Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 13 Pikiran Masing-Masing



Sepanjang jalan menuju pulang ke rumahnya Raning hanya diam melamun memikirkan semua yang terjadi di rumah Jully tadi, sehingga tanpa sadar motor Ale sudah berhenti di depan halaman rumah bergaya minimalis. 


"Ning, sudah sampai nih." Suara Ale memyadarkannya dari lamunan. 


"Ohh sudah sampai ya?"


"Kamu kenapa Ning? Kamu sakit? Wajahmu agak pucat." Ucap Ale sambil menelisik wajah Raning. 


"Aku baik-baik saja kok Le, cuma rada capek saja. Terimakasih tumpangannya."


"Ya sudah, kamu masuk saja lalu istirahat, aku pulang dulu ya... " Pamit Ale, namun dihentikan oleh Raning sebelum Ale menyetater motornya kembali.


"Tunggu Le, ada yang ingin aku tanyakan."


Boleh, apa itu?"


"Ini soal juice strawberry yang selalu ada di meja Jully setiap pagi, apakah Mr. W itu adalah Wicky?" Tanya Raning. 


Aleando menimbang nimbang untuk menjawab pertanyaan Raning, jika dia mengatakan yang sebenarnya, dia takut bila Raning akan tetap berharap pada Wicky dan usahanya bersama Jully selama ini akan sia-sia.


"Mmm... Entahlah, bisa iya bisa juga bukan. Kau cari tahu saja sendiri, aku balik ya bye... " Ale segera pergi setelah memberikan jawaban yang tak pasti, gak mau salah ngomong, biarkan saja begitu karena itu jawaban yang tepat menurutnya. 


"Ehh Le... " Raning tak bisa menghentikan Ale lagi, lelaki itu segera menancapkan gas motornya meninggalkan Raning dengan segala pemikirannya. Raning masih terpaku di depan pagar rumahnya, kakinya masih belum ingin melangkah masuk ke dalam rumahnya setelah Ale meninggalkannya barusan. Dia mengingat jawaban Ale atas pertanyaannya tadi, jawaban yang tak pasti, ambigu. Dia berfikir mungkin benar bahwa Wicky adalah Mr. W yang selalu mengirim juice strawberry ke meja Jully. Mungkin Ale tidak enak mengatakan yang sebenarnya karena dia merupakan sahabat Wicky. 


"Ahh aku mungkin terlalu terbawa perasaan, tak seharusnya aku terlalu GeEr karena Wicky hanya sebatas baik saja padaku karna aku teman sekelasnya tidak lebih." Setelah mengatakan begitu dengan dirinya sendiri Raning melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Dilain tempat, Jully yang rumahnya kini sepi setelah kepulangan teman-temannya masuk ke dalam kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya. Mencoba memejamkan matanya, menghilangkan sejenak rasa penat yang singgah dikepalanya. Berdo'a semoga tak akan lagi ada hati yang terluka seperti kala itu, dia ingin semua orang terdekatnya hidup bahagia meski apa yang terjadi pada dirinya saat ini hanyalah mimpi dan mungkin dia akan terbangun kembali ke kehidupannya yang seharusnya. Paling tidak dia sudah mencoba memperbaiki keadaan saat ini. Disela sela lamunannya dia teringat si "Yuyu" pengirim surat, apa kabrnya dia? Jully bertanya tanya dalam hati apakah dia baik-baik saja? Apakah sekarang dia sudah menyelesaikan urusannya? Ini sudah enam hari berlalu Yuyu menghilang tanpa jejak. Tidak ada lagi surat sampul biru muda yang selalu Jully temukan di dalam laci bawah mejanya. Jully tanpa sadar selalu menantikan semua itu dan kini dia merasa kehilangan. Jully membuka matanya, melirik bunga chrysan putih di atas mejanya yang mulai layu, ada kerinduan di sana. Ahh... Mungkin dia sudah tak waras, pikirannya sekarang dipenuhi oleh lelaki Cancer itu. "Apa kau juga memikirkanku?" Ucapnya lirih dan sesaat matanya terpejam kembali. Rupanya dia benar-benar tertidur. 


Lain halnya dengan Wigih, saat ini dia bahagia setelah seminggu ini dia disibukkan dengan Olympiade Fisika yang mengharuskan dia pergi ke Surabaya dan berpisah sementara dengan Jully nya, ahh apakabar gadis itu? Dia sangat merindukannya. Akhirnya dia tiba di rumah, bahagianya dia bukan hanya Jully semata, dia bahagia karena pulang dengan kemenangan. Setibanya di rumah dia disambit oleh kedua orang tuanya dan juga Ernita adiknya. 


"Sayang... Kamu sudah datang, bagaimana kabarmu?" Mama Sinta segera memeluk Wigih setelah melihat anaknya memasuki rumah, merindukan anak lelakinya yang seminggu ini tidak pulang ke rumah. 


"Baik ma, mama apa kabar?"


"Alkhamdulillah... Mama juga baik."


"Gimana jagoan papa menang?" Kali ini papa Ridwan Sasongko gantian memeluk anak tertuanya itu. Kemudian Wigih mengeluarkan medali emas sebagai jawabannya. Semua orang di rumah bersorak gembera, memeluk dan mengucapkan selamat kepada Wigih dengan senyum yang merekah di wajah mereka masing-masing.


"Asyiiikk... Traktiran dong..." Ini Ernita yang bilang sambil bergelayut manja di lengan kakaknya. 


"Idiihh... Maunya kamu tuh." Jawab Wigih sambil mencubit hidung adiknya. 


"Aduuhh... sakit kak! Teriak Ernita sambil mengusap hidungnya. "Gak aku kasih tahu kabarnya Jully tau rasa!" Bisik Ernita mengancam kakaknya sebelum dia menjauh dan menjulurkan lidahnya mengejek Wigih. 


"Dasar gadis licik, sini kamu!" Akhirnya terjadilah aksi kejar-kejaran kedua kakak beradik itu dengan tawa. 


"Kalian berdua ini ya... Seperti masih bocah saja, sudah berhenti! Ernita sudah! Kasihan kakakmu baru saja nyampai rumah juga. Wigih kamu juga pergi bersih-bersih badan dulu sana! Lalu kita siap-siap makan malam, mama sudah masak yang special hari ini." Titah mama yang langsung diiyakan oleh kedua anaknya. 


Wigih segera naik ke lantai dua tempat kamarnya berada dengan Ernita yang mengekori di belakangnya mengikuti Wigih masuk ke dalam kamarnya. 


"Ehh... ngapain kamu ngikutin kakak masuk ke kamar? Huuss... Sana keluar dulu, kakak mau mandi." Usir Wigih. 


"Jadi benar kakak gak mau tahu kabar Jully?" 


"Okey, ya sudah tapi... jangan lupa janjinya!"


"Janji apa ya?" Wigih pura-pura lupa. 


"Ohh gitu ya... Berarti gak ada informasi!" Ancam Ernita yang bikin Wigih blingsetan. 


"E ehh... Ingat kok, kapan juga kakak pernah ingkar janji? Ada tuh di tas kakak." Tunjuk Wigih.


"Asyiikk...!" Sorak Ernita gembira hendak mengambil sesuatu dari dalam tas Wigih yang langsung dicegah oleh pemiliknya. 


"Eeiitt...enak aja! Ntar setelah kamu laporan kepada kakak, sekarang cepat keluar gih!" Usir Wigih yang bikin adiknya cemberut dan mau tak mau harus mengikuti perintahnya. Seperginya Ernita dia langsung mengunci kamarnya, dia tak mau Ernita masuk lagi ke kamarnya dan diam-diam mengambil barang titipannya, bukan barang titipan sih sebenarnya melainkan barang sogokan agar adiknya itu tutup mulut dan mau melakukan perintahnya untuk mengawasi serta menjaga Jully selama dia tidak masuk sekolah. Wigih segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah lengket selama perjalanan. Tidak ada setengah jam dia sudah menyelesaikan acara bersih-bersihnya sekalian merapikan isi tasnya, mengeluarkan baju kotor lalu menaruhnya ke tempat cucian kotor. Setelah itu dia menuju ke meja makan, di sana papa mama dan adiknya sudah menunggunya. Mereka makan malam dengan tenang, sesekali diselingi dengan canda tawa. 


Setelah mereka semua menyelesaikan makan malam, Wigih pamit ke kamarnya untuk beristirahat dan tentu saja Ernita mengikutinya lagi karena sesuatu yang diinginkannya masih ada di kamar kakanya. Ernita segera menerobos masuk setelah mereka berada tepat di depan pintu kamar Wigih. 


"Kak, titipanku mana?" 


"Bentar, kamu harus cerita dulu apa yang terjadi dengan Jully selama aku gak ada."


Ernita berjalan menuju ranjang kakaknya kemudian menaikinya dan duduk bersila di atas sana. Lalu dia mulai membuka mulutnya untuk bercerita. 


"Jully baik-baik saja, dia selalu mengambil juice yang aku tinggalkan di mejanya seperti perintah kakak, tapi kalau aku perhatikan kok setiap dia datang selalu mengecek bawah lacinya ya? Seperti mencari sesuatu tapi gak ketemu." 


"Hmmm... Jadi dia menunggu suratku?" Tebak Wigih. 


"Surat? Kakak juga mengiriminya surat?" Tanya Ernita kaget. Tak habis pikir, ternyata selain juice strawberry kakaknya juga menterror Jully dengan surat. Ernita bergidik ngeri ternyata kalau sudah jatuh cinta kakaknya bisa melakukan hal-hal yang aneh. 


"Kakak gak menterror Jully kan?" Tanya Ernita curiga. 


"Enak saja! Kau pikir kakakmu ini apa?" Jawab Wigih sambil menyentil jidat adiknya. 


"Auw! Dasar kakak jahat! Sakit tahu! Mau diteruskan gak nih?"


"Terus?"


"Aku cuma mau bilang, kalau kakak gak segera terus terang ke Jully jika yang selama ini jadi secret admirer nya dia itu kakak. Jangan harap kakak bisa jadian sama Jully! Karena kenapa?" Pernyataan dan pertanyaan Ernita itu hanya dijawab dengan mengangkat bahu serta gelengan kepala oleh Wigih. 


"Karena di kelas ada satu anak yang juga sudah terang-terangan suka dengan Jully." Jawab Ernita dengan smirk di bibirnya. 


"Sungguh?" Tanya Wigih tak yakin, bisa saja adiknya itu hanya menggodanya. 


"Terserah kalau tak percaya, kakak cari tahu saja sendiri. Mana sepatuku? Aku kan sudah mematuhi perintah kakak." Ernita segera menagih sepatu incarannya yang janji diberikan oleh Wigih jika dia mau membantu kakaknya itu. 


"Tuh ambil sendiri di bawah meja." Tunjuk Wigih. Segera Ernita melesat mengambil sepatunya dan membukanya. 


"Wahh...pas banget!" Ernita mencobanya dengan gembira. "Thanks brother! " Ernita berterimakasih kemudian pergi dari kamar Wigih setelah meninggalkan kecupan singkat di pipi kakaknya. 


Setelah Ernita keluar dari kamarnya, Wigih masih terus teringat ucapan adiknya tentang cowok sekelas Jully yang menyukai gadis itu, bahkan si cowok sudah terang-terangan mendekati Jully. Lalu apa yang harus dia lakukan? Sementara dia belum siap mengungkap jati dirinya. 


"Aarrgghh..!!" Frustasinya Wigih. 


Bersambung...