Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 44 Cerita dan Nasehat Mama Sinta



Di kediaman keluarga Sasongko, disaat langit senja berubah menjadi jingga, Wigih duduk sendiri di sudut jendela kamarnya. Lelaki tampan itu sedang melamun, pikirannya berkelana kemana-mana. Hari ini sungguh penuh kejutan. Melihat Jully memakai gelang pemberiannya, mengetahui bahwa Anita ternyata gadis gendut di SDnya dulu dan juga rahasianya yang telah terbongkar di tangan Anita. Beruntung karena Anita yang memergokinya, jadi rahasia itu akan tetap aman. Namun yang namanya rahasia tidak bisa selamanya dikunci rapat, suatu saat kunci itu harus dibuka entah kapan. Itulah yang kini tengah dipikirkan Wigih. Kapan keberanian dia datang untuk mengungkap kebenaran yang sesungguhnya kepada Jully? Apakah besok? Tidak...tidak! Wigih menggelengkan kepalanya gusar mencoba mengusir segala pemikiran yang terburu-buru yang mungkin akan menjadikan kacau harinya kelak. Lagi pula kakinya masih pincang seperti ini, sungguh tidak keren jika harus berterus terang dihadapan orang yang dia cintai dengan keadaan seperti ini, paling tidak dia harus menunggu sampai gips di kakinya dilepas. Semoga saat itu tiba semuanya belum terlambat. Semoga Jully sabar menunggu sampai waktu itu. Tinggal dua minggu lagi.


"Aragghh! Kenapa dua minggu itu sangat lama?!" Wigih menjambak rambutnya seraya menggeram frustasi.


"Kenapa? Kamu gak sabar nunggu gipsmu dilepas?"


"Mama?"


Wigih terlonjak kaget, tiba-tiba mamanya masuk ke dalam kamarnya tepat saat dia menggeram tadi. Ternyata kamarnya tidak terkunci dan dia lupa untuk menutupnya sehingga aksinya tadi bisa diketahui mamanya. Mama Sinta mendekati anak lelaki satu-satunya itu.


"Kenapa sayang? Kamu gak sabar buat ngelepas gips ini?" Mama Sinta mengulang pertanyaannya.


"Iya ma, berat dan gak nyaman kalau buat jalan." Jawab Wigih dengan memasang wajah masam. Di depan mamanya dia bisa sedikit berlaku manja, sangat beda ketika dia berada di sekolah. Kalau di sekolah dia harus bersikap tegas dan stay cool namun tidak meninggalkan kesan ramah, sehingga terkesan terlihat berwibawa. Maklum predikat Ketos yang masih melekat didirinya itu mengharuskan dirinya bersikap demikian agar anggota OSIS yang ada di bawahnya bisa menghormatinya selaku ketua.


"Sabar ya sayang... Dua minggu tak akan lama, mungkin akan terlewat begitu saja jika kamu tidak memikirkannya." Ucap mama Sinta sambil mengelus rambut anaknya sayang.


"Iya ma." Jawab Wigih lesu. Bagaimana dia tidak memikirkannya? Saat ini saja dia bagai menghitung hari karena ini bukan hanya masalah gips yang bertengger di kakinya saja melainkan masalah Jully juga. Sejak kejadian Sabtu kemarin yang menimpa Jully dan juga pembicaraannya dengan Anita tadi siang, pikiran Wigih sudah tidak bisa lagi untuk menjadi waras. Dia mengingat ucapan Anita untuk segera berterus terang kepada Jully. Bahkan teman yang selalu mengintilinya kemana-mana itu mengatai dirinya seperti anak kecil yang bermain surat-suratan.


"Heeii... Apalagi yang dipikirkan anak ganteng mama ini kok wajahnya lesu seperti ini? Cerita dong sama mama." Ucap mama Sinta sambil tersenyum memandang lembut wajah rupawan anaknya.


"Wigih boleh tanya sesuatu ke mama gak?" Alih-alih menjawab pertanyaan mamanya dia justru berbalik bertanya.


"Tentu." Jawab mamanya singkat.


"Mama pernah gak merahasiakan suatu hal kepada papa? Maksud Wigih bukan sesuatu yang buruk namun mama tidak bisa atau belum bisa mengatakannya pada papa." Pertanyaan Wigih itu membuat mama Sinta mengerutkan dahinya, mengingat-ingat adakah hal seperti itu yang pernah terjadi dulu padanya?


"Emm... Pernah." Jawab mama Sinta setelah teringat satu hal. "Saat mama mengandung kamu." Lanjut mamanya.


"Saat mama mengandung aku?" Wigih terkejut mendengar jawaban dari mamanya itu.


"Iya, waktu itu mama tidak bisa mengatakan bahwa mama sedang mengandung dirimu." Wigih terkejut kembali setelah mendengar penuturan mamanya. Terlintas pikiran-pikiran nakal dibenaknya.


"Heii... Jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu." Mama Sinta terkekeh geli seakan mengetahui apa yang ada di pikiran anaknya itu.


"Mama hamil kamu bukan karena MBA (Married By Accident)." Mama Sinta masih terkekeh geli sebelum melanjutka ucapannya.


"Waktu itu mama ikut papa ke Groningen Belanda untuk melanjutkan study S-2 nya mengambil specialist, maklum papamu itu kan bucin banget sama mama jadi tidak mahu kalau mama jauh-jauh darinya." Mama Sinta tersipu malu saat mengingat hal itu.


"Lalu ma?" Wigih tidak sabar mendengar kelanjutan cerita mamanya.


"Entah mengapa disaat papamu berada di tahun terakhir study-nya mama merengek ingin pulang ke Indonesia, mama sangat kangen sekali dengan nenek dan kakekmu padahal waktu itu papamu sedang sibuk-sibuknya. Sebagai dokter dan mahasiswa akhir papamu tidak bisa meninggalkan tugasnya begitu saja. Alhasil mama harus balik ke tanah air sendiri saja tanpa papamu." Mama Sinta bercerita sambil menerawang jauh pandangannya ke luar jendela, mengenang masa-masa itu.


"Lalu papa mengijinkan?" Tanya Wigih penasaran.


"Lalu bagaimana cara mama memberitahukan papa kalau mama sedang hamil?" Wigih sangat penasaran bagaimana mamanya memberitahukan kebenaran yang telah mamanya simpan.


"Saat itu mama tidak langsung mengatakannya. Mama bilang ke papa di telpon kalau papamu bisa menyelesaikan tugasnya di Groningen dengan tepat waktu maka mama akan memberikan kado spesial untuknya. Dan tentu saja papa menyanggupinya, papamu kan sangat pandai sehingga tantangan mama dapat dilalui papamu dengan mulus. Ketika papamu balik ke Indonesia, saat itulah mama memberitahu kehamilan mama. Awalnya sih papa kaget melihat perut mama yang sudah membuncit, lalu mama menceritakan semuanya dari awal ketidaktahuan mama saat hamil ketika masih di Groningen bersama papamu sampai alasan mama mengapa merahasiakan semuanya dari papa." Cerita Mama Sinta.


"Kalau kamu penasaran apakah papamu marah saat mama merahasiakan kehamilan mama, jawabannya iya, papamu marah." Ujar mama Sinta kemudian sembari mengelus sayang rambut Wigih.


"Papa marah ma? Terus bagaimana cara mama meredakan amarah papa?" Wigih kembali menanyakan rasa penasarannya, dalam hatinya dia juga takut jika Jully suatu saat marah kepadanya setelah ia berterus terang.


"Papamu itu tidak benar-benar marah, ia hanya merasa berasalah mengapa disaat awal kehamilan mama papa tidak ada di samping mama. Mama lalu menjelaskannya dengan lembut tanpa emosi dan tersenyum untuk menenangkan papamu jika mama baik-baik saja di sini. Ya... Walau harus ada trik-trik khusus buat luluhin hati papa." Mama Sinta merona sendiri saat mengatakan hal itu.


"Ihh mama pasti pakai trik kotor deh buat ngerayu papa." Wigih memperlihatkan smirk-nya untuk menggoda sang mama.


"Enak aja... Mama cuma bilang kalau papa marah terus nanti bayi dalam kandungan mama ikutan sedih dan jadi rewel, terus mama deh yang repot. Setelah itu papamu langsung tidak marah lagi dan malah jadi overprotective." Ujar mama Sinta.


"Halahh... Sekarangpun papa masih saja protektif sama mama, masa anak sendiri dicemburuin? 'Sana kamu cari pacar sendiri, jangan peluk-peluk mama terus, mama itu milik papa', papa selalu bilang gitu sama aku." Wigih mencebikkan bibirnya setelah menirukan gaya bicara papanya membuat mama Sinta tergelak.


"Haha... Kalau itu mama setuju dengan papa, masa hari gini anak mama yang ganteng ini masih jomblo?" Ledek mamanya.


"Bukannya gitu ma, ada sih tapi...." Wigih menggantungkan kalimatnya.


"Tapi kalian ada masalah? Itu yang membuat muka ganteng anak mama murung gini?" Wigih mengangguk lesu mendengar pertanyaan mamanya.


"Dengar ya nak, semua masalah pasti ada jalan keluarnya asal kamu bisa menyelesaikannya dengan bijak. Mama tidak tahu apa masalah kalian dan mama tidak akan menanyakannya. Cuma satu pesan mama, jangan libatkan emosimu saat kalian bicara. Tetaplah tenang, jangan terpancing emosi jika dia dalam keadaan marah dan tetaplah merendah jika kamu yang salah, tentu saja kamu jangan lupa untuk meminta maaf dahulu. Meminta maaf dahulu bukan berarti kamu mengaku kalah, bukan berarti kamu menjatuhkan harga dirimu, itu justru menunjukkan ketulusanmu, tentu saja kamu harus melakukannya dengan sungguh-sungguh dari hatimu." Nasehat mama Sinta pada Wigih.


"Lalu waktu itu apakah mama dulu yang meminta maaf kepada papa?" Tanya Wigih kemudian.


"Tentu saja, kan mama yang salah, tentu mama yang harus meminta maaf terlebih dahulu." Jawab mama Sinta tersenyum.


"Nak... Jangan terlalu lama menyimpan masalah, nanti bisa menimbulkan masalah baru lagi." Kata-kata mamanya membuat Wigih terdiam seketika. Dalam hatinya dia membenarkan ucapan mamanya. Dia harus melakukan sesutau sebelum semuanya menjadi terlambat.


"Ma... Terimakasih atas semuanya, saran dan nasehat mama sangat berarti bagi Wigih." Wigih berucap lembut dalam senyumnya lalu memeluk mamanya sayang.


"Sama-sama sayang." Mama Sinta menyambut pelukan anak lelakinya itu dengan senyuman pula.


Mereka kemudian saling mengurai pelukan, Wigih jadi merasa lebih lega setelah bicara dengan mamanya.


"Ya sudah mama keluar dulu, sebentar lagi magrib, siap-siap sholat gih! Setelah itu turun ke bawah, kita makan malam bareng." Ucap mamanya seraya beranjak pergi dari kamar Wigih setelah mendapat jawaban "Iya" dari anak sulungnya itu.


"Jully... Kali ini aku akan memberanikan diri." Gumamnya dalam hati.


Bersambung....