Rendi menginterupsi membuat Jully dan ketiga temannya terbengong kaget di tempatnya.


"Ehh kak Rendi... Gak perlu kok kak, Jully bisa sendiri ntar malah ngerepotin." Tolak Jully merasa tak enak dengan niat baik seniornya itu.


"Santai saja lagi, sekalian kami juga mahu pesan." Jawab Rendi dibarengi senyumnya.


"Kita boleh gabung kalian kan? Kebetulan semua meja sudah penuh." Nouval meminta ijin tapi dia sudah duduk duluan di samping Rere sebelum mendapat jawaban cewek-cewek di meja itu.


"Kayanya gak perlu minta ijin lagi deh kak, toh udah duduk juga." Sindir Kansari yang langsung mendapat sikutan dari Rere yang duduk diantara Kansari dan Nouval.


"Hehe iya juga, maklum Nouval orangnya suka gerak cepat." Wigih terkekeh mendengar sindiran Kansari sedangkan Nouval santai saja tidak merasa tersindir justru sekarang malah curi-curi pandang dengan Rere.


"Hmm... Jadi kalian semua pesan apa? Aku tulis saja biar gak lupa." Rendi mengambil selembar tissue makan di atas meja karena tidak ada kertas di sana dan mengeluarkan bolpoin yang terselip di saku bajunya untuk menulis pesanan semua temannya.


"Aku dan Wigih disamain saja bakso seperti Jully dan Ningsih, kamu pesan apa Val?" Tanya Rendi ke Nouval.


"Aku rujak cingur saja Ren." Jawaban Nouval langsung membuat Rere terbatuk.


"Ehh kenapa Re?" Nouval langsung respek memegang bahu Rere dan bertanya karena khawatir terhadap gadis incarannya itu, tapi malah pelototan yang ia dapatkan.


"Gak papa kak, cuma tiba-tiba keselek ludah sendiri." Kilah Rere yang membuat Jully curiga namun tetap mengacuhkannya.


"Tumben Val, sejak kapan kamu suka rujak cingur? Biasanya kalau kita nawarin selalu kamu tolak, katamu bau petisnya bikin pusing kepala." Tanya Wigih merasa ada yang aneh dengan sahabat sablengnya itu.


"Sejak dua hari yang lalu soalnya... Aduh du duhh...!" Tiba-tiba Nouval mengaduh kesakitan sebelum menuntaskan jawabannya.


"Kenapa kamu Val?" Tanya Rendi yang semakin heran dengan tingkah Nouval.


"I ini tiba-tiba ada semut nakal yang gigit kakiku." Jawab Nouval meringis kesakitan.


"Busyet dah cubitan Rere beneran bikin ngilu pahaku, ni cewek serem juga gak ada suara tapi langsung ketindakan." Ucap Nouval dalam hati sambil melirik Rere sekilas, ternyata semut nakal yang dimaksud Nouval adalah Rere. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua ya?


Dua hari yang lalu di hari yang sama ketika Jully mendapatkan luka hatinya. Rere justru berkebalikan dari nasib Jully.


Flash Back Dua Hari Yang Lalu


Jully dan Kansari sudah terlebih dahulu pulang meninggalkan Rere dan Ningsih di depan gerbang sekolah. Ningsih menemani Rere menunggu jemputannya yang tak kunjung datang. Ningsih sudah menawari Rere untuk mengantarnya pulang namun gadis itu tidak mahu karena beralasan rumah mereka beda arah dan itu akan membuat Ningsih kerepotan jika harus bolak balik.


"Beneran gak aku antar saja kamu pulang Re?" Tawar Ningsih untuk kedua kalinya.


"Gimana Rere, mamamu gak bisa jemput?" Tanya Ningsih yang diangguki Rere.


"Motor mama mogok." Terang Rere dengan wajah masamnya.


"Ya sudah aku antar pulang saja." Belum sempat Rere menjawab ajakan Ningsih mereka berdua dikagetkan dengan bunyi klakson sebuah motor sport warna hitam yang menghapiri mereka.


"Kok kalian belum pulang?" Pengendara motor itu membuka kaca helmnya yang ternyata adalah Nouval kating mereka.


"Eh kak Nouval bikin kaget saja, ini Rere gak ada yang jemput." Jawab Ningsih yang masih memegangi dadanya yang masih dag dig dug karena kaget.


"Sorry bikin kalian kaget." Nouval nyengir merasa tak enak karena sudah mengagetkan mereka.


"Benar Re kamu gak ada yang jemput?" Tanya Nouval yang entah mengapa justru membuat dirinya senang.


"Iya kak, motor mama masuk bengkel." Jawab Rere lugu.


"Ya sudah, bareng aku saja, biar aku antar kamu pulang." Nouval menawarkan diri dengan senang hati, ini akan menjadi kesempatan baginya untuk mendekati cewek datar dan jutek di hadapannya yang entah mengapa justru terlihat manis dan menggemaskan di matanya.


"Eehh gak usah kak, aku pulang sama Ningsih saja." Tolak Rere segera.


"Hmm rumah kita kan gak searah Re, mending kamu bareng kak Nouval saja, aku baru ingat ada janji sama ibuku takut ntar beliau menunggu lama." Ujar Ningsih yang tiba-tiba berbalik haluan yang tadinya kekeh nawarin nganter pulang, kini malah menolak Rere dengan alasan yang tadinya tidak ada. Membuat Rere melotot ke arah sahabat semoknya itu, tak habis pikir Ningsih melakukan hal konyol itu.


"Ya sudah, aku balik duluan kan sudah ada kak Nouval sebagai solusinya. Makasih ya kak Nouval, tolong jaga teman aku. Dadah Rere..." Ningsih langsung menstater motornya dan mengerling nakal ke arah Rere sebelum dia pergi.


"Eehh Ning tunggu! Kok malah ditinggal sih?" Rere menghentakkan kakinya sebal dengan kelakuan si semok Ningsih.


Dalam hati Nouval terkekeh geli melihat Rere kebingungan salah tingkah, di matanya itu sungguh terlihat menggemaskan.


"Ya sudah, naik gih kita pulang sekarang keburu Mataharinya terik." Ajak Nouval sambil menyerahkan sebuah helm untuk Rere yang mahu tak mahu harus diterima Rere karena memang tidak ada pilihan lain, ingin naik angkot tapi males nunggunya yang lama dicuaca yang terik ini, mana nanti harus desak-desakkan lagi.


Nouval membonceng Rere dengan kecepatan normal, tidak seperti biasanya yang selalu menggunakan kecepatan tinggi agar cepat sampai tujuan. Kali ini beda, dia tidak ingin cepat sampai karena ingin lebih lama berdua dengan gadis di belakang boncengannya itu. Tidak ada suara diantara mereka disepanjang perjalanan, Rere cukup pendiam membuat Nouval bingung harus memulai percakapan dari mana. Hingga tiba-tiba terdengar alarm yang berbunyi dari perut Rere. Rere yang menyadarinya sangat malu, dia berdo'a agar Nouval tidak mendengarnya tapi do'anya tidak terkabul karena Nouval terlanjur mendengarnya.


"Eh suara apa itu?" Tanya Nouval sambil melirik ke belakang sebentar dan kembali fokus ke arah jalan.


"Bukan apa-apa kak, cuma suara angin lewat." Rere berkilah.


"Maksudmu kamu barusan kentut?" Tanya Nouval serampangan yang dibantah Rere tegas.


"Sembarangan! Gak ya!" Bantah Rere dengan muka masam dibalik helmnya.


"Haha... Ya maaf, habis kamu bilangnya angin lewat." Ujar Nouval sambil terkekeh geli membayangkan Rere yang sudah tersipu malu.


Krucuukk....


Suara itu datang lagi dan kini lebih terdengar jelas, "Dasar perut gak bisa diajak kompromi." Geram Rere dalam hati tidak bisa menahan rasa malunya.


"Owhh perut kamu toh yang bunyi." Nouval menahan tawanya, dia tidak ingin Rere jadi kelewat malu meski nyatanya Rere sudah malu banget, untung saat ini dia ada di belakang bocengannya Nouval dan wajah merah padamnya tertutupi oleh helm yang dipakainya.


"Ya sudah kita mampir sebentar buat makan ya Re?" Ajak Nouval.


"Eh gak usah kak, kita langsung pulang saja." Tolak Rere yang merasa tak enak dan dia juga sudah kepalang malu.


"Bukan kamu saja yang lapar, aku juga perlu mengasih makan cacing yang ada di perutku." Nouval sengaja mengatakan itu, dia tahu Rere pasti akan menolaknya karena merasa sungkan atau lebih tepatnya malu. Kalau menggunakan alasan dia juga lapar mungkin Rere tidak bisa menolaknya.


"I iya sudah kalau kak Nouval memaksa."


"Yess!!" Nouval bersorak dalam hati, rencananya berhasil.


"Ok, kamu ingin makan apa Re?" Tanya Nouval.


"Terserah kakak saja."


"Kok terserah aku? Aku kan gak tahu makanan kesukaan kamu, kalau aku bisa makan apa saja, aku ngikut pilihan kamu jadi kamu mahu makan apa?" Tanya Nouval lagi.


"Hmm... Kalau gitu pilih yang sejalan sama rumah aku saja kak biar gak ribet, nanti aku tunjukin tempatnya." Jawab Rere akhirnya, dia sudah gak mahu ambil pusing lagi untuk berdebat tempat makan.


"Siap Tuan Puteri." Kata-kata Nouval barusan langsung membuat pipi Rere yang terhalang helm merona merah.


"Ini masih jauh gak Re?" Tanya Nouval.


"Gak kok kak, nanti sebelum belokan di depan itu ada kedai warung, kita makan di situ saja gak papa kan kak?" Tanya Rere sembari menunjukkan arah tempat tujuan mereka.


"Gak papa kok, aku gak pilih-pilih tempat makan asal tempatnya bersih."


"Tenang saja, tempatnya bersih kok." Rere memastikan.


"Lho Re beneran ini tempatnya?" Nouval bingung setelah Rere menyuruhnya berhenti tepat di depan kedai warung yang bertuliskan "Warung Rujak Cingur Bu Nur". Ternyata warung yang dimaksud Rere adalah warung rujak cingur yang tidak disukai Nouval karena bau petisnya yang menyengat.


"Bener kok kak, tenang saja bersih kok tempatnya, rujak di sini itu paling enak, kak Nouval pasti suka." Rere sudah turun dari boncengan dan melepas helmnya.


"Yuk kak masuk, sudah lapar kan?" Rere langsung masuk begitu saja meninggalkan Nouval yang masih nangkring di atas motornya dengan bengong terdiam tidak bisa berucap apapun. Ini salah dia, tak seharusnya membiarkan gadis itu yang menentukan tempat makan mereka.


"Ini ni yang namanya antara sial dan apes." Desah Nouval pasrah saja apa yang akan terjadi nanti di dalam sana.


Bersambung....